ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 7: Pencarian Senyap dan Kehangatan yang Canggung.
Keputusan Alaska untuk membanting botol whiskey alih-alih memecahkannya adalah pertanda pertama. Itu adalah rem—sebuah batas bawah sadar yang ia tarik, menahan kebiasaan lamanya. Kata-kata Sania, yang menusuk tepat ke inti egonya, telah menanamkan benih keraguan yang berbahaya bagi seorang mafia.
Alaska menghabiskan sisa malam itu dalam keadaan gelisah. Ia tidak bisa tidur. Bukan karena amarah, melainkan karena kebenaran yang tak terduga. Ia benci diakui oleh Sania, namun ia tidak bisa membantah. Sania tidak melawan dengan teriakan atau tangisan, melainkan dengan kebijaksanaan.
Keesokan paginya, tepat pukul 05.00 pagi, Alaska sudah berada di ruang kerjanya. Matanya merah karena kurang tidur, tapi pikirannya tajam. Ia membuka laptop-nya dan segera mengecek hasil penyelidikan sekretarisnya, yang telah bekerja semalaman.
Hasil pencarian itu terorganisir rapi dalam sebuah dokumen berjudul "Definisi dan Konsep: Ghirah, Ridho, dan Nafkah Batin dalam Syariat Islam."
Alaska membaca setiap paragraf dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang menelaah perjanjian bisnis yang paling rumit.
Tentang Ghirah:
Ghirah adalah kecemburuan yang terpuji. Ia muncul karena takut pasangan jatuh pada dosa atau pelanggaran syariat. Ia bukanlah kemarahan atas kepemilikan duniawi, melainkan penjagaan atas kehormatan agama. Cemburu pada pujian orang lain itu ego. Cemburu saat istri mendekati dosa itu iman.
Tentang Ridho:
Ridho istri adalah kunci surga suami. Ia didapatkan bukan dengan harta, melainkan dengan perlakuan baik, memenuhi nafkah batin, dan yang terpenting, membantu istri tetap taat kepada Allah. Tanpa ridho, ikatan pernikahan hanyalah kontrak legal tanpa berkah.
Tentang Nafkah Batin:
Nafkah batin bukan hanya tentang hubungan fisik. Ia meliputi kasih sayang, perlindungan, dan bimbingan agama. Suami adalah pemimpin yang bertanggung jawab membawa istrinya ke jalan kebaikan.
Setiap poin adalah tamparan di wajah Alaska. Ia menyadari bahwa ia gagal total sebagai suami. Ia posesif tanpa dasar iman, menuntut tanpa memberi ridho, dan menawarkan perlindungan tanpa bimbingan agama. Sania benar. Ia hanya marah karena ia takut propertinya dihargai orang lain, bukan karena kehormatan Sania sebagai muslimah terancam.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam tenggelam dalam konsep-konsep itu. Untuk pertama kalinya, Alaska tidak membaca buku tentang pasar saham, strategi perang, atau hukum. Ia membaca tentang kemanusiaan dan spiritualitas.
Pagi yang Canggung.
Saat matahari meninggi, Alaska keluar dari ruang kerjanya. Ia bertemu Sania di koridor menuju dapur. Sania baru saja selesai salat Subuh, mukenanya masih terlipat di pelukan.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Sania dengan suara datar, tanpa intonasi.
Ia menjaga jarak, mengingat perintah Alaska tadi malam untuk tidur di kamar tamu.
Alaska menghentikan langkah. Ia menatap Sania bukan dengan amarah, tapi dengan pandangan baru yang sulit diartikan.
"Kau... sudah sarapan?" tanya Alaska.
Pertanyaan itu terasa asing di lidahnya. Biasanya, ia hanya akan bertanya, "Di mana kopiku?"
Sania sedikit terkejut, namun ia berhasil menutupinya.
"Belum, Tuan. Saya akan ke dapur setelah ini."
"Bagus," kata Alaska kaku. "Aku... ingin sarapan denganmu. Di meja makan."
