Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Selesai dari butik, mobil kembali meluncur pelan di tengah lalu lintas siang itu. Olivia bersandar di kursinya, menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya kusut, emosinya belum stabil sejak percakapan di butik tadi.
Toko perhiasan keluarga sudah menunggu kedatangan mereka. Interiornya elegan, penuh cahaya lampu hangat yang memantul di permukaan kaca etalase. Berlian dan emas tersusun rapi, berkilau nyaris menyilaukan.
“Silakan duduk, Miss Olivia, Tuan Juna,” sapa salah satu staf dengan sopan. “Kita akan ukur ulang size cincin dan diskusikan desainnya.”
Olivia langsung menggeleng.
“Bebas aja desainnya. Ukuran juga terserah. Gue nggak peduli.”
Staf itu tampak canggung, lalu menoleh pada Juna.
Juna menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Gue juga nggak peduli. Yang penting pas di hari pernikahan kita nanti, nggak ribet.”
Olivia menoleh cepat.
“Kita?” ejeknya tipis. “Yakin banget lu, Kak, bakal nikahin gue?”
Juna tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya datar—terlalu datar untuk dibaca.
Olivia mendengus kesal. Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Olin sekali lagi. Tidak aktif. Tidak ada jawaban. Kosong.
Layar ponselnya mendadak menyala—panggilan masuk. Nama tak dikenal. Jantungnya berdebar refleks. Ia buru-buru memiringkan layar agar tak terlihat jelas. Namun Juna sempat menangkap perubahan ekspresinya.
“Siapa?” tanyanya heran.
Olivia mengangkat dagu, berusaha terlihat santai. “Not your business.”
Padahal telapak tangannya terasa dingin. Juna hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. Tidak bertanya lagi.
Olivia menatap layar yang terus berdering. Ia tidak mengangkatnya. Beberapa detik kemudian, panggilan itu berhenti sendiri.
Diskusi desain kembali dimulai. Berbagai model cincin dikeluarkan—dari yang klasik hingga modern dengan potongan berlian besar di tengahnya. Olivia duduk malas, memainkan ujung kukunya.
Hingga suara familiar yang tak ia harapkan terdengar dari belakang.
“Eh… Olivia?”
Olivia menoleh. Nadya. Musuh bebuyutannya di sekolah. Ratu drama yang selalu punya cara untuk menjatuhkannya. Nadya memandangi Juna dari atas ke bawah, jelas terkejut.
“Wow,” katanya dengan nada pura-pura kagum. “Olivia sekarang mainnya sama om-om, ya?”
Beberapa orang di sekitar mulai melirik.
Nadya menyeringai. “Tapi ya… harus gue akui sih. Om-nya ganteng juga.”
Olivia berdiri perlahan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan meraih lengan Juna, memeluknya mesra.
“Kenapa?” katanya santai. “Iri?”
Nadya terdiam sejenak.
“Biar om-om, setidaknya dia tampan. Dan kaya raya.”
Olivia mengambil salah satu kartu detail desain cincin dari meja. Ia mengangkatnya, memperlihatkan angka harga yang tertera di sana. Lebih dari satu miliar rupiah. Ia menunjukkan angka itu tepat di depan wajah Nadya.
“Emang cowok lu sanggup beli beginian?” senyumnya tipis namun tajam. “Uangnya aja masih modal minta bonyok.”
Suasana mendadak sunyi. Nadya memucat. Wajahnya berubah merah antara malu dan marah.
“Lu sombong banget,” desisnya.
Olivia mengangkat bahu. “Realita kadang pahit.”
Nadya berbalik pergi dengan langkah cepat, jelas tidak siap menerima serangan balik sekejam itu. Juna yang sejak tadi hanya diam, menatap Olivia dengan ekspresi tak terduga.
“Lu ternyata sadis juga,” katanya pelan.
Olivia melepas lengannya dan kembali duduk. “Dia mulai duluan.”
“Tapi lu menikmatinya, Liv.”
Olivia tidak langsung menjawab. Mungkin benar, ia tidak merasa jadi korban. Namun saat ia hendak kembali melihat desain cincin, matanya menangkap sesuatu di pantulan kaca etalase.
Di luar toko. Seorang pria berdiri di trotoar seberang jalan. Pria itu… seperti sedang memperhatikan ke arah dalam, ke arahnya.
Olivia mengerjap. Ketika ia menoleh langsung ke luar, pria itu sudah berjalan menjauh, menyatu dengan keramaian.
