menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertambah nya dari 2 jadi 4
Asap hitam perlahan menghilang.
Dua sosok melangkah maju dari balik kabut, langkah mereka tenang—terlalu tenang untuk sebuah penyergapan.
Mereka mirip Lucyfer.
Sangat mirip.
Namun detail kecil membedakan keduanya.
Yang pertama—rambut cokelat tanah, mata cokelat pekat.
Sebuah tongkat sihir tergenggam di tangannya, dan di punggung tangannya terukir jelas satu kata: TANAH.
Gravem sang kloning tanah.
Yang kedua—rambut pucat keabu-abuan, mata biru muda seperti embun pagi.
Ia membawa kipas besar, terbuka setengah, dengan ukiran halus. Di punggung tangannya tertera tulisan: KABUT.
Nebel sang kloning kabut.
Gravem tersenyum miring.
“Benar-benar kejutan yang luar biasa,”
katanya santai.
Ia menoleh ke samping.
“Benar begitu, Nebel?”
Nebel terkekeh, menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mengejek.
“Ahahaha, iya. Siapa sangka kita yang terpilih langsung oleh Tuan Lucyfer? Ini kehormatan besar, tahu.”
Detik berikutnya—
Klee dan Toma bergerak bersamaan.
Klee memegang tongkat sihir nya dan mulai mengeluarkan sebuah pusaran cinta.
“Sihir cinta: pusaran cinta abadi.”
Toma mengeluarkan memegang tongkat matahari nya dan mengeluarkan sebuah matahari kecil.
“Sihir matahari: matahari suci.”
Namun Gravem hanya menoleh pelan.
Tongkatnya mengetuk lantai.
BRAK!
Tanah di bawah kaki mereka terbelah, dan dua tangan tanah raksasa muncul, mencengkeram tubuh Klee dan Toma sekaligus.
Keduanya terhempas ke dinding.
“UGH—!”
Dalam benak Toma, alarm berbunyi keras.
Apa ini…?
Bukankah sihir tanah biasanya cuma tembok atau paku tanah?
Ini… terlalu fleksibel.
Klee meringis, dadanya sesak dan menatap serius ke Gravem.
“Tangan tanah seperti ini…” kata batin klee
“Aku belum pernah lihat sihir selevel ini…”
Nebel menghembuskan kipasnya dan mengeluarkan kabut.
“Haaa? Kenapa kalian lesu sekali?” ejeknya.
“Jangan alihkan pandangan kalian ya.”
Ia mengayunkan kipasnya.
“Sihir Kabut: Hembusan Kabut.”
Dalam sekejap, pandangan Toma dan Klee lenyap total.
Dunia berubah putih, suara terdistorsi, jarak tak bisa diukur.
Namun—
Toma memaksa fokus.
Ia menoleh ke arah terakhir Alven berada.
Dan di sanalah—
Alven berdiri, tenang, busurnya ditarik penuh. Matanya tajam, menunggu satu momen.
FWUUSH!
Dua anak panah melesat, menembus kabut.
Kedua kloning langsung bereaksi—
menghindar—namun ujung panah menggores tubuh mereka.
Ledakan kecil terjadi.
Namun yang membuat Toma membeku—
Kedua kloning itu dengan sengaja memperparah luka mereka sendiri.
Mereka menyayat tubuhnya, membiarkan darah mengalir.
Namun darah itu… tidak jatuh ke tanah.
Darah itu berputar.
Menggumpal.
Dan—
Meregenerasi.
Mata Toma membelalak.
Darah… dijadikan sebuah kloning?!
Ini bukan kloning biasa… ini abnormal!
Alven mengertakkan gigi.
“Sialan… mereka sengaja membesar-besarkan seranganku.” kata Alven dalam hati nya
“Mereka mau membelah diri lagi!”
Namun—
Yang terlihat bukan empat.
Melainkan tiga.
“—Toma!”
Toma tersentak.
Satu sosok menghilang.
Dan di udara—
Klee.
Tubuhnya terangkat, digenggam satu tangan oleh sosok lain.
Rambut hijau, mata hijau tajam.
Aeral sang Kloning Angin.
Ia tertawa lepas.
“Ahahahaha! Luar biasa!”
“Gadis kecil ini seperti burung tanpa sayap.”
Klee berusaha bergerak, namun terlalu lemah.
“Sihir Angin: Ledakan Angin—100 persen.”
FWOOSSHH!
Dari mulut kloning angin, ledakan dahsyat dilepaskan.
Tubuh Klee terpental jauh, menghantam dinding dengan keras.
Tak bergerak.
Tak sadar.
“KLEE!!” teriak Toma.
Namun sebelum ia sempat bergerak—
Ia menoleh.
Dan Alven—
Sudah ada di depan kloning lain.
Lehernya dicekik oleh sosok bermata merah, rambut merah menyala.
Phyrr sang Kloning Api.
Namun wajahnya… tenang.
Dingin.
“Api biasanya barbar,” katanya datar.
“Tapi aku berbeda.”
“Stabil. Terkendali.”
Ia mempererat cekikannya di leher Alven.
“Dan kau… benar-benar menyedihkan.”
Toma berdiri di tengah kekacauan.
Teman temannya kini sedang terancam.
Satu tak sadarkan diri dan ntah ada di mana sekarang.
Satu lagi di cekik dengan kuat oleh kloning api.
“Aku harus pikirkan dahulu.”
“Bagaimana cara nya membuat mereka menjauh dari akademi ini mungkin skala Kerusakan sihir mereka akan jadi jauh brutal.”
Empat kloning di hadapannya—dan Lucyfer asli entah di mana.
Namun—
Tatapan Toma tidak goyah.
“Aku tak peduli siapa yang asli.”
“Aku tak peduli berapa banyak kloning.”
“Aku tidak akan kalah.”