Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motor Antik
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Tok… tok… Selina, ini Bapak.”
Selina mengusap pipinya, mengumpulkan keberanian. “Masuk, Pak. Nggak dikunci.”
Pintu terbuka, dan Bejo melangkah masuk perlahan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya dengan lembut.
“Bapak mau ngomong, Nak…”
Selina langsung memotong, suaranya tenang walau matanya masih sembab.
“Pak, Selina mau kok nikah sama Adipati. Bapak tenang aja.”
Bejo tertegun. “Kamu serius, Sel?”
Selina mengangguk. “Serius, Pak. Lagipula… nangisin Evan juga nggak ada gunanya. Dia udah punya yang baru. Selina nggak mau buang waktu buat orang kayak gitu lagi.”
Wajah Bejo mengendur, lega. “Bapak yakin, Sel… Adipati itu bakal jadi suami yang baik. Bapak tahu dia luar dalam. Dia nggak akan nyakitin kamu.”
“Iya, Pak. Selina percaya.”
Bejo tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari itu. “Sudah, sana ke bawah. Mas-mu sudah nunggu. Kamu harus fitting baju.”
Selina tersentak. “Fitting baju pengantin, Pak?”
“Iya. Bapak mau ngurus dokumen nikahan kamu hari ini sekalian.”
Bejo bangkit dan keluar kamar dengan langkah ringan, seolah beban beberapa tahun terakhir terangkat.
Selina menghela napas panjang, lalu bangkit dan berganti pakaian. Ia turun ke bawah, di mana Arga sudah menunggu sambil memegang kunci motor.
Arga menatap adiknya. “Kamu kenapa? Matamu sembab.”
“Nggak apa-apa, Mas. Ayo jalan.” Selina naik ke boncengan motor.
Arga menyalakan mesin sambil berkata pelan, “Jangan gitu, Sel. Adipati itu baik kok orangnya. Mas yakin dia bisa jadi imam yang benar buat kamu.”
Selina menatap punggung kakaknya. “Iya, Mas. Aku udah terima. Nanti aku yang kerja… dia yang urus rumah dan anak-anak.”
Arga hanya menghela napas, tak ingin berdebat.
Motor melaju pelan melewati jalan desa yang masih berkabut pagi. Mereka akhirnya berhenti di sebuah salon desa sekaligus tempat wedding organizer sederhana.
“Assalamu’alaikum…” suara Selina terdengar pelan saat ia membuka pintu salon desa itu.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk!” sahut pemilik salon, Bu Ratri, dengan senyum lebar.
“Mau fitting baju pengantin, kan? Ayo, ayo! Ibumu tadi udah WA, sekalian ngumumin di grup RT.”
Selina terdiam sesaat. Ibu sampai umumin grup RT…?
Ia berjalan mengelilingi rak kebaya. “Bu, yang ini bagus.” Selina menunjuk kebaya berwarna dusty pink.
Bu Ratri mendekat. “Bagus, bagus… tapi yang ini mahal, Mbak. Calonnya mampu? Setahu saya Mas Adi itu pengangguran.”
Selina tersenyum tipis. “Bapak saya yang bayar semuanya.”
“Ya ampun… kok kamu mau-maunya sih dijodohin sama pengangguran kayak Adi. Iya sih ganteng, tapi males keluar rumah, kerjaan nggak ada.”
Selina menarik napas sabar. “Udah jodohnya, Bu.”
“Tapi kamu kan dokter, Mbak. Banyak yang setara sama kamu. Jangan mau sama—”
“Ehem.”
Keduanya menoleh. Adipati berdiri di pintu, memakai kaos sederhana tapi senyumnya sopan.
Bu Ratri langsung cengengesan. “Eh, Mas Adi! Masuk, masuk. Mau fitting juga, ya?”
Adipati mendekat ke Selina. “Kamu suka yang itu? Ambil aja. Nanti saya yang beli. Atau… kamu mau kebaya yang didesain langsung desainer kota? Saya bisa bawa kamu sekarang.”
Bu Ratri mendengus tajam. “Halah, nyewa aja nggak mampu. Apalagi beli. Sok banget ngomong desainer kota.”
Selina buru-buru menahan. “Nggak usah, Mas. Yang ini aja.”
Adipati mengangguk. “Kalau kamu suka, ya sudah.”
Ia mengambil setelan beskap untuk dirinya.
Selina masuk ruang ganti, mengenakan kebaya pilihan. Begitu ia keluar, seluruh ruangan mendadak hening.
Adipati terpaku. Tatapannya melekat pada Selina seperti tak berkedip.
“Cantik…” ucapnya lirih.
Bu Ratri mendecak. “Udah jangan diliatin begitu, Mas. Untung masih ada yang mau sama kamu. Padahal seluruh gadis di desa ini udah nolak kamu mentah-mentah.”
Selina menoleh tajam pada Bu Ratri, namun Adipati hanya tersenyum kecil—tidak marah, tidak protes, hanya diam seolah sudah terbiasa diremehkan.
Setelah selesai fitting kebaya, berdiskusi soal makeup dan hairdo, Selina dan Adipati keluar dari salon. Arga sudah lebih dulu pulang, meninggalkan mereka berdua.
Adipati menoleh. “Mas Arya udah pulang duluan. Kamu pulang bareng saya aja, ya?”
Selina baru menyadari motor antik yang dipakai Adipati—sebuah motor tuanya, catnya sudah kusam dan bunyinya serak padahal itu motor antik yang harganya fantastis hanya para kolektor yang tau.
Selina menelan ludah. “Mas… kita naik ini? Kamu yakin?”
Adipati menatap motornya sebentar lalu ke Selina lagi. “Yakin, Mbak. Emangnya kenapa?”
“Nggak… nggak apa-apa.”
Selina naik ke boncengan dengan hati-hati.
Motor mulai berjalan. Baru beberapa meter, mereka melewati polisi tidur agak tinggi. Selina yang tidak pegangan langsung tersentak dan spontan memeluk pinggang Adipati.
“Pelan-pelan! Jangan ngebut, Mas!” Selina memprotes sambil deg-degan.
Adipati tertawa kecil. “Itu barusan polisi tidur, Mbak. Tapi iya, saya pelanin.”
Beberapa detik hening sebelum Adipati membuka suara lagi.
“Mau mampir ke rumah saya dulu? Biar kamu tahu besok kita tinggal di mana.”
Selina cepat menjawab, “Nggak usah, Mas. Setelah kita nikah, aku mau tinggal di rumah orang tuaku aja.”
Adipati mengangguk tanpa keberatan. “Ya sudah, nggak apa-apa. Hak kamu memilih.”
Selina menatap punggung Adipati diam-diam.
Pasti rumahnya reyot juga… kayak motor tua ini. Mending aku tinggal dirumah bapak, gumamnya dalam hati.
Motor melaju pelan menuju rumah Selina, sementara pikiran Selina penuh rasa waswas tentang masa depan yang tiba-tiba berubah drastis.