NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Day-1

Enjoy gays...

Melelahkan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana tubuh mereka saat ini. Melakoni acara dari pagi hingga malam hari, tak ada waktu untuk keduanya istirahat sama sekali. Beruntung semuanya telah selesai dan keduanya bisa kembali ke kamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka.

Sementara Aurora melepas semua aksesoris yang melekat di tubuhnya serta riasan di wajahnya, Luca juga melepas jas dan rompi yang sejak tadi melekat di tubuhnya dan meletakkannya di atas sofa. Menggulung kemeja putih yang di kenakannya sebatas siku lalu membuka pintu yang menghubungkan antara kamar mereka dan balkon. Berdiri di dinding kaca pembatas, Luca menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan menikmati udara dan pemandangan malam yang begitu menyejukkan dan memenangkan.

"Luca?" Panggilan dari Aurora yang berdiri di ambang pintu membuat Luca menoleh ke belakang.

"Air angetnya udah gue siapin, baju ganti lo juga udah ada di atas kasur." Ucap Aurora secara tidak langsung memerintah Luca untuk mandi.

"Thank you Ara." Tersenyum lembut, Luca membawa kakinya melangkah masuk ke dalam dan tak menunda-nunda rutinitas mandinya karena hari sudah sangat malam.

"Sama-sama." Balas Aurora menutup pintu balkon lalu melangkah ke arah sofa dan memainkan ponselnya.

***

Hanya berdua dalam satu kamar bersama Luca membuat Aurora tiba-tiba merasa canggung dan bingung. Apa mungkin karena status diantara keduanya yang telag berubah atau bagaimana? Entahlah. Padahal, Luca sendiri terlihat sangat tenang dan begitu santai seolah tanpa beban. Begitu serius dengan iPad di tangannya entah apa yang tengah dia kerjakan.

"Luca?" Panggil Aurora sedikit ragu.

"Kenapa?" Tanya Luca seraya memalingkan wajahnya menatap Aurora yang duduk di pinggir kasur.

Tak tahu harus memulainya darimana, Aurora kembali diam dan berkali-kali memalingkan wajahnya ke sembarang arah seraya menghembuskan nafasnya.

"Ngomong aja Ra.... Kenapa jadi canggung gitu?" Ucap Luca yang dengan jelas menyadari perubahan sikap Aurora yang tak seperti biasanya.

"Hmm......gue mungkin bisa lakuin semua tanggungjawab gue sebagai istri lo, tapi untuk urusan yang satu itu.... Lo ngerti lah apa maksud gue?" Ucap Aurora walau dengan malu-malu pada akhirnya.

"Apa?" Tanya Luca karena masih belum mengerti apa maksud Aurora.

"Itu...." Rasa malu membuat Aurora tak berani mengungkapkannya dan hanya memberi kode tidak jelas yang membuat Luca semakin bingung menafsirkannya.

10 menit berselang, Luca akhirnya paham akan apa yang Aurora maksudkan. Dia pun tersenyum karena tak menyangka Aurora akan semenggemaskan itu ketika dirinya tengah malu-malu. Benar-benar sikap yang belum pernah Luca lihat sebelumnya.

"Tanggungjawab secara batin maksud lo?" Tanya Luca menebak.

"Iya." Jawab Aurora tertunduk malu.

Jujur, Luca sendiri tak banyak berharap jika malam ini mereka akan melakukan itu seperti pasangan suami-istri yang baru menikah pada umumnya. Karena Luca tahu Aurora belum mencintainya sepenuhnya dan pasti ada rasa canggung dan malu di hatinya.

See, hal itu benar adanya. Luca pun sama sekali tak terkejut sekaligus bangga saat Aurora berani mengatakannya. Itu artinya, Aurora mulai terbuka dengan dirinya dan tak akan ada salah paham yang terjadi diantara mereka kedepannya karena masalah itu.

"Gak papa kok, nyantai aja. Gue paham kalo lo belum siap sepenuhnya." Ucap Luca tersenyum lembut penuh pengertian. Membuat Aurora seketika mengangkat kepalanya sekaligus bernafas lega karena tak percaya Luca mau menurutinya.

"Kecuali...." Lanjutnya menggantungkan ucapannya dengan senyum yang tak Aurora mengerti artinya.

"Kecuali apa?" Tanya Aurora dengan polosnya.

"Kecuali kalo gue gak bisa nahan ya gue minta." Sahut Leon diiringi senyuman.

"Ihh.... Luca. Serius gue." Kesal Aurora cemberut karena Luca yang justru bercanda.

"Ya gue juga serius. Emang lo mau kalo gue jajan di luar sana?" Semakin kesal karena omongan Luca yang justru kemana-mana, Aurora tambah berkali-kali lipat melipat wajahnya dan cemberut sembari kedua tangan terlipat di depan dada dan menatap Luca dengan tajam. Yentu jika hal itu benar-benar terjadi Aurora tak akan pernah memaafkan Luca apapun alasannya.

