Setelah partai persilatan aliran hitam terkuat Gapura Iblis runtuh, duniapun berubah menjadi lebih tenang dan damai. hampir tidak ada lagi perselisihan besar yang terjadi di antara kaum pendekar. semuanya sama berharap agar suasana tentram juga saling menghargai itu dapat terus bertahan selamanya.
Namun tidak ada yang abadi di dunia ini. karena tanpa mereka sadari, suatu kekuatan jahat yang terlupakan sedang bangkit dan mengancam dari balik kegelapan.
Keadaan menjadi semakin tidak terkendali saat terdengar kabar tentang kemunculan kembali dua senjata pusaka yang telah ratusan tahun lenyap dari rimba persilatan.
(Cerita ini ada sedikit keterkaitan dengan novel Pendekar Tanpa Kawan, 13 Pembunuh dan novel Kisah- Kisah Dunia Persilatan).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara panggilan dari dalam lorong.
Orang bilang kesempatan mungkin tidak akan datang untuk dua kalinya. biarpun pekerjaan yang akan dilakukan terasa sangat berbahaya dan mengancam nyawa tapi si Tole bertekad bulat untuk mengerjakannya. setelah berpikir sesaat lamanya, diapun mengangguk setuju. kedua orang dihadapannya saling pandang lantas tertawa.
''Bagus Tole.! kau memang bocah pemberani. tidak salah kalau diriku menilaimu. sekarang engkau dengarkan saja perintah kami lalu pahami dengan sepenuhnya. jika ada sesuatu masalah yang tidak kamu mengerti, jangan ragu untuk bertanya..'' ujar Ki Sentot Glondang alias tuan kepala penjara mengusap dagunya.
Saat berikutnya dia dan Nyi Merak Biru mulai menerangkan apa yang mesti dilakukan oleh si bocah copet termasuk juga siapa adanya tahanan yang mendekam didalam ruangan penjara bawah tanah. meskipun dalam hati si bocah merasakan ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh kedua orang itu namun dia tidak berani untuk bertanya.
Dari gambaran yang dikatakan oleh mereka berdua, narapidana itu sudah lama dijatuhi keputusan hukuman mati. tapi dikarenakan ada suatu rahasia tertentu yang belum dapat terungkap, jadi terpaksa nyawanya masih harus diperpanjang. dia terus mendekam di dalam sana dan mendapatkan bermacam siksaan berat.
Tapi sepertinya siapapun adanya narapidana itu, dia jelas manusia yang teramat tangguh. karena sampai hari- hari terakhirnya orang ini tidak juga mau membuka mulut dan tetap bersikeras mengatakan kalau dirinya tidak mengetahui rahasia apapun. atau bisa jadi., sebenarnya rahasia besar itu memang tidak pernah ada. sekarang sisa umurnya tinggal menunggu hari pemenggalan kepala saja.
Meskipun sudah cukup lama si Tole menjadi penghuni penjara kadipaten Wonokerto ini namun baru sekarang inilah si bocah copet memasuki lorong penjara bawah tanah yang menjadi tempat terlarang untuk dikunjungi. malahan hanya sekedar berada di dekat lorongnyapun juga bakalan terkena hukuman.
Bagian terluar lorong penjara bawah tanah adalah sebuah pintu besi hitam yang diikat rantai dan gembok besar. saat pintu dibuka seketika tercium bau apek memuakkan yang berasal dari dalam lorong gelap. prajurit jaga mesti menyalakan obor agar dapat menerangi lorong penjara yang mengarah ke bawah.
Dengan tangan membawa keranjang bambu berisikan beberapa macam makanan dan minuman, si bocah copet berjalan memasuki lorong mengikuti penjaga. mereka bilang kalau narapidana yang hendak dihukum mati mempunyai hak untuk menerima makannya yang terakhir sesuai dengan keinginannya. konon kabarnya hal ini selalu dilakukan agar arwahnya tidak mati penasaran.
Ada suatu keanehan yang dirasakan si Tole, entah kenapa telinganya seolah mendengar ada suara lembut sedang memanggilnya dari dalam lorong penjara bawah tanah. semakin ke dalam suara aneh mirip erangan itu juga makin bertambah jelas. kejadian semacam ini sudah beberapa kali pernah dia alami setiap melewati depan lorong penjara. tapi saat dia melirik para prajurit jaga yang mengawalnya, mereka justru terlihat tenang seperti tidak mendengar suara apapun.
Si bocah copet menelan ludahnya. tanpa dia sadari sekujur tubuhnya merinding seram. dengan dikawal empat orang prajurit jaga bersenjata pedang dan golok, si bocah mulai menapaki lorong penjara bawah tanah yang dinding serta lantainya terbuat dari batu kali, semakin lorong menjorok ke dalam, suasana menjadi makin menyeramkan. baru dia tahu kalau penjagaan di dalam lorong penjara bawah tanah juga sangat ketat dan berlapis.
Kira- kira dua puluhan langkah dari pintu masuk lorong bawah tanah, tepat disebelah kiri- kanan dinding lorong penjara, terdapat beberapa pintu besi yang sebagian besar sudah berkarat. dari balik pintu- pintu besi ini seolah terdengar suara erangan kesakitan yang ditimpali dengan raungan kemarahan.
Terkadang sempat pula si bocah mendengar suara orang sedang mencaci dan membentak dengan garang dari balik pintu besi disusul gema pukulan benda keras ataupun cambuk yang menghajar tubuh seseorang.teriakan lemah meminta ampun bercampur bau darah yang menyebar dari balik pintu besi hitam karatan itu membuat si Tole ingin muntah.
Dari cerita para prajurit yang mengawalnya, penjara ini tidak cuma dihuni para penjahat dari wilayah kadipaten Wonokerto saja tapi juga banyak narapidana dari daerah lainnya termasuk kotaraja Demak. ini dikarenakan tempat yang luas dan penjagaan sangat ketat dan dilengkapi bermacam peralatan rahasia.
Semakin lama keadaan lorong menjadi makin suram dan pengap. tapi anehnya ada kalanya juga terasa hembusan udara sangat dingin yang entah berasal dari mana. keanehan lainnya, si bocah copet alias Bocah Demit itu juga merasakan kalau suara- suara seram seperti panggilan yang terus terngiang di telinganya juga semakin bertambah jelas.
Setelah dua kali belokan lorong dan melewati tiga lagi pintu penjagaan, sampailah mereka pada tiga buah pintu besi yang berjajar serta letaknya agak terpisah dari pintu ruangan tahanan lainya dibawah tanah itu. ada dua orang penjaga sedang duduk di depannya sambil menikmati ubi kukus diatas meja.
Setelah mereka saling bertegur sapa dan berbisik, dua orang penjaga pintu itu sempat tertegun lantas melirik si bocah. sempat juga terbersit perasaan kasihan padanya diwajah mereka berdua. tetapi hanya sekilas saja semuanya kembali bersikap dingin. pintu ruangan yang terikat gembok rantai baja di sebelah kanan dibuka. bau yang memuakkan menyebar keluar dari sana.
Salah satu prajurit jaga menancapkan obor ke dinding ruangan dekat pintu besi sehingga keadaan sekitar menjadi lebih terlihat jelas. nampak nyaris sekeliling dinding ruangan penjara yang terbuat dari susunan batu padas ini berwarna merah kehitaman. biarpun sudah lama tapi kalau dilihat dari bekasnya warna itu berasal dari darah para penghuninya.
Sepasang kaki si Tole langsung gemetaran hingga hampir tidak kuat untuk menyangga tubuhnya sendiri. keranjang bambu berisikan makanan untuk narapidana juga nyaris saja terlepas dari genggamannya. biarpun masih sanggup berdiri tapi tetap saja dia tersurut mundur menatap sosok tubuh di depan sana.
Dia tidak tahu raga kurus setengah telanjang yang terpatek paku- paku besi menancap di dinding ruangan itu masih hidup atau telah mati. selain tubuhnya penuh luka bernanah busuk, juga dirantai menembus ke tulang bahu dan punggungnya. mata orang ini tinggal sebelah kanan. beberapa jemarinya juga telah terbabat putus. malah tulang kedua kakinya turut patah.
Kalau dilihat dari seluruh lukanya, manusia ini pastilah sudah tidak ada harapan untuk dapat sembuh. bahkan mungkin dalam beberapa hari kedepan nyawanya juga akan terlepas sendiri meninggalkan raganya. dalam hatinya si bocah copet membatin, ''Siksaan sekejam ini sungguh diluar nalar manusia waras..''
Mata kanan orang berambut awut- awutan dan nampak sudah tua itu mendadak terbuka. sorot matanya yang melebihi tajamnya pisau belati seakan menghunjam jiwa si bocah. biarpun diluarnya seperti berada diambang ajalnya namun terasa hawa membunuh yang sangat pekat dari tatapan mata orang tua ini. hidungnya yang robek dan gerumpung bekas didera benda panas terlihat mengendus- endus sesuatu.
''Hek., he., he., akhirnya sebelum diriku mati, kalian para bangsat mau juga memberikan makanan dan minuman kegemaranku. tapi aku hanya heran saja kenapa sekarang sudi menuruti permintaan dariku.? ataukah, kalian sudah bosan dan putus asa menyiksaku.?" ucap tahanan tua itu tertawa mengekeh.
Walaupun dari luarnya orang tua itu sudah terlihat sangat tidak berdaya tapi saat bicara ucapannya terdengar cukup jelas dan lancar. bahkan terselip ejekan juga cibiran pada para prajurit serta pihak yang selama ini menyiksa dirinya. ''Huhm., tertawalah sepuasmu karena mungkin besok atau lusa kepalamu sudah akan terpisah dari ragamu.!'' dengus salah satu penjaga penuh geram.
Sebelum mereka pergi keluar pintu ruangan penjara, dua orang lagi penjaga yang tidak lagi dapat menahan kegusarannya sempat beberapa kali menampar dan memukuli si narapidana. terakhir kepala yang berlumuran darah itu dibenturkan ke dinding ruangan. jika tidak ada rekannya yang menahan, mungkin mereka bakal kebablasan menyiksa sampai mati.
"Sekarang lakukan tugasmu bocah.! suapi saja bangsat tua itu dengan makanan yang kau bawa. lebih cepat selesai melakukannya, dirimu juga makin cepat keluar dari tempat sialan ini. kami berempat akan menunggumu diluar.." perintah si penjaga penjara setengah menghardik bengis. mereka lantas keluar meninggalkan si Tole sendirian di dalam ruangan penjara itu.
..............
Silahkan menuliskan komentar Anda., 😊🙏👍👌👆💪☝⭐🌹☕👏🤝🤲😁, Terima kasih.