Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.
Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.
Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.
Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nggak Mau Kehilangan
Debu mengepul dari sisa-sisa mobil rantis yang terbalik. Telinga Panji berdenging hebat. Rasa amis darah mulai memenuhi mulutnya. Di depannya, klon yang sempurna miliknya berdiri dengan tubuh yang compang-camping, namun kekuatannya masih kayak monster. Mata merah dari sirkuit yang rusak itu menatap Panji dengan penuh kebencian.
"Kamu pilih, Panji!" suara Renata bergema, seolah-olah dia adalah tuhan di pantai terkutuk itu. "Adikmu yang malang, atau dirimu yang utuh?"
Panji berjuang untuk berdiri. Kakinya gemetar. Dia menatap Elena yang bersimpuh di pasir, tangannya gemetar memegang belati di lehernya sendiri. Tatapan Elena kosong, terbelah antara kesadaran dirinya yang tersisa dan dominasi Renata yang mencekik jiwanya.
"Dek Anin... jangan," bisik Panji. "Kita cari aja jalan lain."
"Nggak ada jalan lain, Aa!" Elena berteriak, air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. "Aku bisa merasakannya... Renata sedang menggali memori-memoriku. Dia tahu semua tentang kita. Dia ingin menggunakan darahku untuk mengaktifkan protokol terakhir ayah!"
Di sisi lain, Profesor Widjaja melangkah mendekat dengan langkah yang sangat tenang, seolah-olah dia sedang berjalan di taman laboratoriumnya. Dia memegang suntikan berisi cairan perak yang berkilau di bawah cahaya bulan yang sakit.
"Panji, kamu selalu menjadi eksperimen yang paling emosional," ujar sang Profesor tanpa setitik pun rasa bersalah. "Ibumu memberikan genetik yang terlalu manusia. Itulah sebabnya kamu gagal menjadi prajurit Thomas. Tapi bagiku, kamu adalah kuncinya. Darahmu mengandung katalis untuk menstabilkan transfer jiwa Renaya secara permanen ke dalam tubuh Elena."
"Kamu benar-benar gila!" geram Panji.
"Dia anakmu! Elena anakmu sendiri!"
Widjaja tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Anak? Dia adalah mahakarya. Dan kamu adalah komponen pelengkapnya. Dunia yang baru nggak butuh ikatan keluarga, Panji. Dunia baru butuh efisiensi dan keabadian."
Tiba-tiba, Sari merangkak keluar dari balik puing-puing mobil. Dengan sisa tenaganya, dia melemparkan sebuah granat EMP kecil ke arah klon Panji. Ledakan biru singkat itu memberikan jeda beberapa detik bagi Panji.
"Lakukanlah sekarang!" teriak Sari.
"Gunakan kotak hitam itu! Masuklah ke dalam sistem mereka!"
Panji nggak membuang waktu lagi. Dia meraih kotak hitam yang masih menyala. Layarnya menunjukkan grafik sinkronisasi yang berdenyut. Dia menempelkan kabel antarmuka saraf ke pelipisnya sendiri, sebuah teknologi nekat yang belum pernah diuji coba sebelumnya.
Sinkronisasi dimulai... 10%... 30%...
Dunia di sekitar Panji mulai memudar. Pasir, laut, dan suara tembakan Bram di kejauhan hilang, digantikan oleh ruang digital yang dingin dan luas. Ini adalah jaringan lazarus.
Di sana, di tengah-tengah kehampaan hitam yang dipenuhi kode-kode mengalir, dia melihat mereka. Elena yang sedang meringkuk ketakutan, dan Renata yang berdiri tegak seperti ratu kegelapan dengan rantai digital di tangannya.
"Oh, rupanya kamu berani masuk ke sini?" Renata tersenyum meremehkan. "Di sini, aku adalah hukum. Aku adalah memori yang tak bisa kamu hapus."
Panji mendekati Elena, mencoba menyentuhnya, namun tangannya tembus.
"Dek Anin, coba lihat aku! Ingat memori ke-7! Ibu meninggalkan pesan itu untuk kita!"
Elena mendongak, matanya yang digital tampak bergetar.
"Aa...jadi kita ini saudara? Bagaimana mungkin aku mencintai seseorang yang...?"
"Lupakan itu dulu, Dek Anin!" potong Panji tegas. "Itu cuma taktik mereka untuk mematahkanmu. Kita adalah manusia sebelum kita adalah kode mereka! Kita yang memilih siapa kita sebenarnya!"
Renata tertawa terbahak-bahak, tawanya memecah ruang digital itu. "Cinta manusia? Memuakkan. Di dunia ini, hanya ada satu penguasa."
Renata menyerang. Di dunia digital, serangan itu berupa gelombang data yang menghancurkan integritas mental Panji. Panji merasa memorinya mulai terhapus, saat dia pertama kali bertemu Elena di bunker, saat mereka berbagi roti di tengah hujan asam, semuanya mulai memudar.
Kembali ke dunia nyata, tubuh Panji mulai kejang. Sari mencoba menahan tubuhnya agar nggak menghantam batu tajam. Profesor Widjaja semakin dekat, sudah siap menyuntikkan cairan perak itu ke leher Panji yang gak berdaya.
"Sedikit lagi, Mahakaryaku," bisik Widjaja.
