NovelToon NovelToon
Nano Machine Girl

Nano Machine Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Anak Genius
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: [ Fx ] Ryz

Novelette

Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.

Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.

Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.

Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.

Kim membawa pesan yang sulit dipercaya

Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.

Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 | Dasar Jurang

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

Suasana di pinggir jurang terasa mencekam. Di bawah sana, bus sekolah yang membawa rombongan tim Olimpiade beserta penumpang lainnya kini tergeletak terbalik di dasar jurang yang berbatuan tajam. Badan bus penyok parah, kaca-kacanya pecah berantakan, dan asap hitam mulai mengepul keluar dari sela-sela bodi kendaraan yang rusak.

Di atas tebing, Bayu yang berhasil terlempar berkat bantuan Iris, terbaring di semak-semak dengan beberapa luka lecet di tubuhnya. Namun, ia sama sekali tidak memedulikan rasa sakit itu. Dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi, ia menatap ke bawah jurang dengan tatapan tak percaya.

"Iris! IRISSSS!" teriak Bayu sekuat tenaga, suaranya memecah kesunyian namun tak ada jawaban yang terdengar dari bawah sana.

Rasa panik dan cemas menyergap hatinya. Iris masih terjebak di dalam bus yang terbalik itu. Saat sedang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, matanya menangkap sosok Siska yang duduk bersandar di pohon tidak jauh dari tempatnya mendarat.

Siska terlihat sedang memegang kakinya, wajahnya dibuat-buat meringis kesakitan, dan ada sedikit darah buatan di pelipisnya, seolah-olah ia juga mengalami kecelakaan parah meski nyatanya ia melompat keluar dengan selamat dan terencana.

Bayu segera berlari menghampirinya, meski kakinya terasa lemas. "Siska! Kamu juga selamat... Tapi bagaimana bisa kamu sudah ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Iris?" tanya Bayu bertubi-tubi dengan nada panik dan curiga, matanya menatap tajam ke arah Siska.

Siska mengangkat wajahnya dengan tatapan bingung yang dibuat-buat. "Aku... aku tidak tahu, Bayu. Tiba-tiba saja bus oleng, aku panik dan langsung melompat keluar. Aku pikir kalian semua juga melakukan hal yang sama... Iris? Dia masih di dalam?" jawab Siska dengan nada gemetar yang dipaksa, seolah-olah ia juga baru menyadari keadaan itu.

................

Sementara itu, di dasar jurang yang penuh reruntuhan dan puing-puing, Iris terjebak di bawah tumpukan kursi dan barang-barang yang berserakan. Tubuhnya sempat terasa sakit luar biasa dan beberapa luka menganga terlihat di kulitnya. Namun, perlahan namun pasti, ada cahaya biru samar yang memancar dari dalam tubuhnya.

[Sistem Mode Penyembuhan Diaktifkan.]

[Nano Machine sedang melakukan regenerasi sel dan jaringan tubuh...]

[Status Luka: Sembuh 10%... 50%... 100%.]

Dalam sekejap mata, luka-luka di tubuh Iris menutup sempurna seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Rasa sakit itu pun hilang berganti dengan rasa hangat dan segar di sekujur tubuhnya.

Di dalam pikirannya, suara Kim terdengar panik dan cemas, meski nadanya tetap tenang namun terburu-buru.

"Nona Iris! Apakah Anda baik-baik saja? Pemindaian saya menunjukkan adanya benturan keras dan kerusakan fisik. Mengapa Anda tidak menyelamatkan diri Anda sendiri?" tanya Kim dengan nada khawatir yang mendalam.

Iris menggelengkan kepalanya pelan sambil bangkit berdiri di tengah puing-puing itu. "Tenang saja, Paman Kim. Aku tidak apa-apa. Berkat bantuanmu dan sistem ini, lukaku sudah sembuh. Tapi... teman-teman dan guru-guru lain belum tentu seberuntung aku. Aku harus menolong mereka," jawab Iris tenang namun tegas, berusaha menenangkan kegelisahan Kim.

