Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Gang kontrakan Kirana tampak biasa ketika mobil berhenti di jalan besar.
Terlalu biasa.
Warung kopi di ujung gang masih buka. Dua bapak bermain catur. Anak-anak remaja duduk di atas motor, tertawa menonton video. Tidak ada tanda orang asing, tidak ada keributan, tidak ada pintu rusak.
Justru itu yang membuat Kirana makin takut.
Raka turun lebih dulu. Bima mengikutinya dengan dua pria berpakaian sipil yang sejak tadi berada di mobil lain. Kirana melihat itu, tapi tidak sempat bertanya.
Laras menggenggam tangannya. "Ki..."
"Aku simpan fotonya di kotak beras."
Laras menatapnya. "Serius?"
"Saat itu terdengar masuk akal."
Mereka berjalan cepat menyusuri gang. Di depan kontrakan, pintu tampak tertutup. Gembok kecil masih menggantung, tapi posisinya aneh.
Raka mengangkat tangan, memberi isyarat agar Kirana tetap di belakang.
Kirana hampir protes, tapi kali ini ia menurut.
Bima memeriksa pintu. "Sudah dibuka paksa lalu dipasang lagi."
Raka menatapnya dingin. "Buka."
Begitu pintu terbuka, Kirana langsung masuk.
Ruang depan berantakan. Tikar tergulung kasar. Laci meja plastik terbuka. Tas kecilnya dilempar ke lantai. Baju-baju di kamar dikeluarkan dari lemari murah.
Kirana berlari ke dapur.
Kotak beras terbuka.
Plastik di dalamnya hilang.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri.
Raka masuk di belakangnya. "Kirana."
"Hilang."
Suaranya datar.
Terlalu datar.
Laras menutup mulut.
Bima memberi instruksi pada dua orangnya untuk memeriksa sekitar. Salah satu tetangga muncul di depan pintu, panik melihat banyak orang.
"Mbak Kirana? Tadi ada dua orang masuk. Katanya saudara, disuruh ambil barang."
Kirana menoleh. "Siapa?"
"Satu perempuan pakai masker, satu laki-laki. Saya kira benar saudara karena mereka tahu nama Mbak."
Bu Ratna.
Atau orangnya.
Raka menatap Bima. "Cari."
Bima langsung mengangguk dan keluar menelepon.
Kirana berjongkok di depan kotak beras. Tangannya masuk ke dalam butiran beras, seolah foto itu mungkin terselip di dasar.
Tidak ada.
Raka berjongkok di sampingnya.
"Kita akan dapatkan kembali."
Kirana tertawa pelan.
Suara itu membuat Laras merinding.
"Dari kecil semuanya diambil. Nama ibuku. Barangku. Gelangku. Sekarang foto satu-satunya juga."
"Kirana..."
"Jangan bilang kamu akan urus."
Raka diam.
Kirana menatapnya. "Jangan bilang begitu kalau aku bahkan belum tahu kamu siapa."
Raka menghela napas.
Tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi.
"Nama lengkap saya Raka Mahendra."
Kirana menunggu.
"Mahendra Group milik keluarga saya. Saya pemegang kendali utama, meski secara resmi beberapa posisi dipegang Bima dan dewan direksi."
Laras duduk perlahan di kursi plastik. "Ya Allah."
Kirana tidak bergerak.
Raka melanjutkan, "Saya datang ke keluarga Hendra karena gelang itu. Dulu kakekmu... kakek Nadira, maksud saya, pernah berjanji pada keluarga saya setelah tahu saya mencari pemilik gelang. Dia bilang cucunya punya gelang itu. Saya belum sempat memastikan semuanya saat Nadira menjebak kita."
"Jadi kamu bukan sopir Bima."
"Tidak."
"Bima bekerja untukmu."
"Iya."
"Mobil itu milikmu."
"Iya."
Laras yang duduk di belakang memilih diam. Ia tahu ini bukan saatnya bertanya, walau kepalanya penuh tanda tanya. Mobil yang menunggu di luar, Bima yang terlalu patuh, dan Raka yang tiba-tiba terasa jauh dari ruang kontrakan membuat malam itu seperti membuka pintu ke dunia lain.
Pintu yang belum tentu bisa ditutup lagi.
Dan mereka semua sudah terlanjur melangkah masuk.
"Cicilan delapan juta?"
Raka menatap Bima yang baru kembali ke pintu, lalu kembali pada Kirana.
"Mobil itu memang tergores. Tapi kalau saya bilang tidak perlu diganti, kamu akan marah."
Kirana berdiri.
Raka ikut berdiri.
Kirana menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu membiarkan aku menghitung uang makan, mencemaskan sewa, mengambil shift malam..."
"Saya mencoba membantu."
"Dengan berbohong."
"Dengan menunggu waktu."
"Itu nama lain dari berbohong kalau orang yang ditunggu tidak tahu apa-apa."
Raka menerima kalimat itu seperti pukulan.
Laras berdiri canggung. "Ki, aku..."
Kirana mengangkat tangan. "Tidak apa-apa, Ras."
Raka berkata pelan, "Saya salah."
Kirana tertawa pendek. "Akhirnya ada jawaban jelas."
"Saya takut kalau saya membuka semuanya terlalu cepat, kamu mengira saya sama seperti mereka. Mengatur hidupmu dengan uang."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya terlambat."
Hening.
Di luar, Bima menerima panggilan. Ia menutupnya dan masuk.
