Baskara—menantu sampah dengan Sukma hancur—dibuang ke Jurang Larangan untuk mati. Namun darahnya membangunkan Sistem Naga Penelan, warisan terlarang yang membuatnya bisa menyerap kekuatan setiap musuh yang ia bunuh. Kini ia kembali sebagai predator yang menyamar menjadi domba, siap menagih hutang darah dan membuat seluruh kahyangan berlutut. Dari sampah terhina menjadi Dewa Perang—inilah perjalanan balas dendam yang akan mengguncang sembilan langit!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: NAGA YANG DIINCAR (5)
[PENGINAPAN KOTA BATU KARANG - MALAM HARI]
Anjani duduk di tepi jendela—menatap langit malam dengan ekspresi yang frustasi.
Bharata berdiri di belakangnya—tangan terlipat—ekspresi tenang seperti biasa.
"Dia menolak lagi," ucap Anjani dengan nada yang lelah. "Baskara menolak ajakanku untuk bergabung ke Sekte Langit Biru. Untuk ketiga kalinya."
Bharata tidak menjawab—hanya mengangguk pelan.
Anjani menghela napas panjang—mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Waktu kita semakin habis, Bharata. Pembukaan Perguruan Sekte Langit Biru akan segera dimulai. Aku harus masuk saat itu juga atau Ayah akan marah."
Bharata mengangguk lagi—kali ini dengan ekspresi yang lebih serius.
"Patriark adalah sosok yang tegas dan keras," ucapnya dengan nada rendah. "Bahkan pada anak-anaknya sendiri. Putri tidak boleh terlambat."
Anjani menatap langit dengan tatapan yang penuh perhitungan.
"Aku tahu Baskara berbakat. Sangat berbakat. Dia jenius sejati yang bisa mencapai puncak kultivasi. Sekte Langit Biru butuh orang seperti dia."
Dia berbalik menatap Bharata.
"Tapi dia keras kepala. Terlalu mandiri. Terlalu percaya pada kekuatannya sendiri."
Bharata diam sejenak—lalu berbicara dengan nada yang hati-hati.
"Putri, setelah pertarungan turnamen antara Wibawa dan Baskara, aku rutin memata-matai Kediaman Cakrawala seperti yang Putri perintahkan."
Anjani menatapnya dengan penuh perhatian.
"Ada kabar penting. Adipati Lesmana akan datang ke kota sebentar lagi. Dalam beberapa hari."
Anjani mengerutkan dahi.
"Adipati Lesmana? Tuan Muda gila dari Kota Waja Kencana?"
"Ya. Dan dia datang untuk Larasati. Dan untuk membunuh Baskara."
Anjani terdiam—mencerna informasi itu.
"Bukan hanya itu," lanjut Bharata. "Aliansi Pemburu Naga mulai bergerak. Mereka sudah mengirim dua eksekutif ke kota ini. Mereka memburu Baskara."
Anjani tersentak—mata melebar.
"Aliansi Pemburu Naga? Bagaimana mereka bisa tahu tentang Baskara?"
"Sepertinya ada yang melaporkan. Kemungkinan besar... Keluarga Cakrawala sendiri."
Anjani terdiam—lalu perlahan... TERSENYUM.
Senyum yang penuh perhitungan.
"Ini dia..." bisiknya dengan nada yang puas. "Kesempatan terakhir."
Bharata menatapnya dengan bingung.
"Putri?"
Anjani berdiri—mata bersinar dengan antusiasme.
"Baskara diburu oleh dua pihak berbahaya—Adipati Lesmana dan Aliansi Pemburu Naga. Dia dalam bahaya besar. Dia BUTUH perlindungan."
Dia tersenyum lebih lebar.
"Dan satu-satunya tempat yang bisa melindunginya dari keduanya adalah... Sekte Langit Biru."
Bharata mengangguk—mulai memahami.
"Jadi kita akan menawarkan perlindungan sebagai imbalan dia bergabung?"
"Tepat sekali. Ini kesempatan terakhir untuk membujuknya. Jika dia masih menolak setelah ini..." Anjani mengangkat bahu, "maka dia memang bodoh dan tidak layak untuk Sekte Langit Biru."
Tiba-tiba—
WHOOSH!
Angin berhembus kencang—membawa sesuatu yang membuat bulu kuduk Anjani berdiri.
Energi.
Energi yang familiar.
Dua energi Naga.
Anjani mengernyitkan dahi—merasakan dengan teliti.
"Satu energi... terasa milik Baskara..." gumamnya. "Tapi satunya lagi...?"
Bharata juga merasakan—mata menyipit.
"Ada dua Pewaris Naga di kota ini?"
"Tidak mungkin," jawab Anjani sambil melompat keluar jendela. "Kita harus mengecek. SEKARANG!"