Namun, sebelum jarum itu menyentuh kulit Panji, sebuah tangan logam besar mencengkeram pergelangan tangan sang Profesor. Itu adalah sang Klon. Mata merahnya meredup, digantikan oleh cahaya biru yang stabil.
"Protokol... Ayah... Terdeteksi... Anomali," suara klon itu berat dan mekanis, tapi ada nada pemberontakan di sana. Sisa-sisa kesadaran Thomas di dalamnya ternyata nggak sudi diperintah oleh Widjaja.
"Manusia... Widjaja... Kamu adalah... virus."
"Lepaskan aku, rongsokan!" Widjaja meronta.
Klon itu meremas pergelangan tangan Widjaja hingga terdengar suara tulang retak. Di saat yang sama, di ruang digital, Panji menemukan kunci yang dibicarakan ibunya. Jantung genetik yang sama.
Panji meraih tangan Elena. Kali ini, mereka bersentuhan. Cahaya emas mulai memancar dari pertemuan tangan mereka, meluap dan mulai membakar rantai-rantai Renata.
"Apa ini?!" jerit Renata. "Kenapa aku nggak bisa menghapusnya?!"
"Karena ini bukan memori," jawab Panji dengan suara yang bergema di seluruh jaringan. "Ini adalah detak jantung yang kamu nggak punya!"
Ruang digital itu mulai runtuh. Renata menjerit saat kodenya mulai terurai menjadi partikel cahaya. Namun, di saat kemenangan tampak di depan mata, sebuah peringatan merah besar muncul di layar kotak hitam di dunia nyata.
Panji melihat Elena. Elena juga melihat Panji. Mereka berdua tahu apa artinya ini. Sinkronisasi terbalik membutuhkan satu kesadaran untuk tinggal di dalam jaringan sebagai jangkar agar yang lain bisa kembali ke tubuh fisik. Jika nggak, keduanya akan terjebak dalam koma yang abadi.
"Pergilah, Aa," bisik Elena dalam ruang digital yang runtuh. "Dunia butuh pahlawan. Bukan gadis yang membawa hantu di kepalanya."
"Nggak, Dek Anin" Panji menggeleng kuat. "Aku nggak mau kehilangan kamu lagi."
"Kamu nggak akan kehilangan aku, Aa" Elena tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Panji lihat. "Aku akan menjadi angin di sistemmu. Aku akan menjadi kode di setiap langkahmu."
Elena mendorong Panji menjauh ke arah cahaya putih yang melambangkan dunia nyata.
Panji tersentak bangun di pantai. Dia terengah-engah, paru-parunya terasa seperti terbakar. Dia melihat ke samping. Elena terbaring diam, matanya terbuka tapi tak bercahaya. Tubuhnya masih hangat, tapi jiwanya... jiwanya tak lagi di sana.
Panji merangkak memeluk tubuh Elena, berteriak memanggil namanya. Di kejauhan, Profesor Widjaja tergeletak pingsan dengan tangan hancur, sementara sang Klon telah menjadi tumpukan logam mati.
Tiba-tiba, kotak hitam di tangan Panji bergetar. Sebuah pesan muncul di layar, namun bukan dalam bentuk teks. Itu adalah pola gelombang otak yang sangat dikenal oleh Panji.
Lalu, terdengar suara melalui speaker kecil kotak itu. Bukan suara Elena. Bukan suara Renata.
Tapi itu adalah suara Ibunya.
"Panji... maafkan aku. Aku berbohong tentang satu hal."
Panji terpaku.
"Sinkronisasi itu bukan untuk menyelamatkan salah satu dari kalian. Itu adalah cara untuk memancing dia keluar dari tempat persembunyiannya yang sebenarnya."
Layar kotak hitam itu tiba-tiba menampilkan peta bawah tanah kota Sumedang. Sebuah titik merah berkedip di lokasi yang seharusnya sudah hancur puluhan tahun lalu, yaitu rumah lama mereka.
Tiba-tiba, tubuh Elena yang semula diam mulai bergerak. Namun bukan Elena yang bangun. Dia duduk dengan kaku, kepalanya miring ke samping dengan sudut yang mengerikan. Dia menatap Panji, tapi matanya bukan lagi coklat atau ungu.
Matanya berubah menjadi hitam pekat, seperti lubang tanpa dasar.
"Aa..." suara yang keluar dari mulut Elena adalah suara seorang pria. Suara yang sangat berat, berwibawa, dan penuh dengan aura kematian. Suara yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos di kalangan pemberontak.
"Terima kasih telah membukakan pintu untukku. Sepuluh tahun aku menunggu di dalam darah anak ini."
Panji mundur dengan ngeri.
"Siapa kamu?!"
Sosok di dalam tubuh Elena itu berdiri, bergerak dengan keanggunan yang mematikan. Dia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Panji dengan seringai yang menyakitkan.
"Namaku adalah Thomas yang asli," kata sosok itu. "Yang kamu hancurkan di satelit hanyalah salinan prioritasku. Dan sekarang, putraku... mari kita selesaikan apa yang kita mulai di laboratorium itu."
Di belakang Thomas, laut mulai terbelah. Sesuatu yang jauh lebih besar dari robot manapun mulai muncul dari dasar samudra. Sebuah struktur raksasa berbentuk piramida hitam yang memancarkan energi yang memadamkan seluruh cahaya di langit Sumedang.