"Pak, kami dapat pelat motor. Mobil itu menuju rumah Bu Ratna."
Kirana langsung mengambil tas.
Raka menahan. "Kamu mau ke sana?"
"Tentu."
"Dengan emosi seperti ini?"
"Foto itu milikku."
"Saya ikut."
"Aku tidak butuh izin."
"Saya tidak memberi izin. Saya menemani."
Kirana menatapnya tajam, tapi tidak menolak.
Mereka pergi ke rumah Hendra dengan mobil Raka. Sepanjang jalan, tidak ada yang bicara. Laras ikut duduk di belakang, memegang ponsel Kirana karena tangan sahabatnya terlalu dingin.
Di rumah Hendra, Bu Ratna tampak tidak terkejut melihat mereka.
Nadira berdiri di belakang ibunya, wajahnya pucat tapi angkuh.
Pak Hendra keluar dari ruang kerja dengan bingung. "Ada apa lagi?"
Kirana tidak basa-basi.
"Kembalikan foto-fotoku."
Bu Ratna mengangkat alis. "Foto apa?"
"Jangan bohong."
Pak Hendra menatap istrinya. "Ratna?"
Bu Ratna berkata dingin, "Kirana masuk malam-malam dan menuduh tanpa bukti. Ini kebiasaan buruk."
Raka melangkah maju.
Pak Hendra baru memperhatikan orang-orang di belakang Raka. Bima. Dua pria berpakaian sipil. Mobil hitam di luar.
Wajahnya berubah.
"Raka... sebenarnya kamu..."
Bima menjawab formal, "Selamat malam, Pak Hendra. Saya Bima, Direktur Operasional Mahendra Group."
Pak Hendra kaku. "Saya tahu."
Bima menoleh pada Raka. "Dan ini Pak Raka Mahendra, pemegang kendali Mahendra Group."
Ruangan itu hening total.
Nadira seperti kehilangan warna dari wajahnya.
Bu Ratna menggenggam sandaran sofa.
Pak Hendra menatap Raka dengan mulut sedikit terbuka.
"Raka... Mahendra?"
Raka tidak menikmati keterkejutan itu. Matanya tetap pada Bu Ratna.
"Foto Kirana."
Bu Ratna mencoba bertahan. "Saya tidak tahu..."
Raka mengeluarkan ponsel. "Orang yang masuk kontrakan Kirana tertangkap kamera jalan. Mobilnya terdaftar atas nama sopir pribadi keluarga Hendra. Kami bisa lanjut ke polisi malam ini."
Pak Hendra menoleh pada istrinya. "Ratna!"
Bu Ratna terdiam.
Nadira tiba-tiba berkata, "Ma, kembalikan saja."
Bu Ratna menatapnya tajam.
Nadira gemetar. Semua rencananya runtuh dalam satu malam. Raka bukan sopir. Bukan laki-laki miskin. Bukan beban yang ia buang.
Ia adalah Raka Mahendra.
Dan sekarang laki-laki itu berdiri di pihak Kirana.
Bu Ratna akhirnya berjalan ke meja kecil, membuka laci, dan mengeluarkan amplop foto.
Kirana maju, tapi Raka menahan sebentar.
Bima mengambil amplop itu dulu, memeriksa isinya, lalu menyerahkan pada Kirana.
Foto Safira.
Foto bayi Kirana.
Kantong kain kosong.
Semua kembali.
Kirana menggenggamnya erat.
Pak Hendra melihat foto itu dari samping. Wajahnya berubah saat melihat Safira menggendong bayi.
"Safira..." bisiknya.
Kirana menoleh. "Jangan sebut namanya seolah kamu merindukannya."
Pak Hendra terpukul.
Bu Ratna berkata, "Foto lama tidak membuktikan apa pun."
Kirana menatapnya. "Mungkin. Tapi cukup membuktikan kalian mencuri barangku."
Raka berkata pada Bima, "Buat laporan. Tidak malam ini jika Kirana belum siap, tapi semua bukti disimpan."
Bu Ratna menatapnya dengan marah. "Kamu mau menghancurkan keluarga kami?"
Raka menjawab datar, "Kalian sudah melakukannya sendiri."
Nadira melangkah mendekat. Suaranya bergetar.
"Raka, aku tidak tahu soal foto itu."
Raka menatapnya.
Dulu Nadira selalu yakin matanya bisa membuat laki-laki luluh.
Malam ini tidak.
"Kamu tahu gelang itu bukan milikmu?"
Nadira terdiam.
Itu jawaban.
Raka mengalihkan pandangan, seolah melihatnya lebih lama hanya membuang waktu.
"Kirana, kita pergi."
Kirana menatap Pak Hendra, Bu Ratna, dan Nadira satu per satu.
"Mulai sekarang, jangan sentuh barangku. Jangan sentuh hidupku. Dan jangan pernah lagi bicara seolah kalian keluarga yang berhak mengaturku."
Pak Hendra membuka mulut, mungkin ingin memanggilnya, mungkin ingin meminta maaf. Kirana tidak menunggu. Ia sudah terlalu sering menunggu kalimat baik dari rumah itu, dan hampir semuanya datang terlambat atau tidak datang sama sekali.
Ia keluar.
Raka mengikuti.
Di mobil, Kirana memeluk map foto dan tidak bicara.
Raka juga diam.
Rahasia sudah terbuka.
Tapi kepercayaan tidak otomatis kembali hanya karena kebenaran akhirnya datang.