Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah pohon
Diperhatikan dari jauh, tampaknya para pemuda pecinta mobil sedang berkumpul di markas yang sering kali disebut bengkel. Mobil Mclaren berwarna hitam dengan warna kuning di beberapa bodi selalu menjadi fokus utama untuk tamu yang berkunjung ke bengkel tersebut.
Apalagi untuk Seaven yang memang ingin menemui pemilik mobil yang merupakan ketua dari geng Neon Ravens. Ekspresi Seaven tidak sehangat biasanya, bahkan bisa dibilang sedang menahan emosi.
"Di mana Leon?" tanya Seaven pada pemuda yang kebetulan berada di luar.
"Leon, ada nyariin lo!"
"Bentar!" sahut Leon, tidak lama putra kedua Alexander tersebut akhirnya muncul. Keningnya mengerut melihat kehadiran sahabat kakaknya.
Lebih terkejut lagi ketika beberapa lembar foto dilempar kearahnya dan berjatuhan pada lantai yang kotor oleh noda oli. Leon memandangi foto tersebut. Foto-foto yang ia berikan pada kakaknya sebagai bukti kedekatan Seaven dan Arumi di belakang sang kakak.
"Apa yang membuat kak Seaven marah? Aku hanya memperlihatkan yang seharusnya pada mas Liam," jawab Leon dengan santainya.
"Atas dasar apa kamu berpikir bahwa aku memiliki hubungan dengan Arumi, hm?" Seaven maju satu langkah, hendak menarik kerah baju ketua Neon Ravens tersebut. Namun, tangan pria itu dihadang oleh beberapa anak muda.
"Kami nggak mandang usia jika yang terluka adalah ketua kami!"
Leon senyum miring melihat kekesalan sahabat kakaknya. "Kak Seaven nggak bisa menyentuhku begitu saja," ujarnya.
"Leon! Karena ulahmu itu aku dan Liam bertengkar! Aku sama sekali nggak punya hubungan dengan Arumi!"
"Aku nggak peduli pertengkaran kak Seaven dan mas Liam. Aku hanya ingin menebus kesalahanku karena telah membuat mas Liam menderita!" balas Leon membentak dan mendorong tubuh Seaven.
Beberapa hari lalu saat menyaksikan kehancuran kakaknya, ia menyesali segalanya dan bertekad untuk menebus rasa bersalah itu dengan membantu sang kakak mengungkap kematian Arumi.
"Dan aku nggak akan menutup-nutupi apapun lagi yang bisa aku sesali nantinya, termasuk fakta bahwa hari itu orang yang membawa mobil Arumi adalah kak Seaven!"
Bruk
Lengah, Leon terjatuh dan tubuhnya membentur kab mobil yang sedang dalam perbaikan. Leon akui pukulan pria dihadapannya sangat kuat sampai ia tidak bisa menahan diri.
Pria itu bangkit dan mengembalikan pukulan Seaven tanpa peduli setelah ini hubungannya dengan Sevanya mungkin akan terancam.
"Aku akan membuktikan bahwa yang membunuh Arumi adalah kak Seaven. Aku akan membuka topeng malaikat kakak!" ujarnya dengan gigi bergemulutuk.
Beruntungnya para anggota Neon Ravens datang untuk memisahkan Leon dan Seaven yang sama-sama menggila.
Sedangkan di sisi lain bumi, orang yang sedang menjadi pemicu pertengkaran melajukan mobilnya menuju tempat yang hanya ia dan Arumi ketahui.
Sekarang pria itu mengerti apa alasan Arumi menitipkan gambar tersebut padanya. Sepertinya sang kekasih berusaha memberikan petunjuk tentang pembunuh tersebut.
Laju mobil Liam perlahan memelan setelah memasuki pemukiman desa sampai akhirnya tiba di kaki bukit.
Pria itu berjalan pelan menyusuri tanjakan yang lumayan menguras tenaga sampai akhirnya tiba di rumah pohon tempat mereka pernah menghabiskan waktu.
Liam menghela napas panjang melihat pemandangan yang ia saksikan. Kenapa ia begitu bodoh sampai tidak ingat dengan tempat ini? Tempat di mana foto itu diambil oleh Arumi.
"Maaf seharusnya aku mengetahui semua ini sejak awal," gumam Liam.
