Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pupil mata Brian bergetar hebat sejenak.
Dalam hati tentu saja pria itu tak setuju dengan apa yang di ucapkan Melisa. Mengingat jika ia sudah berjanji akan segera menikahi Anita. Dan membayangkan akan membangun sebuah keluarga bahagia dengan sosok wanita yang sedari dulu sangat ia cintai itu.
" Maaf ma.. Aku tidak bisa mengikuti saran mama itu. " ucap Brian. Yang sudah merasa pasrah akan terkena semburan naga lagi dari Melisa yang masih dalam keadaan marah.
Dan benar saja apa yang Brian prediksi.
Setelah mengatakan hal itu. Melisa yang semula sudah berangsur - angsur tenang. Malah terlihat seperti orang kerasukan setan kembali.
Dengan sorot mata melotot. Serta suara yang terdengar sangat menggelegar di dalam ruangan.
Wanita itu pun kembali mengeluarkan kekesalannya terhadap Brian yang ia anggap telah menjadi orang gila.
" Apa kamu bilang tadi Brian? Kamu tak bisa melakukan apa yang mama sarankan? "
" Ya ma. Aku sudah berjanji akan menikahi Anita. Dan segera menceraikan Inara." balas Brian dengan kondisi telinga sedikit berdengung karena teriakan Melisa.
" Persetan dengan janjimu itu. Pokoknya mama tak akan pernah setuju jika wanita itu menjadi bagian dari keluarga kita."
" Maa.."
" Apa!? Apa kamu mau membantah ucapan mama lagi? Apa kamu mau melihat papamu terkena serangan jantung dan mati ketika mendengar keinginan gilamu ini, hah!? " dada Melisa terburu. Dengan Brian yang tampak menghembuskan nafas kasar.
Lagi - lagi jalan cintanya harus terhambat karena restu orang tua dan satu wanita lagi.
Inara..
Ya.. Wanita itu bagi Brian adalah sebuah penghalang terbesar antara hubungannya dan Anita.
Mengingat jika di rumah itu hampir semua orang menyukai Inara.
Termasuk dirinya pun juga sempat menyukai Inara. Mengingat sikap wanita itu yang super baik, lembut dan juga perhatian.
Lelaki mana pun akan mudah jatuh cinta dengan wanita cantik berambut panjang indah itu.
Sampai kehadiran Anita datang kembali masuk ke dalam kehidupan Brian yang sudah tenang.
Membuat hati Brian yang sempat terjerat akan pesona Inara, menjadi goyah kembali. Dan malah terjerat kembali dengan pesona sang mantan, yang selama ini belum seratus persen bisa ia lupakan.
Hingga hubungan terlarang itu pun terjadi. Sampai mereka melakukan hal yang tak semestinya mereka lakukan yang telah menjadi mantan. Ketika mereka berdua dalam keadaan mabuk di dalam sebuah kamar hotel mewah.
Dan sebagai seorang pria sejati. Tentu saja Brian harus segera menikahi Anita yang saat ini tengah mengandung benih yang tak sengaja ia tanamkan di dalam rahim wanita itu.
__
" Maaf ma .. Tapi Brian mohon. Kali ini saja. Tolong kabulkan permintaan Brian. Bukankah selama ini Brian selalu mengikuti keinginan mama dan papa? Jadi Brian mohon. Kali ini saja. Tolong kabulkan keinginan Brian. Bukankah mama dan papa selama ini selalu mengajarkan Brian tentang tanggung jawab? Dan sekarang Brian sedang melakukan hal itu ma. Jadi Brian mohon. Tolong dukung keputusan Brian. Apa mama tak kasihan sama Anita dan bayinya? Bayi itu juga cucu mama. Penerus keluarga besar kita ma. Jadi tolong buka pintu hati mama dan terima Anita kembali." raut wajah yang biasanya tampak dingin itu kini terlihat memelas.
Hingga hembusan nafas kasar pun Melisa keluarkan dari hidung. Sebagai seorang ibu, tentu saja raut wajah itu mampu meluluhkan hati Melisa. Yang selama ini hanya memiliki satu putra dan satu putri. Yang saat ini masih setia melajang dan tinggal di luar negeri sana.
" Terserah kau saja Brian. Mama sudah sangat lelah untuk menasehatimu."
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra