Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 – Murid Sampah
Nama Ren Tao dikenal di Sekte Awan Hitam dengan satu julukan murid sampah.
Bakat rendah, tubuh lemah, dan kecepatan kultivasi yang memalukan. Jika sekte ini adalah tempat para jenius, maka Ren Tao hanyalah noda yang mengotori lantai batu.
“Cepat sedikit, Ren Tao! Apa kau mau halaman ini bersih minggu depan?”
Suara kasar Mu Chen menggema. Pemuda bertubuh kekar itu berdiri dengan tangan bersedekap, ekspresi meremehkan jelas terpampang di wajahnya. Sebagai murid luar senior, Mu Chen senang menjadikan Ren Tao pelampiasan.
Ren Tao menunduk sambil terus menyapu dedaunan kering. Bahunya terasa pegal, napasnya sedikit berat. Namun wajahnya tetap datar, seolah hinaan barusan tak ada artinya.
“Maaf, Kak Mu,” ucapnya pelan.
Mu Chen mendengus. “Maaf? Heh. Orang sepertimu cuma pantas minta maaf seumur hidup.”
Beberapa murid lain tertawa. Tawa mereka nyaring, puas, seolah melihat Ren Tao dipermalukan adalah hiburan gratis.
Ren Tao menghafal suara tawa itu. Satu per satu.
Manusia memang lucu, batinnya tenang. Merasa superior hanya karena berdiri sedikit lebih tinggi.
Ia tahu posisinya. Saat ini, melawan secara langsung hanya akan berakhir dengan tulang patah atau dikeluarkan dari sekte. Itu bukan pilihan cerdas.
Dan Ren Tao selalu memilih yang paling cerdas.
Setelah halaman selesai dibersihkan, Ren Tao membawa sapunya ke gudang belakang. Di sanalah para murid rendahan biasa berkumpul tempat lembap, gelap, dan jarang diperhatikan.
Begitu tak ada orang lain, Ren Tao duduk bersila. Ia mengatur napas, mencoba mengalirkan energi spiritual ke meridiannya.
Hasilnya sama seperti biasanya.
Sakit.
Energi itu tersendat, seperti air yang dipaksa melewati celah sempit. Meridian tubuhnya rusak parah sejak lahir. Inilah alasan mengapa kultivasinya nyaris tak bergerak selama dua tahun.
Namun kali ini, Ren Tao tidak mengumpat. Tidak juga putus asa.
Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Masih sama. Artinya, perhitunganku benar.
Ia mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya sebuah cincin tua dengan retakan halus di permukaannya. Tidak mencolok. Bahkan jika dijual di pasar, mungkin tak ada yang mau menukar dengan semangkuk nasi.
Cincin Retak.
Benda inilah yang ia temukan sebulan lalu di Lembah Tulang Sunyi, tempat murid-murid lain enggan mendekat karena rumor kematian.
Semua orang mengira Ren Tao hanya bernasib buruk karena tersesat di sana.
“Masih pelit juga ya,” gumam Ren Tao pelan sambil menyentuh cincin itu.
Sedikit panas merambat ke telapak tangannya. Sangat lemah, hampir tak terasa. Tapi bagi Ren Tao, itu sudah cukup.
Ia membuka mata, tatapannya tajam.
Cukup untuk memulai.
Di dunia kultivasi, orang-orang memuja bakat, darah, dan kekuatan. Mereka lupa satu hal sederhana semua itu tak ada artinya tanpa otak.
Ren Tao tahu, dengan kondisi tubuhnya, ia butuh waktu. Banyak waktu. Ia tidak bisa menabrak tembok dengan kepala sendiri seperti para idiot berbakat itu.
Ia harus memutar jalan.
Malamnya, Ren Tao kembali ke barak murid luar. Tubuhnya kotor, pakaiannya lusuh. Saat ia melewati lorong, seseorang sengaja menyenggol bahunya.
“Eh, maaf. Aku nggak lihat sampah lewat,” ucap Luo Feng sambil tersenyum sinis.
Ren Tao berhenti.
Luo Feng adalah tipe penjilat ramah pada yang kuat, kejam pada yang lemah. Salah satu orang yang paling sering membocorkan informasi murid luar ke murid inti.
Ren Tao menoleh perlahan. Wajahnya tetap tenang.
“Lain kali lihat jalan,” katanya singkat.
Luo Feng tertawa mengejek. “Berani juga ya sekarang?”
Ren Tao tidak menjawab. Ia melangkah pergi, meninggalkan Luo Feng dengan tawa yang perlahan memudar.
Di dalam barak, Ren Tao berbaring menatap langit-langit kayu yang lapuk.
Ia menutup mata.
Mu Chen. Luo Feng. Wei Kang.
Nama-nama itu tersusun rapi di pikirannya, seperti pion di papan catur.
Ren Tao tersenyum tipis.
“Aku lemah, itu benar,” bisiknya pelan.
“Tapi kalian… terlalu bodoh untuk sadar.”
Di Sekte Awan Hitam, permainan baru saja dimulai.
semangat terus ya...