💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Tanda yang tak bisa disembunyikan.
Viona menarik sedikit jarak, matanya masih terpaku pada bekas yang baru saja dia buat di leher Arsen. Wajahnya kembali memerah, namun kali ini bercampur antara rasa malu dan tekad terlihat jelas di dalamnya.
"Aku sudah menandai Paman sebagai milikku," ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas, tangannya masih menempel lembut di dada pria itu. "Aku tidak ingin ada wanita lain yang berani mendekati Paman."
Arsen membuka mata perlahan, tatapannya penuh dengan hasrat dan kehangatan. Dia mengusap pipi Viona dengan ibu jarinya, kemudian menarik gadis itu lebih dekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Kamu sudah pandai menggodaku ya sekarang," bisiknya, bibirnya menyentuh bibir Viona sebentar sebelum menjauh sedikit. "Jangan khawatir, aku hanya milikmu Viona."
Tangan Viona naik dan menyentuh pipi Arsen, "Sekarang aku benar-benar harus pergi, Paman. Kalau terlambat, takutnya nanti Farel akan datang untuk mencariku."
Arsen mengangguk perlahan, meskipun sebenarnya dia tidak ingin melepaskan gadis itu begitu saja. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh tangan Viona yang masih berada di pipinya, menurunkan ke bibirnya dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Baiklah, aku akan segera bersiap dan menyusul turun," ucapnya, memberikan sapuan lembut di bibir Viona dengan ibu jarinya.
Viona memberikan senyum lembut sebelum beranjak bangun dari pangkuan Arsen, kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu kamar. Setelah Viona keluar dan pintu kembali tertutup, Arsen berjalan menuju ke arah cermin, melihat bekas kemerahan yang dibuat oleh Viona di lehernya. Dia tersenyum sendiri sambil mengusap bagian tersebut dengan lembut.
"Dasar gadis nakal... bukan hanya Clara, semua orang pasti akan bertanya-tanya tentang tanda ini." gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, senyum diwajahnya bahkan tak pudar.
-
-
Di ruang makan yang terang benderang dengan lampu kristal yang menyala terang, seluruh keluarga sudah duduk mengelilingi meja makan besar yang penuh dengan hidangan lezat. Bima yang biasanya pulang telat pun kini sudah ada dirumah dan ikut bergabung makan bersama yang lainnya.
Viona duduk dihadapan Arsen, posisinya membuatnya bisa melihat setiap gerakan kecil pria itu dengan jelas. Dia berusaha menahan senyum saat melihat tanda merah buatannya yang terlihat jelas dileher pria itu.
"Arsen, apa kamu mau menambah lauknya?" tanya Clara yang duduk di samping Arsen, bersiap untuk menyajikan potongan daging yang empuk ke piring pria itu.
Arsen menggeleng, memberikan senyum singkat. "Tidak perlu, terima kasih Clara. Aku sudah cukup kenyang."
Saskia yang melihat keakraban keduanya pun tersenyum senang. "Kakak senang melihat kalian bisa langsung akrab begini. Arsen memang jarang ramah dengan tamu, apalagi dengan wanita."
Clara mengangkat dagunya dengan bangga, memberikan senyum manis ke arah Saskia. "Arsen memang dingin dan terkesan tidak peduli. Tapi aku merasa sangat nyaman bersama dia, Kak."
Sementara itu, Viona yang duduk di hadapan mereka merasa dadanya sedikit terasa sesak. Dia menggenggam sendoknya dengan erat, matanya tertuju pada Arsen yang duduk di hadapannya. Arsen yang menyadari bahwa Viona mulai terlihat tidak nyaman segera mengalihkan percakapan.
"Harusnya kamu paham dengan penjelasanku kemarin, Clara," Arsen menjeda kalimatnya sejenak, pandangannya tetap terpaku pada Viona. "Tidak perlu sampai harus mengarang cerita supaya bisa bertemu denganku lagi."
"Arsen," tegur Tuan Danu lembut. "Bersikap lembutlah pada perempuan, lagipula Ayah yang meminta kakak ipar kamu untuk mengundang Clara datang kemari untuk ikut makan malam bersama dengan kita."
Clara menggeleng dengan senyum manis diwajahnya, "Tidak apa-apa, Paman Danu. Justru saya suka dengan sikap Arsen yang seperti ini, membuat saya merasa tertantang untuk bisa mengenalnya lebih dekat lagi."
Tuan Danu tertawa pelan, merasa lega dengan sikap Clara yang terbuka. "Kamu memang perempuan yang kuat, Clara. Semoga saja kamu tidak cepat menyerah menghadapi sifat anak saya yang seperti ini."
Saskia mengangguk dengan senyum, seolah setuju dengan ucapan Ayah mertuanya. "Benar sekali Clara, semoga kita bisa lebih akrab dan bisa menjadi keluarga ya,"
Viona sudah mulai jengah dengan obrolan yang terjadi di meja makan, dia mencoba menekan perasaan yang membuncah. Sebagai tunangan Farel, dia merasa tidak berhak untuk menyela percakapan yang tengah berlangsung, apalagi ketika semua orang tampak begitu senang dengan kehadiran Clara.
Farel yang duduk di sebelah Clara merasakan ketegangan dari arah Viona. "Sayang, kenapa kamu tidak memakan makananmu? Apa kamu tidak enak badan?"
Viona terkejut mendengar suara Farel, dia menggeleng pelan sembari memberikan senyum yang lembut yang terlihat dipaksakan.
"Tidak apa-apa, Rel. Aku hanya merasa tidak terlalu lapar saja," jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar, kemudian menatap sejenak pada Arsen yang duduk di hadapannya.
Arsen diam-diam mengulum senyum tipis saat menyadari kecemburuan Viona yang jelas terpancar dari wajah gadis itu. Dia mengambil bagian dada ayam dan menyendokkannya ke piring Viona.
"Kalau tidak lapar, setidaknya makan sedikit saja," ucap Arsen dengan suara yang cukup jelas sehingga beberapa anggota keluarga melihat ke arah mereka berdua. "Jangan sampai pekerjaanmu dikantor besok terbengkalai hanya gara-gara sakit."
Viona menatap potongan ayam yang ada di piringnya, kemudian melihat ke arah Arsen. Dalam tatapan mereka yang singkat itu, ada banyak hal yang tidak terucapkan, rasa khawatir dari Arsen, serta rasa cemburu yang terlihat jelas diwajah Viona. Setelah beberapa detik, Arsen menurunkan pandangannya dan kembali fokus pada piringnya.
Bima yang sedari tadi diam pun segera menegakkan duduknya, menatap Arsen dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. Tidak biasanya adiknya yang selalu fokus pada pekerjaan dan jarang memperhatikan siapapun tiba-tiba terlihat begitu perhatian terhadap seseorang, terlebih yang diperhatikan adalah Viona yang merupakan tunangan dari keponakannya.
Clara segera membuka pembicaraan lagi untuk menarik perhatian Arsen. "Arsen, aku sudah dengar dari Kak Saskia kalau kamu menjalankan bisnis dan perusahaan sendiri, boleh besok aku datang berkunjung ke kantormu untuk belajar tentang bisnis?"
Arsen meletakan garpu dan sendoknya di atas piringnya, kemudian menoleh ke arah Clara dengan ekspresi yang lebih tegas dari sebelumnya. "Perusahaanku sedang dalam masa sibuk dengan proyek baru. Mungkin bukan waktu yang tepat untuk kamu datang berkunjung."
Clara mengangguk dengan senyum manis, namun ketika hendak memalingkan wajahnya kembali ke makanannya, pandangannya tiba-tiba terpaku pada bagian leher Arsen. Tepat dibawah lekukan lehernya yang terbuka karena gaya duduk pria itu yang tegak, dia menemukan sesuatu yang membuat hatinya seperti terjepit.
Clara tersenyum getir, matanya tetap tertuju pada leher Arsen. "Jadi benar saat dia bilang sudah memiliki seseorang yang dia suka. Tapi siapa wanita yang beruntung itu? Aku jadi penasaran dengannya,"
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...