Kisah dewasa (mohon berhati-hati dalam membaca)
Areta dipaksa menjadi budak nafsu oleh mafia kejam dan dingin bernama Vincent untuk melunasi utang ayahnya yang menumpuk. Setelah sempat melarikan diri, Areta kembali tertangkap oleh Vincent, yang kemudian memaksanya menikah. Kehidupan pernikahan Areta jauh dari kata bahagia; ia harus menghadapi berbagai hinaan dan perlakuan buruk dari ibu serta adik Vincent.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Setelah ketegangan di butik mereda, Areta merasa sangat terbantu oleh keramahan Alfredo.
Sebagai bentuk apresiasi karena telah menyelamatkannya dari situasi memalukan dan mungkin menyelamatkan pelayan tadi dari amukan para pengawal Vincent.
"Terima kasih banyak, Tuan Alfredo. Anda sangat baik. Bagaimana jika Anda bergabung dengan saya untuk makan siang? Saya rasa saya butuh teman bicara yang menyenangkan untuk menenangkan diri," ajak Areta tulus.
Alfredo, yang memang menghormati keluarga De Luca dan merasa bersalah atas insiden di tokonya, mengangguk setuju.
"Suatu kehormatan bagi saya, Nyonya."
Mereka pun beranjak ke sebuah restoran rooftop mewah yang masih berada di kawasan Galleries Lafayette.
Di sana, suasana sangat santai. Alfredo ternyata adalah pria yang sangat humoris.
Ia menceritakan kisah-kisah lucu tentang masa muda Vincent yang kaku dan dingin, yang membuat Areta tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit cantik.
Namun, di kejauhan, salah satu anak buah Vincent yang bertugas memantau dari radius sepuluh meter merasa ada sesuatu yang "berbahaya".
Ia melihat istrinya tuannya tampak begitu akrab dan tertawa lepas dengan pria lain sesuatu yang jarang sekali dilihat oleh mereka dari sisi Vincent.
Cekrek.
Ia mengambil foto Areta yang sedang tertawa sambil menyentuh lengan Alfredo secara tidak sengaja, lalu mengirimkannya langsung ke ponsel pribadi Vincent dengan pesan,
"Nyonya sedang makan siang dengan Tuan Alfredo di rooftop. Suasana terlihat sangat akrab."
Vincent baru saja melangkah keluar dari hotel setelah menandatangani kontrak distribusi Rusia.
Wajahnya masih datar dan dingin, namun langkahnya sangat cepat karena ia ingin segera menyusul istrinya ke mall.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di saku jasnya bergetar. Vincent mengambilnya dan membuka pesan gambar tersebut.
Seketika, langkah kaki pria itu terhenti.
Matanya yang tajam menyipit, menatap layar ponsel dengan kilatan yang sangat berbahaya.
Ia melihat Areta yang kini tertawa begitu lebar untuk pria lain.
Foto itu menangkap momen di mana Areta tampak sangat bahagia, jauh lebih rileks dibandingkan saat bersamanya.
"Siapa pria ini?" tanya Vincent dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman predator.
Jonas yang berada di belakangnya segera melirik ke layar ponsel.
"Itu Alfredo, Tuan. Pemilik butik tempat Nyonya berbelanja tadi. Dia adalah rekan bisnis lama kita."
Vincent tidak peduli dengan status "rekan bisnis". Cemburu buta yang posesif langsung membakar akal sehatnya. Ia meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih.
"Jonas," panggil Vincent, suaranya kini tenang namun sangat mematikan. "Batalkan semua rencana sore ini. Kita ke mall sekarang. Aku ingin tahu lelucon apa yang begitu lucu sampai istriku lupa kalau dia masih dalam masa 'istirahat' di atas ranjang."
Vincent masuk ke dalam mobilnya dengan kasar.
Di sepanjang perjalanan, ia terus menatap foto itu.
Amarahnya memuncak bukan karena ia tidak percaya pada Areta, tapi karena ia benci kenyataan bahwa ada pria lain yang bisa membuat Areta tertawa sekeras itu saat ia tidak ada di sana.
"Alfredo..." gumam Vincent sambil memperbaiki letak kalung pemberian Areta di lehernya.
"Kamu baru saja membuat kesalahan besar dengan membuat ratuku tertawa terlalu cantik."
Suasana di restoran rooftop yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi mencekam.
Alfredo, yang sedang mengamati wajah Areta dengan saksama, tampak tertegun.
Matanya terpaku pada sebuah titik kecil di dekat telinga Areta.
"Tahi lalat itu, letaknya persis seperti milikku," gumam Alfredo dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ia tampak seperti sedang melihat bayangan masa lalu yang hilang dalam wajah Areta.
Namun, sebelum Alfredo sempat bertanya lebih lanjut, sebuah hawa dingin yang menusuk tiba-tiba menyelimuti meja mereka.
SRET!
Sebuah tangan kokoh dengan urat-urat menonjol langsung melingkar di pinggang Areta, menarik tubuh wanita itu dengan sentakan posesif hingga punggung Areta menempel sempurna di dada bidang pelakunya.
"Sepertinya makan siangnya terlihat sangat menyenangkan, hm?" suara berat Vincent berbisik tepat di telinga Areta, namun matanya menatap tajam ke arah Alfredo seolah ingin melubangi kepala pria itu.
Areta tersentak kaget. "Vin? Kamu sudah selesai?"
