Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil Muda
Ibu mertua ikut melongo mendengarnya.
Sementara Riyani masih terus merengek pada suaminya ingin dibelikan.
"Sayang, nanti perut kamu sakit kalau langsung makan obat. Mending sarapan dulu, nanti Aa belikan rujaknya," bujuk Hanif.
Riyani menghela napasnya. Ia mengangguk setuju pada akhirnya dengan usulan Hanif.
Wanita itu duduk pada kursi meja makan, bersama dengan suami dan ayah mertuanya. Sedangkan Seyila sudah berangkat bekerja sejak pagi tadi.
Ibu mertuanya menyajikan beberapa makanan kesukaannya. Ayam balado, teri dan kacang goreng, sambal tomat, kerupuk udang, tumis buncis dan goreng tempe tepung.
Anehnya, makanan kesukaan riyani itu tidak lagi membuatnya selera makan. Wanita itu malah berlari ke kamar mandi untuk kembali muntah. Rasa mual yang ia rasakan sama persis dengan apa yang terjadi saat tadi pagi.
Hanif menyusulnya, memijat leher istrinya dengan lembut.
"Sayang kenapa?"
Riyani menggeleng.
"Tiba-tiba aja liat masakan yang ada di meja malah mual."
"Tapi perutnya sakit gak?"
Wanita itu menggeleng sebagai jawaban.
Wajahnya mulai pucat.
Sampai Hanif mengangkat tubuh istrinya untuk dibaringkan pada kasurnya yang baru saja dibereskan.
Ia mengambil stetoskopnya, memeriksa keadaan Riyani yang membuatnya sedikit cemas.
Hanif menoleh pada istrinya saat ia memeriksa bagian perut riyani.
"Kenapa A? Kok ekspresinya begitu," tanya Riyani heran.
"Kita periksa ke rumah sakit aja ya. Aa pengen pastikan bener atau enggak pemeriksaan Aa," ucap Hanif mengajak istrinya untuk segera pergi.
Riyani sebenarnya berpikir hal yang lain. Wanita itu malah nampak ketakutan saat suaminya mendaftarkan dirinya pada dokter untuk diperiksa.
Riyani menggenggam tangan suaminya erat. "Aa... kita pulang aja yuk! Neng udah gak apa-apa kok, mualnya juga udah gak kambuh lagi. Paling cuman karena telat makan aja."
"Bukan, Sayang. Kita periksa aja dulu ya! Kamu gak apa-apa kok, tenang aja Aa temenin di sini."
Melihat reaksi suaminya yang tenang, Riyani malah semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dan bagaimana keadaan tubuhnya ini sekarang.
Tidak butuh waktu lama, namanya terpanggil—tapi.... mengapa suaminya mengajak ke dokter kandungan?
Riyani melongo saat suaminya membawanya masuk ke ruang pemeriksaan di poli.
Dokter wanita cantik sebaya dengan ibunya itu tersenyum. "Wahhhh..... sepertinya ada kabar baik dari dokter yang baru menikah ini."
Hanif tersenyum. "Semoga aja, Dok. Soalnya saya baru periksa sebentar tadi, saya ngerasa kurang yakin makanya bawa ke sini."
"Tapi kayaknya istrinya masih bingung kenapa dibawa ke sini," sindir dokter wanita itu—Dokter Lala.
Hanif terkekeh pelan saat menoleh pada Riyani yang masih celingukan tidak mengerti.
"Sayang periksa dulu ya!"
Dengan wajah bingungnya, Riyani berbaring pada bed pemeriksaan.
"Bajunya diangkat ya, Teh. Sekalian celananya sedikit diturunin," pinta Dokter Lala.
Hanif membantunya. "Sebentar aja periksanya. Gak usah tegang begitu, gak bakal ada apa-apa," ucapnya menenangkan Riyani.
Krim gel licin nan dingin itu mulai merasuk pada perutnya. Perlahan tampilan gambar pada monitor terlihat.
Dokter Lala tersenyum. "Aduh ini kayaknya rajin sih yaa...."
Hanif terkekeh pelan mendengarnya. "Beneran udah ada, Dok?"
Dokter Lala mengangguk. "Tapi usianya masih kecil, baru 6 minggu. Jadi belum keliatan banget, tapi ini udah positif kok."
"Sayang, liat!" tunjuk Hanif pada monitor yang memperlihatkan rahim wanitanya itu.
"Itu...... bayi, A?"
Hanif mengangguk, "belum jadi bayi sih. Cuman itu artinya kamu udah mengandung."
Riyani mengusap perutnya, "di sini.... ada dedek bayi?"
Hanif mengangguk haru.
