Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Siapa yang Mengawasiku?
Bagi Dinda, Sekar bukan sekadar teman satu jurusan di kampus; dia adalah sahabat terdekat yang sudah ia kenal sejak masa-masa awal orientasi mahasiswa. Dinda tahu betul bagaimana tabiat Sekar. Sahabatnya itu adalah tipe gadis yang ceria, sedikit ceroboh, dan selalu berjalan dengan langkah-langkah yang tergesa-gesa, sering kali membuat ujung flat shoes-nya berdecit keras menghantam lantai koridor kampus. Sekar yang asli adalah gadis biasa yang menyukai kopi susu instan dan selalu mengeluh setiap kali tugas kuliah menumpuk.
Namun, sejak insiden mengerikan yang menimpa Rian di koridor laboratorium pekan lalu, Sekar yang dikenal Dinda seolah-olah telah menguap, digantikan oleh sosok asing yang memakai tubuh sahabatnya.
Siang itu, di bawah langit mendung yang menggantung rendah di atas area kantin kampus, Dinda duduk memperhatikan Sekar yang berada di seberang mejanya. Gadis itu duduk diam, menatap lurus ke arah cangkir teh hangatnya yang sudah mendingin tanpa menyentuhnya sama sekali.
Ada perubahan yang teramat drastis pada diri Sekar. Dan perubahan itu tidak terjadi secara instan, melainkan merayap perlahan, mengubah detail-detail kecil dari fisiknya dengan cara yang membuat bulu kuduk Dinda meremang setiap kali mereka berdekatan.
Pertama, adalah cara duduknya. Sekar yang biasanya duduk dengan posisi sedikit membungkuk kini selalu tegak, teramat tegak, dengan punggung yang kaku seolah ada sebilah papan yang mengunci tulang belakangnya. Namun, kekakuan itu tidak terlihat canggung; ia justru memancarkan keanggunan kuno yang ganjil, mirip dengan gestur para penari keraton jawa zaman dulu yang sedang bersiap menarikan tarian sakral.
Kedua, dan yang paling mengganggu Dinda, adalah kulit wajah Sekar. Kulit yang biasanya sawo matang khas gadis tropis itu kini berubah menjadi putih pucat, dengan rona kelabu yang tipis di sekitar pelipisnya. Kulit itu terlihat teramat bersih, berkilau seperti lilin, namun kehilangan kehangatan alaminya. Ketika Dinda sempat tidak sengaja menyenggol lengan Sekar saat berjalan masuk ke kelas tadi pagi, sensasi yang dirasakannya membuat Dinda terenyak. Kulit Sekar sedingin es batu yang baru dikeluarkan dari lemari pembeku. Sedingin mayat.
"Sekar," Dinda memanggil lirih, mencoba memecah keheningan di antara mereka. Suara bising mahasiswa lain di kantin seolah teredam oleh hawa dingin yang mendadak menguar dari meja mereka.
Sekar tidak langsung menjawab. Dia memutar lehernya dengan gerakan yang teramat lambat, luwes, dan nyaris tanpa suara. Sendi-sendi lehernya bergerak sehalus kain sutra yang ditarik.
Ketika sepasang mata Sekar akhirnya mengunci pandangan Dinda, Dinda merasakan dadanya mendadak sesak. Tatapan mata Sekar terasa hampa, kosong, seolah-olah Dinda tidak sedang berbicara dengan seorang manusia, melainkan sedang menatap ke dalam lubang sumur tua yang dalam dan gulita. Pupil matanya sesekali melebar dan menyempit dengan ritme yang tidak wajar, tidak terpengaruh oleh intensitas cahaya matahari di sekitar mereka.
"Ya, Din? Ada apa?" tanya Sekar.
Suaranya pun berubah. Nada bicaranya yang biasanya cepat dan meledak-ledak kini berganti menjadi alun suara yang teramat lembut, mendayu-dayu, berirama lambat, dan memiliki getaran bariton halus di ujungnya yang entah bagaimana terasa menghipnotis. Suara itu terdengar terlalu berwibawa, terlalu tua untuk ukuran gadis berusia dua puluh dua tahun.