Tak tahan melihat Aurora yang ternyata begitu menggemaskan saat sedang kesal membuat Luca akhirnya mengeluarkan tawanya sepuasnya.

"Hahahaha.... Astaga Ra... Kumuk banget sih mukanya.... Gue becanda doang.... Mana mungkin gue ngelakuin itu." Ucap Luca masih dengan tawa yang entah kapan akan berhentinya.

"Kenapa gak mungkin? Bisa aja kan lo tiba-tiba khilaf atau emang sengaja?"

Terdiam seketika, Luca terkejut karena Aurora menganggap ucapannya benar-benar serius.

"Kalo gue emang sebejat itu, gue gak akan pernah nikahin lo. Buat apa coba? Cuma buat nyakitin lo doang gitu? Gak ada gunanya buat gue. Buang-buang waktu." Ucap Luca dengan tegas dan tawa yang sudah pergi entah kemana.

Kali ini giliran Aurora yang terdiam karena omongan tegas Luca yang begitu menesuk hati. Mempertanyakan sesuatu yang tak akan pernah Luca lakukan baik itu spontan atau tidak di sengaja sama dengan meragukan ketulusan Luca padanya. Dan itu adalah ssuatu kesalahan besar yang Aurora lakukan.

"Tapi, gue boleh gak klakuin satu hal?" Pinta Luca masih dengan tatapan seriusnya.

"Apa?"

Bangkit dari duduknya, Luca meletakkan iPadnya di atas meja lalu berjalan mendekati Aurora dan berdiri di hadapannya.

Menatap lekat wajah Aurora, Luca tiba-tiba mendaratkan kecupan di kening yang membuat Aurora spontan diam membeku karena terkejut sekaligus tak percaya jika hal itu yang akan Luca lakukan padanya.

"Gue pengen ini jadi penutup hari kita setiap malem. Lo gak keberatan kan?" Ucap Luca meminta sekaligus bertanya setelah melepas kecupannya di kening Aurora.

Tak langsung menjawabnya, Aurora yang masih diam membeku justru di buat kembali terpesona saat melihat wajah Luca dari jarak yang sangat dekat. Wajah tampan dengan kulit putih bersih tanpa noda.

Tak hanya itu, Aurora juga merasakan jika jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang tak seperti biasanya. Layaknya seseorang yang tengah terkena serangan jantung tapi masih baik-baik saja.

Untungnya, Aurora segera mendapatkan kesadarannya kembali dan langsung memalingkan wajah serta pandangannya dari Luca dan bersikap biasa saja.

"Oke." Ucap Aurora setuju.

Tak ada yang salah dengan ciuman selamat malam, toh keduanya juga sudah resmi sebagai sepasang suami-istri. Lagipula, Luca juga dengan senang hati mengabulkan permintaannya tanpa banyak pertanyaan apalagi syarat yang di ajukan.

"Ya udah, tidur gih, lo pasti capek." Tersenyum lembut, Luca mengacak rambut Aurora sekilas lalu mengambil salah satu bantal yang ada di atas kasur dan membawanya.

"Lo mau kemana?"

"Tidur di sofa. Gue takut khilaf."

Sejujurnya dalam hati ada rasa bersalah kerana tak bisa memberikan yang terbaik untuk Luca. Tapi di satu sisi Aurora juga tak ingin melakukannya dengan terpaksa hanya karena sebuah embel-embel tanggungjawab yang harus terlaksana.

Tak kembali menyentuh iPadnya, Luca menata tempatnya sendiri senyaman mungkin untuk tidur walau tanpa selimut seperti biasanya karena di kamar mereka hanya ada satu dan itu sudah pasti untuk Aurora.

"Luca?" Panggil Aurora sebelum merebahkan tubuhnya.

"Hm?" Gumam Luca seraya menoleh.

"Good night."

"Good night Aurora."

Memeluk bantal sofa, Luca tak lupa lebih dulu berdoa sebelum memejamkan mata. Begitupun dengan Aurora yang sudah membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.

***

Matahari sudah terbang tinggi ke tempatnya, tapi sepasang mata yang sejak semalam terpejam masih enggan untuk terbuka. Padahal, hari sudah sangat siang, atau mungkin, kegiatan kemarin membuatnya benar-benar kelelahan sampai tubuh yang biasa dengan sendirinya terbangun masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran.

10 menit berselang, sinar cahaya akhirnya mampu mengganggu kenyamanannya. Mengerjapkan kedua matanya perlahan mengumpulkan nyawa yang sempat hilang, mau tak mau akhirnya Aurora terbangun dengan rasa kantuk yang masih belum sepenuhnya hilang.

"Good morning Aurora." Sapa Luca yang tiba-tiba datang dan mengejutkan seraya membawa nampan berisi makanan di tangan.

"Morning Luca." Balas Aurora setelah beberapa saat kemudian berhasil menetralkan keterkejutannya dan sadar sepenuhnya.

"Pas banget lo udah bangun. Gue tadi pesen sarapan dari hotel, sarapan bareng yuk?" Ajak Luca dengan senyuman seraya memperlihatkan nampan di tangannya.

"Tunggu gue cuci muka sebentar." Tak menolak, Aurora menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu turun dari tempat tidur dan memakai sandal hotel yang semalam digunakannya.

"Oke. Di balkon ya?"

"Hm."

Melangkah bersama, Luca membawa sarapan mereka ke balkon sementara Aurora masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

***

Hotel tempat mereka menginap saat ini adalah salah satu hotel terbaik yang ada di Bali. Selain memberikan kenyamanan dan service yang memuaskan, letaknya yang tak jauh dari pantai membuatnya jelas memiliki pemandangan indah nan mengagumkan seperti sekarang.

"Ra?" Panggil Luca membuka obrolan di sela-sela sarapan mereka sembari menikmati panorama laut yang sungguh mengesankan.

"Hm?" Gumam Aurora karena mulutnya masih penuh dengan makanan.

"Gue boleh nanya sesuatu gak sama lo?" Memalingkan wajah dan pandangan, Luca menatap Aurora yang masih begitu hikmat dengan makanannya.

"Apa?"

"Tapi lo jangan tersinggung ya?"

"Tergantung."

"Ya gak usah aja kalo gitu mah. Daripada nanti lo tersinggung dan belum apa-apa kita udah berantem."

"Becanda Luca.... Mau tanya soal apa?" Kekeh Aurora seraya meletakkan es tehnya di atas meja.

"Alesan sebenarnya lo gak pengen klakuin itu,  selain karena lo belum siap, apa?"

Jujur, sejak semalam rasa penasaran itu menghantui pikiran Luca. Tapi dia tak berani mengatakannya karena takut Aurora akan berprasangka buruk tentangnya. Tapi pagi ini, Luca berani bertanya karena dia sudah tak bisa menahan rasa penasaran itu lebih lama. Itu sebabnya tadi dia meminta persetujuan Aurora sebelum menanyakannya.

"Karena gue gak pengen hamil dulu. Bukannya gue gak mau punya anak.... Tapi, lo tau sendiri kan gue masih kuliah dan jurusan kedokteran itu gak gampang. Gue cuma takut kalo nanti gue hamil terus punya anak di saat gue masih sibuk-sibuknya kuliah, gue gak bisa jagain anak gue 100%. Gue gak mau waktu kebersamaan gue sama anak gue nanti gak ada karena gue yang sibuk sama kuliah."

Mendengar penuturan Aurora yang begitu panjang dan lebar membuat Luca lagi-lagi di liputi rasa kagum sekaligus bangga. Dia benar tak menyangka jika Aurora memiliki pemikiran sejauh itu dan sedewasa itu. Luca pikir, Aurora tak ingin melakukannya hanya karena dia yang belum mencintainya, tapi rupanya ada alasan mulia yang Aurora simpan di baliknya.

"Tapi, lo beneran gak masalah kan?" Tanya Aurora khawatir karena Luca yang tak memberi respon apa-apa.

"Gak. Dari awal kan gue udah bilang kalo gue bakal support 100% keputusan lo. Lagian, jadi Dokter itu kan juga impian lo. Jadi, kenapa harus gue masalahin itu." Tersenyum meyakinkan, Luca memang benar tak mempermasalahkan hal itu sekarang.

"Thanks ya Ca. Lo selalu bisa ngertiin gue."

Sampai sekarang, Aurora masih bingung dengan perasaannya. Apakah dia sudah benar-benar jatuh cinta pada Luca atau dia yang hanya merasa nyaman karena Luca yang selalu mengerti dirinya.

Tapi entah kenapa, sejak pertemuan pertama mereka yang tak di sengaja, Aurora sempat berpikir jika Luca adalah malaikat berwujud manusia yang di kirimkan Tuhan untuknya. Dia yang selalu hadir membantunya saat Kenzo mencoba mengganggunya dan kini saat keduanya sudah resmi jadi sepasang suami-istri pun sikap Luca tak pernah berubah padanya. Masih saja sama. Penuh perhatian dan pengertian tanpa minta imbalan.

"Sama-sama. Emang udah seharusnya kan? Nanti pun pasti ada saat dimana lo yang ngertiin gue."

Dari awal dia memilih Aurora menjadi pasangan hidupnya, Luca memang tak memiliki tuntutan apapun untuk hubungan mereka. Dia hanya ingin membuat Aurora nyaman dan selalu bahagia bersamanya apapun nanti yang akan mereka hadapi kedepannya.

"Kalaupun di pikir-pikir lagi, kayak gini juga menyenangkan kok... Kita bisa klakuin apapun yang kita mau berdua. Sama kayak mereka yang masih pacaran. Cuma bedanya, status kita udah sah jadi suami-istri." Ucap Luca dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya.

