Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.
Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.
Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Yang Berbeda
Wijaya melangkah masuk ke kamar rawat sambil menatap putrinya dengan penuh perhatian.
"Besok kamu kuliah nggak? Tapi menurut Ayah, sebaiknya jangan dulu. Kamu harus banyak istirahat," ujarnya lembut.
"Iya, Yah. Besok Cilla istirahat dulu."
Wijaya mengangguk pelan, lalu kembali membuka pembicaraan.
"Gimana? Tadi ngobrol sama Raka? Menurut Ayah, dia jauh lebih baik daripada Raga, mantan kamu."
Cilla langsung menatap ayahnya dengan tatapan penuh curiga.
"Ayah... jangan-jangan Ayah mau menjodohkan Cilla, ya?" tebaknya.
Mendengar pertanyaan itu, Wijaya teringat pesan Raka yang memintanya merahasiakan rencana perjodohan mereka agar Cilla bisa mengenalnya dengan rasa aman dan nyaman, tanpa merasa dipaksa.
"Enggak, Sayang. Ayah cuma ingin kamu mengenal pria yang benar-benar pantas menerima ketulusan hati kamu," ujar Wijaya dengan senyum hangat.
"Ayah... Cilla paham maksud Ayah. Tapi Cilla juga ingin menemukan sendiri apa yang Cilla butuhkan, meskipun Cilla tahu semua itu nggak akan semudah yang Ayah bilang."
Wijaya tersenyum penuh kasih.
"Kalau begitu, apa pun keputusan peri kecil Ayah, Ayah akan selalu mendukungmu."
Cilla membalas senyumnya.
"Makasih, Yah."
...****************...
Di depan ruang rawat inap Anita, Raga tampak sedikit kesal melihat Hana datang.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Raga.
"Memangnya kenapa? Nggak boleh, ya? Aku mau jalan sama kamu," jawab Hana santai.
"Kan bisa nanti malam Minggu atau pas weekend."
"Nggak bisa, Sayang. Aku maunya malam ini. Emangnya kenapa sih kamu?" Hana mulai menunjukkan rasa kesalnya.
"Tapi aku lagi nemenin Mama. Kita temenin Mama dulu di sini."
Hana menyilangkan kedua tangan di dada.
"Aku maunya jalan malam ini, titik. Ingat ya, Sayang... biaya rumah sakit mama kamu itu aku yang bayarin," ucap Hana, sengaja mengingatkan betapa besar jasanya kepada Raga dan ibunya.
Raga mengembuskan napas pelan.
"Oke... oke. Kita jalan."
"Gitu dong," balas Hana dengan senyum puas.
Raga menarik napas panjang.
"Nih cewek benar-benar obsesif banget," batinnya.
"Kalau bukan karena uangnya, gue nggak bakal terjebak di situasi kayak gini," lanjutnya dalam hati.
"Aku izin ke Mama dulu."
Raga baru saja hendak masuk ke ruang rawat inap ketika Hana menahan lengannya.
"Udah, nanti juga bisa dikabarin, Sayang."
Raga hanya terdiam. Tak ingin memperpanjang perdebatan, ia akhirnya mengikuti Hana meninggalkan rumah sakit.
"Sayang, aku pengin makan seafood tumpah. Kayaknya enak deh malam-malam begini," ujar Hana antusias.
Raga hanya mengangguk tanpa semangat. Sikap datarnya tak mengurangi rasa senang Hana, yang mengira Raga memang sedang menuruti semua keinginannya.
"Sayang, kamu kenapa diam aja sih?" tanya Hana sambil menatap Raga.
"Nggak apa-apa kok, Sayang," jawab Raga singkat.
Hana menggenggam tangan Raga lembut.
"Sayang, kamu harus selalu bahagia kalau lagi sama aku, ya."
Raga tersenyum tipis.
"Siap."
Hana tersenyum puas, lalu berkata, "Kamu pengin apa? Mobil baru?"
Mata Raga langsung membelalak. Wajahnya yang semula datar seketika berubah penuh antusias.