Perintah itu sangat tidak biasa. Selama ini, mereka sarapan di waktu yang berbeda; Sania selalu menghormati jadwal Alaska dengan bersembunyi di kamarnya sampai pria itu pergi.
"Baik, Tuan," jawab Sania patuh.
Sarapan itu adalah momen paling canggung yang pernah ada. Alaska duduk di ujung meja besar, membaca laporan pasar saham di tablet-nya. Sania duduk di seberangnya, makan dengan tenang.
Meja makan yang mewah itu terasa seperti medan perang yang beku.
Setelah lima menit dalam keheningan yang mematikan, Sania berdeham.
"Tuan, ada apa? Jika Anda masih marah atas kejadian semalam, saya mohon maaf jika kata-kata saya terlalu tajam."
Alaska menurunkan tablet-nya. Ia menatap Sania, yang kini hanya melihat ke piringnya.
"Aku tidak marah," jawab Alaska, suaranya lebih lembut dari biasanya, membuat Sania mengangkat pandangannya sedikit.
"Aku sedang... mencerna. Tentang apa yang kau katakan."
Sania menunggu. Ia tahu, sedikit saja salah bicara, ledakan kemarahan bisa kembali terjadi.
Alaska mengambil napas dalam-dalam.
"Aku sudah membaca tentang ghirah, ridho, dan yang lainnya. Aku... tidak menyangka definisi yang sebenarnya begitu berbeda dengan apa yang kupercayai."
Ia berhenti, terlihat berjuang dengan setiap kata.
"Tuan," ujar Sania hati-hati. "Kebenaran itu tidak meminta izin untuk masuk ke hati seseorang. Ia datang dan membuat kita memilih. Apakah kita akan tunduk padanya, atau lari kembali pada ego kita."
Alaska menatap Sania lurus-lurus.
"Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan... ridhomu? Aku tidak akan memaksamu membuka cadar, untuk saat ini. Aku hanya... tidak ingin orang lain memiliki apa yang kumiliki."
"Ridho tidak bisa diminta, Tuan. Ridho harus diupayakan," jelas Sania. "Anda harus berjuang untuk menjadi suami yang pantas mendapatkan ridho istri. Mulailah dengan menghargai saya sebagai hamba Allah, bukan sebagai properti Black Vipers."
"Bagaimana caranya?" Alaska terdengar frustrasi. Ia terbiasa membeli atau memerintah, bukan merayu hati.
Sania tersenyum tipis di balik cadarnya. Senyuman itu tidak terlihat, tapi Alaska bisa merasakan kelembutan yang terpancar dari matanya.
"Untuk permulaan," kata Sania. "Apakah Anda bersedia... mengizinkan saya menghabiskan satu jam sehari di luar rumah, untuk mencari teman dan menghadiri majelis ilmu agama yang terpercaya? Saya merasa terasing di sini."
Alaska terkejut. "Keluar? Sendirian?" Ia langsung curiga.
"Dengan pengawal. Tapi tolong, bukan pengawal yang berpakaian ala preman. Saya hanya ingin duduk di ruangan yang berisi cahaya keimanan, Tuan. Itu adalah nafkah batin yang saya butuhkan saat ini," pinta Sania.
Alaska berpikir keras. Melepaskan Sania ke luar adalah risiko. Tapi menahannya, berarti ia menolak kesempatan untuk memenuhi tuntutan "nafkah batin" yang ia pelajari tadi malam.
"Baik," putus Alaska, dengan nada yang masih otoriter. "Satu jam. Setiap hari. Aku akan atur pengawal terbaik yang bisa menyamar. Dan jika ada sedikit saja kecurigaan atau masalah, izin ini akan kutarik."
"Terima kasih, Tuan Alaska. Semoga Allah membalas kebaikan Anda," Sania menunduk. Ada nada kelegaan yang tulus dalam suaranya.
Perhatian Kecil yang Canggung.
Sepuluh menit kemudian, Sania berdiri di dapur, mencuci piring sarapan mereka. Alaska sudah kembali ke ruang kerjanya.