Melanjutkan sarapan yang belum selesai, Aurora mengambil potongan roti di atas piring yang masih tersisa lalu memakannya. Sementara Luca yang sejak tadi sudah selesai dengan makanannya hanya memandang ke depan menikmati keindahan laut yang semakin siang justru semakin mengagumkan.

"Lo suka pantai gak?" Tanya Luca menatap Aurora yang sudah selesai dengan makanannya.

"Suka."

"Mau jalan-jalan? Mumpung kita masih disini dan udaranya gak terlalu panas."

"Boleh, tapi tunggu gue mandi sama ganti baju dulu."

"Oke. Gue tunggu di lobby hotel ya."

Mengambil handphonenya dari atas meja, Luca pun melangkah pergi, meninggalkan Aurora yang masih belum beranjak dari tempatnya karena masih menghabiskan es tehnya.

***

Menunggu adalah sesuatu yang selalu dianggap membosankan bagi semua orang. Tapi tidak dengan Luca yang justru dengan tenang dan sabar menikmatinya. Sembari menikmati minumannya dan bermain game di ponselnya, Luca menunggu kedatangan Aurora yang sudah hampir setengah jam lamanya tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Sampai akhirnya, layar handphone yang tadinya menampilkan gambar game berubah menjadi panggilan suara dari orang yang sedang di tunggunya.

Menggeser tombol berwarna hijau itu, Luca bangkit dari duduknya seraya menempelkan handphonenya di samping telinga. Tak lupa, dia juga membawa bekas minumannya untuk di buang ke dalam tempat sampah.

"Kenapa Ra?"

^^^"Lo dimana? Gue udah di depan."^^^

"Lo dimana sekarang?" Pertanyaan Luca berikan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mencari keberadaan Aurora.

^^^"Di depan resepsionis."^^^

"Ya udah tunggu, gue ke situ sekarang."

Mematikan panggilan mereka, Luca menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celana lalu menghampiri Aurora yang sudah menunggunya.

"Ara?" Panggil Luca mengejutkan Aurora yang tengah memandang ke arah lain.

Bak slow motion di adegan film-film yang tersaji di depan mata, Luca seketika terpesona dengan tampilan Aurora di hadapannya. Sederhana memang, hanya baju pantai biasa dengan celana pendek, sandal serta topi yang terpasang di kepala juga kacamata dan rambut yang tergerai sempurna. Sungguh, keindahan dunia.

"Luca?"  Panggil Aurora mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Luca untuk menyadarkannya.

"Huh?" Kaget Luca saat kembali tersadar di dunia nyata.

"Kenapa gitu ngeliatinnya? Gue gak cocok ya pake kayak gini?" Tanya Aurora bingung karena Luca sama sekali tak berkedip memandangnya.

"Cocok kok. Lo keliatan cantik." Pujian itu Luca berikan bukan hanya sekedar untuk membuat Aurora senang, tapi memang datang dari lubuk hati yang terdalam.

"Ya udah yuk jalan, keburu siang. Nanti yang ada lo kepanasan terus kulit lo gosong."

"Lebay lo."

"Hahahaha..... Kan biasanya cewek gitu. Takut kalo kulitnya gosong."

Keluar dari hotel, keduanya memilih untuk berjalan kaki saja karena jarak hotel dan pantai yang tidak terlalu jauh.

***

Menikmati keindahan pantai ada banyak caranya, salah satunya adalah dengan berjalan kaki menyusuri bibir pantai sembari bermain ombak yang datang ke pinggir.

"Penuh tuh lama-lama memori fotoin gue mulu." Ucap Aurora yang sadar jika Luca sejak tadi mengambil fotonya.

"Gak papa, kan udah jadi istri sekarang." Bukannya malu karena ketahuan, Luca justru dengan santai menyikapinya dan kembali mengambil gambar yang ada di depannya. Tapi kali ini bukan Aurora yang menjadi tujuannya.

"Lo.... Suka banget sama foto?" Berjalan mendekati Luca, Aurora bertanya sambil memainkan ombak yang mengenai kakinya.

"Di bilang suka banget sih enggak, di  bilang biasa aja juga enggak. Intinya, gue ngerasa lebih tenang aja kalo lagi motret."

"Dari kapan mulai suka motret?"

"Dari SMA."

Cekrek...

"Jelek Luca." Protes Aurora karena lagi-lagi Luca mengambil fotonya tanpa aba-aba dan dengan jarak yang sangat dekat pula.

"Kata siapa? Gak kok, cantik." Dengan penuh rasa percaya diri, Luca memperlihatkan hasil foto yang baru saja diambilnya.

