NovelToon NovelToon
Mr. Billionare Obsession

Mr. Billionare Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusi Fitria

Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35

Sebenarnya apa yang ingin Alex lakukan kepadaku? Kenapa dia tidak menjelaskan sesuatu terhadapku? Hanya mengurungku disini, namun tidak melarangku jika ingin pergi berkeliling, asalkan masih di dalam rumah.

"Sisi..." panggilan itu membuatku menoleh. Ada Gemma yang sedang tersenyum kepadaku.

"Alex memanggilmu ke kamarnya," lanjutnya.

Dahiku mengkerut heran, kenapa harus datang ke kamarnya? Bukankah bisa bicara di tempat lain?

"Sebaiknya kau segera menghampirinya. Alex tidak suka menunggu."

Walaupun enggan, aku terpaksa untuk pergi. Sembari menaiki anak tangga, pikiranku masih berkelana entah kemana. Memikirkan apa yang akan terjadi.

Tok! Tok!

Aku mengetuk pintu kayu berwarna coklat gelap itu, tapi tak ada jawaban dari dalam. Karena penasaran, aku memutuskan untuk langsung masuk saja. Kosong, tidak ada siapapun disana.

"Alex?" panggilku pelan.

Sepertinya memang tidak ada orang disini. Hmm, apa Gemma mengerjaiku?

Saat aku ingin melangkah menuju pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan disana lah terdapat Alex bersama Gemma.

"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Alex.

Aku menggeleng pelan, "Gemma yang menyuruhku kesini."

"Apa maksudmu, Sisi? Untuk apa aku menyuruhmu?"

Mataku memandangnya tidak percaya. Apakah dia pikun? 10 menit yang lalu dia menyuruhku untuk kesini.

"Apa yang kau lakukan di kamar Alex?" lanjutnya yang semakin membuatku menganga.

"Kau yang memintaku kemari! Kau bilang, Alex memanggilku."

Gemma menggeleng, "Tidak. Aku bahkan belum bertemu denganmu pagi ini."

Sialan kau, Gemma. Beraninya kau mengerjaiku.

"Jangan-jangan.. Kau ingin mencuri sesuatu?" tuduhnya, lagi-lagi memojokkanku.

"Atas dasar apa kau menuduhku?"

"Jika bukan ingin mencuri, lalu apa? Kau diam-diam masuk kedalam kamar Alex, seperti seorang pencuri."

"Kau---"

"Sudah, diam!!" Alex menengahi, dia memandangku penuh curiga. "Apa yang kau curi?"

Kini aku beralih menatapnya tak percaya, "Kau percaya dengan ucapannya? Memangnya apa yang bisa kucuri darimu?"

Mungkin paham akan maksudku, Alex bergeming.

"Dan kau, Gemma. Aku tidak percaya kau sepicik ini. Awalnya aku ingin membantumu, tapi sepertinya aku harus mengurungkan niat itu."

"Membantu apa?" tanya Alex bingung.

"Tidak! Bukan apa-apa." jawab Gemma gugup.

Aku tidak ingin berlama-lama disini. Ingin rasanya aku cepat-cepat keluar, tapi selalu saja pria itu menahanku.

"Apa lagi?"

"Kau sakit?"

"Tidak," gelengku, hanya saja akhir-akhir ini memang terasa sedikit lemas.

Tanpa aba-aba, Alex menarikku menuju kasurnya. "Rebahan disana."

"Aku tidak mau."

"Rebahan!" Dia menekan katanya. Terpaksa aku mengikuti karena malas berdebat.

Kulirik Gemma yang memasang wajah masam. Sepertinya dia cemburu xixixi. Aku akan semakin membuatmu cemburu Gemma, lihat saja nanti.

"Bawa Dokter Hugh kesini!" ucap Alex sambil memegang ponselnya. Hanya satu kalimat itu, ia lalu memasukkan kembali benda pipih tersebut ke saku celananya.

"Siapa yang kau hubungi?"

"Willy."

Aku mengangguk paham. Semakin lama kulihat, Gemma semakin menahan emosinya. Lucu juga.

"Aku ingin kembali ke kamarku saja!" ucapku seraya ingin turun. Belum juga kaki-ku menyentuh lantai, satu kalimat dari Alex sukses membuatku menaikkan kembali kedua kaki-ku.

"Berani turun, kupatahkan kakimu!"

Galak sekali, aku memandangnya sebal.

Tak berselang lama, Willy datang bersama seorang pria. Diikuti oleh Rosie di belakangnya.

"Apakah kau sakit, Tuan?" tanya Willy dengan nada khawatir.

"Bukan aku, tapi dia!"

Semua pasang mata akhirnya menatapku, Willy bahkan tiba-tiba tersenyum. Entah apa yang di pikirkannya.

"Dokter, silahkan periksa Nona Sisi." Willy mempersilahkan dokter yang kutahu namanya Hugh untuk mendekatiku.

Dokter itu tersenyum, lalu mulai memeriksaku. Tangannya berhenti di perutku, menekannya lembut. Seolah takut jika menyakitiku.

"Selamat, Tuan Timothy. Istrimu hamil."

Semua melongo, termasuk aku. Alex memandangku cukup lama, kemudian berdehem pelan untuk menghilangkan kecanggungan.

"Berapa usia kandungannya?"

"Masih 4 minggu, Tuan. Masih rentan keguguran. Jadi, tolong jaga istrimu dengan baik."

