Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. PERTARUHAN DOKTER TANPA OBAT
..."Tanpa obat, tanpa alat, hanya ilmu dan keberanian, seorang dokter menantang kematian dengan tangan kosong."...
...---•---...
"Apa kau tahu..."
Suara Pak Karso gemetar di belakangnya. Doni tidak perlu menoleh untuk tahu. Lelaki itu berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk lebih dekat. Takut mendengar jawaban yang sudah ia duga.
"Apa yang salah dengan anakku?"
Doni mendekat, berlutut di samping tikar. Ia menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangan. Sangat panas. Demam tinggi, mungkin sekitar 39-40 derajat Celsius. Ia mengamati wajah gadis itu, pernapasannya yang cepat dan dangkal, ujung jari-jarinya mulai membiru. Napasnya tak lagi mencukupi.
"Sudah berapa lama dia seperti ini?" Doni bertanya, suaranya rendah.
"Lima hari," jawab sang ibu dengan suara serak. Suaranya pecah di tengah. "Awalnya hanya batuk biasa. Lalu mulai keluar darah. Sekarang dia tidak bisa bangun, tidak bisa makan."
Doni menarik napas panjang. Tanpa stetoskop, tanpa rontgen, tanpa pemeriksaan laboratorium, ia harus mendiagnosis hanya berdasarkan pengamatan klinis. Tapi ia sudah melakukan ini ratusan kali. Sebelum teknologi, dokter mengandalkan mata, telinga, dan pengalaman.
Ia mendekatkan telinga ke dada gadis itu, mendengarkan suara napas. Setiap tarikan napas disertai bunyi basah yang kasar, seolah udara dipaksa melewati paru-paru yang dipenuhi cairan. Kemungkinan besar radang paru-paru. Bisa juga tuberkulosis, tapi untuk TBC gejala biasanya lebih kronis.
Ia memeriksa nadi di pergelangan tangan. Cepat dan lemah. Tanda tubuh sedang berjuang melawan infeksi berat.
"Boleh aku lihat dahaknya?" Doni bertanya.
Sang ibu menunjuk ke sebuah tempurung kelapa di pojok. Doni mengambilnya, mengamati isinya di bawah sinar matahari yang menerobos celah dinding. Dahak kental berwarna kuning kehijauan, bercampur darah segar. Bukan darah berbusa yang biasa terlihat pada tuberkulosis. Ini lebih mengarah pada radang paru akibat infeksi bakteri atau abses paru.
Dalam kondisi normal, ia akan memberikan obat pembasmi kuman yang kuat, pertolongan untuk memasukkan lebih banyak udara ke paru-paru, cairan penunjang kehidupan melalui pembuluh darah, dan mengawasinya di ruang khusus bagi pasien yang nyawanya tergantung pada bantuan mesin. Tapi ia ada di sini. Di masa di mana obat ajaib untuk infeksi belum ada. Di masa di mana orang masih percaya penyakit datang dari roh jahat atau kutukan.
Doni menatap dada Tari yang turun-naik dengan cepat dan tidak teratur. Keracunan darah parah. Kegagalan pernapasan yang makin memburuk. Banyak organ tubuh mulai rusak.
Diagnosisnya terbentuk dengan tepat, setajam pisau bedah. Di rumah sakitnya dulu, kasus seperti ini biasa. Satu jam di UGD, infus antibiotik, malam observasi, pulang dalam tiga hari.
Tapi di sini?
Jari-jarinya mengepal. Kukunya menancap ke telapak tangan.
"Apa kau tahu..." Pak Karso menelan ludah, suaranya hampir putus. "Apa yang salah dengan anakku?"
Napas Doni keluar perlahan. Tangannya masih gemetar. Ia menekan keras ke pahanya sendiri sampai buku-buku jari memutih.
"Aku tahu apa yang salah." Ia mengangkat kepala, menatap Pak Karso. Lelaki itu terlihat sepuluh tahun lebih tua dari yang seharusnya. "Dan..."
Bohong. Kau tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan mati dan kau akan menonton.
Doni menggeleng keras. Mengusir suara itu.
"...dan aku akan membantunya."
Mereka menatapnya. Pak Karso menggenggam sarung, napasnya tertahan. Ibu berhenti mengipas, tangannya membeku di udara. Karyo berdiri membeku. Tatapan mereka seperti nyala lilin di angin kencang.
"Tapi aku butuh beberapa hal," lanjut Doni. "Madu, jika ada. Jahe segar. Kunyit. Daun sirih. Air bersih yang sudah direbus. Dan kain bersih."
"Madu?" Pak Karso mengerutkan kening. Nada suaranya berubah, ada keraguan di sana. "Itu mahal. Kami tidak punya."