Walau terkesan asal-asalan, tapi Aurora tak menampik jika hasil foto Luca memang tak mengecewakan. Pantas saja saat mereka camping waktu itu teman-temannya begitu puas dengan hasil foto yang Luca berikan pada mereka. Terutama Aline yang sejatinya paling tidak suka dengan kamera.

"Mau lanjut jalan apa cari tempat duduk?" Tanya Luca memberi tawaran. Sudah hampir setengah jam keduanya menyusuri pantai dan tak ada yang mereka lakukan kecuali hanya bermain dengan ombak dan pasir yang ada di tepi pantai.

"Hm... Lo capek?" Bukannya memberi jawaban, Aurora justru balik melempar pertanyaan.

"Gak juga. Lo masih mau lanjut jalan?" Aurora mengangguk sebagai jawaban.

"Ya udah, yuk." Menuruti permainan, Luca pun mengikuti Aurora dari belakang. Tampaknya, pantai adalah salah satu tempat favorit Aurora. Karena sejak tadi Aurora terlihat begitu menikmatinya tanpa peduli sinar matahari yang mulai terasa panas.

Cukup jauh keduanya berjalan, sampai akhirnya Aurora tiba di titik berhenti karena lelah.

"Eh, itu kayak anak-anak yang lain?" Tunjuk Aurora pada segerombolan manusia yang tengah duduk melingkar di kursi pantai tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Mengikuti arah pandang Aurora, Luca sedikit memicingkan matanya untuk memastikan jika orang-orang yang Aurora maksud memang benar teman mereka.

"Samperin yuk." Ajak Aurora kembali membuat langkah.

Di saat yang sama, Alice yang tak sengaja memalingkan wajahnya karena terlalu lelah bermain handphone melihat kedatangan Luca dan Aurora. Dia pun hanya tersenyum saat Aurora juga memandangnya.

"Wah wah wah..... Mentang-mentang yang baru nikah baru nongol nih...." Ucap Rion menyindir kedatangan Luca dan Aurora.

"Kemana aja mbak... Kecapean ya?" Sahut Audrey bertanya dengan nada mengejek dan senyum yang langsung Aurora tahu apa itu maksudnya.

"Eh, tuh otak di kontrol ya Nona Audrey Shailendra. Gue emang kecapean, tapi gak sama kayak apa yang ada di pikiran lo." Balas Aurora dengan wajah kesal.

"Hehehe.... Nyantai dong mbak... Kok nyolot sih?" Terkekeh hambar sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Audrey langsung diam seketika.

Ekspresi Aurora saat ini benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya dan jika Audrey terus melanjutkan godaannya yang ada Aurora akan benar-benar marah padanya dan keduanya justru akan berakhir dengan pertengkaran.

"Nyebelin sih lo."

Berbeda dengan Aurora yang terang-terangan memperlihatkan rasa tak sukanya saat Audrey menggodanya, Luca justru terlihat santai dan hanya tersenyum menanggapinya.

"Kalian udah lama ada di sini?" Tanya Luca entah pada siapa.

Sudah tak ada lagi tempat duduk yang tersisa untuk mereka, jadi Luca dan Aurora terpaksa berdiri di samping teman-temannya.

"Dari pagi sebelum matahari terbit. Noh gara-gara sih Alexa yang ngebet banget pengen liat sunrise." Sahut Vino kesal seraya menunjuk Alexa yang duduk di hadapannya.

"Ye.... Kenapa gue yang jadi kambing hitamnya? Kan gue cuma bilang gue mau liat sunrise, gak minta di temenin Vino...." Balas Alexa tak terima di salahkan.

"Mana bisa gak di temenin, kalo lo kenapa-napa gimana? Siapa yang repot? Kita juga kan?"

"Alesan aja lo. Bilang aja kalo lo itu khawatir sama dia...... Kenapa gak jujur aja sih?" Ucap Leon tertawa seraya merangkul bahu Vino dan membuatnya diam seketika karena malu.

Sementara mereka yang melihat hal itu juga ikut tertawa karena ekspresi Vino yang lucu.

"Terus, kalian udah ngapain aja dari tadi?" Tanya Aurora mengalihkan suasana.

"Boro-boro ngapa-ngapain.... Cuma duduk doang ngeliatin orang-orang." Sahut Alice yang sudah sangat jelas sejak tadi menahan rasa bosan.

"Lah, kenapa gak main atau ngapain gitu?"

"Gak, kita semua nungguin lo. Gak seru kalo gak ada lo." Balas Alexa.

"Bener banget. Mana si Alice pacaran mulu lagi." Timpal Audrey melirik Alice.

"Eh, mbaknya... Kalo ngomong ya... Emang dirinya gak? Sama aja kali." Sahut Alice ketus.

"Kalian berdua gak capek apa dari tadi berantem mulu?" Tanya Leon

"Justru itu tandanya mereka akur..." Jawab Aurora terkekeh menatap kedua sahabatnya.

Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Audrey dan Alice begitu sering beradu mulut dan argumen, bahkan Aurora dan teman-temannya saja sudah lelah melerai mereka. Karena memang itulah cara mereka untuk dekat dan mengerti satu sama lain. Justru akan aneh jika keduanya tiba-tiba damai tanpa adanya perdebatan sedikitpun.

"Jadi, mau main apa duluan?" Tanya Aurora menatap teman-temannya.

"Atv." Sahut mereka kompak penuh semangat.

"Kayak biasa ya? Yang kalah traktir makan."

"Deal." Serempak, Audrey, Alice, Aline dan Alexa berdiri dari kursi mereka dan pergi dari sana bersama-sama. Meninggalkan para lelaki serta Olivia yang menatap mereka dengan bingung.

"Gue yakin kali ini gue yang menang." Ucap Audrey penuh percaya diri di tengah langkah mereka. Secara diantara mereka berlima dirinyalah yang paling ahli bermain atv.

"Jangan ngarep ketinggian Rey.... Lo lupa kalo terakhir balapan gue yang menang?" Sahut Aline mematahkan.

"Itu cuma beruntung Aline."

"Kita buktiin aja."

Tak mau menanggapi perdebatan dua temannya yang sudah biasa mereka dengar setiap kali mereka berlomba dalam permainan lebih jauh, mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala karena di lerai akan percuma. Dua manusia itu akan  berhenti dengan sendirinya saat pertandingan sudah berakhir dan siapa yang akan menjadi pemenangnya.

"Eh, ada yang ketinggalan." Ucap Alexa tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik lalu berlari menghampiri mereka para lelaki yang masih duduk di tempatnya memandang kepergian mereka.

"Oliv ayo ikut." Ajak Alexa seraya mengulurkan tangannya.

"Gue gak bisa naik atv." Tolak Olivia. Itu sebabnya tadi dia tak ikut pergi bersama mereka. Selain itu, dia juga malu dan tak ingin membuat suasana diantara mereka jadi canggung karena kehadirannya.

Maklum saja, selama ada di indonesia, Olivia tak pernah sekalipun menghabiskan waktunya bersama Aurora dan teman-temannya. Dia lebih sering berdiam diri di rumah atau tidak mengikuti sang kakak ke kantornya walau tak ada apapun yang bisa dia kerjakan di sana. Mereka bertemu hanya karena Lay yang mengajaknya. Itupun, Olivia lebih banyak diam dan tak pernah ikut dalam obrolan mereka.

"Gak papa.... Nanti lo boncengan sama Audrey, dia jago kok, lo tenang aja, kita jamin bakalan aman." Menarik Olivia dari tempat duduknya, Alexa memaksa Olivia untuk ikut bersenang-senang bersama mereka.

"Tapi~"

"Udah... Gak usah banyak tapi."

Bernafas lega, Aurora tersenyum menyambut Olivia diantara mereka dengan bahagia. Hampir saja mereka melupakan keberadaan gadis itu jika saja Alexa tak mengingatnya.

Ah, soal kedekatan Olivia dan Luca, tenang saja... Aurora sudah bisa menerimanya dan menganggapnya biasa saja. Lagipula, sekarang status Luca sudah sah menjadi suaminya, membuat Aurora semakin yakin dengan hati dan dirinya jika Luca memang benar-benar memilihnya dengan hatinya.

"Tuh cewek-cewek emang unik ya... Lain daripada yang lain." Ucap Leo terkekeh melihat tingkah Aurora dan teman-temannya yang begitu enjoy menikmati waktu kebersamaan mereka meski ada Olivia di antara mereka.

"Circle mereka emang antimainstream.... Makanya mereka cocok." Sahut Luca juga ikut tersenyum menanggapi.

"Kita mau diem disini aja nih?" Tanya Lay menatap teman-temannya seolah memberi isyarat jika mereka juga harus ikut bersenang-senang.

"Susulin mereka dong...." Balas Vino lebih dulu bangkit lalu diikuti yang lain.

***

Saat sedang menghabiskan waktu bersama seperti ini, Aurora dan teman-temannya memang selalu mengadakan perlombaan di setiap aktivitas yang mereka lakukan dengan perjanjian yang sudah di sepakati agar suasananya lebih seru dan menyenangkan.

Terakhir mereka melakukannya adalah saat mereka liburan bersama akhir tahun lalu. Dan kala itu, Aline yang lebih sering jadi pemenangnya. Padahal biasanya, Audrey atau Alexa yang akan bergantian menjadi pemenangnya.

Jalur tepi pantai sepanjang 100 meter menjadi bukti nyata betapa mereka begitu serius melakukan pertandingan walaupun hanya sebuah permainan.

Melakoni 5 putaran, Audrey yang akhirnya menjadi pemenang saat dia lebih dulu sampai ke garis finish baru di susul Aurora, Alice, Aline dan Alexa. Padahal, Audrey dan Olivia di atv yang sama. Tapi kekasih Lay itu sama sekali tak kesulitan mengendalikan atvnya saat ngebut atau bermanuver layaknya pembalap yang ada di sirkuit sungguhan.

Sedangkan Luca dan teman-temannya yang sejak tadi hanya menonton dan memberikan dukungan langsung bersorak gembira saat Audrey menjadi pemenangnya.

"Keren keren keren.... Sumpah, lo tadi keren banget Rey. Gak nyangka gue lo bisa kayak gitu tadi." Puji Leon yang masih terhipnotis dengan rasa kagumnya.

"Gak usah lebay mujinya.... Gue udah biasa kayak gitu." Sahut Audrey santai.

"Cewek gue tuh." Balas Lay penuh percaya diri dengan sedikit penekanan.

"Iya tau cewek lo. Gak usah di perjelas." Jawab Leon cemberut.

"Jadi, gimana mbak Adeline? Udah ke bukti kan kalo gue yang menang?" Tanya Audrey menatap Aline di sampingnya dengan nada sedikit memgejek dan menyombongkan diri.

"Iya deh yang emang ahli main atv. Kita yang cupu mah ke laut aja." Sahut Alexa membuat mereka tertawa. Aline yang awalnya ingin kesal pun jadi tak jadi melupakannya karena tingkah konyol Alexa yang selalu berhasil mencairkan suasana.

"Duh, kenapa mbak Alexa? Jangan sedih dong... Kan lain kali masih bisa menang... Cuman.... Sekarang emang jatahnya lo buat traktir kita dulu aja...." Ucap Aurora terkekeh meledek Alexa.

"Iya Nona Aurora." Balas Alexa lesu.

"Oliv? Lo gak papa?" Tanya Audrey menatap heran sepasang tangan yang masih setia melingkar di perutnya tanpa ada niatan untuk di lepas.

"Gue gak papa." Jawab Olivia berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

"Tapi lo dari tadi gak lepasin pegangan lo. Ini kenceng banget tau. Lo takut?"

"Gak?" Sadar jika dirinya masih memeluk Audrey, Olivia langsung melepas tangannya dan bersikap senormal mungkin. Meskipun sebenarnya ketakutan itu terlihat jelas di wajahnya.

"Yakin lo? Muka lo pucet gitu." Tak percaya begitu saja, Audrey menatap lekat wajah Olivia dengan rasa penuh khawatir.

"Iya, gue gak papa."

Tak ingin semakin di curigai dan di ketahui, Olivia segera turun dari atv dan bersikap setenang mungkin.

"Astaga. Sorry ya dek, kakak lupa tadi." Ucap Lay menepuk jidatnya dan langsung menghampiri Olivia lalu memeluknya.

Membalas pelukan sang kakak begitu erat, Olivia tak bisa menyembunyikan perasaan takutnya lagi. Lay yang merasa bersalah pun langsung memberikan ketenangan dan kenyamanan yang dia bisa dengan mengusap punggung sang adik perlahan.

"Lupa apa?" Tanya Audrey bingung juga ikut turun dari atv diikuti yang lain.

"Oliv punya trauma sama sesuatu yang berbau balapan karena dulu dia pernah kecelakaan." Ungkap Lay memberitahu seraya masih menenangkan Olivia.

"Astaga. Beneran sayang?" Anggukan Lay berikan sebagai jawaban.

"Sorry ya, kita semua gak tau tadi. Lo pasti ketakutan banget sekarang." Merasa bersalah karena sama sekali tak peka, Audrey ikut menenangkan Olivia dengan cara mengusap kepalanya pelan.

Jujur, Olivia memang sangat ketakutan tadi. Tapi dengan pelukan sang kakak sekarang, rasa takut itu perlahan menghilang dan Olivia bisa mengendalikan dirinya dengan lebih baik.

Melepas pelukan sang kakak, Olivia berusaha memperlihatkan ekspresi sebaik mungkin agar tidak membuat semua orang khawatir padanya dan merusak momen kebersamaan mereka yang baru pertama kali tercipta.

"Sekarang udah gak papa kok. Udah mendingan daripada yang tadi." Ucap Olivia menatap mereka semua seraya memperlihatkan senyum terbaiknya.

"Kita semua bener-bener minta maaf ya Liv? Kita gak tau kalo lo punya trauma. Next time, kalo kita main bareng lagi, lo ngomong aja sama kita, jangan sungkan." Ucap Alexa juga ikut merasa bersalah. Pasalnya tadi dia yang mengajak Olivia untuk ikut dan tidak lebih dulu mendengarkan ucapan Olivia.

"Iya, gak papa kok."

"Udah mendingan?" Tanya Lay memastikan.

"Iya, makasih kak."

"Sama-sama. Kakak minta maaf ya?"

"Iya, gak papa kok."

"Jadi, sekarang mau main apa lagi?" Tanya Leon mengalihkan suasana.

