Kisah dewasa (mohon berhati-hati dalam membaca)
Areta dipaksa menjadi budak nafsu oleh mafia kejam dan dingin bernama Vincent untuk melunasi utang ayahnya yang menumpuk. Setelah sempat melarikan diri, Areta kembali tertangkap oleh Vincent, yang kemudian memaksanya menikah. Kehidupan pernikahan Areta jauh dari kata bahagia; ia harus menghadapi berbagai hinaan dan perlakuan buruk dari ibu serta adik Vincent.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Ketenangan pagi itu terpecah oleh suara ketukan pintu yang ritmis dan sopan.
Vincent, yang masih setia mengusap perut Areta, menghela napas pendek.
Ia tahu persis siapa di balik pintu itu tanpa harus bertanya.
"Masuk," perintah Vincent dengan suara barunya dingin dan otoriter.
Jonas melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang rapi, membawa tablet di tangannya.
Ia menunduk hormat, berusaha mengabaikan pemandangan intim di atas ranjang.
"Maaf mengganggu, Tuan. Jet pribadi klien dari Rusia sudah mendarat. Mereka sudah menunggu di lounge hotel Ritz-Carlton. Pertemuan ini menyangkut jalur distribusi di Eropa Timur yang sempat tertunda," lapor Jonas singkat dan padat.
Vincent terdiam sejenak, menatap Areta yang masih bersandar manja di bahunya.
Rasanya ia ingin membatalkan semua urusan dunia ini hanya untuk tetap berada di samping istrinya. Namun, ia tahu keamanan mereka di Paris juga bergantung pada pengaruh bisnisnya.
"Baiklah. Siapkan mobil dalam sepuluh menit," ucap Vincent. Ia kemudian menoleh ke arah
Areta, menggenggam kedua tangannya. "Sayang, aku harus bekerja sebentar. Kamu istirahatlah di sini. Jangan ke mana-mana sampai aku kembali, mengerti? Apartemen ini sudah dijaga ketat."
Areta mengerucutkan bibirnya sedikit, terlihat mulai bosan meski baru saja bangun tidur.
"Vin, masa aku hanya diam di kamar seharian? Tubuhku pegal semua. Nanti siang aku ke mall boleh? Aku ingin melihat beberapa perlengkapan bayi dan mungkin baju baru untukku."
Vincent seketika menghentikan gerakannya yang hendak beranjak dari ranjang.
Dahinya berkerut dalam. "Mall? Tempat umum yang ramai itu? Tidak, Areta. Terlalu berisiko."
"Vin, ini Paris, bukan kota lama kita. Lagi pula, Jonas bilang tempat ini sudah aman, kan?"
Areta menatap suaminya dengan tatapan puppy eyes yang menjadi kelemahannya.
"Hanya sebentar, aku janji dikawal anak buahmu."
Vincent menghela napas panjang, tampak sedang berperang dengan insting protektifnya yang berlebihan.
Ia tidak bisa menolak keinginan istrinya, apalagi jika menyangkut kebutuhan calon anaknya.
Ia merogoh saku jas yang tergantung di kursi, lalu mengeluarkan dompet kulitnya.
Vincent menarik tidak hanya satu, melainkan tiga buah Black Card sekaligus dan meletakkannya di atas nampan sarapan Areta.
"Gunakan ini. Beli apa pun yang kamu mau. Satu mall itu pun boleh kamu beli kalau perlu," ucap Vincent dengan nada mutlak.
"Tapi dengan satu syarat: Jonas akan mengatur sepuluh pengawal untuk mengikutimu secara kasat mata, dan kau harus pulang sebelum matahari terbenam."
Areta membelalak melihat deretan kartu tanpa limit di depannya. Ia tertawa senang dan langsung menghambur memeluk leher Vincent, memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi suaminya.
"Terima kasih, Suamiku yang paling tampan!"
Vincent hanya bisa menggelengkan kepala, senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia berdiri dan merapikan kemejanya. "Jonas, pastikan tim keamanan mengosongkan lantai toko mana pun yang akan ia masuki. Aku tidak ingin ada orang asing yang menyenggolnya."
"Siap, Tuan," jawab Jonas tegas.
Sebelum melangkah keluar, Vincent kembali berbalik dan menunjuk ke arah kartu-kartu itu.
