"𝘏𝘢𝘭𝘰, 𝘪𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮, 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘱𝘢𝘮 𝘤𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.
𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵,
𝘑𝘢𝘷𝘢𝘴—𝘬𝘶𝘳𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢!"
Bagi Javas, seorang kurir dengan sejuta cara untuk mencuri perhatian, mengantarkan paket hanyalah alasan untuk bertemu dengannya: seorang janda anak satu yang menjadi langganan tetapnya. Dengan senyum menawan dan tekad sekuat baja, Javas bertekad untuk memenangkan hatinya. Tapi, masa lalu yang kelam dan tembok pertahanan yang tinggi membuat misinya terasa mustahil. Mampukah Javas menaklukkan hati sang janda, ataukah ia hanya akan menjadi kurir pengantar paket biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti_sR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Melawan trauma
Rumah sakit adalah tempat yang paling Selena hindari sejak dulu. Wanita itu memiliki trauma berat terhadap suasananya. Terbangun dari koma di sebuah ruangan rumah sakit dan mendapati kedua orang tua, kakak, serta kakak iparnya tidak selamat dalam kecelakaan, telah menciptakan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Tetapi malam ini berbeda. Wanita yang duduk di kursi kemudi itu meremas tangannya yang masih berkeringat dingin. Sesekali dia menghela napas kasar, mencoba menenangkan dirinya yang terasa berat. Saat mobilnya mendekati halaman rumah sakit, laju kendaraan itu ikut melambat. Tubuh Selena bergetar tanpa sadar. Kepalanya berdenging. Sekilas bayangan berkelebat di benaknya, menampilkan beberapa dokter dan pasien yang berlalu lalang, lima brankar dorong yang melaju cepat di lorong rumah sakit, suara dokter yang terdengar samar namun tegas. Hingga perlahan kesadarannya seperti ditarik pergi. Putaran ingatan lima tahun lalu kembali menelannya.
Dia memijat keningnya yang mulai berat. Selena berusaha melawan, memaksa dirinya tetap kuat agar bisa melalui malam ini, di tempat seperti ini sekali lagi. Suasana di dalam mobil begitu sunyi. Dia sendirian, tidak membiarkan Lala maupun Bibi Arumi ikut bersamanya.
Padahal tadi Bibi Arumi sempat dengan jelas menolak keputusan Selena yang ingin datang sendiri ke rumah sakit, apalagi wanita itu tahu bagaimana Selena sempat menjalani terapi psikolog selama bertahun-tahun untuk mengatasi traumanya. Namun seperti biasa, Selena berhasil meyakinkan Bibi Arumi bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Tatapan Selena kosong menatap gedung tinggi di hadapannya. Malam itu cukup ramai, beberapa dokter dan suster berlalu lalang, keluarga pasien duduk gelisah, beberapa lainnya berjalan cepat dengan wajah cemas.
Selena belum juga membuka pintu mobil. Tangannya meraih cardigan yang tergeletak di kursi sebelah, lalu memakainya perlahan. Napas kasarnya kembali terdengar. Remasan tangannya makin kuat. Bahunya bergetar semakin jelas, bahkan perutnya mendadak terasa mulas tanpa alasan.
Tangan Selena terasa sangat berat saat hendak membuka pintu. Ada getaran aneh yang terus naik dari dadanya. Pikirannya gamang, antara memilih memutar balik atau tetap turun. Namun mengingat ucapan Bibi Arumi tentang kondisi Javas yang koma, tekadnya perlahan mengalahkan ketakutannya pada tempat ini.
...****************...
Pada akhirnya dia turun. Langkahnya maju. Wajahnya terlihat tegar, tetapi kedua kakinya terus ragu dan terasa begitu berat.
Setelah bertanya tentang korban kecelakaan siang tadi yang bernama Javas di meja informasi, Selena diantar oleh seorang dokter muda menuju depan ruang ICU. Lorong itu cukup terang, namun terasa menekan dan dingin. Tepat di depan pintu kaca ICU, beberapa orang berkumpul. Suasana terlihat berat. Wajah-wajah itu terasa asing baginya, tidak satu pun yang Selena kenali.
Hanya satu sosok yang familiar. Seorang wanita cantik, kira-kira sebaya dengan Javas, duduk di kursi tunggu sambil mengusap lembut punggung seorang wanita dewasa di sebelahnya. Wanita dewasa itu menunduk dengan mata sembab, seolah sudah terlalu banyak menangis sejak siang.
Sementara itu, seorang pria dewasa yang berdiri tegak di samping tuannya menyadari kedatangan seseorang.
“Tuan, Nona Selena datang,” bisik Nando pelan pada Haidar.
