Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Empat tahun berlalu begitu cepat, sejak Daniela membawa bayinya yang masih merah, kembali ke tanah kelahiran ibunya.
Wanita yang kini berudia 25 tahun itu, tengah duduk diam di dekat jendela. Pandangannya lurus tertuju ke halaman depan, memperhatikan Daphnee Aurora, putri kecilnya yang kini telah genap berusia empat tahun. Gadis kecil itu tumbuh dengan paras yang begitu cantik. Rambut pirangnya mencolok di antara anak-anak desa, sebuah warisan fisik yang menegaskan darah blasteran di tubuhnya.
Namun sore itu, ketenangan Daniela terusik. Dari balik kaca, ia melihat Ney sedang berhadapan dengan salah seorang anak tetangga yang usianya beberapa tahun lebih tua. Suasana di antara mereka tampak menegang.
"Kamu tidak boleh ikut main, Ney. Kata Ibuku, kamu anak haram!"
Kalimat kasar itu terlontar begitu saja dari mulut anak tetangga tersebut, menusuk langsung ke telinga Daniela.
Ney berkedip, menatap temannya dengan tatapan bingung.
"Kenapa anak haram? Aku kan bukan anak babi!"
Jawaban polos itu keluar tanpa beban. Ney benar-benar belum mengerti arti dari kata-kata kejam itu. Namun, kepolosannya justru memancing tawa mengejek dari lawan bicaranya.
"Hahaha... Ibumu kan perempuan nakal. Punya anak tapi tak punya suami."
Tawa itu seketika mengubah raut wajah Ney. Rasa tidak terima mulai membakar dada kecilnya. Tanpa rasa takut, Ney melangkah maju, memangkas jarak hingga wajah mereka hanya menyisakan beberapa jengkal saja.
Matanya menatap lurus, menyuarakan pembelaan yang dia tahu.
"Kak Dilla, aku diajari sama Mama untuk menghormati orang yang lebih tua. Tapi kenapa kak Dilla menghina Mamaku?"
Ney menjeda kalimatnya, menatap Dilla dengan dahi berkerut, mencoba menggunakan logika anak-anaknya yang jujur.
"Padahal usia Mama kan lebih tua dari kak Dilla." Lanjutnya dan fiangguki anak yang lainnya.
"Tapi Ibu kamu kan gak pantes buat dihormati. Ibu kamu itu pembawa sial di desa ini. Harusnya kalian pergi dari sini!"
Kata-kata Dilla semakin pedas. Dia sama sekali tidak peduli bahwa lawan bicaranya hanyalah seorang anak kecil yang masih sangat polos.
"Kak Dilla jahat! Seharusnya Kak Dilla gak boleh bicara gitu sama Mama aku!"
Mata Ney berkaca-kaca, namun ada kilat amarah di sana. Dengan keberanian yang meluap, tangan mungilnya mendorong tubuh Dilla kuat-kuat, sampai anak yang baru masuk usia sekolah dasar itu limbung dan nyaris terjengkang ke belakang.
Dari dalam rumah, Harsiwi yang ikut mendengar ocehan jahat Dilla mengepalkan tangan. Napasnya memburu karena geram. Perempuan tua itu sudah bersiap melangkah keluar untuk melabrak dan menegur Dilla, tetapi Daniela dengan cepat memegang lengannya, menghalangi.
"Tidak usah Mak Tua, biar Ney belajar membela dirinya sendiri."
Suara Daniela terdengar begitu tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan. Tatapannya masih terkunci pada sang putri di luar sana.
"Ini belum seberapa. Ke depannya akan ada yang lebih dari ini. Ney harus kuat."
Di halaman, Dilla yang tidak terima didorong oleh anak sekecil Ney, mulai naik pitam. Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah.
"Kamu berani dorong aku, ya?! Anak haram tidak tahu diri!"
Dilla melangkah maju, hendak membalas dorongan Ney dengan lebih keras. Namun, sebelum tangan Dilla menyentuh tubuhnya, Ney tidak mundur setapak pun. Gadis kecil itu justru menegakkan dadanya, membalas tatapan Dilla dengan sorot mata yang persis seperti ibunya, kuat dan tak gentar.
"Ney bukan anak haram! Ney punya Mama, punya Papa dan Ney juga punya Nenek! Pergi dari rumah Ney, Kak Dilla!"
Teriakan Ney yang melengking tinggi membuat beberapa tetangga yang lewat mulai menoleh. Merasa tersudut dan malu karena menjadi pusat perhatian, Dilla akhirnya menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Awas kamu, ya! Dasar anak pembawa sial!"
Dilla berbalik lalu berlari pergi meninggalkan halaman rumah Harsiwi sambil menyumpah serapah.
Begitu punggung Dilla menghilang di tikungan jalan desa, pertahanan Ney runtuh. Bahu kecilnya mulai bergetar. Gadis kecil yang tadi begitu berani membela ibunya, kini berbalik arah dan berlari kencang menuju pintu rumah sambil terisak.
Di ambang pintu, Daniela sudah berlutut dengan kedua tangan terbuka lebar, siap menyambut tubuh mungil putrinya ke dalam pelukan.
"Mama..."
Begitu melintasi ambang pintu, Ney langsung menghambur dan melebur dalam pelukan Daniela.