"P-perasaanmu gimana? Udah enakan?" Dinda memaksakan sebuah senyuman kecil, meski jemarinya di bawah meja meremas ujung kemejanya sendiri untuk menghalau rasa cemas yang mendadak merayap naik ke tenggorokannya. "Kamu... kelihatan beda banget hari ini. Agak pucat."
Sekar menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang teramat simetris, namun senyuman itu sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang tetap statis dan dingin.
"Aku baik-baik saja, Dinda. Sangat baik. Bahkan, aku merasa jauh lebih sehat dari sebelumnya. Beban di pundakku... rasanya sudah hilang," jawab Sekar pelan, tangannya bergerak mengelus pundak kanannya sendiri dari luar jubah kardigan hitam panjang yang dikenakannya.
Dinda menelan ludah. Ada sesuatu yang salah, sangat salah. Aroma di sekitar Sekar juga tidak lagi berbau parfum stroberi murah yang biasa sahabatnya itu semprotkan ke baju. Sejak satu jam lalu duduk bersama, hidung Dinda terus-menerus menangkap kelebatan bau harum yang ganjil—wangi bunga kenanga yang sangat matang, hampir busuk, bercampur dengan aroma dupa bakar yang samar namun pekat. Bau itu adalah bau khas yang biasanya hanya Dinda temui saat menghadiri acara pemakaman kuno di desanya atau saat melintasi pohon-pohon besar yang dikeramatkan.
Sore harinya, kelas terakhir dibatalkan karena rapat dosen. Langit kota sudah sepenuhnya menggelap ketika mereka berjalan keluar dari gedung fakultas menuju gerbang luar. Hujan gerimis mulai turun, menciptakan lapisan kabut tipis yang menyelimuti aspal jalanan kampus.
Dinda berjalan di samping Sekar, dan di sinilah ketakutan Dinda mulai berubah menjadi paranoia yang murni.
Dia memperhatikan cara Sekar berjalan. Kardigan hitam panjang yang dikenakan Sekar menjuntai hingga hampir menyentuh lantai konblok. Namun, saat Sekar melangkah, kain kardigan itu tidak melambai-lambai layaknya pakaian orang yang sedang berjalan kaki. Kain itu bergerak lurus, meluncur konstan.
Dinda menurunkan pandangannya, menatap ke arah ujung kaki Sekar.
Di bawah siraman lampu taman kampus yang temaram, Dinda bersumpah dia melihat sesuatu yang menentang logika fisik. Tubuh Sekar bergerak maju dengan kecepatan yang stabil, namun gerakannya teramat luwes, mengalir lancar tanpa ada hentakan naik-turun pada pinggul atau bahunya. Kedua kaki Sekar memang bergerak di balik kain panjangnya, namun langkahnya begitu ringan—hampir seperti selembar kapas yang ditiup angin. Ujung sepatunya seperti tidak pernah benar-benar menapak keras di atas permukaan bumi. Dia seperti melayang, atau lebih tepatnya... seperti beralih tempat dengan cara diseret oleh kekuatan tak kasat mata dari bawah tanah.
Sreeet... sreeet...
Suara gesekan yang teramat halus terdengar dari arah bawah baju Sekar setiap kali gadis itu maju satu langkah. Bukan suara gesekan kain katun, melainkan suara yang mirip dengan sisik kering yang bergeser di atas permukaan semen kasar.
"Sekar, kamu... kamu kok jalannya cepat banget?" Dinda mempercepat langkahnya, napasnya mulai tersengal-sengal mencoba mengimbangi pergerakan Sekar yang terkesan santai namun meluncur cepat menembus kabut gerimis.
