NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Romantisme diatas penderitaan Alina

Alina menangis terisak setelah selesai menceritakan siapa Felix, Jesika, Revan, Rania, dan Devi.

“Jadi… mereka itu kakek dan nenek aku?” tanya Aeris pelan.

Alina mengangguk perlahan.

“Berarti... Om Toilet itu... mantan suami Mama... Yang artinya... dia Papa aku?” tanyanya lagi.

Alina kembali mengangguk, kali ini lebih lambat, seolah kata-kata itu terasa sangat berat untuk diakui.

“Kenapa Mama baru cerita sekarang!?” suara Aeris meninggi sedikit sambil bertolak pinggang.

“Maaf, Sayang... Mama pikir belum saatnya kamu tahu hal seperti ini,” jawab Alina lembut sembari mengusap kepala putranya.

Aeris terdiam. Pantas saja... foto yang pernah ia temukan sangat mirip dengan Revan. Itu bukan sekadar mirip—memang benar itu adalah foto Revan.

“Tapi... kamu tetap janji ke Mama, ya, jangan pernah mencoba mendekati mereka,” ucap Alina.

“Mama cuma takut... takut kalau mereka berbuat macam-macam padamu... dan mengambil mu dari Mama.”

Aeris mengangguk. Ia lalu memeluk Alina dari samping. Bocah itu mungkin belum memahami segalanya, tapi yang jelas, ia akan melakukan apa pun agar Mama-nya tidak merasa khawatir.

Alina membalas pelukan itu dengan erat.

“Berarti benar ada hal buruk yang pernah terjadi,” gumam Aeris. “Suami Mama jahat sekali, meninggalkan aku dan Mama berdua, lalu pacaran dengan perempuan lain.”

“Nggak, Sayang,” sahut Alina cepat, “Mama yang salah. Karena sejak awal... dia memang hanya mencintai pacarnya. Mama di sana cuma sebagai orang ketiga.”

"Nggak jadi ganteng deh Om Toilet itu.”

Alina sempat terkekeh sejenak. “Kenapa kamu masih memanggilnya Om Toilet? Kan dia punya nama.”

“Nggak mau. Lebih bagus Om Toilet,”

“Kenapa nggak mau panggil Papa?”

“Om itu saja nggak tahu Aeris anaknya, jadi Aeris juga nggak mau memanggil ‘Papa’ duluan,” jawab Aeris tegas.

"Terserah kamu, lah."

Berarti... si cadel itu keluarga aku juga dong? batinnya dalam diam.

Huft! Enak sekali dia… Bukan anak kandung, tapi bisa merasakan kasih sayang dari Nenek, Kakek, bahkan dari Papa-ku juga, gerutunya dalam hati.

"Tapi nggak apa-apa deh... Aeris disayang Mama saja sudah cukup. Mama itu buat Aeris sudah paket lengkap—bisa jadi Papa, bisa jadi teman, bisa jadi apa saja!"

Alina yang mendengar ucapan itu merasa terenyuh. Ia mengecup kening putranya dengan penuh kasih sayang.

"Sekarang sudah jelas, kan, semuanya?"

Aeris mengangguk mantap.

"Lusa bawa Aeris jalan-jalan ya, Ma!"

"Pasti, Sayang. Mama nggak akan lupa."

"Tapi jangan ajak pacar Mama. Aeris maunya quality time sama Mama saja."

"Siap, Sayang~"

Alina tertawa kecil melihat tingkah bocah itu yang mulai beranjak masuk ke kamarnya. Ia menghela napas lega. Setidaknya, kebenaran sudah ia ungkapkan. Meskipun ia tahu, jauh di lubuk hati Aeris... bocah itu pasti menyimpan keinginan untuk bertemu kakek dan neneknya.

Drrttt!

Ponsel Alina bergetar di meja. Ia segera menyambarnya.

"Halo, Ma?" ucapnya saat sambungan tersambung.

"Gimana? Apa Felix dan Jesika sudah sampai ke sana?" tanya suara Kamelia di seberang telepon.

"Nggak ada, Ma."

"Lho? Padahal katanya mereka nggak akan pulang ke rumah sebelum menemui mu."

"Nggak tahu juga... Mungkin mereka berubah pikiran."

"Tunggu saja, siapa tahu mereka datang besok."

"Tapi menurutku lebih baik begini... kalaupun mereka nggak datang."

"Kamu sudah menceritakan semuanya ke Aeris?"

"Sudah. Semuanya sudah aku bongkar ke dia."

"Terus... bagaimana tanggapan Aeris?"

"Nggak banyak bereaksi, tapi aku tahu apa yang dia pikirkan, Ma... Tapi, apa aku salah ya, melarang dia bertemu mereka?"

Terjadi jeda sejenak. Tak ada suara dari Kamelia.