"Kalau begitu jahe dan kunyit saja. Dan air bersih yang direbus sampai mendidih, lalu didinginkan. Ini penting sekali."
Sang ibu bangkit, tampak bingung tapi bersedia mencoba apa saja. "Aku punya jahe dan kunyit. Tapi kenapa air harus direbus?"
"Untuk membunuh roh jahat yang bersembunyi di dalam air," jawab Doni, menggunakan bahasa yang mereka pahami.
Wanita itu mengangguk cepat, kini mengerti. Matanya sedikit lebih hidup, ada percikan harapan di sana. Ia bergegas keluar untuk menyiapkan yang diminta.
Doni kembali fokus pada gadis itu. Ia harus menurunkan demam dulu. Kompres dengan air hangat, bukan air dingin. Air dingin akan menyebabkan pembuluh darah menyempit dan justru menahan panas di dalam tubuh.
"Karyo, aku butuh air hangat dan kain," katanya. "Dan kalian harus membuka jendela atau pintu. Ruangan ini terlalu pengap. Dia butuh udara segar."
"Tapi kalau banyak udara masuk, roh jahat juga bisa masuk," protes Pak Karso.
"Roh jahat justru suka tempat gelap dan pengap," Doni berargumen, menatap Pak Karso dengan serius. "Udara segar dan sinar matahari akan mengusir mereka."
Pak Karso tampak ragu. Ia melirik ke arah anaknya, lalu ke pintu. Tangannya menggenggam sarung lebih erat. Akhirnya ia mengangguk, seperti lelaki yang tidak punya pilihan lain.
Ia membuka pintu gubuk lebih lebar. Sinar matahari menerangi ruangan, mengusir sebagian kegelapan. Udara segar mulai mengalir masuk, membawa bau tanah dan rumput.
Doni mulai bekerja dengan apa yang ia punya. Setiap menit berharga. Setiap detik, tubuh Tari kalah sedikit demi sedikit. Ini akan menjadi ujian terberat dalam karirnya sebagai dokter. Tanpa teknologi modern, ia harus kembali ke dasar-dasar kedokteran. Pengamatan klinis. Perawatan suportif. Dan sedikit keberuntungan.
Karyo kembali dengan mangkuk air hangat dan kain. Doni membasahi kain itu, lalu meletakkannya di dahi Tari. Gadis itu mengerang pelan, kepalanya bergerak sedikit.
"Ganti kain ini setiap beberapa menit," kata Doni pada sang ibu yang baru saja kembali dengan jahe dan kunyit. "Terus jaga dia tetap lembap, tapi jangan terlalu dingin."
Sang ibu mengangguk, mengambil alih tugas dengan tangan yang gemetar.
Doni mengambil jahe dan kunyit, mengamatinya. Jahe punya sifat anti-inflamasi. Kunyit mengandung curcumin yang bisa membantu sistem imun. Bukan antibiotik, tapi lebih baik dari tidak ada.
"Parut ini, campur dengan air hangat, beri minum sedikit-sedikit," instruksinya. "Kalau dia tidak bisa menelan, basahi bibirnya saja. Jangan biarkan dia dehidrasi."
Ia berbalik ke Karyo. "Aku juga butuh daun sirih. Banyak. Dan rebus sampai airnya berwarna hijau tua."
"Untuk apa?" tanya Karyo.
"Untuk membersihkan luka di dalam," jawab Doni. Daun sirih punya sifat antiseptik. Tidak sekuat antibiotik modern, tapi selama ribuan tahun orang menggunakannya untuk infeksi. Mungkin ada harapan.
Karyo berlari keluar mencari daun sirih.
Doni duduk kembali di samping Tari. Gadis kecil itu menggeliat, mengerang dalam tidurnya yang gelisah. Napasnya masih berat, tapi mungkin sedikit lebih teratur setelah ruangan menjadi lebih dingin dan udara mengalir.
Ia menyentuh pipinya dengan lembut.
"Bertahanlah," bisiknya. "Aku tidak akan membiarkanmu mati."
Pak Karso masih berdiri di pintu, menatap mereka dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada harapan di sana, tapi juga ketakutan. Ketakutan bahwa harapan itu akan hancur lagi, seperti sudah berkali-kali sebelumnya.
Di luar, kehidupan kampung berlanjut. Ayam berkokok, anak-anak bermain, para pedagang berteriak menjajakan dagangan. Tidak ada yang tahu bahwa di gubuk kecil itu, seorang dokter dari masa depan sedang memulai pertarungan melawan penyakit dengan tangan kosong, melawan kematian dengan hanya pengetahuan sebagai senjata.
Dan inilah awal dari legenda yang kelak akan dikenang sebagai Tabib Ajaib.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