"Kamu serius, Sayang?"
"Iya, serius. Apa sih yang nggak buat kamu?"
Raga tak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Aku mau banget, Sayang."
"Oke. Besok kita ke dealer mobil, ya," ujar Hana.
"Makasih, Sayang."
Raga kemudian mengecup lembut kening Hana. Senyum yang kini menghiasi wajahnya bukan lagi karena rasa cinta, melainkan karena bayangan hadiah mewah yang akan segera ia dapatkan.
"Nggak jadi dapat mobil dari Cilla, dapat dari Hana juga lumayan," batin Raga dengan senyum puas.
Kecupan dari Raga membuat Hana tersenyum bahagia.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Ini pesanannya, Mas, Mbak."
"Makasih," ucap Raga.
Pelayan pun pergi setelah meletakkan hidangan di atas meja.
"Wah, ini nih, Sayang. Aku suka banget seafood tumpah," ujar Hana antusias.
"Hati-hati, Sayang. Masih panas," kata Raga penuh perhatian.
Sikap Raga yang semula dingin seketika berubah. Tawaran mobil dari Hana berhasil mengusir rasa kesalnya. Padahal sebelumnya ia hampir kehilangan kesabaran karena Hana yang selalu bersikap posesif dan memaksa setiap keinginannya harus dituruti.
"Iya, Sayang," balas Hana sambil tersenyum.
Raga kemudian merapikan rambut Hana yang menutupi wajahnya, menyelipkannya perlahan ke belakang telinga.
Setelah itu, ia membantu memasangkan sarung tangan plastik ke kedua tangan Hana agar tangannya tidak terlalu berminyak saat menyantap seafood.
"Makasih, Sayang," ucap Hana dengan wajah berbinar.
Raga hanya membalas dengan senyum hangat, menyembunyikan fakta bahwa semua perhatian itu kini lebih didorong oleh keuntungan yang akan ia dapatkan daripada ketulusan perasaannya.
Di balik kehangatan yang tak dilandasi ketulusan, ada seorang ibu yang sedang menunggu sendirian di ruang rawat inap.
Anita menatap pintu kamar yang tak kunjung terbuka. Hatinya dipenuhi rasa kecewa.
"Raga... kamu ke mana? Kamu nggak mau nemenin Mama yang lagi sakit? Kamu lebih mementingkan pacar baru kamu," lirih Anita dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tak terasa, bayangan Cilla kembali memenuhi pikirannya.
"Cilla... Mama rindu sekali sama kamu, Nak. Dulu, kamulah yang selalu setia menemani Mama."
Di tempat lain, Cilla yang sedang beristirahat di rumah sakit tiba-tiba teringat pada Anita.
"Ayah... Cilla rindu Mama Anita, ibunya Raga," ucapnya pelan.
Entah mengapa, kerinduan Anita seolah sampai ke hati Cilla.
Wijaya menatap putrinya dengan lembut.
"Sayang, anaknya sudah menyakiti kamu. Sudahlah, jangan berhubungan lagi dengan dia ataupun mamanya."
Cilla menggeleng pelan.
"Ayah... Mama Anita berbeda dengan Raga. Beliau baik sekali. Bahkan, Cilla merasa seperti punya sosok ibu setiap kali bersama Mama Anita."
Mendengar jawaban itu, Wijaya tersenyum tipis. Ia memahami betapa tulusnya hati putrinya.
"Baiklah. Besok Ayah antar kamu menemui Mama Anita."
Wajah Cilla langsung berbinar.
"Makasih ya, Ayah," ucapnya sambil tersenyum tulus.
Malam itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00. Setelah selesai makan malam dan berjalan-jalan bersama, Hana mengantar Raga kembali ke rumah sakit.
"Makasih ya, Sayang, buat malam ini. Oh ya, karena besok aku mau kasih kamu mobil, mulai besok kamu yang harus jemput aku terus, ya," ujar Hana sambil tersenyum.
"Siap, Tuan Putri," jawab Raga penuh antusias.
