NovelToon NovelToon
Cinta Seorang Gus

Cinta Seorang Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Di tengah gelapnya dunia malam, seorang Gus menemukan cahaya yang tak pernah ia duga dalam diri seorang pelacur termahal bernama Ayesha.

Arsha, lelaki saleh yang tak pernah bersentuhan dengan wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang hidup dari dosa dan luka. Ia rela mengorbankan ratusan juta demi menebus Ayesha dari dunia kelam itu. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menyelamatkannya.

Keputusannya memicu amarah orang tua dan mengguncang nama besar keluarga sang Kiyai ternama di kota itu. Seorang Gus yang ingin menikahi pelacur? Itu adalah aib yang tak termaafkan.

Namun cinta Arsha bukan cinta biasa. Cintanya yang untuk menuntun, merawat, dan membimbing. Cinta yang membuat Ayesha menemukan Tuhan kembali, dan dirinya sendiri.

Sebuah kisah tentang dua jiwa yang dipertemukan di tempat paling gelap, namun justru belajar menemukan cahaya yang tak pernah mereka bayangkan.

Gimana kisah kelanjutannya, kita simak kisah mereka di cerita Novel => Cinta Seorang Gus.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Rumah kecil di pinggiran Jakarta itu lebih mirip sebuah gubuk tua daripada sebuah tempat tinggal yang layak bagi seorang mantan primadona seperti Ayesha. Lantainya hanya tegel semen yang sudah retak, atapnya sesekali membocorkan cahaya matahari, dan suasananya begitu sepi.

Sangat kontras dengan bisingnya musik dentum bass yang selama ini menjadi teman tidur Ayesha. Namun, bagi Ayesha, setiap inci tanah ini terasa lebih suci daripada apartemen mewahnya di pusat kota.

"Maafkan tempatnya, Yesha. Hanya ini yang bisa aku siapkan dalam waktu singkat," Arsha meletakkan koper hitamnya di sudut ruangan tunggal itu. Ia segera menyingsingkan lengan kemejanya, mengambil sapu lidi tua yang tergeletak di pojok, dan mulai membersihkan debu-debu yang menebal.

Ayesha berdiri di ambang pintu, menatap punggung Arsha. Pria ini, seorang putra Kiai besar yang biasanya dilayani oleh puluhan abdi ndalem, kini sedang berkeringat menyapu lantai untuknya.

"Arsha... biarkan aku yang melakukannya," suara Ayesha pelan. Ia melangkah maju, mengambil sapu itu dari tangan Arsha. "Kamu sudah menyetir sepuluh jam. Istirahatlah."

Arsha menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Di sini, kita tidak punya pembantu, Yesha. Kita hanya punya satu sama lain. Aku akan mengambil air di sumur belakang untuk kamu mandi dan wudhu."

Kehidupan baru pun dimulai. Arsha benar-benar membuktikan ucapannya. Saban pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah bangun untuk menghidupkan pompa air manual di belakang rumah.

Ia mulai menggarap lahan kecil di samping rumah, mencangkul tanah yang keras untuk ditanami sayuran. Tangannya yang biasanya memegang kitab kuning kini mulai kasar dan kapalan karena gagang cangkul.

Ayesha, di sisi lain, berjuang dengan caranya sendiri. Ia yang biasanya tidak bisa membedakan bumbu dapur, kini belajar memasak dengan kompor minyak tanah yang sumbunya sering macet.

Ia belajar mengenakan kerudung dengan benar, belajar mengeja Alif-Ba-Ta dari mushaf pemberian Abah, dan sesekali menangis diam-diam saat teringat betapa jauhnya ia jatuh dari kemewahan, namun betapa tingginya ia naik dalam kedamaian.

Namun, kedamaian itu hanyalah ketenangan sebelum badai.

Sore itu, saat Arsha sedang sibuk memperbaiki pagar bambu yang mulai miring, tiga buah sepeda motor dengan knalpot bising tiba-tiba berhenti di depan lahan mereka. Enam orang pria berbadan besar, bertato, dan berwajah garang turun dengan angkuh. Salah satu dari mereka membawa botol minuman keras, sementara yang lain memegang balok kayu.