"Dia bukan istriku!"

"Lalu, siapa Nona ini?" Kebingungan 'kan jadinya si Dokter.

Willy menghampiri dokter dengan senyumannya, "Aku akan mengantarmu, Dok."

Dokter Hugh mengangguk. Meskipun wajahnya masih terlihat kebingungan, ia tetap memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Apalagi melihat ekpresi Alex yang selalu datar, semakin membuatnya sungkan.

"Selamat, Nona. Aku senang mendengarnya." Hanya Rosie yang tersenyum bahagia kepadaku, sisanya memasang wajah aneh.

Gemma menghampiri Alex, lalu membisikkan sesuatu kepadanya. Walaupun samar, aku masih dapat mendengarnya.

"Bagaimana sekarang? Haruskah kita mengembalikannya kepada suaminya?"

"Ini urusanku. Kau tidak perlu ikut campur."

Willy kembali lagi masuk ke kamar. Wajahnya selalu menampilkan senyum khasnya, manis sekali.

"Wahh, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu. Selamat, Nona.."

"Terima kasih, Wil.."

Ahh, bahagianya. Jika Elbarra mendengar kabar ini, dia pasti sama bahagianya. Apalagi Mommy dan Daddy, aku sungguh tidak sabar ingin cepat-cepat memberitahu mereka.

"Ayo, Nona. Aku akan membantumu untuk pindah ke kamar." Rosie mengulurkan tangannya, aku segera menyambut tangan itu.

Baru ingin berdiri, tubuhku terasa oleng dan hampir terjatuh. Jika saja tidak ada seseorang yang menahan pinggangku, mungkin aku sudah mendarat di lantai sekarang.

Untuk persekian detik aku dan Alex saling pandang. Buru-buru Alex menjauhkan diri dariku, lalu memandang kearah lain.

Aku jadi malu, karena mereka semua menatapku. Bergegas aku keluar dari sana bersama Rosie. Sebelum keluar, aku melirik Gemma yang memandangku tajam. Kubalas tatapan itu dengan senyuman remeh. Kena kau!

Di dalam kamar, aku tidak bisa diam. Aku benar-benar malu dengan kejadian tadi.

"Ada apa, Nona? Apakah anda butuh sesuatu?" tanya Rosie yang melihatku gusar.

"Tidak, Rosie. Aku hanya malu."

Wanita itu terkekeh geli, "Kenapa harus malu, Nona? Tuan hanya berniat untuk membantumu."

Benar juga. Lagipula, bukankah tadi gerakan refleks?

"Mulai sekarang, kau tidak boleh terlalu banyak gerak, Nona. Banyaklah beristirahat. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku."

Aku mengangguk senang, "Terima kasih, Rosie. Aku akan kesulitan jika tidak ada dirimu disini."

"Kau wanita istimewa, Nona."

"Istimewa? Maksudnya?"

Rosie tak menjawab, ia hanya tersenyum misterius. Akhirnya wanita tersebut berpamitan untuk turun. Dia bilang, masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan.

Tersisa aku, sendirian. Aku mengusap perutku yang masih datar. Membayangkan bagaimana senangnya keluargaku mendengar kabar ini. Apalagi jika Elbarra mengetahuinya, ia pasti akan semakin posesif terhadapku.

Dimanapun kau berada, aku selalu berharap kau baik-baik saja, Suamiku.

"Nona?" Willy menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

"Ada apa, Wil?"

"Boleh aku masuk?"

"Tentu saja," anggukku.

"Tuan menyuruhku untuk memberikanmu ini."

Aku menerima botol kecil berwarna kuning tersebut. Setelah kubaca, ternyata botol ini merupakan vitamin untuk ibu hamil. Darimana Alex tahu?

"Tuan bertanya pada Dokter Hugh tentang vitamin yang bagus untuk ibu hamil, lalu Dokter Hugh menyarankan vitamin ini. Tadi Tuan meminta seseorang untuk membelinya di apotek," jelasnya seolah tahu dari raut wajahku.

Percaya atau tidak, dia mulai perhatian terhadapku. Aku mengendikkan bahu acuh, kemudian meletakkan obat itu di atas nakas.

"Jangan lupa untuk meminumnya, Nona."

"Iya, aku tahu." Kenapa semakin lama Willy semakin bawel saja.

"Baiklah, kalau begitu aku permisi, Nona. Terlalu lama disini bisa-bisa Tuan marah."

Sepeninggal Willy, aku kembali mengambil botol kuning tadi. Kuamati baik-baik. Ini bukan racun, kan? Tidak ada yang tahu, mungkin saja luarnya nampak vitamin tapi isinya sudah di ganti.

Lebih baik aku tidak usah meminumnya.

Kuletakkan kembali botol itu. Aku memutuskan untuk berbaring dan tidur siang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Tidak perlu bekerja, cukup diam dirumah, tapi kau bisa membeli apapun yang kau inginkan.

1
Ika Yeni
penasarann smaa ellbaraa ,, hilang bagai di telann bumi
Ika Yeni
benerann elbaraa punyaa perempuann lainn ini? ya ampunn kasiann sisi,, apa cumaa slah paham?
Ika Yeni
elbaraa kmanaa istimu hamill ell
Ika Yeni
baguss kak ceritaa nyaa ,, semangat up yaa 😍
Yushi_Fitria: Terima kacih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!