Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Residen van der Linden
Tuan Liem Tjong Hian—pria Tionghoa paruh baya dengan perut buncit dan senyum yang terlalu lebar. Pakaiannya mewah—jas sutra dengan kancing emas, cincin-cincin di hampir setiap jari.
Ia membungkuk dalam saat memasuki pendopo.
"Kanjeng Bupati, sungguh kehormatan besar bisa bertemu."
Arjo mengangguk. "Silakan duduk, Tuan Liem."
Pembicaraan dimulai dengan basa-basi tentang bisnis gula, tentang harga pasar dunia, tentang panen tahun ini. Arjo mendengarkan dengan wajah datar, sesekali mengangguk dan bergumam, meski dalam hati bosan setengah mati.
Tapi kemudian, pembicaraan berbelok ke arah yang tidak terduga.
"Kanjeng Bupati …," Tuan Liem menurunkan suaranya, matanya berkilat dengan sesuatu yang nakal. "Saya dengar Kanjeng Bupati sedang... kesepian."
Arjo mengangkat alis.
"Saya dengar, istri Kanjeng Bupati belum ditemukan." Tuan Liem melanjutkan dengan senyum yang semakin lebar. "Saya punya... sedikit persembahan yang mungkin bisa menghibur."
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah foto hitam putih.
"Ini putri saya. Dari selir ketiga. Namanya Liem Mei Hua. Baru empat belas tahun. Cantik, penurut, dan sangat pandai merawat pria."
Arjo menerima foto itu.
Gadis dalam foto memang cantik—wajah oval dengan pipi tembam, mata sipit yang tersenyum, rambut hitam legam disanggul sederhana.
Tapi...
‘Empat belas tahun?’
Arjo memandang wajah kekanakan dalam foto itu. Hampir sama mudanya dengan Susilowati, seperti masih anak-anak.
Dan ia tahu persis apa yang sedang terjadi di sini.
‘Ini suap.’
Pengusaha gula menawarkan putrinya sebagai selir bupati. Sebagai gantinya, tentu saja, ia mengharapkan... kemudahan seperti; zin bisnis, pengurangan pajak, perlindungan dari pesaing.
Arjo sudah dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini.
"Tuan Liem." Suaranya tenang, wajah tetap datar. "Saya sangat menghargai perhatian Tuan. Putri Tuan memang cantik."
Wajah Tuan Liem berbinar penuh harap.
"Tapi," Arjo menyerahkan foto kembali, "saya sedang dalam masa … berkabung. Istri saya … belum ditemukan dan belum jelas bagaimana nasibnya. Tidak pantas bagi saya memikirkan perempuan lain saat ini. Apalagi saya baru saja menikahi putri Bupati Sumantri, ini akan menyinggung keluarga mereka jika saya terlalu cepat mengambil istri selir lagi."
Senyum di wajah Tuan Liem sedikit memudar.
"Tentu, tentu. Saya mengerti, Kanjeng Bupati." Ia menerima foto dengan senyum dipaksakan. "Mungkin... di lain waktu?"
"Mungkin." Arjo mengangguk. "Terima kasih sudah berkunjung, Tuan Liem. Semoga bisnis Tuan lancar. Saya perlu waktu untuk mempertimbangkan izin usaha yang Tuan ajukan."
Isyarat halus bahwa pembicaraan sudah selesai.
Tuan Liem undur diri, membungkuk dalam, keluar pendopo dengan wajah yang berusaha menyembunyikan kekecewaan.
Begitu pengusaha itu menghilang, Arjo menghela napas lega.
‘Satu lagi selesai.’
Ki Atmojo muncul di sampingnya. "Bagus, kau cepat menyesuaikan diri. Penolakan yang halus."
Arjo tersenyum mendengar pujian itu. "Sekarang saya bisa istirahat?"
"Ya, jeda sebentar. Sore nanti meninjau pembangunan jembatan."
‘Akhirnya.’
Arjo baru saja hendak bangkit dari kursinya ketika seorang prajurit berlari ke pendopo.
"Ki Atmojo! Ada rombongan dari karesidenan!"
Arjo membeku.
Ki Atmojo mengerutkan dahi. "Rombongan? Siapa?"
"Residen van der Linden, Ki. Bersama putrinya dan pengawal-pengawalnya."
‘Van der Linden?’
Arjo merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
‘Residen baru itu? Yang putrinya menyerangku di kereta?’