Hana pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Betapa bahagianya Raga membayangkan dirinya akan memiliki mobil baru keesokan paginya. Rasa senang itu membuatnya lupa pada janjinya kepada sang ibu untuk membawa Cilla menjenguknya.
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Bayangan mobil baru terus memenuhi pikirannya.
Sesampainya di dalam kamar, Anita sudah terlelap tidur.
Raga melangkah pelan mendekati ranjang, lalu mengecup lembut kening ibunya.
"Maafin Raga ya, Ma. Raga nggak pamit dan lupa ngabarin. Raga janji akan selalu berusaha bikin Mama bahagia," bisiknya dengan tulus.
Setelah memastikan Anita tidur dengan nyenyak, Raga berjalan ke sofa yang berada tak jauh dari ranjang sang ibu. Ia merebahkan tubuhnya di sana, sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan mobil baru yang akan diterimanya esok pagi.
Pagi itu, Wijaya terbangun lebih dulu. Ia menoleh ke arah Cilla yang masih tertidur lelap di ranjang rumah sakit.
Tiba-tiba, Cilla mengigau.
"Zayn... Zayn... kamu salah paham..." lirihnya dalam tidur.
Wijaya mendengar ucapan itu dengan jelas. Keningnya langsung berkerut.
"Kenapa Cilla mengigau sambil memanggil nama Zayn?" batin Wijaya heran.
Di tempat lain, Zayn sudah bersiap berangkat ke kampus. Setelah mengenakan jaketnya, ia menatap sejenak ke arah langit pagi.
"Semangat, Cici. Terima kasih untuk hari-hari yang pernah kita lewati. Mungkin... saat itu adalah hari terakhir kita bersama," batinnya dengan senyum getir.
Zayn kemudian menyalakan motornya dan melaju menuju kampus.
Sementara itu, Cilla perlahan membuka matanya. Ia terbangun dari tidurnya dan mendapati Wijaya sudah duduk di samping ranjang sambil menatapnya penuh tanda tanya.
Ucapan Cilla saat mengigau tadi masih terus terngiang di benak Wijaya.
"Yah, Cilla mau ke taman. Ayah mau temenin Cilla, kan?" pinta Cilla sambil menatap Wijaya penuh harap.
"Tentu, Sayang."
Belum sempat mereka beranjak, ponsel Wijaya tiba-tiba berdering.
"Halo, Pak Wijaya. Pagi ini ada rapat penting yang harus Bapak hadiri," ujar Danu, sekretarisnya, dari balik sambungan telepon.
"Ya sudah... pasti Ayah nggak jadi nemenin aku," batin Cilla sambil menundukkan kepala. Wajahnya langsung cemberut.
Namun, dugaan Cilla ternyata salah.
"Tolong atur ulang jadwal rapatnya. Pagi ini saya ingin menemani putri saya di rumah sakit," ucap Wijaya tegas.
"Baik, Pak."
Telepon pun ditutup.
Cilla menatap ayahnya dengan senyum yang perlahan mengembang. Hatinya terasa hangat saat menyadari Wijaya rela menunda pekerjaannya demi dirinya.
Tanpa ragu, Cilla berdiri lalu memeluk sang ayah erat.
"Makasih, Ayah. Ayah selalu menomorsatukan Cilla dibanding pekerjaan Ayah," ucapnya bahagia.
Wijaya mengusap lembut kepala putrinya.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang kita ke taman, ya. Kamu mau pakai kursi roda atau jalan sendiri?"
"Pakai kursi roda aja, Yah. Cilla masih lemas," jawab Cilla sambil tersenyum.
Wijaya pun mengangguk pelan, lalu bersiap mendorong kursi roda putri kesayangannya menuju taman rumah sakit.
Sudah dua hari Cilla tidak datang ke kampus sebagai Cici.
Apakah Zayn akan menyadari ketidakhadirannya dan mulai mengkhawatirkannya? Atau justru memilih mengabaikannya karena masih diliputi kesalahpahaman?