NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BAYANGAN DARI MASA LALU

Pagi itu, suasana di mansion The Sanctuary terasa lebih berat dari biasanya. Sisa-sisa kejadian semalam—saat Arlan bersimpuh di lutut Arumi dalam keadaan mabuk—masih membekas jelas di ingatan Arumi. Namun, saat fajar menyingsing, Arlan kembali menjadi pria yang sama: dingin, kaku, dan seolah-olah momen kerapuhan itu tidak pernah terjadi.

Arumi baru saja selesai memandikan Leon. Bayi itu tampak segar, aromanya harum perpaduan minyak telon dan sabun bayi yang lembut. Saat Arumi sedang mengancingkan baju monyet mungil berwarna abu-abu pada tubuh Leon, pintu kamarnya diketuk dengan ritme yang cepat dan tidak sabar.

Bukan Arlan. Itu adalah Bram, asisten pribadi Arlan yang selalu menatap Arumi seolah-olah wanita itu adalah kuman yang mencemari kebersihan mansion.

"Tuan Arlan menunggumu di ruang makan bawah. Sekarang," ucap Bram tanpa ekspresi. Matanya sempat melirik Leon yang ada di gendongan Arumi, ada tatapan sinis yang sulit disembunyikan.

"Tapi Leon baru saja akan tidur siang, Tuan Bram," jawab Arumi mencoba membela diri.

"Tuan Arlan tidak suka mengulang perintah. Dan jangan panggil aku 'Tuan'. Aku bukan majikanmu, aku hanya pengawasmu," desis Bram sebelum berbalik pergi.

Arumi menghela napas panjang. Ia mengecup dahi Leon sejenak sebelum menyerahkan bayi itu kepada Bi Inah, pengasuh senior yang sudah mulai ia percayai. Dengan langkah ragu, Arumi menuruni tangga menuju ruang makan yang luasnya hampir sama dengan seluruh luas kontrakan lamanya.

Di ruang makan, Arlan duduk di kepala meja, sedang membolak-balik tabletnya sambil sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula. Ia tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Duduk," perintah Arlan tanpa mendongak.

Arumi duduk di kursi yang paling jauh dari Arlan, namun pria itu memberi isyarat agar ia mendekat. Arumi terpaksa berpindah ke kursi tepat di sebelah kanan Arlan.

"Ada apa, Tuan?"

Arlan meletakkan tabletnya. Ia menatap Arumi dengan intensitas yang berbeda hari ini. "Ada tamu yang akan datang siang ini. Dia adalah kerabat jauh keluarga Arkananta. Namanya Siska. Dia seorang desainer yang baru kembali dari Paris."

Arumi mengerutkan kening. "Lalu, apa hubungannya dengan saya? Bukankah saya dilarang terlihat oleh siapapun?"

"Tepat sekali," Arlan memajukan tubuhnya, suaranya merendah. "Siska adalah wanita yang sangat cerdik. Dia dikirim oleh ibuku untuk menyelidiki kenapa aku jarang pulang ke rumah utama dan kenapa aku menyewa mansion ini secara rahasia. Selama dia di sini, kau akan menyamar sebagai perawat pribadi yang aku sewa untuk mengobati luka pasca-kecelakaanku yang belum sepenuhnya sembuh."

"Dan Leon?" Arumi bertanya cemas.

"Leon akan berada di ruang kedap suara di lantai atas bersama Bi Inah. Apapun yang terjadi, jangan biarkan Leon menangis kencang, dan kau... jangan pernah berinteraksi dengan Siska lebih dari yang diperlukan. Jika dia bertanya, kau hanya perawat medis, bukan ibu susu."

Arumi mengangguk patuh, meski hatinya merasa sesak. Ia merasa seperti barang simpanan yang memalukan, sesuatu yang harus disembunyikan di balik tirai kemewahan Arlan.

Pukul satu siang, sebuah mobil sport merah meraung masuk ke halaman mansion. Siska turun dengan gaya yang sangat glamor—kacamata hitam besar, tas kulit buaya, dan gaun sutra yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Ia adalah definisi wanita kelas atas yang angkuh.

Arlan menyambutnya di lobi dengan senyum palsu yang paling sempurna yang pernah Arumi lihat. Arumi sendiri berdiri di belakang Arlan, mengenakan seragam putih polos yang sudah disiapkan, mencoba terlihat seprofesional mungkin.

"Arlan, Sayang! Mansion ini terlalu jauh dari peradaban. Bagaimana kau bisa betah tinggal di sini?" Siska mencium pipi Arlan dan segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya kemudian tertuju pada Arumi. "Dan siapa wanita ini? Perawatmu? Dia terlihat... terlalu muda dan terlalu 'kampung' untuk standar seorang Arkananta."

Arumi menundukkan kepala, meremas jemarinya.

"Dia yang terbaik di bidangnya, Siska. Jangan menilai dari penampilannya," jawab Arlan datar.

Acara makan siang itu adalah siksaan bagi Arumi. Siska terus-menerus mencoba menggoda Arlan, membicarakan tentang rencana pernikahan yang kabarnya sedang disusun oleh ibu Arlan. Arumi hanya berdiri di sudut ruangan, siap sedia jika Arlan membutuhkan sesuatu—setidaknya itulah perannya sebagai "perawat".

Namun, ketenangan itu hancur saat suara tangisan samar terdengar dari lantai atas. Itu suara Leon. Tampaknya bayi itu terbangun dan tidak menemukan Arumi di sisinya.

Siska seketika berhenti bicara. Ia melepaskan garpu peraknya dan menajamkan pendengarannya. "Suara apa itu, Arlan? Kedengarannya seperti... suara bayi?"