Sekar tidak menoleh. Dia terus menatap lurus ke depan, menuju gerbang luar kampus yang sepi. "Kita harus cepat, Dinda. Hari sudah mulai malam. Dia... tidak suka menunggu terlalu lama."
"Dia? Siapa yang kamu maksud, Kar?" Dinda menghentikan langkahnya secara mendadak di tengah jalan setapak kampus yang dikelilingi pohon-pohon beringin besar. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat Sekar terdengar seperti sebuah igauan, namun diucapkan dengan nada yang teramat dingin dan yakin.
Sekar ikut menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Dinda. Dia berdiri membelakangi sahabatnya, diam mematung di bawah siraman satu-satunya tiang lampu jalan yang menyala di area tersebut. Cahaya merkuri kuning dari tiang lampu itu memancar tegak lurus dari atas, menjatuhkan bayangan tubuh Sekar dengan sangat kontras di atas permukaan dinding pembatas semen yang ada di sisi kiri jalan setapak.
Dinda bermaksud melangkah maju untuk memegang pundak Sekar, menuntut penjelasan atas semua keanehan ini. Namun, ketika matanya tidak sengaja melirik ke arah bayangan yang terpantul di dinding semen tersebut, seluruh persendian di tubuh Dinda mendadak lemas, mengunci dirinya dalam horor yang tak terlukiskan.
Di atas permukaan dinding semen yang basah oleh air gerimis, bayangan itu tidak merefleksikan wujud seorang gadis muda bertubuh ramping dengan kardigan panjang.
Cahaya lampu merkuri di atas kepala Sekar melemparkan sebuah siluet hitam yang teramat masif, tebal, dan mengerikan. Bayangan itu membumbung tinggi, melebar hingga tiga kali ukuran tubuh Sekar yang asli. Di dinding itu, tidak ada sepasang lengan manusia atau bentuk kepala berambut panjang.
Siluet itu adalah perwujudan seumpama ular raksasa berukuran purba yang sedang berdiri tegak.
Bagian bawah bayangan itu melilit tebal di sekitar bayangan kaki Sekar, sementara bagian badannya yang bersisik legam meliuk horizontal, memanjang di sepanjang beton sebelum akhirnya mencuat ke atas. Di bagian pucuk bayangan, terdapat lekukan leher yang kokoh dengan kepala reptil raksasa yang sedang mendongak kaku. Yang membuat dada Dinda kian sesak hingga hampir kehilangan kesadaran adalah: ketika tubuh Sekar yang asli berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun, bayangan ular raksasa di dinding itu justru hidup.
Kepala ular dalam bayangan itu bergerak meliuk lambat, menurunkan moncongnya yang tajam tepat di belakang bayangan kepala Sekar, seolah sedang berbisik atau menjilati tengkuk gadis itu dengan lidahnya yang bercabang.
Sreeet... sssss...
Suara desisan yang teramat tebal dan berat mendadak bergema di dalam rongga telinga Dinda. Suara itu bukan berasal dari angin malam, melainkan seolah-olah dipancarkan langsung oleh dinding semen yang memantulkan bayangan mengerikan tersebut.
Dinda melangkah mundur dengan tergesa-gesa hingga tumitnya tersandung akar pohon beringin di tepi jalan. Dia jatuh terduduk di atas tanah yang basah dan berlumpur. Mulutnya membuka lebar, mencoba berteriak memanggil satpam kampus atau siapa pun, namun pita suaranya seolah telah dilumpuhkan oleh rasa ngeri yang murni. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin bercucuran deras dari pelipisnya, mengalir bersama air hujan.
"M-mahluk apa itu..." bisik Dinda dengan bibir yang membiru kaku.
Seolah menyadari kepanikan yang terjadi di belakangnya, Sekar perlahan-lahan memutar tubuhnya menghadap Dinda. Gerakan memutar tubuh itu tidak melibatkan langkah kaki; bahu dan pinggulnya berputar dalam satu poros yang teramat luwes, persis seperti gerakan meliuk seekor ular saat berbalik arah di atas tanah.
