Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Santai Para Shadows of Doomsday
Di ruangan pribadi para Six Shadows of Doomsday, atmosfernya berbanding terbalik dengan kengerian rapat sebelumnya. Tidak ada aura menekan, tidak ada tatapan penuh niat membunuh. Yang ada justru sofa kulit empuk, meja rendah berisi botol anggur mahal, teko teh hangat, dan camilan yang entah kenapa jumlahnya selalu berkurang tiap beberapa menit.
Kyle duduk santai, satu kaki disandarkan ke meja kecil, jelas kebiasaan buruk ksatria istana yang terbawa sampai sini. Ia melepas sarung tangannya dan menoleh ke Felicia dengan senyum penuh rasa ingin tahu.
"Jadi…" Kyle membuka suara, nadanya santai. "Felicia Clover, sang Mantan Shadow of Destruction, penakluk kota, ancaman dunia. Siapa sebenarnya Zetsuya ini?"
Basir langsung ikut nimbrung sambil mengelus janggutnya, wajahnya dibuat sok serius.
"Iya, iya. Merchant dari Eldoria, kan? Eldoria itu yang… kalau hujan dikit banjir, panas dikit kering kerontang itu?"
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan wajah polos,
"Apa jangan-jangan daya tariknya karena harga barangnya murah?"
Felicia menatap Basir datar.
"Basir."
Basir mengangkat kedua tangan.
"Aku nanya serius, lho. Serius versi aku."
Theia yang bersandar santai di sofa, kaki disilangkan dengan elegan, tersenyum tipis.
"Aku harus mengakui, dari semua kemungkinan pria di dunia ini mulai dari pahlawan, seperti si Kouji itu yang kata Kyle dia orangnya sangat tampan, lalu ada penyihir penyihir kuat, ksatria, bahkan petualang tingkat atas… pilihanmu cukup sangat mengejutkan."
Ia melirik Felicia dengan tatapan menggoda.
"Aku penasaran. Apa yang tidak kami lihat?"
Carl menyilangkan tangan di dada, suaranya datar tapi jelas ikut tertarik.
"Jangan bilang dia punya kekuatan tersembunyi. Atau artefak kuno. Atau darah dewa. Biasanya begitu."
Shino menyesap tehnya pelan, lalu berbicara tanpa mengangkat kepala.
"Atau teknik pedang yang tidak terlihat."
Ia berhenti, lalu menambahkan,
"Kalau dia pedagang… setidaknya pandai tawar-menawar?"
Ferry duduk di ujung sofa, punggungnya sedikit kaku. Wajahnya jelas menunjukkan ia masih belum terbiasa berada di ruangan yang isinya adalah orang-orang paling berbahaya di dunia, yang sekarang justru bercanda seperti teman lama.
Felicia terkekeh pelan. Bukan tawa mengerikan seperti di rapat, ini tawa yang hangat, nyaris lembut. Ia menyandarkan punggungnya, matanya sedikit menerawang.
"Zetsuya itu… memang unik."
Kyle langsung mencondongkan badan.
"Uh-oh. Itu kalimat pembuka klasik."
Felicia melanjutkan tanpa menggubris.
"Dia tidak kuat. Tidak punya aura besar. Tidak punya status. Bahkan saat aku pertama kali bertemu dia, aku dalam kondisi hampir mati."
Semua langsung terdiam.
"Setelah pertarungan besar melawan Richard dari Guild Firefly, aku tentunya memakai atribut Kultus, aku kabur darinya dalam keadaan luka parah. Aku pikir… kalau bukan mati di jalan, aku akan mati sendirian."
Felicia tersenyum kecil.
"Tapi dia yang menemukan aku. Seorang pedagang desa. Tidak lari, tidak panik. Dia memberikanku potion, merawat lukaku, dan tidak pernah bertanya siapa aku."
Basir mengangguk-angguk sok paham.
"Hm… jadi dia baik."
Ia berpikir sejenak.
"Baik tapi miskin. Kombinasi yang jarang."
Felicia menatapnya tajam.
Basir langsung meneguk tehnya.
"Aku cuma mengobservasinya dari segi ekonomi."
Felicia menghela napas kecil lalu melanjutkan,
"Dia tidak menyerah. Meski hidupnya keras, meski dunia tidak adil padanya. Dan dia punya senjata yang… cukup menggelegar."
Ia tersenyum samar.
"Tapi bukan itu yang membuatku tertarik. Yang membuatku jatuh hati adalah tekadnya. Cara dia tetap berdiri meski tidak punya apa-apa."
Theia mengangguk pelan.
"Jadi kekuatannya ada di hati."
Ia tersenyum lembut.
"Itu… cukup jarang."
Carl mendengus kecil.
"Pria seperti itu memang menyebalkan."
Ia melirik Felicia.
"Dalam arti yang baik."
Shino akhirnya mengangguk.
"Orang seperti itu biasanya tidak mudah patah."
Ia berhenti sejenak.
"Dan sulit dibunuh."
Basir mengangkat alis.
"Itu pujian versi Shino. Lumayan tinggi itu, mengingat Shino jarang sekali memuji orang lain..."
Ferry akhirnya memberanikan diri bicara.
"Jadi… Zetsuya benar-benar penting bagi kakakku?"
Nada suaranya canggung, tapi jujur.
Felicia menoleh padanya dan tersenyum hangat.
"Iya. Sangat."
Keheningan singkat menyelimuti ruangan, keheningan yang nyaman, bukan tegang.
Kyle tiba-tiba tersenyum lebar.
"Kalau begitu…"
Ia menepuk tangan sekali.
"Kalau kalian menikah, kami diundang, kan?"
Basir langsung menyambar.
"Wajib. Aku bisa jaga pintu masuk."
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Diskon khusus, satu ancaman dihancurkan secara gratis."
Theia terkekeh.
"Aku rasa tidak ada yang cukup bodoh untuk mengganggu."
Carl mengangguk setuju.
"Kalau ada, mereka akan menyesal lahir."
Shino mengangguk singkat.
"Aku bisa jaga sisi belakang."
Ia menyesap teh.
"Atau depan. Sama saja."
Ferry tersenyum kecil, agak kikuk.
"Kak Felicia… sepertinya pernikahanmu bakal jadi acara paling aman dalam sejarah."
Felicia tertawa kecil, menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Kalian ini…"
Ia menatap mereka satu per satu.
"Iya. Kalau memang saatnya tiba, aku ingin kalian semua ada di sana."
Basir mengangguk serius, lalu merusaknya sendiri.
"Baik. Tapi aku pesan satu hal."
Semua menoleh.
"Jangan minta aku untuk bernyanyi."
Kyle langsung tertawa keras.
"Hahahaha, Setuju!."
Felicia menggeleng sambil tersenyum.
"Terima kasih… semuanya."
Di ruangan itu, untuk sesaat, Six Shadows of Doomsday bukanlah simbol kehancuran dunia, melainkan sekelompok orang berbahaya yang, entah bagaimana, terlihat seperti keluarga.