Riyani menangis. Tidak menyangka ia akan mengandung dalam waktu dekat, apalagi pernikahannya baru saja menginjak 1 bulan lebih.
Perasaannya bercampur aduk kali ini. Sembari menunggu antrian obat—Hanif terus menggenggam tangannya, mengelus punggungnya istrinya berulang, bahkan pertanyaan mual saja sudah ia ajukan berulang kali pada Riyani.
Seyila yang mengetahui kabar bahwa sahabat sekaligus kakak iparnya pergi ke rumah sakit langsung datang menghampiri keduanya.
"Kakak ipar gak apa-apa?" tanyanya sembari menarik tangan riyani dari genggaman suaminya.
Riyani menoleh pada suaminya. "Ganti lagi panggilannya? Bukannya semalem teteh ya?"
Hanif hanya terkekeh mendengarnya.
"Ih kenapa? Udah periksanya? Kenapa katanya? Punya suami dokter emang gak bisa periksa sakit apa?" tanya Seyila terus menerus.
Hanif melepaskan tangan istrinya dari Seyila, kembali merebut miliknya itu.
"Jangan tanya terus. Kakak ipar kamu gak apa-apa, katanya suruh istirahat yang banyak aja."
"Kecapekan? Pasti gara-gara abang kan?"
Hanif mengangguk sembari beranjak mengambil obat-obatan saat nama istrinya terpanggil.
Seyila kembali menoleh pada Riyani, "beneran gak sakit apa-apa? Cuman kecapekan aja?"
"Beneran gak sakit, La. Tapi kamu bakal jadi aunty," jawab Riyani.
"HAH?"
Riyani langsung membungkam mulut sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Pelan-pelan, ini kan rumah sakit."
Seyila melepaskan tangan riyani. "Kamu hamil?"
Riyani mengangguk.
"Usianya masih kecil. Jadi katanya masih harus ekstra buat dipantau."
Seyila tersenyum. "Jadi beneran nih bakal jadi aunty? Aduhhh...."
"Selamat yaa...... ihh terharu banget, sahabat sendiri mau punya bayi dari abang aku sendiri."
Riyani terkekeh mendengarnya.
Hanif kembali menghampiri dengan beberapa vitamin dan obat yang diresepkan Dokter Lala tadi.
"Yuk pulang dulu!" ajaknya.
Riyani mengangguk lalu berpamitan pada Seyila yang masih harus berjaga.
Sedangkan Hanif, memang harusnya ia bekerja pagi hari ini. Tetapi memilih menukar jadwalnya dengan Fauzan yang bekerja siang.
Sepulangnya dari rumah sakit, Hanif berbicara dengan Riyani dan juga orang tuanya. Ia tidak akan tenang jika selama kehamilan, Riyani tinggal hanya berdua dengannya. Sedangkan dia harus bekerja juga.
Hanif menggenggam tangan istrinya. "Gak apa-apa kan kalau selama hamil tinggal di sini? Aa gak tenang beneran kalau tinggalin kamu kerja apalagi bagian malam."
Riyani sedikit mengalah tentang hal ini. Memang ada rasa tidak nyaman tinggal bersama mertuanya sekalipun mertuanya sangat baik, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak bisa memilih yang lain, dibanding harus tinggal bersama neneknya yang sudah berumur—ia tidak akan tega.
Hanif dan Riyani memilih pulang ke rumahnya untuk membawa beberapa barang dan pakaian yang akan ia gunakan sela tinggal di rumah mertua. Tentu tidak selamanya, hanya beberapa bulan sampai melahirkan dan itupun ia akan sesekali untuk melihat rumahnya agar tetap terjaga.
...----------------...
Siangnya, Hanif harus kembali bekerja. Lelaki itu pamit pada istrinya, memberikan beberapa pesan lalu mengecup keningnya dengan mesra.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi Aa ya!" pinta Hanif sebelum pergi dengan motornya.
Riyani hanya mengangguk dengan susulan lambaian tangan padanya.
Setibanya di rumah sakit, Hanif berganti pakaian dan berjaga di IGD bertukaran dengan Fauzan yang baru saja selesai.
Baru kali ini, sepanjang ia bekerja—Hanif berulang kali mengecek jam di tangannya. Berputar semakin lambat seolah menghentikan harinya di sana.
Berulang kali mengirim pesan yang sama pada istrinya agar tau keadaannya. Sekalipun Riyani berbohong tentang keadaannya saat ini.
Sampai dirinya kembali, Hanif baru saja membuka pintu rumahnya. Tapi..... yang ada hanya Seyila dan ibunya.
"Neng kemana, Bu?" tanya Hanif.
"Dia gak bilang ya sama kamu?" tanya balik ibunya membuat Hanif kebingungan.