Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Aku Cinta Sama Kamu, Ra.
“El.” Pekik Nayara ketika melihat Elvano duduk di atas sofa ruang tamu dan sedang memangku kotak paket yang ia beli siang tadi.
Dengan langkah lebarnya, Nayara mendekati pria itu.
“Jangan dibuka.” Ia meraih kotak itu, lalu menukarnya dengan bungkusan sate kambing pesanan pria itu.
“Aku hanya ingin melihat apa saja yang kamu beli, sayang.” Tukas Elvano.
Kepala Nayara menggeleng pelan. “Kita buka nanti. Sebaiknya sekarang kamu makan dulu.”
Nayara membawa kotak itu menuju kamarnya.
“Bawa ke atas, sayang.” Perintah Elvano.
“Kenapa harus ke atas?” Tanya Nayara tak mengerti.
“Karena kamu akan tidur di atas bersama aku.” Jawab pria itu sembari melangkah ke arah meja makan.
Nayara menghela nafas pelan. Ia kemudian menurut. Membawa kotak itu ke kabar Elvano.
“Kamu membeli dua porsi sate?” Tanya Elvano saat Nayara telah kembali ke meja makan.
Dua porsi sate telah tersaji di atas meja.
“Yang tanpa lontong itu sate ayam untuk aku.” Ucap Nayara sembari duduk di atas kursi.
Ia kemudian menuangkan air ke dalam gelas untuk mereka berdua.
“Kamu belum makan malam?” Tanya Elvano.
“Sudah. Tetapi, karena kamu minta di belikan sate, ya aku juga ingin. Sekalian untuk menambah tenaga.” Celetuk wanita itu.
“Jadi, kamu sudah siap untuk aku gempur?” Elvano menyeringai.
“Bukankah aku harus siap kapan saja? Wahai bapak Elvano Natha Prawira yang per—kasa?”
“Aku tersanjung atas pujian kamu, Ra. Aku akan lebih rajin berolahraga, makan makanan sehat, melakukan pola hidup sehat, supaya tetap bisa per—kasa untuk kamu.” Ucap pria itu.
Nayara mencebik. Ia masih belum terbiasa dengan Elvano yang suka menggombal seperti ini.
“Jaga bibir kamu, kalau tidak aku lahap sekarang.” Ancam Elvano.
“Kamu banyak berubah, El. Aku tidak menyangka, kita akan seperti ini.” Gumam Nayara dan Elvano masih bisa mendengarnya.
“Seharusnya sejak lama aku menyadari perasaan aku sama kamu, Ra. Mungkin sekarang kita sudah menikah.” Timpal Elvano sembari melahap satu tusuk sate.
“Memangnya perasaan apa yang kamu miliki sama aku, El?” Tanya Nayara.
Elvano meraih tangan wanita itu. “Apa kamu tidak menyadari perasaan aku? Aku cinta sama kamu, Ra.”
Pipi Nayara tiba - tiba memanas mendengar ucapan pria itu.
Apa mungkin hubungan mereka sampai tahap pernikahan? Dan jika iya, bagaimana reaksi Elvano kalau tau, dirinya merayu pria itu demi membayar hutang berlian 500 juta milik Madam Giselle?
Akankah Elvano memaafkan Nayara?
“Kenapa kamu melamun, sayang?”
Nayara memundurkan kepalanya ketika satu tusuk sate melayang di depan wajahnya. Elvano memintanya untuk membuka mulut, dan wanita itu pun menurut.
“Ada masalah?” Tanya pria itu sembari menyantap sisa daging pada tusuk sate yang ia sodorkan pada Nayara.
Kepala Nayara menggeleng pelan. Sebelum semuanya terbongkar, biarlah dirinya menikmati kasih sayang pria itu dengan puas.
.
.
.
“El, aku mau mengembalikan kartu kamu.” Nayara menyodorkan kartu ATM berwarna hitam itu pada Elvano.
“Itu untuk uang jajan kamu, sayang.” Elvano menolak. Ia mendorong tangan sang wanita dengan pelan.
Nayara pun hanya bisa menganga. Uang jajan dalam bentuk kartu ATM tanpa batas.
Luar biasa!
Wanita itu pun menyimpannya dalam dompet.
Setelah selesai menikmati makan malam, kini Elvano dan Nayara tengah duduk lesehan diatas karpet ruang ganti pria itu. Mereka sedang membongkar kotak paket yang di beli siang tadi.
“Kamu membeli lipstik?” Tanya Elvano ketika pewarna bibir itu berada di tumpukan paling atas.
“Hmm. Tadi siang, lipstik di bibir aku pudar karena ulah kamu. Makanya aku beli yang anti tranfer dan waterproof.” Ucap Nayara.
“Bagus, sayang. Ternyata kamu siap tanggap.” Ucap Elvano.
Nayara menghela nafas pelan. Ia mengeluarkan satu persatu bungkusan pakaian dari dalam kotak.