Jantung Arumi seolah berhenti berdetak. Ia melirik Arlan. Rahang pria itu mengeras, namun ia tetap tenang.

"Itu suara kucing liar yang sering masuk lewat balkon," jawab Arlan cepat. "Bram, urus kucing itu sekarang."

Bram segera bergerak ke atas, namun Siska tidak sebodoh itu. Ia berdiri. "Kucing? Arlan, aku tahu suara kucing dan suara manusia. Sejak kapan kau memelihara 'kucing' yang suaranya mirip anak kecil?"

Siska mulai berjalan menuju tangga. Arlan mencoba menghalanginya, namun Siska berkelit. Arumi yang panik secara spontan berlari mendahului Siska.

"Nyonya, maaf, itu suara televisi dari kamar saya! Saya lupa mematikannya!" seru Arumi

menghalangi jalan Siska di anak tangga tengah.

Siska menatap Arumi dengan tatapan menghina. "Beraninya kau menghalangi jalanku, pelayan rendah?" Siska mendorong bahu Arumi.

Arumi tidak seimbang dan hampir terjatuh ke belakang jika sebuah tangan besar tidak menangkap pinggangnya. Arlan berada di sana, menahan Arumi agar tidak terguling di tangga. Namun, gerakan itu membuat Siska semakin curiga.

"Kenapa kau begitu protektif padanya, Arlan? Ada yang tidak beres di rumah ini," Siska menyipitkan mata. Ia mencium sesuatu yang aneh. "Dan kenapa... baju perawat ini tercium seperti aroma susu bayi?"

Siska mendekat ke arah Arumi, mencoba menghirup aroma tubuh Arumi yang memang masih basah oleh ASI yang merembes karena Leon belum menyusu sejak pagi. Arumi mundur ketakutan.

"Siska, cukup!" bentak Arlan. Suaranya menggelegar di seluruh ruangan. "Keluar dari rumahku sekarang. Urusan pribadiku bukan konsumsi publik, apalagi untuk dilaporkan pada ibuku."

Siska tertegun. Ia tidak pernah melihat Arlan seberingas ini untuk hal yang dianggapnya sepele. "Kau mengusirku demi perawat ini? Baik. Tapi jangan salahkan aku jika besok seluruh keluarga besar datang ke sini untuk memeriksa apa yang sebenarnya kau sembunyikan."

Siska menyambar tasnya dan pergi dengan kemarahan yang meluap.

Setelah mobil Siska menghilang dari pandangan, suasana mansion menjadi sangat mencekam. Arlan berbalik menatap Arumi. Napasnya memburu.

"Aku sudah bilang, jangan biarkan dia mencurigaimu!" Arlan mencengkeram lengan Arumi. "Sekarang dia akan melapor pada ibuku.

Kau tahu apa artinya itu? Mereka akan mengirim orang untuk menggeledah tempat ini!"

"Maafkan saya, Tuan... saya hanya ingin melindungi Leon," isak Arumi.

Arlan melepaskan cengkeramannya. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata Arumi. Entah kenapa, amarahnya sedikit mereda saat melihat air mata wanita itu. Ia teringat kembali betapa Arumi dengan tulus menjaga putranya.

"Masuk ke kamar," perintah Arlan lebih lembut.

"Susuilah Leon. Dia terus menangis karena dia merindukanmu."

Arumi berlari ke atas, menuju kamar bayi. Benar saja, Leon sedang menangis histeris di pelukan Bi Inah. Begitu Leon berpindah ke dekapan Arumi, bayi itu langsung tenang. Isakannya perlahan menghilang saat ia mulai menyusu.

Arumi duduk di kursi goyangnya, memandangi wajah Leon yang masih basah oleh air mata. Ia merasa sangat berdosa. Karena dirinya, keberadaan Leon terancam. Namun, ada satu hal yang lebih mengusiknya. Ucapan Siska tadi tentang "rencana pernikahan" Arlan.

Malam itu, saat Arlan masuk ke kamar bayi untuk mengecek keadaan Leon, Arumi memberanikan diri bertanya.

"Tuan... apakah Anda akan segera menikah dengan Nona Siska atau wanita lain?"

Arlan terhenti di ambang jendela. Ia menatap kegelapan malam. "Pernikahan di keluarga Arkananta bukan tentang cinta, Arumi. Itu tentang aliansi bisnis. Ibuku tidak akan berhenti sampai aku bersanding dengan seseorang yang setara."

"Lalu... bagaimana dengan Leon?"

Arlan berbalik. Tatapannya sangat dingin, namun ada secercah kesedihan yang tak terkatakan. "Leon tidak pernah ada bagi mereka. Dan jika mereka tahu tentang Leon, mereka akan mengambilnya dariku dan mengirimnya ke tempat yang jauh agar tidak merusak reputasi perusahaan."

Arumi memeluk Leon lebih erat. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya sedang menyusui seorang bayi, tapi ia sedang berada di tengah medan perang yang sangat besar. Dan di medan perang ini, ia hanyalah seorang pion yang bisa dibuang kapan saja.

"Tuan," bisik Arumi. "Saya tidak akan membiarkan siapapun mengambil Leon. Saya berjanji."

Arlan tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Arumi dalam waktu yang lama, seolah-olah ia sedang mencoba menemukan kekuatan di dalam diri wanita yang ia anggap lemah itu. Namun, di balik bayangan pintu, Bram berdiri diam, merekam percakapan itu dengan ponselnya.

Asisten itu memiliki rencananya sendiri yang bisa menghancurkan segalanya.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!