Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkaran Penyelamat
Teman-teman Bayu langsung terbelalak lebar saat melihat Putra yang perlahan tapi pasti terseret mundur ke arah sudut paling gelap kamar itu. Tubuhnya seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata, wajahnya penuh rasa takut tapi tidak bisa bergerak sama sekali.
"PUTRA!!!" teriak Bayu, Priya, dan Bobi serempak dengan suara penuh kegelisahan.
Bayu dengan cepat melompat maju, mencoba menggapai tangan Putra yang terbentang di depannya. Tapi setiap kali tangannya hampir menyentuh, Putra justru terseret lebih jauh lagi, menjauhi jangkauannya.
"HENTIKAN, TANTE! JANGAN SAKITI TEMAN KU! MEREKA GAK SALAH!" teriak Bayu dengan suara serak, menatap arah bayangan Rini yang kini tampak lebih jelas di balik Putra.
Angin kencang tiba-tiba menerpa kamar dari arah jendela yang terbuka lebar. Tirai terbang liar, barang-barang kecil di atas meja berguling ke lantai, dan mereka semua terpental jatuh karena hembusan angin yang begitu kuat itu.
"KITA BUAT LINGKARAN CEPAT!" teriak Priya sambil berusaha berdiri sambil menahan badan dari angin yang menerpa. "LINGKARAN PENYELAMATAN, SEKARANG JUGA!"
Bobi yang baru saja bangkit dengan susah payah langsung mengangguk. "KITA BANTU PUTRA".
Mereka berdua segera bergerak cepat, membentuk lingkaran kecil di tengah lantai kamar dengan menarik tangan satu sama lain. Bayu juga ikut bergabung setelah berhasil berdiri, dan mereka mulai berusaha menarik Putra yang masih terseret ke arah lingkaran itu.
"DENGAN KUAT, KITA TARIK DIA KE SINI!" kata Bayu dengan napas terengah-engah, tangan mereka saling erat menggenggam.
Priya mulai membaca kata-kata perlindungan yang dia ingat dari cerita neneknya: "Bumi dan langit, lindungi kami semua... Pulangkan yang harus pulang, jauhkan yang harus jauh... Bantu kami bawa Putra kembali ke tempat yang aman..."
Dengan kekuatan bersama, mereka perlahan-lahan berhasil menarik tubuh Putra yang semula terus menjauh. Kaki Putra mulai melangkah dengan terpaksa ke arah lingkaran, sementara angin yang kencang itu perlahan mulai reda.
Setelah itu, suasana kamar menjadi hening sekali tidak ada lagi suara angin, tidak ada tangisan, tidak ada gerakan apapun. Hanya terdengar bunyi napas mereka yang terengah-engah, penuh dengan kelelahan dan ketakutan yang masih menyelimuti tubuh.
Mereka semua berbaring tergeletak di lantai yang berdebu dan sedikit basah, mata mereka masih menatap ke arah tempat di mana sosok mengerikan itu muncul tadi. Badan mereka terasa lemas seperti sudah tidak punya kekuatan sama sekali.
"Ini semua udah selesai kan... dia gak akan balik lagi?" tanya Bobi dengan suara pelan, wajahnya masih pucat dan berkeringat dingin. Dia masih tidak berani mengangkat kepalanya terlalu tinggi.
"Semoga..." jawab Priya dengan napas yang masih terengah-engah. Dia mencoba mengangkat badan sedikit, tapi langsung jatuh kembali karena kekurangan tenaga. Matanya masih penuh dengan ketakutan yang belum hilang.
Bayu merangkak perlahan ke arah Putra yang berbaring tidak jauh darinya.
"Putra, lo gak apa-apa kan?" tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran, menyentuh bahu Putra dengan hati-hati seolah khawatir akan menyakiti dia.
Putra sedikit mengangguk, wajahnya masih pucat dan mata tetap menatap ke arah langit-langit. "Aman..." ucapnya dengan suara gemetar, masih terlihat sangat takut. Dia perlahan menutup matanya, seolah ingin menghilangkan semua gambar mengerikan yang baru saja dilihatnya.
Kamar kembali sunyi. Hanya terdengar suara jam dinding yang terus berdetak – "TIK... TAK... TIK... TAK..." – seolah menghitung waktu yang mereka lewati dalam kesusahan itu.