“Aku takut mbak Dewi dan pak Gilang curiga. Sikap mereka tadi siang itu terasa sangat aneh. Lipstik ini juga saran dari mbak Dewi.” Ucap Nayara pelan.
Kening Elvano berkerut halus. Namun ia tidak menanggapi apapun. Ia tidak perduli jika orang lain tau tentang hubungan mereka.
“Cobalah.” Pria itu menyodorkan lipstik itu pada sang kekasih.
“Sekarang?” Tanya Nayara. Tangannya yang hendak membuka bungkusan piyama, pun terhenti begitu saja.
“Ya. Aku ingin tau, seberapa tahan lipstik itu di bibir kamu saat aku melahapnya.”
Tangan Nayara sedikit bergetar. Ucapan Elvano membuatnya meremang. Wanita itu kemudian bangkit dari tempat duduknya, pergi ke meja rias untuk memakai lipstik itu.
“Yang tebal, sayang.” Tangan Elvano tiba - tiba melingkar di pinggang wanita itu.
Nayara menurut. Ia mengaplikasikan pewarna bibir itu dengan cukup tebal.
“Aku terlihat seperti wanita —hhmmpptt.”
Belum sempat Nayara menyelesaikan kalimatnya, Elvano sudah membungkam bibirnya dengan sangat ganas.
Nayara sontak memutar tubuhnya, mengalungkan kedua tangan pada leher pria itu.
Pagutan itu berlangsung cukup lama, hingga keduanya kehabisan persediaan oksigen.
“Lihat, baby. Lipstiknya masih utuh.” Elvano memutar kembali tubuh Nayara menghadap ke arah cermin.
Nafas wanita itu tersengal. Ia melihat bibirnya berwarna merah gelap, dan bengkak akibat ulah Elvano.
“K- kamu mau apa, El?” Tanya Nayara ketika tangan Elvano merayap dan membuka kancing kemeja yang wanita itu gunakan.
“Tentu saja berolahraga malam, sayang. Aku ingin melihat kamu memanjakan John dengan bibir merah kamu itu.” Suara Elvano terdengar serak dan rendah.
Nayara pun dapat merasakan John telah bangkit di balik bo—kongnya.
“Tapi, El. Aku belum selesai menyimpan pakaianku.”
“Biarkan saja, sayang. Toh kamu akan tinggal disini. Sekarang, kita manjakan dulu si John. Dia sudah sangat merindukan kamu.”
Semua kancing kemeja Nayara telah terbuka. Dua buah melon yang terbungkus bra berwarna hitam pun terpampang dengan indah pada pantulan cermin.
“Lihat, baby. Aku belum percaya jika milik kamu seindah ini.” Tangan Elvano tidak tinggal diam. Membuat Nayara menyandarkan punggungnya pada daadaa bidang pria itu.
“Elhh.” Nayara berdiri dengan gelisah.
“Katakan, baby. Kenapa kamu menyembunyikan bentuk tubuh indah kamu selama ini?” Tanya Elvano sembari mengecup leher wanita itu.
“Dulu..mhh.. waktu sekolah.. aku sering mendapatkan pele—cehan secara verbal, El.” Ucap Nayara terbata menahan gai—rah yang mulai bangkit.
Mendengar ucapan wanita itu, Elvano menghentikan tangannya. Ia kemudian mendudukkan Nayara di atas meja rias.
“Ceritakan, baby.” Tangan pria itu terulur untuk merapikan rambut Nayara yang berantakan.
“Hmm, dulu aku suka menggunakan baju yang pas di badan karena memiliki bentuk bulat indah seperti ini.” Nayara melirik ke arah buah melonnya.
“Tetapi, ternyata itu mengundang mata lapar para pria. Setiap kali aku berjalan, mereka selalu —
“Sstt.” Elvano meletakkan telunjuk kanannya di depan bibir Nayara.
“Jangan di teruskan, baby. Aku tidak sanggup mendengarnya. Mulai sekarang, saat kamu berada di penthouse, gunakan pakaian yang kamu suka. Kamu bebas memamerkannya. Tetapi, hanya untuk aku.” Ucap pria itu.
Nayara mengangguk pelan. Bahkan sampai saat ini, jika berada di rumah ia masih suka menggunakan pakaian yang pas di badannya. Wanita itu sangat mengagumi keindahan bentuk tubuh yang ia miliki.
“Keindahan seperti ini, memang tidak pantas untuk di umbar, baby. Hanya aku yang boleh melihatnya.” Elvano membuka kaki Nayara yang masih terbungkus celana jeans panjang. Ia kemudian berdiri diantaranya.
Tangan pria itu tanpa permisi membuka kancing celana yang Nayara gunakan. Lalu menariknya turun secara perlahan.
Nayara hanya bisa pasrah menikmati perlakuan pria itu.
“Sudah basah, baby.” Ucap Elvano saat meraba permukaan underwear yang Nayara gunakan.
“Kamu selalu bisa membuat aku basah dengan mudah, El.”
tinggal beliin sawah dan emas batangan aja, pasti emaknya langsung setuju 😄
😝😝😝