NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Udara pagi di kebun teh milik keluarga Nirmala terasa lebih sejuk dari biasanya. Embun masih menempel di ujung daun, dan jalan setapak tanah cokelat itu memanjang berliku ke arah bukit kecil di tengah perkebunan.

Daren berjalan di samping Nirmala, keduanya mengenakan jaket tipis. Mereka baru beberapa hari menikah, tapi atmosfer di antara mereka masih terasa canggung—bukan dingin, hanya… belum terbiasa menjadi sepasang suami istri yang sah.

Nirmala menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan, “Aroma teh di sini beda ya. Lebih kuat.”

“Beda banget,” jawab Daren sambil melihat sekeliling. “Di ibu kota nggak pernah bisa dapet udara kayak gini. Aku sampai lupa kalau dunia bisa setenang ini.”

Nirmala hanya mengangguk. Sejak kejadian malam itu, yang membawa mereka pada pernikahan cepat dan rencana balas dendam yang rumit, hubungan mereka terus bergerak tanpa henti.

Mereka tidak pernah punya waktu untuk sekadar berhenti dan bernapas. Dan kebun teh pagi itu rasanya seperti jeda kecil.

“Capek?” tanya Daren ketika melihat langkah Nirmala melambat.

“Enggak. Cuma… lega aja,” jawabnya. “Lari dari masalah sebentar.”

Daren tersenyum kecil. “Kayaknya kita memang butuh healing ya, pengantin baru.”

Nirmala memutar bola matanya, tapi bibirnya tersungging tipis. “Pengantin baru biasanya honeymoon, bukan muter kebun teh.”

“Ya kalau pengantin lainnya, iya,” balas Daren. “Pengantin model kita beda.”

“Beda banget,” gumam Nirmala.

Mereka berhenti di sebuah gazebo kayu kecil yang menjorok dari lereng bukit. Dari sana seluruh kebun terlihat—luas, hijau, dan tenang. Angin menggerakkan daun-daun teh seperti gelombang.

Daren duduk duluan. “Aku mau tanya sesuatu.”

Nirmala ikut duduk, meluruskan rambutnya yang tersapu angin. “Apa?”

Daren menatapnya, serius tapi lembut. “Kita abis ini tinggal di mana? Kamu mau tetap di kota kecil ini, atau ikut aku ke ibu kota?”

Pertanyaan itu sebenarnya sudah ia pikirkan sejak mereka menikah. Dia tahu hidup mereka tidak akan sederhana. Ada dendam yang harus dibalas, ada keluarga yang harus dihadapi, ada identitas yang harus dijaga.

Nirmala mengarahkan tatapannya ke perkebunan yang membentang jauh. “Aku suka di sini. Aku nyaman. Tapi…” ia menelan ludah, “kamu sendiri? Kamu kan punya perusahaan, keluarga. Mereka pasti nunggu kamu balik.”

Daren menggeser duduknya agar lebih dekat. “Kalau kamu mau tinggal di sini, aku bisa atur kantor cabang. Aku bisa bolak-balik.”

Nirmala menoleh, mengernyit. “Hah? Serius?”

“Aku serius sama semua yang berkaitan sama kamu,” jawab Daren tanpa ragu.

Nirmala memalingkan wajah, bukan karena malu, tetapi bingung. “Kamu nggak keberatan? Maksudnya… hidup di desa. Jauh dari teman-teman, dari keluarga.”

“Hidup di kota besar terus juga nggak bikin aku bahagia,” sahut Daren sambil mengangkat bahu. “Aku capek selalu disorot. Capek perempuan datang cuma karena harta. Capek drama.”

Kata-kata itu membuat Nirmala terdiam. Ia mengingat malam ketika Daren menemukannya diseret ke hotel. Laki-laki itu tidak kenal dia, tidak tau siapa dia, tapi tetap menolong.

Dan sekarang… menikahinya demi melindunginya.

Tidak banyak orang seperti itu.

Setelah hening beberapa detik, Nirmala berkata pelan, “Kalau aku ikut kamu ke ibu kota… orang tua kamu bakal marah nggak? Kamu datang-datang bawa istri tanpa izin. Tanpa perkenalan. Tanpa apa pun.”

