Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : TIGA BIDAK BARU
Keputusan Sang Ayah tidak pernah bisa ditebak, namun selalu memiliki motif dan penuh perhitungan. Kurang dari empat puluh delapan jam setelah ruang sidang para Elder lumpuh oleh ketakutan, sebuah dekret tertinggi dikeluarkan dari kursi utama Ouroboros.
Untuk mengisi kekosongan masif yang ditinggalkan oleh faksi Adrian, Silas, dan Marcus, Sang Ayah memilih untuk tidak mempromosikan sisa-sisa tetua yang ketakutan. Sebaliknya, ia merekrut tiga pemuda dari luar lingkaran utama—tiga darah baru yang memiliki reputasi kelam di dunia bawah internasional.
Malam itu, di bawah pendaran lampu gantung kristal, ketiga pemuda itu berdiri berjejer. Di hadapan mereka, Sang Ayah duduk dengan cerutu yang mengepul, sementara Elara memperhatikan dari balik meja kaca, dan Dante berdiri di belakang Elara.
Julian Vance, yang kini memegang otoritas penuh atas basis data, berdiri di sisi kanan Sang Ayah, membaca profil digital mereka dari tabletnya dengan senyum miring yang penuh minat.
"Mari kita perkenalkan para pengganti," suara Julian menggema di ruangan yang sunyi, memecah ketegangan.
"Yang pertama, menggantikan faksi logistik barat milik Silas," Julian mengetuk layarnya, menampilkan visualisasi jaringan rute Eropa. "Ciel Vance. Mantan tentara bayaran dan ahli strategi dari legiun asing. Dia tidak hanya menguasai jalur penyelundupan, tetapi juga memiliki reputasi mampu memindahkan seluruh muatan militer melewati perbatasan negara tanpa memicu satu pun radar intelijen."
Ciel melangkah maju. Ia bertubuh tegap, rambutnya dipotong rapi gaya militer dengan sepasang mata abu-abu yang dingin. Berbeda dengan Silas yang licik namun pengecut, Ciel memancarkan aura disiplin militer yang kaku saat membungkuk hormat.
"Kedua, menggantikan faksi maritim milik mendiang Marcus," lanjut Julian, binar matanya berkilat penuh ketertarikan. "Kaelen Cross. Dia menguasai perairan hitam segitiga emas sejak usia sembilan belas tahun. Bajak laut modern yang dicari oleh lima negara. Di bawah kendalinya, faksi maritim tidak lagi hanya akan mengandalkan kapal kargo tua, tetapi armada cepat yang dipersenjatai."
Kaelen berdiri dengan postur yang lebih santai, bahkan terkesan arogan. Sebuah luka sayatan tipis menghiasi pipi kirinya, dan tangannya yang dipenuhi tato jangkar serta rantai terlipat di dada. Ia menatap Elara dengan pandangan menilai yang berani, sebuah tindakan yang langsung membuat aura membunuh Dante menegang.
"Dan yang terakhir, untuk mengisi kekosongan faksi eksekutor lapangan yang ditinggalkan Adrian," suara Julian merendah. "Ren Sallow. Seorang pembunuh bayaran independen yang dikenal dengan julukan 𝘛𝘩𝘦 𝘎𝘩𝘰𝘴𝘵. Dia tidak memiliki catatan kriminal di kepolisian mana pun, karena setiap target yang disentuhnya selalu berakhir sebagai 'kecelakaan murni'."
Ren adalah yang paling tenang di antara ketiganya. Perawakannya kurus namun proporsional, dibalut mantel hitam panjang. Wajahnya pucat dengan kantung mata yang menghitam, memancarkan aura seorang sosiopat yang tidak memiliki emosi. Saat namanya disebut, ia hanya melirik sekilas ke arah Elara, seolah mengenal siapa Elara.
Sang Ayah mematikan cerutunya di asbak perak, lalu berdiri dari kursinya.
"Kalian bertiga berada di sini karena kalian adalah yang terbaik di bidang kalian," suara Sang Ayah menggelegar dingin. "Organisasi ini tidak butuh tetua bangka yang hanya tahu cara menghitung uang dan gemetar saat darah tumpah. Aku memberikan kalian wilayah, kekuasaan, dan senjata. Tapi ingat satu hal..."
Sang Ayah mengulurkan tangannya, menunjuk ke arah Elara.
"Mulai hari ini, kalian tidak melapor kepadaku. Kalian melapor kepada Elara. Dia adalah penerusku. Jika ada di antara kalian yang berani mengkhianatinya, atau gagal memenuhi targetnya..." Sang Ayah menyeringai kejam. "...kalian sudah melihat sendiri apa yang terjadi pada Marcus."
Ciel, Kaelen, dan Ren serentak menundukkan kepala mereka ke arah Elara.
Elara bangkit dari duduknya, menatap ketiganya sekilas. "Senang bertemu dengan kalian," ucapnya dingin, sebelum melangkah pergi tanpa menunggu balasan.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..