“Kenapa lagi?” tanya Juna, menangkap perubahan wajahnya.
Olivia menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”
Namun perasaannya tidak tenang. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar lagi. Bukan panggilan. Sebuah pesan masuk. Dari nomor tak dikenal yang sama. Tidak ada kata-kata.
Hanya satu foto. Olivia membuka dengan jantung berdebar. Foto dirinya. Barusan. Sedang memeluk lengan Juna di dalam toko perhiasan. Diambil dari sudut yang jelas berada…di luar kaca toko.
Tangannya gemetar. Berarti tadi—Pria di trotoar itu. Belum sempat ia mencerna semuanya, pesan kedua masuk.
“Cocok.”
Satu kata. Singkat. Namun cukup untuk membuat napas Olivia tercekat. Karena tepat saat itu, lampu di toko perhiasan mendadak redup sesaat sebelum kembali menyala.
Dan di kaca etalase, di antara pantulan dirinya dan Juna—Ia melihat sosok itu lagi. Berdiri lebih dekat. Menatap lurus ke arahnya.
***
Saat mereka keluar dari toko perhiasan, suasana jalan yang tadi biasa saja berubah riuh. Di satu titik tak jauh dari trotoar depan toko, orang-orang berkerumun padat. Suara klakson bersahutan. Beberapa pengendara memperlambat laju hanya untuk melihat.
Olivia mengernyit. “Ada apa sih?”
“Copet atau kecelakaan, mungkin,” jawab Juna santai, tangannya otomatis menggenggam pergelangan Olivia agar tidak terlalu dekat ke jalan.
Namun rasa penasaran Olivia jauh lebih besar dari rasa amannya. “Ayo lihat, Kak.”
“Ngapain?” Juna menahan langkahnya. “Bukan urusan kita.”
“Siapa tahu kenal. Siapa tahu teman lu,” sahut Olivia cepat. “Berempati sedikit napa sih? Jangan-jangan lu NPD lagi?”
Juna menatapnya tajam. “Elu tuh—”
“Ya sudah, bentar aja!”
Juna menghela napas kasar. Pada akhirnya ia menurut, meski jelas tidak suka. Mereka menerobos kerumunan orang yang sibuk mengangkat ponsel, sebagian merekam, sebagian berbisik-bisik penuh sensasi.
“Geser, geser…”
Sebuah motor tergeletak miring di sisi jalan. Tak jauh darinya, seorang pria terbaring tak bergerak. Darah mengalir deras dari kepalanya. Tubuhnya kaku. Orang-orang berbisik.
“Astaga…”
“Parah banget…”
“Kayaknya nggak selamat…”
Sirene ambulans terdengar mendekat. Olivia yang awalnya hanya penasaran mendadak membeku.
Seseorang berteriak, “Ambulans udah di jalan!”
Napasnya terasa tercekat saat wajah pria itu terlihat jelas dari sela-sela kerumunan. Ia mengenali rahangnya. Garis alisnya. Jaket gelap yang tadi dilihatnya sekilas. Itu pria yang berdiri di trotoar seberang toko perhiasan. Pria yang ia lihat di pantulan kaca. Pria yang… mungkin mengambil foto dirinya.
“Olivia,” suara Juna terdengar jauh.
Ia tidak menjawab. Tangannya gemetar saat merogoh tas dan mengambil ponsel. Layar menyala. Nomor tak dikenal itu masih di sana. Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dan—
Dari tubuh pria yang tergeletak itu… terdengar getaran samar. Sebuah bunyi ponsel berdering dari dalam jaketnya. Dunia Olivia seperti berhenti.
Tim medis berlutut memeriksa nadi dan pupilnya. Ekspresi mereka berubah serius. Salah satu dari mereka perlahan menggeleng. Kain putih ditarik menutup wajah pria itu.
“Time of death…” suara petugas terdengar pelan namun jelas.
Olivia terpaku. Pria itu… sudah mati.
Juna langsung menarik lengannya menjauh dari kerumunan. “Udah. Polisi sama ambulans udah datang. Bukan urusan kita lagi.”
“Tapi…” suara Olivia nyaris tak keluar.
“Emang lu kenal?” tanya Juna, menatapnya tajam.
Olivia menggeleng cepat. “Enggak.”
Ia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke tas, berusaha menyembunyikan tangannya yang masih gemetar.
Polisi mulai memasang garis pembatas. Kerumunan perlahan dibubarkan. Mobil mereka kembali melaju meninggalkan lokasi.