Bersamaan dengan berputarnya tubuh Sekar, bayangan ular raksasa di dinding semen itu meluncur cepat, menyusut secara tidak wajar, dan kembali masuk teredam ke bawah kaki Sekar seolah bersembunyi di balik kain kardigan hitamnya.
Sekar melangkah mendekati Dinda yang masih terduduk ketakutan di atas tanah. Kali ini, Sekar berjalan tanpa suara sedikit pun. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa dua meter. Sekar merunduk, mensejajarkan wajah pucatnya dengan wajah Dinda.
Aroma bunga kenanga busuk kembali meledak di udara, begitu pekat hingga membuat mata Dinda perih dan berair.
Di bawah temaramnya lampu jalan, Dinda bisa melihat dengan sangat jelas bahwa kornea mata Sekar sesaat tampak berkilat memancarkan pendar kuning keemasan yang redup. Pupil matanya menyempit membentuk satu garis vertikal yang tajam, sebelum akhirnya kembali normal dalam sekali kedipan lambat.
"Kamu melihatnya, Dinda?" tanya Sekar.
Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara sahabatnya. Ada lapisan suara bariton ganda yang berat dan bergetar di balik setiap kata yang diucapkannya—suara Kalingga yang berbicara melalui pita suara Sekar. Senyuman di bibir Sekar melebar secara tidak wajar, menampilkan deretan gigi yang teramat putih dengan sudut taring yang tampak lebih meruncing daripada manusia biasa.
"K-kamu... kamu bukan Sekar..." Dinda terisak, air matanya tumpah. Dia mencengkeram rumput basah di bawahnya, berusaha mendorong tubuhnya menjauh dari sosok di hadapannya.
Sekar terkekeh pelan. Suara tawa itu terdengar begitu dingin, kering, dan bergema aneh di tengah keheningan jalan setapak yang diguyur gerimis. Dia mengulurkan tangan kanannya, berniat membantu Dinda berdiri. Namun, saat melihat jemari Sekar yang panjang dengan kuku-kuku yang tampak mengeras dan berkilat gelap seperti sisik, Dinda menepis tangan itu dengan panik.
"Jangan sentuh aku! Pergi!" jerit Dinda histeris.
Sekar menarik kembali tangannya tanpa rasa kesal. Dia berdiri tegak kembali dengan postur kaku yang anggun.
"Pulanglah, Dinda. Ini sudah malam. Sampaikan salamku pada dunia... bahwa upacara itu akan segera dimulai," ucap Sekar dengan nada yang teramat datar dan monoton, seolah dia sedang merapalkan sebuah mantra kuno.
Tanpa menunggu jawaban dari Dinda, Sekar berbalik arah dan melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang luar kampus. Dia berjalan membelah kabut gerimis dengan gerakan meluncur yang teramat cepat, hampir seperti tidak menyentuh permukaan bumi, hingga akhirnya sosoknya yang dibalut kardigan hitam panjang lenyap ditelan kegelapan malam di ujung jalan.
Dinda masih terduduk sendirian di atas tanah, menangis terisak-isak di bawah guyuran hujan yang kian menderas. Pikirannya terguncang hebat. Dia tidak sedang berhalusinasi. Apa yang dilihatnya di dinding semen tadi adalah sebuah kebenaran yang objektif dan mengerikan: Sahabatnya, Sekar, tidak lagi berjalan sendirian di dunia ini. Ada seonggok monster gaib yang teramat besar dan kuat yang kini menetap, menjaga, dan perlahan-lahan mulai mengambil alih seluruh jiwa dan raga gadis itu dari dalam bayang-bayangnya.
Teror itu tidak lagi menjadi rahasia milik Sekar seorang. Mahluk bernama Kalingga itu telah menunjukkan eksistensinya pada orang luar, mengonfirmasi bahwa Sekar adalah miliknya, dan tidak akan ada satu manusia pun yang bisa menghentikan proses kepemilikan tersebut.