"Mereka berkata apa?" Ki Atmojo bertanya dengan nada waspada.
"Mereka berkata … dari berburu di hutan sebelah utara, Ki. Tapi terkena banjir bandang dari gunung. Di gunung sedang hujan. Mereka minta singgah sebentar untuk membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan."
Ki Atmojo dan Arjo bertukar pandang.
‘Berburu? Banjir bandang?’
Sesuatu terasa tidak benar. Van der Linden masih dalam proses pindah, barang-barangnya bahkan belum sampai sepenuhnya—belum resmi memimpin karesidenan sampai minggu depan. Aneh kalau ia sudah pergi berburu di wilayah yang belum dikenalnya.
Tapi seorang bupati tidak bisa menolak permintaan residen—pejabat Belanda yang secara hierarki berada di atasnya.
"Persilakan mereka masuk." Arjo berkata dengan suara yang berusaha tenang. "Siapkan tempat untuk mereka membersihkan diri."
Prajurit itu membungkuk dan berlari ke pendhopo utama.
Ki Atmojo membisik di telinga Arjo. "Hati-hati. Ini di luar jadwal. Tidak biasa."
Arjo mengangguk.
Rombongan van der Linden memasuki halaman kadipaten dengan keadaan yang... berantakan.
Para pengawal, sebagian besar pria lokal bertubuh kekar dengan otot-otot yang menonjol, sebagian lagi tentara kolonial berseragam—tampak basah kuyup dan berlumpur. Kuda-kuda mereka juga kotor, bulu-bulu yang biasanya mengkilap kini kusam tertutup tanah.
Di tengah rombongan, sebuah kereta tertutup berhenti di depan pendopo, kereta sederhana, bukan kereta resmi residen, tanpa lambang.
Pintu terbuka.
Pria yang turun pertama adalah sosok tinggi tegap dengan rambut cokelat terang yang mulai beruban di pelipis. Wajahnya tegas—rahang keras, hidung mancung, mata yang warnanya tampak familiar.
‘Amber. Cokelat terang dengan bintik keemasan.’
Mata yang sama dengan mata perempuan yang menyerangnya di kereta.
Pria itu menggunakan tongkat—kaki kirinya sedikit pincang, bekas luka perang yang disebutkan dalam dokumen yang pernah dibaca Arjo. Wajah pria itu galak—sama galaknya dengan wajah putrinya dalam foto.
Tapi yang paling menarik perhatian Arjo adalah sosok yang turun setelahnya.
Seorang perempuan muda.
Rambut gelap dengan semburat kecokelatan, tampak semakin terang saat disorot cahaya senja yang menerobos dari celah pohon beringin. Kulit terlalu pucat yang tidak biasa untuk orang pribumi—tanda darah campuran. Tubuh semampai dalam balutan kebaya basah yang menegaskan lekuk tubuh yang kencang. Postur tegak meski tampak kelelahan.
Dan matanya…
Mata itu. Mata yang sama dengan yang menatapnya dari balik penutup wajah di dalam kereta. Mata kucing dengan iris sewarna amber—cokelat terang dengan bintik-bintik emas.
‘Agnes van der Linden alias Kenes.’
Tapi sekarang, tanpa penutup wajah, Arjo bisa melihat seluruh wajahnya.
Cantik.
Bukan cantik lembut seperti para raden ayu Jawa. Bukan cantik anggun seperti nona-nona Belanda. Tapi cantik yang... liar. Berbahaya. Seperti harimau betina yang sedang terluka tapi masih bisa menerkam.
Dan memang, perempuan itu tampak terluka.
Ada garis-garis sayatan di punggung tangannya seperti bekas terkena ranting atau semak berduri. Ada luka serupa di dahinya, masih tampak baru, darah yang mengering membentuk garis tipis kemerahan.
Diamati dari depan, pakaiannya robek di beberapa bagian. Kain jarik soganya koyak di bagian bawah. Kebaya robek di bagian perut, memperlihatkan kendit warna senada. Badannya yang kuyup ditutupi oleh mantel pria yang diselimutkan di bahu.
‘Apa yang terjadi padanya?’
Tapi yang paling mencolok adalah cara van der Linden memegang pergelangan tangan putrinya.
Genggaman yang kuat. Tidak pernah dilepaskan. Seolah takut putrinya akan kabur kalau ia lengah sedetik saja.
‘Ada apa dengan ayah dan anak ini?’
Arjo melangkah mendekat untuk menyambut tamu.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo