NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 Antara Marcel atau Raka

Aku berlari kecil meninggalkan Marcel, dengan rasa semangat karena berhasil mengucapkan segala keluhan yang tertahan selama ini.

Langkahku menuju ke puncak bukit terasa sejuk, walau tak seperti pengakuan yang aku bayangkan, tapi aku tetap merasa lega.

Sekarang, misiku selanjutnya adalah untuk mencari Raka. Hari ini, aku belum pergi ke bukit. Entah darimana firasat ini datang, namun aku yakin kalau dia ada di sana.

Benar saja. Sampai di depan anak tangga, aku menemukan motor Raka yang terparkir sembarangan. Membuat hatiku semakin gembira meski tertanam sedikit rasa khawatir.

Langkahku menanjak, menembus jalan setapak yang mulai dipenuhi aroma hutan dan dedaunan yang berguguran. Bukit itu seakan memanggil, dengan suara Rerindang.

Setiap helaan napas terasa lebih ringan, meski jantungku masih membawa sisa gemuruh dari pertemuan dengan Marcel.

Di puncak bukit, aku melihat anak Rerindang yang semakin besar menggantikan induknya yang lama ditebang. Beberapa bunga mulai bermunculan dari pucuknya, memberikan aroma harum yang membawa kenangan.

Tak jauh dari situ, kulihat Raka tengah duduk di tepian bukit, menatap kecilnya desa dari ketinggian.

Aku tertegun sejenak, membiarkan pandangan itu meresap ke dalam hati. Raka duduk diam, bahunya merosot, seakan seluruh beban dunia menempel di tubuhnya.

Angin bukit berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun anak Rerindang, menebarkan aroma bunga yang baru mekar, aroma yang justru membuat kenangan lama kembali menyeruak.

Aku melangkah perlahan, menahan degup jantung yang semakin kencang. Setiap langkah terasa seperti mendekati sesuatu yang rapuh, yang bisa pecah kapan saja.

"Raka..." suaraku pelan, tapi cukup untuk membuatnya menoleh.

Tatapannya redup, mata itu menatapku tanpa senyum, hanya keheningan yang panjang. Seakan ada kata-kata yang ingin keluar, tapi tertahan di kerongkongan.

Wajahnya seperti berkata kalau ia sedang tidak baik-baik saja, mungkin karena dia masih belum bisa menerima masa laluku yang masih melekat.

Meski bingung, aku harus dapat membuat Raka memuntahkan segala yang dia rasakan tentangku. Meski tidak berarti apa-apa, harapanku Raka bisa lebih terbuka.

Perlahan aku duduk di sebelahnya, tidak memaksa dan ikut menatap pemandangan sama yang juga sedang ia lihat.

Desa tampak sibuk dibawah langit luas yang memotong cakrawala, awan panjang bergandengan mengitari matahari, menaungi burung-burung yang terbang mendekat.

Terpesona atas apa yang aku lihat, tanpa sadar aku merebahkan kepala di pundak Raka. Ia tidak melawan, hanya saja terasa di telingaku kalau nafasnya menjadi berat.

Suara alam menjadi latar bagi jarak di antara kami berdua, yang meskipun dekat, namun terasa begitu asing. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup aroma rumput yang bercampur dengan parfum Raka.

Perlahan-lahan kucoba masuk lebih dalam dengan membuka obrolan ringan.

"Raka, ceritain lagi dong, soal motormu."

Raka tidak langsung menjawab, aku rasakan kalau suasana berubah menjadi sedikit lebih biru.

Ia bilang, jauh sebelum kami bertemu, sebelum aku berangkat ke kota, Raka adalah orang pindahan dari desa lain. Di desa lamanya, Raka muda adalah anak yang sangat percaya dengan mimpinya sebagai musisi.

Raka pernah bercita-cita ingin menjadi vokalis dari suatu band, yang mungkin kelak akan membawa kebahagian untuknya dan keluarga.

Raka menarik napas panjang, seakan kata-kata yang keluar darinya membawa beban bertahun-tahun.

"Dahulu... aku percaya kalau musik bisa jadi jalan hidupku. Aku ingin berdiri di panggung, jadi vokalis, bikin orang tersenyum, bikin keluargaku bangga."

Ia menunduk, jemarinya meremas tanah di sampingnya. "Aku bahkan sempat bikin band kecil sama teman-teman di desa lama. Kita latihan di hutan, pakai gitar pinjaman, suara seadanya. Saat itu, buatku, dunia terasa indah."

Aku menatapnya, kepala masih bersandar pada pundaknya. Aku merasakan getar halus dari tubuhnya. Ada kerinduan yang nyata dalam suaranya, tapi juga luka yang tak bisa disembunyikan.

"Kalau indah, kenapa kamu berhenti, Raka?" tanyaku pelan, hampir seperti bisikan.

Nadanya tegas seperti orang yang kecewa akan masa depan, tatapannya masih ke arah desa di bawah bukit. "Karena hidup nggak selalu ikutin mimpi. Teman-temanku pergi satu per satu, ada yang kerja, ada yang nikah, ada yang pindah."

"Aku sendiri... kehilangan ayah yang jadi fokus utama dari cita-cita. Motor ini akhirnya jadi panggungku, dan jalanan jadi penontonku. Tapi musik? Sudah hilang entah kemana."

Keheningan kembali jatuh, hanya angin yang berputar di antara daun anak Rerindang. Aku bisa merasakan betapa cita-cita masa kecilnya masih hidup, meski terkubur oleh kenyataan.

Aku menutup mata sejenak, lalu berkata lirih, "Kalau musik ngecewain kamu,… mungkin aku enggak bakal ngecewain kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!