Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Subteks di Atas Awan
The Shard, London. Lantai 35. Restoran itu menawarkan pemandangan seluruh kota London yang berkilauan di bawah hujan gerimis. Zerya duduk di sudut yang paling privat, mengenakan gaun malam berwarna gelap yang elegan. Di depannya, Javian duduk dengan santai, namun matanya tetap tajam, sesekali melirik pintu masuk dan layar tablet kecil di samping piringnya.
Mereka baru saja melarikan diri dari pengawal—bukan dengan berlari, melainkan lewat jalur layanan restoran yang sudah diatur oleh tim keamanan Javian.
"Tindakan yang sangat berisiko untuk seorang CEO," ucap Zerya, memecah keheningan sambil menatap gelas anggurnya.
"Risiko adalah bagian dari keuntungan," sahut Javian datar. "Lagi pula, Anda butuh jeda untuk bernapas sebelum pembicaraan dengan investor Jerman besok."
Zerya tersenyum tipis. "Anda berbicara seolah Anda peduli pada kesehatan saya, bukan pada proyek."
Javian menatap Zerya lurus. Intensitas tatapannya membuat Zerya sulit bernapas. "Jika proyek itu gagal karena Anda sakit, saya rugi uang. Jangan mengartikan profesionalisme sebagai perasaan pribadi, Nona Zerya."
Jebakan. Zerya tahu itu jawaban standarnya. Namun, subteksnya terdengar seperti peringatan agar Zerya tidak berharap lebih.
"Tentu," Zerya membalas dengan nada yang sama dinginnya. "Sama halnya dengan Julian Vane tadi. Dia profesional, bukan teman Anda."
Javian terdiam sejenak. Ia meletakkan garpu piringnya pelan. "Julian bukan tipe pria yang bisa dipahami dengan logika sederhana. Dia tipe orang yang... menyerang melalui apa yang paling Anda hargai."
"Berarti Anda harus menyembunyikan aset Anda dengan baik," sindir Zerya.
Javian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya tidak menyembunyikan aset, Zerya. Saya memastikannya berada di tempat yang paling aman. Dan saat ini, tempat paling aman adalah di bawah pengawasan saya langsung."
Kata-katanya profesional, namun tatapannya menuntut. Zerya merasakan jantungnya berpacu. Kalimat itu berada di garis tipis antara posesif korporat dan sesuatu yang lain.
"Anda tahu bahwa pengawal dari Ayah saya akan melaporkan ini, kan?" tanya Zerya, mencoba mengalihkan percakapan ke hal yang lebih aman.
"Mereka melaporkan apa yang saya izinkan mereka laporkan," sahut Javian dingin. "Saya menyewa hotel tempat mereka menginap, dan saya memastikan laporan mereka 'terlambat' beberapa jam."
Zerya tertegun. Javian baru saja menunjukkan seberapa jauh jangkauan kekuasaannya di London.
"Saya terasa seperti pion di papan catur Anda," bisik Zerya, ada nada keputusasaan yang tertahan dalam suaranya.
Javian menatap anggur di gelasnya, lalu mendongak. Untuk sedetik, topeng dinginnya retak. Zerya melihat kelelahan yang nyata—kelelahan dari tanggung jawab memikul beban ribuan karyawan dan persaingan bisnis yang kejam.
"Di dunia kita, Zerya," suara Javian merendah, kehilangan sedikit ketegasannya. "Lebih baik menjadi pion yang dikendalikan oleh seseorang yang tahu cara memenangkan permainan, daripada menjadi raja yang dikelilingi oleh pengkhianat."
Ia tidak mengaku peduli. Ia hanya membandingkan posisi mereka. Namun bagi Zerya, itu adalah pengakuan bahwa Javian memperhitungkannya dalam permainannya—bukan sebagai pion, tapi sebagai sesuatu yang krusial.
Mereka berdua terdiam, membiarkan subteks percakapan menggantung di udara. Makanan mereka hampir dingin, namun tak ada yang peduli.
"Ayo pulang," ucap Javian tiba-tiba, kembali mengenakan topeng dinginnya. "Besok akan jadi hari yang panjang."
Saat mereka berjalan keluar, Javian sedikit menghalangi pandangan Zerya dari kerumunan, gestur protektif yang halus namun kentara. Zerya tahu, malam ini tidak menyembuhkan trauma apa pun, namun itu memberikan satu hal yang baru: Harapan.