"Hmmm...." Gumam Audrey berpikir seraya menepuk-nepuk dagunya dengan satu jari.

"Kalau kalian mau main, main aja, gak usah pikirin gue. Gue bisa kok nunggu di pinggir pantai sambil liat kalian." Ucap Olivia seakan tahu kebimbangan yang ada di pikiran mereka.

"Lo beneran gak papa cuma liatin kita doang?" Tanya Alice tak enak hati. Tak adil rasanya jika mereka bersenang-senang bersama dan hanya Olivia yang tak bisa menikmatinya karena trauma.

"Iya gak papa. Gue udah biasa kok kalo ke pantai cuma liat pemandangan doang dan gak main apa-apa."

"Ya udah, gimana kalo kita coba semua wahana yang ada di sini? Nanti, kalo masih ada waktu kita snorkeling atau gak diving bareng. Lo bisa ikut kan Liv kalo yang itu?" Putus Aurora memberi saran.

"Bisa. Kalo itu kebetulan gue emang suka."

"Ya udah, kita seru-seruan dulu kalo gitu." Sahut Alexa bersemangat.

Sebelum beralih ke permainan berikutnya, Aurora dan kawan-kawan lebih dulu mengembalikan atv yang mereka sewa ke tempatnya.

***

Menghabiskan waktu bersama teman-teman dan orang tersayang memang selalu menyenangkan. Rasanya, tak ada sedikitpun rasa lelah yang datang agar semua momennya tak terlewatkan.

Walau hanya dari pinggir pantai, tapi Olivia juga ikut senang dan bahagia saat melihat keseruan semua orang menjajal semua permainan yang ada di sana. Terlebih sang kakak yang memang selalu menyukai pantai dengan wahana airnya. Tak lupa, Olivia juga mengabadikan setiap momen yang tercipta lewat kamera milik Luca yang di titipkan padanya.

Puas bermain, Leon menjadi orang pertama yang menyudahi aktivitasnya. Turun dari jetski yang dia naiki, Leon tak lupa melepas baju pelampung yang dia pakai dan meletakkannya di atas jetski lalu berjalan menghampiri Olivia.

"Kok udahan?" Tanya Olivia bingung. Pasalnya, semua orang terlihat masih menikmati waktu mereka.

"Capek gue." Sahut Leon seraya duduk di sebelah Olivia.

Wajar rasanya jika Leon mengeluh lelah, karena faktanya tak hanya satu atau dua permainan yang mereka coba. Dari mulai banana boat, rolling donut, bola air, sepeda air, speed boat, flying fish, water ski, wakeboarding, fly board, parasailing adventure, single parasailing, dan yang terakhir jetski. Bahkan, saking asyiknya bermain mereka sampai lupa waktu juga jadwal makan.

Setengah jam berlalu, mereka semua akhirnya memarkirkan jetski yang mereka gunakan di pinggir pantai. Tawa renyah yang terdengar jelas menggambarkan betapa seru dan asyiknya mereka bermain bersama.

"Diem-diem aja kayak orang musuhan kalian." Tegur Leo menyindir Leon dan Olivia yang memang hanya diam dan tak ada obrolan.

"Gila, baru krasa gue capeknya." Keluh Alexa seraya duduk di sebelah Olivia dan menyadarkan kepalanya di bahu Olivia.

"Tapi seru kan?" Sahut Olivia terkekeh.

"Ho'oh. Lain kali lo harus cobain Liv."

"Jam berapa sekarang?" Tanya Vino seakan lupa jika dirinya memakai jam tangan.

"Lo nanya sama siapa? Kan lo yang pake jam tangan." Jawab Rion sinis.

"Hehehe.... Lupa gue." Kekeh Vino malu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu melihat jam di tangannya.

"Bentar lagi senja nih, ambil foto bareng yuk?" Ajak Luca.

"Boleh tuh." Ucap Lay setuju.

Tanpa diminta, Olivia langsung memberikan kamera yang dia bawa pada Luca.

Mengarahkan kameranya ke segala arah dan memotretnya, Luca mencari enggel yang tepat untuk foto bersama mereka. Setelah mendapatkannya, Luca langsung meminta teman-temannya untuk berkumpul di tempat itu sementara dia mengatur kamera.

"10 detik ya?" Ucap Luca memberi aba-aba lalu berlari dan bergabung bersama mereka.

Cekrek...

Bersama langit senja yang berwarna jingga, mereka mengukir momen bersama. Setitik kecil kenangan dalam hidup mereka yang tak akan mungkin di lupakan terutama untuk Luca.

Mungkin bagi semua orang pernikahannya dan Aurora belum sempurna karena keduanya yang belum melakukan malam pertama. Tapi bagi Luca, hari ini lebih sempurna dan bahagia daripada segalanya. Hanya dengan melihat Aurora tertawa lepas tanpa beban menikmati waktunya adalah hal paling penting yang ingin Luca berikan pada Aurora.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!