Dengan sisa tenaga yang ada, Iris mulai bergerak.

Kling!

[Analisis Status Diaktifkan.]

[Memindai Korban di Sekitar...]

[Ditemukan 12 Titik Kehidupan dengan Tingkat Kesadaran Berbeda.]

[Rute Evakuasi: Jendela Samping Kiri (Aman & Terjangkau).]

Berkat panduan dari sistem, Iris bisa mengetahui posisi teman-temannya yang masih bernyawa namun terjebak di dalam bus yang terbalik itu. Ia segera bertindak. Dengan kekuatan fisik yang telah ditingkatkan oleh Nano Machine, Iris mengangkat puing-puing berat, menyingkirkan kursi yang menghalangi, dan membantu teman-temannya yang terjepit untuk keluar satu per satu melalui celah jendela yang sudah pecah.

"Ayo, pegang tanganku! Jangan takut, aku akan membantumu," ujar Iris berulang kali dengan napas terengah-engah namun tetap bersemangat.

Para siswa yang diselamatkan hanya bisa menatap Iris dengan mata terbelalak takjub dan campur aduk antara rasa takut maupun syukur. Gadis yang tadinya mereka kenal lemah lembut, kini tampak layaknya pahlawan super yang menyelamatkan nyawa mereka satu per satu.

Namun, di tengah kesibukan menyelamatkan nyawa itu, Iris tidak menyadari bahwa di sudut bawah mesin bus yang pecah, ada kebocoran tangki bensin. Cairan berbau tajam itu menetes perlahan ke tanah kering di bawahnya. Dan tidak jauh dari situ, percikan api kecil akibat korsleting listrik mulai bergerak perlahan mendekati genangan bensin itu.

Setelah mengevakuasi semua siswa, tibalah gilirannya korban terakhir, yaitu Pak Indra yang terjepit di antara kursi pengemudi dan dashboard bus yang penyok parah.

"Tunggu sebentar, Pak! Saya akan mengeluarkan Bapak dari sana," ujar Iris sambil berusaha mengangkat benda berat yang menindih kaki Pak Indra.

"Terima kasih, Iris... Maafkan Bapak karena tidak bisa melindungi kalian," ujar Pak Indra dengan wajah pucat namun lega melihat keberanian muridnya.

Setelah berjuang sejenak, akhirnya Pak Indra berhasil ditarik keluar menuju tempat yang lebih aman di dekat jendela. Namun, tepat saat kaki Pak Indra menyentuh tanah, mata Iris menangkap pemandangan mengerikan di belakangnya. Percikan api itu sudah menyentuh genangan bensin.

"KELUAR! CEPAT!" teriak Iris sekuat tenaga mendorong tubuh Pak Indra keluar.

Belum sempat Iris menyusulnya, ledakan dahsyat terjadi.

DUARRR!!

Api berkobar besar menjilat udara, disusul dengan gelombang kejut yang kuat. Iris yang masih berada di dekat pintu bus sempat terpaku sejenak. Ia mengira nyawanya akan berakhir di sana.

"Apa aku akan mati di sini..." batin Iris pasrah, lalu menutup matanya rapat-rapat.

Namun, detik-detik sebelum api itu menyambar tubuhnya, tiba-tiba sebuah sosok tinggi besar melayang turun dari atas tebing dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa. Sosok itu melindungi tubuh Iris dengan sekujur tubuhnya sendiri, membentuk perisai hidup yang kokoh menahan kobaran api dan puing-puing yang beterbangan.

Saat Iris memberanikan diri membuka matanya, ia mendapati dirinya berada di dalam pelukan hangat namun kokoh milik Kim. Tubuh Kim terlihat sedikit berasap dan ada sedikit goresan di pakaiannya, tapi wajahnya tetap tenang dan teduh menatap Iris.