Vincent tidak menjawab istrinya. Ia justru mempererat pelukannya di pinggang Areta, mengklaim kepemilikannya secara mutlak di depan umum.
Ia menatap Alfredo dengan pandangan predator yang siap menerkam.
"Alfredo," sapa Vincent dengan nada datar yang mengerikan.
"Terima kasih sudah menjaga istriku. Tapi aku rasa waktumu sudah habis. Aku tidak suka berbagi tawa istriku dengan pria lain, bahkan dengan rekan bisnis lama sekalipun."
Alfredo tersentak dari lamunannya tentang tahi lalat itu. Ia segera berdiri, menyadari aura berbahaya yang dipancarkan Vincent.
"Vincent, kamu salah paham. Aku hanya membantu Nyonya De Luca dari pelayan yang tidak sopan, dan kami hanya berbincang."
"Membantu?" Vincent menyeringai tipis, namun matanya tetap dingin.
"Membantu tidak perlu sampai menatap wajahnya seolah kau ingin membawanya pulang, Alfredo. Jangan lupa siapa yang kamu hadapi."
Areta merasakan ketegangan yang luar biasa. Ia menyentuh tangan Vincent yang melingkar di perutnya, mencoba menenangkan suaminya yang sedang terbakar cemburu buta.
"Vin, sudah. Tuan Alfredo benar-benar menolongku tadi. Dia bahkan memecat pelayan yang mendorongku."
Mendengar kata 'mendorong', rahang Vincent semakin mengeras.
Ia menoleh ke arah Jonas yang berdiri di belakangnya.
"Cari pelayan itu. Pastikan dia tahu apa konsekuensinya karena telah menyentuh istriku."
"Baik, Tuan," jawab Jonas tegas.
Vincent kembali menatap Alfredo.
"Kami pergi sekarang. Dan Alfredo, jangan pernah menatap tahi lalat atau bagian mana pun dari istriku lagi, jika kamu masih ingin melihat matahari besok pagi."
Tanpa menunggu jawaban, Vincent langsung menuntun Areta pergi dari sana dengan langkah lebar, masih dengan tangan yang tidak lepas dari pinggang istrinya.
Alfredo hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap kepergian mereka dengan perasaan campur aduk antara takut dan rasa penasaran yang mendalam tentang asal-usul Areta.
Di restoran rooftop yang kini telah ditinggalkan Vincent dan Areta, Alfredo masih berdiri mematung.
Ia menyentuh tahi lalat di belakang telinganya sendiri, lalu menatap sisa cangkir kopi Areta dengan tangan gemetar.
"Wajah itu, senyum itu, sangat mirip dengan Ibu," gumam Alfredo lirih.
Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang di Italia.
"Cari tahu segala hal tentang Areta De Luca. Sebelum dia bertemu Vincent. Aku ingin tahu siapa orang tua angkatnya, di mana dia dilahirkan, dan apakah ada kemungkinan dia adalah adikku yang diculik dua puluh lima tahun lalu. Sekarang!"
Alfredo melihat gelas bekas minuman Areta dan segera ia melakukan tes DNA.
Sementara itu, badai cemburu Vincent tidak mereda meski mereka sudah sampai di apartemen.
Begitu pintu tertutup, Vincent langsung menyudutkan Areta di meja marmer yang dingin di ruang tengah dimana meja yang sama tempat mereka menghabiskan waktu semalam.
"Vin, sakit..." rintih Areta saat punggungnya menyentuh permukaan marmer yang keras.
"Sakit? Lebih sakit mana dengan hatiku yang melihatmu tertawa begitu lepas dengan pria itu, Areta?" geram Vincent.
Ia tidak memberi kesempatan Areta untuk membela diri.
Vincent mencium leher Areta dengan kasar, memberikan tanda-tanda baru yang lebih gelap di atas kulit putih istrinya.
Vincent melepaskan kemejanya dengan terburu-buru, memperlihatkan tubuh berototnya yang kini berkeringat karena amarah dan gairah yang bercampur. Ia mengangkat kaki Areta, melingkarkannya di pinggangnya, dan melakukan
"hukuman" itu tanpa peringatan.
"Ah.... Ah....!"
Suara desahan Areta pecah memenuhi ruangan luas itu.
Rasa dingin dari meja marmer di bawah punggungnya sangat kontras dengan panas yang menjalar dari tubuh Vincent yang menindihnya.
"Katakan padaku, milik siapa kamu?" bisik Vincent serak di sela-sela pergulatan mereka.
"Milikmu... ah! Hanya milikmu, Vincent!" Areta mencengkeram bahu Vincent, kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di punggung suaminya.
Vincent melakukannya lagi dan lagi, seolah ingin menghapus jejak ingatan Areta tentang tawa bersama Alfredo tadi.
Ia ingin memastikan bahwa hanya dialah pria yang bisa membuat Areta mengeluarkan suara-suara seperti ini.
Di bawah terik matahari siang yang menembus jendela kaca penthouse, keringat Vincent dan Areta bersatu di atas meja marmer.
Napas mereka memburu, beradu dengan suara kulit yang bertemu dengan marmer.
Vincent tidak memberikan ampun, setiap gerakannya adalah klaim mutlak bahwa Areta adalah miliknya.
semngat terus Thor, kutunggu karyamu selanjutnya 🙏🙏
lanjut Thor💪😘