"Al... Pernah terpikir tidak, kalau mereka bisa saja melakukan tes DNA ke Aeris diam-diam, di belakangmu?"

"Tes DNA?"

"Hmm. Bisa saja, kan? Kalau sudah dites DNA, semuanya akan jelas."

Alina terdiam sejenak.

"Biarin saja. Kalau mereka sampai tes DNA dan ternyata hasilnya cocok... Aku ingin lihat mereka memohon-mohon untuk bertemu Aeris. Baru saat itu... aku merasa puas."

"Apa pun itu, Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu dan Aeris."

"Mama matikan dulu ya, Al. Ada pelanggan," katanya lagi.

"Iya, Ma. Baik-baik di sana," ucap Alina sebelum menutup telepon.

Ia meletakkan ponselnya perlahan, lalu menghela napas panjang.

"Sepertinya… menghisap benda itu akan membuatku sedikit rileks," gumamnya pelan.

Revan dan Devi tiba di rumah gadis itu. Revan mematikan mesin mobilnya.

"Telinga kamu merah, Van,"

"Ini pasti bekas Mama tadi. Sakit banget, tahu nggak, Sayang..." Revan mengeluh sambil memegangi telinganya.

"Makanya kamu jangan bicara sembarangan. Masih mending cuma ditarik telinganya, nggak sampai ditampar Mama kamu."

"Tiup-in, dong," pinta Revan manja sambil mendekatkan kepalanya ke arah Devi.

"Hup! Hup!" Devi meniup telinga Revan dengan lembut.

Sensasi tiupan itu langsung membuat Revan bergidik.

"Geli... geli banget,"

"Sudah, ah," katanya sambil sedikit menjauh.

"Setelah ini kamu langsung pulang saja, ya?" kata Devi.

"Padahal aku ingin mampir dulu, lho. Kalau bisa menginap juga nggak apa-apa," ujar Revan dengan ekspresi jahil.

"Tapi rumahku sudah penuh, semua kamar terpakai," jawab Devi datar.

"Gampang. Kita tidur berdua, terus... bikin anak. Nanti kalau jadi, langsung nikah," celetuk Revan asal.

Devi langsung memukul bahu Revan.

"Ih, pikiran kamu tuh tidak ada yang lain? Begitu terus!"

"Habisnya aku dari dulu menunggumu. Gemas sekali ingin memilikimu, tapi sampai sekarang belum juga kesampaian."

"Ada saja halangannya."

"Kapan kamu menemui Aeris?"

"Besok. Lebih cepat lebih baik, kan?"

Devi mengangguk pelan. Mereka lalu berjalan beriringan masuk ke rumah Devi. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Yuda keluar dari rumah dengan wajah lesu.

"O-Om..." sapa Devi pelan.

Yuda hanya mengangguk singkat tanpa memberikan senyuman.

"Om, kapan datangnya?"

"Sore tadi. Tadinya mau menjemput Widya dan Rio, tapi mereka masih mau di sini... yah, Om bisa apa?" jawabnya dengan suara lelah.

"Kenapa tidak menginap saja, Om?"

"Nggak, Om mau pulang sekarang," balas Yuda.

"Hati-hati ya, Om," ujar Devi.

Yuda kembali mengangguk, lalu melangkah pelan menuju mobilnya. Devi menatap punggung Yuda yang menjauh, "Kasihan Om aku..."

Revan merangkul pundaknya dan mengusap bahu Devi dengan lembut.

"Nanti kalau kita sudah menikah, kamu nggak perlu kabur-kaburan lagi ya," kata Revan sambil menggenggam tangan Devi. "Kalau ada masalah apa pun, langsung bilang. Jangan sungkan-sungkan."

Devi mengangguk pelan. "Kamu juga. Kalau aku pernah bersikap atau bicara sesuatu yang menyakiti hatimu, jangan malu buat bilang sama aku."

Revan tersenyum, menatap Devi dalam-dalam. "Selama ini kamu tidak pernah menyakitiku. Kamu selalu bisa menjaga perasaanku. Tidak pernah sekalipun membuatku merasa diremehkan."

Ia menarik napas, lalu menambahkan sambil menggoda, "Di mana lagi coba, Revan bisa dapat spek seperti kamu—cantik, baik hati, plus body seksi."

"Ish!" Devi langsung menepuk lengan Revan, pipinya memerah malu.

Revan menunduk, mengecup kening Devi dengan lembut. "Bersyukur banget bisa punya kamu."

"Sana, panggilkan Rania. Aku tunggu di sini saja," ucap Revan.

"Nggak mau masuk dulu?"

Revan tersenyum nakal. "Mau... tapi maunya masuk ke kamarmu sekalian."

"Berani kamu! Aku tendang tuh aset kamu!"

"Jangan dong... nanti tidak ada yang mewarisi kegantengan ku."

Revan tertawa sementara Devi hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum.

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!