Lampu di sekitar rumah pohon mulai menyala satu persatu menerangi tempat di mana Liam berpijak. Tatapan Liam tertuju pada kotak besi di atas meja.
Dengan ragu Liam mengentikkan beberapa angka hingga kotak itu berhasil dibuka. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik mengingat sandi yang Arumi gunakan adalah tanggal di mana ia mengucapkan janji akan menikahi wanita itu, padahal momen itu terjadi saat mereka masih kecil.
Bukankah ini sudah membuktikan bahwa Arumi tidak akan mengkhianatinya terlebih dengan Seaven kan?
Di dalam kotak itu terdapat flashdisk berwarna hitam dan buku harian berwarna pink entah milik siapa. Karena tidak membawa laptop, Liam memiih membuka buku harian berwarna pink itu.
Hari ini tepat aku berusia 17 tahun, ayah dan ibu sedang mempersiapkan perayaan ulang tahun besar-besaran di rumah, ayah Brian juga akan hadir untuk pertama kalinya. Seharusnya aku senang karena semua orang peduli padaku.
Tapi aku malah sedih karena untuk kesekian kalinya mas Liam tidak datang atau hanya mengucapkan ulang tahun untukku.
Lembaran pertama Liam langsung disuguhkan tulis tangan yang membuatnya merasa bersalah.
"Maaf, aku egois dan membuatmu menunggu dengan hal yang nggak pasti."
Pria itu terus membaca buku harian Arumi yang hanya seputar kerinduan untuknya. Dan sampai akhirnya ia tiba di beberapa lembar akhir.
Hari ini aku sangat senang karena akan bertemu mas Liam setelah 15 tahun. Aku berharap penantianku tidak sia-sia dan mas Liam masih mengenaliku.
Finally hari bahagiaku pun datang, mas Liam menepati janjinya dan mengenaliku. Aku sangat senang saat dia langsung memelukku. Penantianku terbalaskan dan mas Liam berjanji akan menikahiku.
Aku tidak sabar menanti hari itu tiba dan memakai gaun pengantin yang telah aku desain sendiri.
Liam tersenyum, untuk pertama kalinya setelah kehilangan dia menitikkan air mata dan membasahi buku harian tersebut. Begitu antusias Arumi menanti kepulangannya tetapi orang-orang sekitar malah memfitnah kekasihnya menjalin hubungan dengan pria lain.
Ia membuka lembaran selanjutnya dan menemukan emotion sedih yang Arumi gambar sendiri.
Aku mengira semuanya akan baik-baik saja selama aku mengabaikan semuanya, tetapi semakin dekat pernikahan, mas Liam mulai memperlihatkan sisi berbeda yang membuatku ragu untuk melanjutkan pernikahan.
Bagaimana jika selama ini aku kecintaan sendiri? Bagaimana jika kecurigaanku benar dan cintaku hanya dimanfaatkan?
"Apa maksudnya ini?" lirih Liam sembari mengusap air mata di pipinya. Ia mengeleng, tidak membenarkan perubahan sikapnya dan semua keraguan Arumi tidak mendasar sebab cintanya sangar besar untuk wanita itu.
Aku tidak keberatan saat mengetahui bahwa mas Seaven menyukai mas Liam. Aku akan berusaha membuat jarak untuk mereka berdua setelah aku dan mas Liam menikah. Tapi bagaimana jika mas Liam juga menyukai mas Seaven?
Liam menjatuhkan buku harian berwarna pink itu, ia tidak kuasa untuk membuka lembaran selanjutnya.
"Nggak, semuanya hanya salah paham." Ia mengelengkan kepalanya. "Aku hanya mencintaimu dan Seaven nggak menyukaiku, kita hanya sebatas sahabat," lirihnya seolah sedang berbicara dengan Arumi.
Angin berembus, lembaran buku pun kian bergerak dan bepindah halaman. Seolah alam memaksa untuk Liam mengetahui fakta yang selama ini tersimpan rapi bersama kematian Arumi.
Aku ingin jujur tapi aku takut mas Liam marah dan membenciku sebab mengira aku berniat menghancurkan persahabatan mereka. Mas Liam terlalu mempercayai mas Seaven yang begitu manipulatif.
Jika aku ingin hidup, aku harus membatalkan pernikahan ini.
....
jijik