Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan yang Tak Terlihat
Setelah memastikan ketiga mahasiswanya telah pergi meninggalkan ruangan, Arsen langsung berdiri dari kursi kerjanya.
Hari ini jadwalnya benar-benar padat beruntun, terlampau padat untuk sekadar dihabiskan dengan mengurusi drama kenakalan remaja yang diciptakan oleh Axel di sekolahnya..
Arsen menyambar jas hitamnya yang tergantung rapi di sandaran kursi, menyampirkannya di lengan, lalu melangkah lebar keluar menuju area parkir khusus dosen di basement kampus.
Lima menit kemudian, mobil sedan mewah berwarna hitam metalik miliknya sudah meluncur membelah jalanan kota yang ramai, bergerak memotong jarak menuju pusat bisnis ibu kota.
Begitu mobilnya memasuki pelataran gedung pencakar langit Wijaya Group, petugas keamanan langsung sigap membukakan pintu.
Arsen turun dengan gerakan tak sabar, menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas, lalu melangkah lebar membelah lobi utama yang megah bernuansa marmer hitam.
Kehadiran sang CEO yang mendadak seketika mengubah atmosfer lobi menjadi tegang. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat, yang hanya dibalas Arsen dengan anggukan dingin tanpa memperlambat langkah kaki.
Pria itu langsung menuju lift khusus eksekutif, menempelkan kartu aksesnya, dan membiarkan kotak logam itu membawanya naik dengan kecepatan tinggi menuju lantai dua puluh tiga.
Ting!
Pintu lift terbuka, menampilkan koridor lantai teratas yang sunyi dan berkarpet tebal. Seorang pria muda berpenampilan rapi dengan setelan jas pas badan langsung bangkit berdiri dari meja kerjanya begitu melihat Arsen melangkah keluar.
Pria itu adalah Dion, sekretaris pribadi Arsen yang dari segi usia tampak seumuran dengan Raka, asisten pribadinya.
"Selamat siang, Pak Arsen," sapa Dion profesional sambil berjalan mengekor di samping Arsen yang terus melangkah cepat. "Pak Bastian Pranata bersama putrinya sudah tiba sepuluh menit yang lalu. Saat ini mereka sudah menunggu di dalam ruang rapat utama."
"Bagaimana dengan berkas analisis pasarnya?" tanya Arsen tanpa menoleh, suaranya terdengar berat dan tegas.
"Sudah saya siapkan di atas meja Anda, Pak. Dokumen kerja samanya juga sudah dicetak dua rangkap," jawab Dion cekatan.
"Bagus," sahut Arsen pendek.
Ia berhenti tepat di depan pintu kaca ganda ruang rapat utama. Arsen merapikan letak jas hitamnya sebentar, menarik napas dalam untuk mengunci rapat-rapat sisa kekesalannya akibat telepon tentang Axel tadi, lalu mendorong pintu tersebut dengan satu gerakan mantap.
Ruangan luas bernuansa modern abu-abu gelap itu langsung menyambut kehadirannya. Di balik dinding jendela kaca masif yang menghadap langsung ke arah lanskap pusat kota, dua orang tamu pentingnya menoleh serentak.
Seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan langsung bangkit berdiri dari kursi VIP dengan senyum lebar yang ramah. “Pak Arsen. Senang rasanya akhirnya kita bisa bertemu dan berdiskusi secara langsung.”
Arsen melangkah maju, menyambut pria itu dan menjabat tangannya dengan gestur profesional yang sangat matang. “Selamat datang di Wijaya Group, Pak Bastian.”
Pria paruh baya tersebut adalah Bastian Pranata, seorang investor kelas kakap yang kini sedang mempertimbangkan sebuah proyek kerja sama berskala besar dengan perusahaannya.
Namun, hal yang membuat alis Arsen sedikit mengernyit tipis adalah sesosok figur yang berjalan mengekor di belakang punggung Bastian. Seorang perempuan muda yang mungkin baru menginjak usia dua puluh lima tahun.
Perempuan itu berpenampilan teramat modis dengan gaun desainer ternama, riasan wajah sempurna, serta seulas senyuman manis yang terlihat sedikit terlampau antusias di mata Arsen.
“Perkenalkan Pak Arsen, ini putri saya, Keisha. Dia yang akan ikut membantu mengawasi jalannya proyek ini ke depan,” ucap Bastian memperkenalkan anaknya.
Perempuan bernama Keisha itu langsung melangkah maju satu langkah penuh percaya diri, mengulurkan tangannya ke arah Arsen. “Halo, Pak Arsen. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda.”
Arsen hanya memberikan anggukan singkat tanpa berniat membalas uluran tangan tersebut secara personal, memilih untuk langsung mempersilakan mereka duduk. “Halo. Silakan duduk, Pak Bastian, Mba Keisha.”
Pertemuan bisnis penting itu pun akhirnya dimulai. Selama tiga puluh menit pertama, seluruh pembahasan berjalan dengan sangat normal dan profesional.
Namun, semakin lama jarum jam berputar, Keisha justru terlihat semakin sering mencari celah untuk menarik perhatian Arsen.
Beberapa kali perempuan itu sengaja menyela pembicaraan dengan pertanyaan tidak krusial, dan beberapa kali pula ia sengaja tertawa kecil menanggapi ucapan Arsen pada hal-hal yang tidak mengandung unsur humor. Arsen memilih untuk mengabaikan seluruh gelagat tersebut.
