Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi?
"Mi...Emina!" Levi berulang kali menggoyangkan badan Emma, namun Emma tidak juga sadarkan diri. Badannya terkulai lemas seperti tanpa tulang dan keluar cairan merah dari hidungnya, membuat Levi semakin ketakutan.
Tanpa pikir panjang lagi, Levi menggendong Emma dan berlari sangat kencang ke Parkiran untuk segera membawa Emma ke Rumah Sakit. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu, dan wajahnya pucat. Levi takut sesuatu yang buruk terjadi pada Emma.
"Bertahanlah Mi."
Tangan Levi bergetar hebat ketika ia mencoba untuk membersihkan hidung Emma yang sudah berlinangkan darah.
"Kumohon bertahanlah," gumamnya sambil memutar stirnya dengan masih bergetar dan hampir menangis.
.
.
Sesampainya di RS. Bina Husada, Levi langsung memanggil petugas di IGD dan mereka pun langsung berlari ke mobil membawa tandu.
"Apa yang terjadi pak?" Salah satu petugas menanyai Levi ketika berhasil memindahkan Emma dari mobil ke ranjang IGD.
"Ta-tadi di-dia ping ping ping," Levi terbata-bata.
"Tarik nafas dulu pak...lalu hembuskan," ucap petugas itu.
"Tadi dia pingsan, a-aku sudah coba sadarkan dia masih seperti itu. Lalu dia malah mimisan," jelas Levi.
"Sebentar... Bukankah dia, ehem Bapak tidak usah khawatir, kami akan melakukan tindakan. Anda lebih baik menunggu di luar." Perintah dokter yang bertugas di IGD tersebut.
"Ta-tapi.."
Levi ingin sekali menemani Emma, akan tetapi dokter itu menahannya dan menyuruhnya dengan sangat tegas. Jadi Levi berusaha mengalah demi kebaikan Emma.
Setelah menunggu lebih dari satu jam, Levi sudah diperbolehkan untuk menunggui Emma.
Melihat betapa pucat dan tak berdayanya Emma di ranjang itu, membuat dada Levi terasa dihunjam oleh tombak besar tajam.
"Kenapa kamu belum sadar juga?"
"Apa yang terjadi?"
Perlahan Levi menyentuh dan mengangkat telapak tangan Emma, lalu mendekatkannya ke pipinya. Ia ingin merasakan hangat tangannya untuk sekedar meyakinkan dirinya kalau Emma masih berada disana bersamanya.
Beberapa menit kemudian datanglah dua orang yang berumur sekitar 60 tahunan, berwajah mirip dengan Emma berjalan cepat menghampiri setiap bilik.
"Emma....dimana" Gumam Ibu-ibu itu.
Lalu mata kedua orang tua itu terpaku pada tempat Levi duduk. Wajah mereka yang semula sudah pucat, bertambah abu-abu seperti darah mereka berhenti mengalir.
"Emma!" Teriak Bu Tiwi, Ibu Emma.
'Emma?' batin Levi, 'mungkin ibu ini salah orang.'
"Maaf Bu, sepertinya Ibu sal-" belum juga Levi menyelesaikan kalimatnya, Bu Tiwi merangkul tubuh Emma yang terbujur lemas sambil menangis tanpa henti.
Ditengah adegan pilu itu, Pak Izul menoleh ke arah Levi yang merupakan orang asing baginya.
"Siapa?" Tanya Pak Izul.
"Sa-saya temannya Bu Emina," levi sengaja menekan kata Emina untuk mencari validasi dari pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Awalnya Pak Izul sempat kebingungan, namun otaknya dengan cepat menangkap situasi yang terjadi saat itu.
"Oh, teman kerja Emina ya? Terimakasih ya nak, kamu sudah membawa anak saya ke Rumah Sakit."
"Tidak masalah Pak," jawabnya.
Lalu keheningan mengudara di sekitar mereka. Hanya suara isakan tangis dari Bu Tiwi yang terdengar, membuat hati Levi semakin teriris.
"Mm... Nak, kamu sudah boleh pulang. Biar kami yang mengurusnya. Terimakasih sekali lagi," ucap Pak Izul memecah kesunyian diantara keduanya.
Sebenarnya Levi masih tidak rela untuk meninggalkan Emma. Namun bagaimanapun, sekarang Emma lebih membutuhkan keluarganya dibandingkan dirinya. Jadi Levi memilih untuk menurutinya. Toh, besok dia bisa membesuk kembali.