"Oalah... jadi di sini si 'ustaz' ini menyembunyikan mainan kita?" ujar salah satu preman, yang paling besar dengan luka parut di pipinya. Ia adalah Bento, orang kepercayaan Jefry.

Arsha berhenti mencangkul. Ia berdiri tegak, memegang cangkulnya bukan sebagai senjata, melainkan sebagai penopang. "Ada keperluan apa, Saudara-saudara datang ke sini?"

"Jangan banyak tanya, Anak Muda!" Bento melangkah maju, menendang pagar bambu yang baru saja diperbaiki Arsha hingga hancur. "Bos Jefry bilang, kamu sudah menculik aset kami. Serahkan Ayesha sekarang, atau tempat kumuh ini kami ratakan dengan tanah!"

Ayesha yang mendengar keributan dari dalam rumah segera keluar. Wajahnya pucat pasi saat melihat Bento. Ia tahu siapa orang-orang ini. Mereka adalah penagih yang tak segan mematahkan tulang jika ada kontrak yang dilanggar.

"Arsha, masuklah! Mereka berbahaya!" teriak Ayesha dari pintu.

"Masuk ke dalam, Yesha! Jangan keluar!" perintah Arsha tanpa menoleh.

Bento tertawa terbahak-bahak. "Wah, lihat itu! Si cantik sudah pakai jilbab. Lucu sekali. Hei, Yesha! Kontrakmu belum selesai. Bos Jefry sudah membayar denda pembatalan acaramu yang kemarin, dan sekarang kamu punya utang lima miliar pada manajemen. Kamu mau bayar pakai apa? Pakai kangkung hasil tanam cowok kerempeng ini?"

"Aku akan mencicilnya, Mas Bento. Tolong berikan kami waktu," Ayesha memohon dengan suara bergetar.

"Waktu sudah habis!" Bento mengayunkan balok kayunya, menghantam pot bunga di dekat Arsha hingga pecah berkeping-keping. "Bos Jefry cuma mau satu hal. Kamu kembali ke manajemen, atau cowok ini kami kirim ke rumah sakit dalam keadaan cacat!"

Arsha melangkah satu langkah ke depan, menghalangi pandangan mereka ke arah Ayesha. "Urusan utang piutang bisa diselesaikan secara hukum. Tapi jika Anda masuk ke tanah ini tanpa izin dan melakukan perusakan, itu adalah tindak pidana."

"Hukum? Di sini hukumnya adalah saya!" Bento kehilangan kesabaran. Ia mengayunkan balok kayunya ke arah kepala Arsha.

Brak!

Arsha dengan tangkas menghindar. Ia tidak membalas dengan pukulan. Ia hanya menangkis dan menghalau. Sebagai putra kiai di Jombang, Arsha bukan hanya diajari kitab, tapi juga dibekali ilmu bela diri pencak silat pagar nusa sejak kecil. Namun, ia tidak ingin menggunakan kekerasan jika tidak terpaksa.

"Pergi dari sini sebelum saya memanggil warga!" ancam Arsha.

"Warga? Lihat sekelilingmu, Ustaz! Tetanggamu cuma ilalang dan tikus!" Bento memberi kode pada anak buahnya. "Hajar dia!"

Lima orang lainnya mengeroyok Arsha. Ayesha menjerit histeris. Ia melihat Arsha dikepung. Sebuah pukulan mengenai bahu Arsha, membuatnya tersungkur. Namun, Arsha segera bangkit. Ia bergerak lincah, menjatuhkan satu per satu preman itu dengan teknik kuncian yang efisien. Ia tidak memukul wajah mereka, hanya melumpuhkan gerakan mereka.