"Apakah Anda terluka, Nona Iris?" tanya Kim lembut sambil menatap Iris dengan pandangan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.

Di luar sana, di pinggir jurang maupun di dasar jurang yang sudah mulai reda apinya, semua orang yang selamat maupun yang baru datang membantu sama-sama menatap pemandangan itu dengan mulut menganga tak percaya. Kehadiran Kim yang tiba-tiba muncul seolah dari udara kosong itu benar-benar di luar nalar manusia.

Namun, di antara kepanikan dan kegaduhan itu, hanya ada satu orang yang tidak terlihat kaget sama sekali. Siska yang masih duduk di pinggir tebing dengan wajah berpura-pura kesakitan, diam-diam menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna di sudut bibirnya. Matanya yang dingin menatap sosok Kim dan Iris di bawah sana seolah baru saja menemukan kepingan teka-teki yang hilang.

Melihat wajah Kim yang cemas namun lega, perasaan Iris yang tadinya kacau karena kejadian maut itu tiba-tiba meledak menjadi perasaan haru dan takut yang bercampur aduk. Tanpa berkata-kata lagi, Iris langsung memeluk pinggang Kim erat-erat, menumpahkan semua ketakutan dan rasa syukurnya dalam pelukan itu. Air matanya menetes membasahi dada bidang Kim.

"Paman Kim... Aku takut sekali..." isak Iris.

Kim tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengelus lembut kepala Iris dan membalas pelukan itu dengan hangat, berusaha menenangkan gadis yang dianggapnya sebagai keluarga sendiri itu.

................

Kejadian mengerikan itu dengan cepat menyebar dan masuk ke dalam berita utama di berbagai stasiun televisi maupun media daring. Rekaman dari kamera amatir maupun laporan saksi mata menjadi sorotan publik.

Berita itu pun akhirnya sampai ke telinga Stella yang sedang duduk santai di ruang kerjanya. Di layar monitor pribadinya, ia sedang berkomunikasi jarak jauh dengan Siska.

"Jadi begitulah kejadiannya. Kecelakaan itu tidak bisa membunuhnya. Justru dia malah menyelamatkan banyak orang dan terlihat sangat sehat walafiat meski berada di pusat ledakan," lapor Siska dengan nada datar lewat sambungan telepon.

Stella menatap layar berita itu dengan tatapan tajam dan berpikir. "Jadi benar dugaanku... Gadis itu memang memiliki Nano Machine di dalam tubuhnya. Kalau dia manusia biasa, mustahil dia bisa selamat dari benturan keras dan ledakan dahsyat itu tanpa cedera berarti. Menyerang secara fisik atau mencoba membunuhnya secara langsung tidak akan berhasil. Justru itu akan membuatnya semakin waspada dan mengembangkan kemampuannya."

Stella berhenti sejenak, lalu menatap layar komunikasi di depannya dengan tatapan yang semakin licik dan kejam.

"Ubah strategimu. Karena kita tidak bisa menyentuh fisiknya, maka kita akan menyerang dari sisi lain. Mulai sekarang, lakukan pendekatan padanya. Ciptakan tekanan batin, hancurkan mentalnya, dan buat dia meragukan dirinya sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Buat dia merasa terisolasi dan sendirian. Jika fisiknya kuat, mari kita lihat seberapa kuat mentalnya," perintah Stella dengan nada dingin.

"Siap, My Queen. Misi diterima. Akan dilaksanakan," jawab Siska singkat.

Setelah sambungan komunikasi terputus, Stella kembali menatap rekaman berita yang memperlihatkan sosok Kim yang sedang memeluk Iris di tengah puing-puing itu. Mata Stella menyipit tajam, seolah mengenali sosok itu dari masa lalu yang jauh.

"Kim... Jadi ternyata kamu juga ada di sini. Kita bertemu lagi... di masa yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula," gumam Stella pelan dengan nada bercampur antara rindu, benci, dan ambisi, diakhiri dengan senyum misterius yang mengerikan.

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!