"Ingat, Areta. Jika aku mendengar kau kelelahan atau kakimu bengkak karena terlalu banyak berjalan, aku akan menyita semua kartu itu dan mengurungmu di kamar ini selamanya."
"Siap, Tuan Besar De Luca!" sahut Areta dengan nada hormat yang dibuat-buat namun penuh kebahagiaan.
Setelah kepergian Vincent yang terburu-buru, apartemen itu kembali menjadi sunyi dan tenang.
Areta menatap tiga buah Black Card di atas nampan sarapannya dengan senyum geli.
Ia tahu, bagi Vincent, uang adalah cara termudah untuk menunjukkan perlindungan, sementara baginya, itu adalah tiket untuk sedikit menghirup udara kebebasan.
Tubuhnya masih terasa pegal dan kulitnya terasa hangat setelah malam yang panjang dan penuh gairah tadi.
Areta memutuskan untuk tidak terburu-buru. Ia melangkah menuju kamar mandi utama yang lebih mirip dengan spa pribadi.
Dindingnya terbuat dari marmer putih Italia, dengan bathtub berdiri bebas (freestanding) yang menghadap langsung ke jendela besar dengan pemandangan kota Paris.
Areta memutar keran emas, membiarkan air hangat mengalir deras.
Ia menuangkan minyak esensial aroma mawar dan lavender, serta segenggam garam mandi untuk merilekskan otot-ototnya.
Sambil menunggu bak mandi penuh, Areta melepas gaun tidurnya di depan cermin besar.
Ia mengusap perutnya yang masih rata, namun ia bisa merasakan perubahan kecil di sana.
"Kita akan pergi belanja, Sayang. Papa sudah memberikan kartunya," bisiknya sambil tersenyum.
Areta perlahan menenggelamkan tubuhnya ke dalam air hangat yang berbusa.
Ia memejamkan mata, membiarkan rasa hangat menyelimuti setiap inci kulitnya.
Pikirannya melayang pada perubahan hidupnya yang drastis dari seorang tawanan, menjadi istri yang dicintai, dan kini calon ibu di kota paling romantis di dunia.
“Vincent benar-benar sudah berubah,” batinnya.
Meskipun sisi monsternya masih ada, pria itu kini meletakkan kebahagiaan Areta di atas segalanya.
Sementara itu, suasana di lounge mewah hotel Ritz-Carlton terasa membeku. Vincent duduk di kursi kulit besar dengan kaki bersilang, tatapannya tajam dan dingin menusuk dua pria Rusia di depannya.
Di lehernya, kalung pemberian Areta tersembunyi di balik kemeja mahalnya, menjadi satu-satunya benda yang menjaga emosinya tetap stabil.
"Tuan De Luca, kami hanya ingin jaminan bahwa jalur distribusi di pelabuhan Marseille tetap terbuka," ucap salah satu pria Rusia dengan nada gemetar.
Vincent menyesap kopinya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu dengan denting pelan yang terdengar seperti ancaman.
"Jaminan?" Vincent menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat lawan bicaranya berkeringat dingin.
"Jaminanku adalah kepatuhan kalian. Jika ada satu paket saja yang hilang atau terlambat, aku tidak akan hanya menutup jalur itu. Aku akan memastikan kalian tidak punya tangan lagi untuk menandatangani kontrak apa pun."
Jonas yang berdiri di belakang Vincent melirik jam tangannya.
Ia tahu pikiran tuannya saat ini sedang terbagi. Vincent ingin segera menyelesaikan urusan ini agar bisa memastikan istrinya tidak membuat keributan di mall.
"Selesaikan dokumennya sekarang," perintah Vincent mutlak.
"Aku punya urusan yang jauh lebih penting daripada mendengarkan alasan kalian."
Satu jam kemudian, Areta keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambutnya. Kulitnya tampak merona segar dan wangi bunga mawar terpancar dari tubuhnya.
Ia memilih pakaian yang nyaman namun tetap elegan untuk jalan-jalan di Paris: sebuah dress rajut berwarna krem yang lembut dan coat panjang berwarna senada.
Ia mengambil tas tangannya, memasukkan tiga Black Card pemberian Vincent, dan melangkah menuju pintu depan.
Di sana, sepuluh pria bertubuh tegap dengan jas hitam dan alat komunikasi di telinga sudah berdiri siaga.
Jonas menghubungi Areta dan mengatakan kalau mobil sudah siap.
"Sudah siap, Nyonya? Mobil sudah siap, dan kami sudah memesan akses privat di Galeries Lafayette untuk Anda."
Areta tertawa kecil melihat betapa seriusnya pengawalan ini.
"Jonas, apakah mereka semua harus ikut masuk ke toko baju dalam?"
"Instruksi Tuan Vincent sangat jelas, Nyonya. Satu orang di depan, satu di belakang, dan sisanya memantau radius sepuluh meter. Kami tidak ingin ada insiden 'burung menabrak kaca' lagi."
Iring-iringan mobil mewah itu berhenti tepat di depan lobby utama Galeries Lafayette.
Areta turun dengan anggun, namun ia segera berbalik menatap sepuluh pria berwajah sangar yang hendak mengikutinya masuk.
"Kalian, tolong jangan terlalu dekat. Aku ingin merasa seperti orang normal hari ini. Berjagalah di jarak yang aman, mengerti?" pinta Areta tegas.
Para pengawal itu saling pandang sejenak, ragu karena perintah Vincent sangat mutlak. Namun, melihat sorot mata Areta yang tidak bisa dibantah, mereka akhirnya menganggukkan kepala serempak dan mundur beberapa langkah untuk memberi ruang.
Areta melangkah masuk ke dalam butik gaun pesta high-end.
Matanya langsung tertuju pada sebuah gaun malam berwarna biru safir dengan payet yang berkilauan indah di bawah lampu kristal. Namun, saat ia baru saja hendak menyentuh kain sutranya, seorang pelayan butik dengan riasan tebal menghampirinya dengan tatapan meremehkan.
"Maaf, Nona. Area ini hanya untuk pelanggan serius. Gaun itu harganya lebih mahal dari seluruh pakaian yang Anda kenakan saat ini," ucap pelayan itu dengan nada mengejek yang kental.
Areta mengernyitkan dahi, namun tetap berusaha tenang.
"Saya ingin mencobanya. Bisa ambilkan yang ukuran saya?"
Bukannya melayani, pelayan itu malah tertawa terbahak-bahak seolah Areta baru saja melontarkan lelucon konyol.
"Mencoba? Jangan bercanda. Kamu hanya akan merusak kainnya dengan keringatmu!"
Kesal karena Areta tetap diam di sana, pelayan itu tiba-tiba mendorong bahu Areta dengan kasar.
"Pergi dari sini!"
Areta tersentak, keseimbangannya goyah karena ia mengenakan sepatu hak tinggi.
Tepat saat ia hampir terjatuh, sebuah tangan kokoh menarik pinggangnya dengan sigap, menahan tubuhnya agar tidak menghantam lantai marmer.
"Hati-hati," bisik suara berat seorang pria.
Pria itu membantu Areta berdiri tegak dan menuntunnya untuk duduk di sofa beludru mewah di tengah butik.
Areta mendongak dan melihat seorang pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi.
Pelayan butik itu seketika pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat siapa pria yang baru saja menolong Areta.
"T-Tuan Alfredo..."
Alfredo, pemilik butik sekaligus rekan bisnis lama keluarga De Luca, menatap pelayan itu dengan sorot mata yang bisa membekukan darah.
"Beraninya Kamu menyentuh tamu kehormatanku?"
"Saya pikir dia hanya orang biasa yang ingin masuk, Tuan," gagap pelayan itu.
"Wanita ini adalah Nyonya De Luca. Istri dari Vincent De Luca," ucap Alfredo dengan nada dingin yang menusuk. "Dan kamu tidak hanya memalukan butik ini, tapi kau juga sudah menggali liang kuburmu sendiri. Pergi dari sini. Kau dipecat!"
Alfredo kemudian berbalik ke arah Areta, membungkuk sedikit dengan penuh rasa hormat.
"Maafkan atas ketidaknyamanan ini, Nyonya. Saya akan memastikan Vincent tidak perlu mendengar bahwa istrinya diperlakukan seperti ini di tempat saya. Mari, gaun apa pun yang Anda inginkan hari ini, adalah hadiah dari saya."
Areta masih sedikit terkejut, namun ia menghela napas lega.
Di luar butik, ia bisa melihat sepuluh pengawalnya sudah bersiap menarik senjata, dan ia tahu jika Alfredo tidak muncul, butik ini mungkin sudah rata dengan tanah dalam hitungan detik.
semngat terus Thor, kutunggu karyamu selanjutnya 🙏🙏
lanjut Thor💪😘