.
.
.
Keesokan harinya setelah menyelesaikan jadwal mengajarnya, Levi langsung beranjak untuk membesuk Emma.
"Aduh, udah jam segini lagi. Semoga nggak kena macet!" Gumamnya ketika melihat jam tangannya yang menunjukkan jam empat sore.
Dengan menancap gas, Levi melaju secepat yang mampu ia lakukan.
Setibanya ia ke Rumah Sakit, ia langsung bertanya ke resepsionis tentang kamar tempat Emma dipindahkan.
"Kamar Anyelir... Anyelir anyelir," berulang kali ia bergumam dan mengikuti palang petunjuk arah.
"Oke, ini dia," akhirnya Levi sampai ke Kamar Anyelir nomor 5. Sebelum memasuki kamar itu, Levi berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Selain itu, ia menenangkan dirinya dari kemungkinan terburuk yang ia bayangkan.
Dari sudut pintu, Levi bisa melihat bahwa Emma sudah duduk tersenyum menatap lurus kedepan di kasur dengan selimut biru itu. Hatinya melega, seperti tertiup angin segar kini ia bisa merasa melonggarkan otot kaku di pundaknya.
Akan tetapi, saat Levi hendak melangkahkan kakinya masuk ke kamar, ia melihat orang lain yang bukan orang tua Emma sedang berdiri tepat di depan Emma yang tersenyum.
'Bukannya itu pacarnya?' batin Levi bergemuruh. Spontan ia berbalik dan berdiam diri di depan pintu.
'Memangnya kenapa kalau dia bersama pacarnya? Niatku kan hanya menjenguk. Tidak masalah kalau ada pacarnya kan?'
Dalam hati ia bisa berkata tenang seperti itu, tapi dalam kenyataannya pemandangan bahagia itu membuatnya sakit.
Kemudian, Levi memantapkan dirinya untuk tetap melangkah ke depan menuju orang yang semalaman membuat kepalanya mau pecah karena tidak bisa berhenti memikirkannya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki Levi menarik perhatian Emma yang seketika menoleh kearahnya.
"Levi?" Panggil Emma.
"Gimana keadaanmu?" Levi langsung menanyakan keadaan Emma tanpa menyapa orang lain yang berada disana.
"Udah mendingan kok, tenang aja!" Tejo dengan sesuka hati menjawab pertanyaan yang tidak ditujukan untuk dirinya.
'Aku nggak ngomong sama kamu,' tanpa disadari Levi malah menatap tajam Tejo penuh amarah.
"Iya, aku baik-baik aja Vi, makasih ya udah nolongin aku."
Levi tidak menyangka hanya dengan panggilan nama itu bisa membuat hatinya menghangat.
"Kamu boleh pergi," ucap Emma pada Tejo yang malah duduk di sofa.
"Aku? Kenapa?" Tanya Tejo bingung. Berbanding terbalik dengan Levi yang malah sumringah mendengar Emma mengusir pacarnya.
"Pokoknya pergi, dan jangan lupa dengan titipanku!"
'Hahaha, rasain!' Levi menahan tawanya hanya di kepalanya membuat ekspresi yang ia keluarkan menjadi agak aneh.
"Haish ck, baiklah... Kalau ada apa-apa kabari saya saja ya, Bu!" Ucap Tejo membuat Levi merasa janggal.
Setelah Tejo pergi dari kamar Emma, Levi menatap Emma dan bertanya, " Bu? "
"Kenapa?" Emma tidak kalah bingungnya.
"Bukannya dia pacarmu? Kok manggil kamu bu?"
"Pacar? Siapa? Dia sama aku? Eyyy... Nggak mungkin."
"Terus kalian ini apa?" Tanya Levi.
"Dia juniorku. Kita sempat bekerja bareng. Lebih tepatnya dia partnerku," jawab Emma.
"Ou...." Levi hanya mengangguk tanpa berniat bertanya lebih lanjut. Baginya, mengetahui kalau dia bukan pacar Emma itu sudah cukup membuatnya puas.
Lalu atmosfer kembali sunyi hingga Emma melontarkan pertanyaan yang tidak pernah diduga oleh Levi sebelumnya.
"Jadi Vi, apakah kamu bisa membantuku meminta sampel DNA dari orang tua Dion?"
Pertanyaan Emma seperti petir di siang bolong. DNA Dion?
Levi terdiam dengan mulutnya yang terbuka.
.
.
.