"Berhenti!" teriak Ayesha. Ia berlari keluar membawa sebuah amplop cokelat, amplop sertifikat tanah dari Abah. "Ambil ini! Ini sertifikat tanah warisan! Nilainya mungkin cukup untuk cicilan pertama. Tolong jangan sakiti Arsha!"

Arsha terkejut. "Yesha, jangan! Itu milikmu!"

Bento merampas amplop itu dengan kasar. Ia membukanya dan menyeringai. "Nah, begini kan enak. Tapi... ini belum cukup. Ini cuma uang muka. Kami akan kembali minggu depan. Dan kalau uang sisanya tidak ada, kami tidak akan datang dengan balok kayu lagi, tapi dengan bensin dan korek api!"

Bento meludah ke arah kaki Arsha, lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk pergi. Suara motor mereka yang bising perlahan menjauh, meninggalkan debu yang beterbangan dan kehancuran di halaman rumah.

~

Malam itu, suasana di dalam rumah terasa sangat berat. Arsha duduk di lantai dengan lebam di sudut bibirnya. Ayesha sedang mengompres luka Arsha dengan kain basah. Tangannya gemetar, dan air matanya tak henti-hentinya menetes.

"Kenapa kamu berikan sertifikat itu, Yesha?" suara Arsha rendah, ada nada kekecewaan di sana. "Itu satu-satunya harta yang kamu punya untuk masa depanmu."

"Masa depanku adalah kamu, Arsha!" Ayesha meledak dalam tangis. "Apa gunanya tanah itu kalau kamu mati dikeroyok mereka? Aku tidak butuh tanah, aku tidak butuh rumah. Aku lebih baik kehilangan segalanya asalkan kamu tetap bernapas!"

Arsha terdiam. Ia menatap Ayesha yang kini menutup wajahnya dengan tangan. Ia merasa gagal. Ia merasa tidak bisa melindungi wanita yang dipercayakan ayahnya padanya.

"Maafkan aku... aku terlalu lemah," bisik Arsha.

"Tidak, Arsha. Kamu tidak lemah. Kamu terlalu baik untuk dunia yang sekejam ini," Ayesha menghapus air matanya. "Mereka akan kembali minggu depan. Jefry tidak akan berhenti sampai aku hancur. Mungkin... mungkin benar kata mereka. Aku harus kembali. Aku harus menyerahkan diriku agar kamu aman."

Arsha mencengkeram bahu Ayesha, memaksa wanita itu menatap matanya. "Jangan pernah katakan itu lagi. Kamu sudah bersyahadat. Kamu sudah memilih jalan cahaya. Kamu pikir aku akan membiarkanmu kembali ke lubang hitam itu hanya karena aku takut pada preman-preman itu?"

"Tapi lima miliar, Arsha! Dari mana kita dapat uang sebanyak itu dalam seminggu?"

Arsha menatap mushaf kecil di atas meja. "Ada satu hal yang Jefry lupakan. Dia pikir dia pemilik nasibmu karena dia punya kontrak di atas kertas. Tapi dia lupa bahwa pemilik nyawamu adalah Allah."

Arsha berdiri, meski badannya terasa nyeri. "Besok, aku akan pergi ke kota. Aku akan mencari teman-teman lamaku di Jakarta, para alumni pesantren yang mungkin bisa membantu. Kita akan melawan secara hukum. Dan untuk malam ini..." Arsha mengambil tasbih putih milik Ummi, "kita tidak akan tidur. Kita akan mengetuk pintu langit. Jika pintu bumi sudah tertutup bagi kita, maka pintu langit adalah satu-satunya harapan."

Seminggu berlalu dengan ketegangan yang mencekik. Arsha bekerja siang malam, pagi mencangkul, siang ia pergi ke Jakarta menemui pengacara dan kawan-kawannya, malam ia mengajar Ayesha mengaji. Kabar tentang video skandal Ayesha mulai mereda karena isu lain, namun Jefry tetap bergerak di bawah tanah.

Hari yang dijanjikan tiba. Sore itu, langit Jakarta tampak merah darah.

Bento kembali, kali ini tidak hanya dengan motor, tapi dengan sebuah mobil jip terbuka. Mereka membawa jeriken berisi bensin. Jefry sendiri ada di sana, duduk di dalam mobil dengan kacamata hitam, menonton dari kejauhan seperti seorang kaisar yang sedang menyaksikan eksekusi.

"Waktu habis, Ustaz!" Bento berteriak sambil menyiramkan bensin ke pagar bambu yang baru diperbaiki Arsha. "Mana uangnya? Atau kamu mau melihat pacarmu ini terbakar bersama gubuk ini?"

Arsha keluar dari rumah. Ia tidak membawa cangkul kali ini. Ia membawa sebuah map biru dan ponsel yang sedang dalam mode merekam.

"Silakan bakar, Bento," ucap Arsha tenang. "Tapi sebelum api itu menyala, pastikan Bos Anda tahu bahwa saat ini, tim audit independen sedang memeriksa seluruh laporan keuangan manajemen Jefry atas laporan penggelapan pajak yang saya kirimkan tiga hari lalu."

Jefry yang mendengar itu dari dalam mobil langsung keluar dengan wajah merah padam. "Apa katamu?!"

"Saya punya bukti, Jefry," Arsha menunjukkan layar ponselnya. "Selama lima tahun, Anda memotong honor Ayesha lebih dari 60% dengan alasan biaya manajemen yang fiktif. Itu bukan utang Ayesha pada Anda, tapi Anda yang berutang pada Ayesha. Dan tentang video itu... kami sudah menemukan orang yang mengeditnya. Dia sudah bersaksi di kepolisian satu jam yang lalu."

Wajah Jefry pucat pasi. Ia tidak menyangka Arsha, si anak kiai yang ia anggap lugu, bisa bergerak secepat itu di belakang layar.

"Bohong! Jangan dengarkan dia, Bento! Bakar gubuk itu!" teriak Jefry histeris.

Namun, sebelum Bento sempat menyalakan korek api, suara sirine polisi terdengar mendekat dari jalan raya. Arsha tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang dengan kebenaran yang sudah ia susun rapi lewat bantuan jaringan alumni Arsha di kepolisian.

"Satu langkah lagi, dan Anda masuk penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan," tegas Arsha.

Jefry mencoba melarikan diri ke mobilnya, namun polisi sudah mengepung jalan keluar. Jefry, Bento, dan komplotannya diringkus di depan mata Ayesha.

Saat suasana mulai tenang, Ayesha jatuh lemas di pelukan pagar yang bau bensin. Ia menatap Arsha yang berdiri di tengah debu dan sisa-sisa bensin. Arsha berjalan ke arahnya, lalu menyerahkan kembali sertifikat tanah yang tadi sempat diambil Bento yang ternyata dijatuhkan saat penangkapan.

"Tanah ini tetap milikmu, Yesha," bisik Arsha. "Dan mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu."

Ayesha menatap langit yang kini berubah menjadi biru gelap yang damai. Ia menyadari satu hal. Kekuatan Arsha bukan pada ototnya, bukan pula pada gelarnya, tapi pada keyakinannya yang tak tergoyahkan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, meski harus melewati api.

"Terima kasih, Arsha... terima kasih sudah menjadi malaikat pelindungku," bisik Ayesha sambil mendekap mushaf kunonya.

Arsha menatap ke arah utara, ke arah Jombang. Ia tahu, ujian ini baru awal dari perjalanan panjang mereka. "Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Tuhan yang mengirimkanmu ke sini untuk menguji seberapa besar cintaku pada-Nya."

...----------------...

**Next Episode**....

1
🌹Widianingsih,💐♥️
duhh .. Arsya..jangan jatuh cinta pada Ayesha, nanti akan mendatangkan masalah besar
🌹Widianingsih,💐♥️
benar-benar cobaan berat bagi seorang Gus , bagaimana nanti jika ada yang tau. ...pasti fitnah besar yang datang !
duh Gusti nu maha agung.... selamatkan keduanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!