Daren menyandarkan punggungnya. “Itu masalahnya. Aku nggak tau reaksi mereka. Ayahku keras, ibuku protektif. Mereka bakal kaget kalau tau aku nikah diam-diam.”

“Kamu takut?” tanya Nirmala.

Daren tertawa pendek. “Bukan takut. Lebih ke… mereka pasti punya banyak pertanyaan.”

“Soal aku?”

“Soal semua hal,” jawab Daren jujur. “Termasuk kenapa aku nikah secepat itu.”

Nirmala menunduk. “Terus… kamu mau aku ikut?”

“Aku mau kamu ada di sampingku,” ucapnya tegas.

“Tapi aku juga tahu kamu punya tanggung jawab di sini. Ayahmu udah percaya penuh sama kamu. Dia serahin kebun teh, sawah, tanah, dan kebun sawit ke kamu. Kamu nggak bisa tinggal pergi begitu saja.”

Itu benar. Ayahnya memberikan semuanya pada hari pernikahan. Bukan untuk menambah beban, tetapi sebagai bentuk dukungan dan perlindungan. Agar hartanya tidak jatuh ke tangan istri tirinya.

“Daren…” Nirmala memanggil pelan. “Kamu yakin mau masuk ke hidupku? Kamu lihat sendiri kan, ruwetnya kayak apa.”

Daren menatap matanya lekat. “Aku udah masuk dari malam itu, Mala. Mau kamu tolak atau terima, aku tetap akan ikut sampai semua ini selesai.”

Nirmala menggigit bibir. “Kamu nggak takut sama ibu tiriku?”

“Takut sama dia? Enggak.” Ia tersenyum miring. “Yang aku takut cuma kamu beneran nyuruh aku minggat nanti.”

Nirmala mendengus kecil. “Sok pede.”

“Harus dong.”

Mereka diam lagi beberapa detik, sampai Nirmala berdiri, menatap kebun teh sambil membuka kedua tangannya. “Kadang aku iri sama perkebunan ini.”

“Kenapa?”

“Soalnya tenang. Nggak pernah ribut. Nggak perlu mikirin siapa yang menusuk dari belakang.”

Daren memandangnya dari belakang. “Kalau kamu mau tenang, aku usahakan kamu dapat ketenangan. Mau di kota kecil atau kota besar. Mau di sini atau di sana.”

Nirmala menoleh perlahan. “Tapi keluarga kamu?”

“Aku urus.”

“Kalau mereka nggak terima aku?”

“Aku tetap pilih kamu,” jawab Daren tanpa ragu.

Kata-kata itu membuat jantung Nirmala berdebar. Ia tidak menunjukkannya, tapi sorot matanya melembut.

“Jadi,” lanjut Daren, “kamu mau tinggal di mana?”

Nirmala menarik napas panjang.

“Aku mau tetap di sini dulu. Sampai semua masalah sama ibu tiriku selesai. Sampai aku bisa pastikan usaha dan tanah peninggalan ibuku aman.”

Daren mengangguk. “Baik.”

“Tapi…” Nirmala melanjutkan.

“Hm?”

“Aku ikut kamu ke ibu kota setelah itu. Ketemu orang tua kamu. Kita jelasin semuanya.”

Daren mengangkat alis. “Termasuk cerita tentang… awal pertemuan kita?”

“Enggak,” sahut Nirmala cepat. “Yang itu kita edit dikit.”

Daren tertawa keras. “Oke, kita edit.”

Mereka berjalan lagi menuruni bukit. Angin bertiup lebih dingin, tapi langkah mereka lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, mereka merasa sedikit lebih seperti pasangan sungguhan—meski pernikahan mereka lahir dari situasi paling kacau yang bisa dibayangkan.

Namun di ujung jalan setapak, Nirmala berhenti dan menatap Daren dengan serius.

“Daren.”

“Ya?”

“Kamu janji ya… apa pun yang terjadi nanti, kamu jangan tinggalkan aku.”

Daren tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meraih tangan Nirmala dan menggenggamnya erat—seerat janji yang baru saja ia buat tanpa suara.

Dan untuk pertama kali sejak menikah… Nirmala percaya.

Assalamualaikum selamat sore

selamat membaca..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!