Tiba-tiba, Alaska muncul di pintu dapur. Ia memegang sebuah mug besar dengan ekspresi wajah canggung.
"Kau..." Alaska ragu sejenak. "Aku buatkan kopi untuk diriku. Aku... membuatkanmu juga."
Sania terdiam. Alaska membuatkan kopi untuknya? Itu hal yang tidak pernah terpikirkan. Seorang mafia, yang terbiasa dilayani oleh puluhan pelayan, membuatkan kopi untuk istrinya.
Alaska meletakkan mug itu di konter.
"Itu... latte. Tanpa gula. Seperti yang kubuat untuk diriku. Aku tidak tahu kau suka yang mana."
"Saya... tidak minum kopi, Tuan," jawab Sania lembut. "Saya hanya minum air putih atau teh herbal."
Ekspresi Alaska langsung jatuh. Ia terlihat seperti anak kecil yang usahanya ditolak.
"Oh," gumamnya, mengambil mug itu kembali. "Kalau begitu... aku akan membuangnya."
Sania melihat kekecewaan yang sangat jelas di mata Alaska. Ini adalah sisi rapuh dari suaminya yang belum pernah ia lihat.
"Tunggu, Tuan," panggil Sania. "Saya akan minum teh herbal. Tapi... terima kasih atas kebaikannya. Itu adalah gesture yang saya hargai."
Alaska mengangguk canggung. Ia berbalik dan menghilang ke ruang kerjanya.
Setelah beberapa menit, Alaska kembali lagi. Kali ini ia memegang sesuatu di tangannya.
"Ini," katanya, meletakkan sebuah buku tebal di atas meja.
Sampulnya tertulis: -KUMPULAN HADITS SHAHIH TENTANG ADAB DAN AKHLAK-
"Aku... memerintahkan sekretarisku membelikannya pagi ini. Kau bilang kau butuh cahaya keimanan. Bacalah di kamarmu," jelas Alaska, suaranya sedikit gemetar karena rasa malu. "Dan jangan berani-beraninya mengajarkan isinya padaku. Aku hanya... tidak mau istriku menjadi bodoh karena terasing."
Sania menatap buku itu. Buku fisik. Dicetak mahal, terlihat baru.
Air mata Sania menetes di balik cadarnya. Ini bukan lagi tentang kopi atau permintaan. Ini adalah Alaska, dengan segala kekakuannya, berusaha memberi nafkah batin dengan caranya yang canggung. Ia memberi apa yang ia anggap berharga—informasi, pengetahuan, dan perlindungan.
"Tuan Alaska," ucap Sania, suaranya tercekat. "Ini... Hadits. Bukan sekadar buku. Terima kasih. Ini adalah hadiah paling berharga yang pernah saya terima di rumah ini."
Alaska hanya berdeham keras. Wajahnya memerah karena pujian yang tulus itu.
"Jangan berlebihan," hardik Alaska, meskipun nadanya tidak lagi marah. "Lakukan saja apa yang kusuruh! Aku pergi sekarang. Sore ini akan kuberikan daftar majelis ilmu yang sudah kuanggap aman untuk kau kunjungi."
Alaska bergegas pergi, meninggalkan Sania yang masih berdiri di dapur, air mata bahagia mengalir karena sebuah buku hadits dan secangkir kopi yang salah.
Sania kini menyadari: Raja yang ditakuti itu sedang bingung. Sang Mafia sedang belajar memberi perhatian. Dan di tengah pencarian spiritualnya yang canggung, Alaska secara tidak sadar mulai memenuhi salah satu hak terpentingnya, memberi bimbingan menuju kebaikan.
Alaska memang posesif, tapi kini ia posesif pada kesucian Sania.
__Perubahan hati yang hakiki dimulai dari sebuah kegagalan ego. Ketika seorang tiran mulai bertanya, ia telah membuka pintu pertama menuju kebenaran__
__Perhatian yang paling canggung pun, jika didasari oleh niat baik, akan lebih berharga daripada janji manis yang didasari nafsu__