Isak tangisnya pecah seketika, membuat tubuh mungilnya berguncang. Setiap tarikan napas Ney yang tersendat terasa seperti hantaman di dada Daniela. Rasa sesak yang luar biasa menjalar di hatinya, membuat air mata mulai menggenang di ujung kelopak matanya, siap untuk tumpah.
"Sabar ya, sayang!" bisik Daniela.
Suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang bergemuruh di dalam dada. Ia mengeratkan dekapannya, berusaha menyalurkan seluruh kekuatan yang ia punya untuk sang putri.
Gadis kecil itu perlahan mengangkat wajahnya yang basah dari bahu Daniela, menatap sang ibu dengan mata yang sembap.
"Kak Dilla nakal, Mama... Aku juga punya Papa, kan?"
Pertanyaan polos itu seketika menghujam jantung Daniela, membuatnya membeku untuk beberapa detik.
Tanpa sanggup berkata-kata lebih dulu, Daniela langsung menarik kembali tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Kali ini, ia tidak mampu lagi membendung pertahanannya. Tetesan air mata yang hangat bergulir jatuh, membasahi puncak kepala putrinya.
"Iya, Ney punya Papa. Tapi Papa Ney sedang berada di tempat yang jauh."
Suara Daniela bergetar, nyaris tercekat di tenggorokan. Mengucapkan kata "Papa" selalu menjadi hal paling menyakitkan yang harus ia telan.
"Ney mau ketemu Papa," cicitnya manja, sebuah rengekan khas anak kecil yang merindukan sosok ayahnya.
Daniela hanya bisa mengangguk pelan sembari terus mengusap punggung Ney. Namun, di dalam hatinya, perempuan itu menjerit.
"Maafkan Mama, Ney..."
Luka lama itu kembali menganga. Kenangan buruk kembali berputar layaknya mimpi buruk yang enggan pergi. Daniela sadar, di balik kenyataan pahit yang tersimpan rapat, ada hati Ney yang merindukan ayahnya. Tapi ia begitu sulit untuk melupakan perlakuan Darren, pria yang dahulu telah melecehkannya dengan begitu kejam hingga meninggalkan luka yang mungkin tak akan pernah bisa sembuh.
***
"Goblok, tolol kalian semua!"
Teriakan menggelegar memenuhi ruangan kerja Darren yang luas. Wajah pria itu tampak merah padam dengan tangan mengepal kuat menahan amarah.
"Sudah empat tahun kalian mencari, tapi hingga sekarang bayangannya saja tak kalian temukan?!"
Dua orang pria berpakaian formal di hadapannya hanya bisa menunduk dalam. Mereka tidak berani bersuara sedikit pun.
"Sudahlah, keluar kalian semua. Mulai detik ini, kalian semua aku pecat!"
Kedua laki-laki itu mendongak sebentar karena terkejut. Namun, mereka cepat-cepat kembali menunduk saat mata Darren menghujam tajam ke arah mereka.
"Keluar!"
Sepeninggal kedua orang itu, Darren mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia menghempaskan diri ke kursi kerja dan memijat pangkal hidungnya, sementara napasnya masih memburu.
Empat tahun. Waktu yang sangat lama untuk membiarkan seorang perempuan menghilang tanpa jejak. Ke mana sebenarnya Daniela pergi? Bagaimana bisa seseorang bersembunyi begitu rapi hingga detektif terbaik yang ia sewa pun gagal menemukannya?
Tatapan Darren beralih pada sebuah bingkai foto kecil di sudut meja. Di sana, wajah Daniela menatapnya dengan senyum tipis. Itu adalah foto yang dia minta dari Haruni. Tentu saja setelah ia memohon dengan sangat untuk mendapatkannya.
Darren sudah tahu alasan Daniela pergi darinya. Potongan ingatan tentang kejadian malam itu awalnya muncul dari kilasan mimpi, hingga akhirnya dia betul-betul mengingat semuanya.
"Kamu memang berhak marah sama aku, Dan. Aku memang biadab. Tapi bagaimana dengan putri kita? Bagaimana hidupnya bisa nyaman dalam pelarianmu?"
Darren bergumam lirih, menatap foto itu dengan tatapan kosong. Namun, rasa bersalah itu dengan cepat berubah menjadi frustrasi yang membakar.
"Argh!"
Darren sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Dengan satu sentakan kasar, ia menyapu semua benda yang ada di atas meja kerjanya hingga jatuh berserakan di lantai. Napasnya terengah-engah di tengah ruangan yang kini berantakan.
Setelah amarahnya sedikit mereda, ia menekan tombol interkom dan memanggil sekretarisnya ke dalam.
"Tolong beresin semua kekacauan ini dan kosongkan jadwal saya beberapa hari ke depan."
Sekretaris itu tertegun melihat kondisi ruangan, namun ia hanya mengangguk patuh dan segera bergerak membereskan pecahan-pecahan yang ada.
Sementara itu, Darren langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa berbalik lagi. Tujuannya hanya satu, bandara. Dia bertekad kembali ke Medan dan akan melakukan pencariannya sendiri.
"Aku bersumpah, Daniela, aku akan menemukan kalian!" gumam Darren mantap dalam hati saat memasuki lift.
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah
belum waktu ny mereka ketemu niih ,, ad aj halangan ny ,, 🤭🤭🤭