Hingga akhirnya, rapat besar itu pun dinyatakan selesai. Di saat para staf bergerak sibuk membereskan sisa dokumen, Bastian mendadak menerima sebuah panggilan telepon penting dan meminta izin untuk keluar ruangan sebentar. Kini, tinggallah Arsen dan Keisha di dalam ruang rapat yang luas itu.
Keisha menopang dagunya dengan satu tangan, melempar senyum termanisnya.
“Pak Arsen kelihatannya selalu sibuk dan serius ya setiap saat. Kalau tidak keberatan, mungkin lain kali kita bisa pergi makan malam bersama untuk membahas proyek ini dalam suasana yang lebih santai?”
Arsen bahkan tidak mengangkat kepalanya sedikit pun dari lembar dokumen. “Tidak perlu. Semua urusan proyek sudah cukup dibahas di ruang rapat ini.”
Senyuman di wajah manis Keisha mendadak kaku untuk sepersekian detik.
Namun, perempuan itu menolak untuk menyerah. Ia justru bangkit berdiri, melangkah perlahan mendekati posisi Arsen yang masih duduk tenang.
“Saya rasa... tidak ada salahnya jika kita mencoba untuk saling mengenal satu sama lain lebih jauh, Pak Arsen.”
Arsen mulai merasakan gelombang ketidaknyamanan yang sangat hebat menjalar di dalam dadanya.
Perasaan cemas yang sangat familier, rasa sesak yang selalu muncul setiap kali ada seorang perempuan asing yang mencoba untuk melintasi batas teritorinya.
Namun, sebelum Arsen sempat menggeser kursinya mundur untuk menjauh, Keisha sudah lebih dulu mengulurkan jemarinya dan menyentuh punggung tangan kanan Arsen yang bebas.
Itu hanya sebuah sentuhan ringan, sangat singkat. Tetapi bagi seorang Arsen Laurent Wijaya, efeknya bagaikan hantaman godam.
Deg!
Seluruh tubuh tegap Arsen mendadak kaku dan menegang sempurna. Warna kulit di wajahnya seketika berubah pucat pasi. Rasa mual yang teramat sangat menjijikkan mendadak naik dari dasar perut, menghantam ulu hatinya dengan kecepatan penuh hingga membuat pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Napas Arsen tertahan di tenggorokan, pelipisnya mendadak mengeluarkan keringat dingin.
Keisha yang melihat perubahan drastis itu langsung bingung. “Pak Arsen? Anda tidak apa-apa? Pak—?”
Sebelum Keisha sempat menyentuhnya kembali, Arsen dengan gerakan refleks yang sangat kasar langsung menyentak dan menarik tangannya menjauh.
Sangat jauh.
Seolah-olah kulitnya baru saja melepuh karena menyentuh benda paling menjijikkan di atas muka bumi.
Keisha seketika membeku di tempatnya berdiri, matanya terbelalak kaget. “Maaf... saya tidak bermaksud—”
Arsen langsung bangkit berdiri dengan napas yang memburu pendek. Rahang tegasnya mengeras kuat, sementara tatapan matanya berubah menjadi sangat mengerikan. “Jangan pernah berani menyentuh saya,” desis Arsen dengan suara rendah yang bergetar penuh ancaman.
Keisha langsung tersentak mundur satu langkah, wajah cantiknya memerah padam karena rasa malu dan syok.
Tepat pada detik yang menegangkan itu, pintu ruang rapat kembali terbuka dan Bastian melangkah masuk. Pria paruh baya itu langsung mampu menangkap atmosfer aneh, tegang, dan dingin yang merayap di antara putrinya dan sang empunya perusahaan.
“Ada apa ini? Ada masalah?” tanya Bastian dengan kening berkerut.
Keisha buru-buru menggelengkan kepalanya kaku. “Ti-tidak ada apa-apa, Pa. Hanya salah paham kecil.”
Namun, Arsen tidak berniat untuk memperpanjang pembicaraan itu sedetik pun. Ia langsung menyambar jas hitamnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa serangan panik yang menyerang fisiknya. “Jika seluruh pembahasan inti dari proyek ini sudah selesai, saya permisi terlebih dahulu. Masih ada urusan lain.”
Tanpa menunggu respons, Arsen langsung melangkah lebar keluar meninggalkan ruang rapat utama. Langkah kakinya terdengar cepat, tegas, dan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Di sepanjang koridor korporasi yang sunyi, rasa mual dan sesak di dadanya masih tersisa dengan sangat nyata, memaksa memorinya kembali berputar pada kepingan masa lalu kelam yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam.
Sebuah masa lalu traumatis yang akhirnya memaksa Arsen untuk membangun dinding pertahanan setinggi mungkin terhadap setiap jengkal perempuan yang mencoba untuk mendekat ke dalam kehidupannya.
...----------------...
Sementara itu, jauh di sudut belahan kota yang lain.
Di dalam sebuah ruangan konseling sekolah elite yang saat ini masih dipenuhi kehebohan akibat insiden perkelahian berdarah tadi siang, seorang anak laki-laki berwajah dingin tampak duduk sendirian di atas kursi kayu.
Axel duduk di sana tanpa menampilkan ekspresi ketakutan sedikit pun, tanpa rasa penyesalan yang membayang di matanya, dan tanpa mengetahui bahwa namanya baru saja kembali menjadi sumber pemantik masalah dalam kehidupan ayahnya.
Bocah dingin itu hanya diam, mengabaikan tatapan tajam guru konseling di depannya, dan memilih untuk melemparkan pandangan kosongnya lurus-lurus ke luar jendela kaca, menembus langit siang yang perlahan mulai meredup.