Haidar sontak mendongak. Tatapannya langsung tertuju pada wanita cantik yang melangkah perlahan di sisi dokter muda yang mengantarnya. Selena berjalan hati-hati, seolah takut kakinya kehilangan keseimbangan kapan saja. Tangannya menggenggam erat cardigan yang membalut tubuhnya, seperti mencari pegangan agar dirinya tetap kuat. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari biasanya, sampai Selena sendiri bisa mendengar bunyinya di telinga.
“Ini ruangannya, Nona,” ujar dokter itu pelan sebelum berbalik meninggalkan Selena.
Tatapan Selena menyapu satu per satu orang yang berada di depan ruangan ICU itu. Wajah-wajah asing. Hingga akhirnya matanya berhenti pada tatapan tajam Sera yang duduk di sebelah Mommy Kanaya. Tatapan mereka bertemu, dingin dan menusuk, membuat napas Selena sempat tertahan.
“Nona Selena.”
Nando berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. Selena tidak langsung merespons. Tubuhnya kaku, antara kaget karena pria itu mengenalinya dan tidak siap menghadapi situasi ini. Haidar ikut mendekat beberapa langkah, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
“Selena, sini, Nak.”
Haidar menuntun Selena berdiri tepat di depan kaca ruangan. “Javas di dalam sana,” lanjutnya lirih.
Selena menatap ke dalam. Tubuh itu terbaring diam, dipasangi alat bantu, terlihat rapuh di tengah ruangan putih yang dingin. Sosok pria yang hampir tiga bulan terakhir hadir dalam hidupnya, memenuhi hari-harinya yang monoton dengan hal-hal sederhana, candaan ringan, dan percakapan yang kadang tidak penting tapi selalu berarti, kini hanya bisa terbaring tanpa daya.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga. Pelupuknya panas. Napasnya goyah. Tangan Selena terangkat pelan, menyentuh kaca bening di hadapannya dan mengusap permukaannya dengan lembut, seolah-olah yang dia sentuh adalah wajah Javas di dalam sana.
Di sisi lain, kehadiran Selena membuat Mommy Kanaya bertanya-tanya.
“Dia siapa, Haidar?” Mommy Kanaya mendongak, menatap tajam ke arah suaminya, lalu pandangannya berpindah pada Selena. Sorot matanya memindai wajah wanita itu perlahan, ada ketertarikan sekaligus kecurigaan. Wajah Selena terasa sedikit familiar di ingatannya, tetapi Mommy Kanaya belum benar-benar yakin dari mana dia mengenalnya.
Haidar menatap istrinya dengan kikuk. Sejak siang tadi, pria itu benar-benar tidak berani memancing amarah Mommy Kanaya sedikit pun.
“Dia…”
Haidar menahan kalimatnya. Pandangannya sempat melirik Selena sekilas. Lidahnya kelu. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana, sementara hubungan putranya dengan Selena belum jelas, dan dengan kehadiran Sera di sana, tidak mungkin rasanya dia menyebut Selena sebagai calon menantu. Itu hanya akan melukai hati Sera.
“Dia apa? Kamu selingkuh, Haidar? Kenapa bawa orang asing ke sini? Siapa dia?” Suara Mommy Kanaya meninggi, tatapannya tajam menusuk.
“Astaga, Mommy… pikirannya,” desis Haidar pelan sambil memijat pangkal hidungnya, jelas frustrasi.
“Lalu apa? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari aku, kan? Kenapa kamu mengenal gadis ini? Siapa dia? Kenapa aku tidak tahu, tapi wajahnya seperti tidak asing?” selidik Mommy Kanaya, kembali menatap Selena lama, berusaha mengingat sesuatu yang samar di kepalanya.
Hingga akhirnya sekelabat ingatan muncul.
“Ah iya… kamu pekerja di Sele… eh, nama kamu siapa tadi?”
“Selena… Namanya Selena,” jelas Haidar cepat, seolah takut istrinya kembali berpikir yang tidak-tidak. “Pemilik toko roti yang sering Mommy beli itu. Dan… toko yang sering Javas datangi juga.”
Selena hanya mengangguk pelan. Wajahnya menunjukkan kalau dia kurang nyaman dengan pembicaraan ini. Kedatangannya ke sini murni untuk menjenguk Javas, bukan untuk acara perkenalan keluarga. Meski begitu, dia tetap merasa tidak enak hati karena bertemu orang tua Javas dalam keadaan seperti ini. Namun pada akhirnya, Selena kembali mengingatkan dirinya sendiri bahwa mereka tidak punya hubungan apa pun, jadi seharusnya tidak ada alasan untuk merasa bersalah.
Menyadari ketidaknyamanan Selena, Haidar menarik tangan istrinya perlahan.
“Kita perlu bicara, tapi bukan di sini, Mommy,” ujarnya pelan namun tegas.
Tanpa menunggu jawaban, Haidar mengajak Mommy Kanaya menjauh dari depan ruang ICU. Mereka berlalu, meninggalkan Selena, Sera, dan Nando yang kini berdiri dalam suasana yang terasa canggung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...