Keduanya MELESAT—kecepatan penuh—menuju hutan di utara—ke arah asal energi itu.
[RUMAH SEKTE PENYEMBAH NAGA - HUTAN UTARA - SAAT INI]
Baskara masih berdiri di depan Ronggolawe yang bersujud—cakar Naga masih terangkat—aura hitam-merah masih menguar—
Tapi sebelum dia bisa bicara—
WUSH!
Dua bayangan melesat dari hutan—mendarat di reruntuhan rumah dengan keras—
Joko dan Jodi.
Joko menatap Baskara—mata bersinar dengan kegembiraan—senyum lebar yang mengerikan—
"Akhirnya kami menemukanmu, Pewaris Naga!"
Jodi hanya menatap dengan ekspresi DATAR—tidak bicara—mata fokus pada Baskara seperti predator yang mengunci target.
Dan dari arah berbeda—
"BASKARA?!"
Larasati berlari keluar dari hutan—wajah penuh keringat—mata melebar melihat reruntuhan dan mayat berserakan—
Lalu matanya terkunci pada Baskara—pada CAKAR NAGA di tangannya—
"Baskara... apa itu...?"
Baskara pucat—PANIK—untuk pertama kalinya sejak lama.
‘Tidak. Larasati tidak boleh di sini. TIDAK BOLEH!’
Joko menatap Larasati—lalu TERKEKEH.
"Oh? Ada tikus kecil?"
Dia MELESAT—celurit terangkat—akan menebas Larasati—
WUSH!
Baskara bergerak lebih cepat—[SILENT FLASH]—muncul di depan Larasati—belati menangkis celurit—
CLANG!
Percikan api—keduanya terpental—
Baskara menatap Larasati dengan mata yang penuh keputusasaan dan kemarahan.
"PERGI!" teriaknya dengan suara yang keras. "PERGI SEJAUH MUNGKIN! SEKARANG!"
Larasati tersentak—melihat wajah Baskara yang penuh dengan emosi yang belum pernah dia lihat sebelumnya—
Ketakutan.
Dan... KENGERIAN!
Larasati ragu—ingin berkata sesuatu—
Tapi dia tahu.
Jika dia ikut campur—dia hanya akan menjadi PENGHAMBAT.
Dia mengangguk—lalu berbalik—akan berlari—
Tapi Jodi MELESAT menghadangnya—pedang besar terangkat—
CLANG!
Ronggolawe muncul—pedang Tanduk Naga Merah menangkis—mata menatap Jodi dengan determinasi.
"TUAN!" teriaknya pada Baskara. "Biarkan yang ini saya yang urus!"
Joko tertawa—tawa yang MELENGKING—mengerikan—bergema di hutan—
"HAHAHA! PEWARIS NAGA DAN PEMUJA NAGA SEDANG BERKUMPUL!" teriaknya dengan kegembiraan yang gila. "AKU AKAN NAIK PANGKAT DENGAN MEMBUNUH KALIAN BERDUA!"
Dia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—
Gulungan kertas kuning dengan tulisan rune merah.
Melemparnya ke udara sambil mengucap mantra—
"Mahluk dari kegelapan, dengar panggilanku, MUNCULLAH!"
WHOOSH!
Gulungan bercahaya—lingkaran sihir terbentuk di udara—
Dan dari lingkaran itu—
MONSTER melompat keluar.
Anjing berkepala tiga—tubuh hitam besar—tiga mulut menganga penuh taring—mata merah menyala—
Ranah Inti Emas Bintang 1.
“Bunuh wanita itu, Kerberos!”
Monster menatap Larasati—lalu MENYALAK—suara yang membuat tanah bergetar—
Lalu MENGEJAR—kecepatan luar biasa—
Larasati berteriak panik—berlari—tapi monster lebih cepat—
Baskara ingin mengejar—tapi Joko sudah menyerang lagi—memaksa Baskara bertahan—
"Fokus padaku, Pewaris Naga!" teriak Joko sambil tertawa. "Jangan khawatir tentang wanita itu! Dia akan mati dengan cepat!"
Baskara menggertakkan gigi—mata menyala merah penuh kemarahan—
‘Larasati...’
Pertarungan MELEDAK.
Joko menyerang dengan kecepatan yang LUAR BIASA—jauh melampaui semua musuh yang pernah Baskara hadapi—
Dua celurit menebas dari berbagai arah—tidak ada jeda—tidak ada istirahat—
CLANG! CLANG! CLANG! CLANG!
Baskara menggunakan [SILENT FLASH]—menghilang—muncul di belakang—menyerang—
Tapi Joko MENANGKIS—seperti sudah tahu ke mana Baskara akan muncul—
"Terlalu lambat!" teriak Joko sambil terkekeh.
Celurit menebas—Baskara mengaktifkan [IRON BODY]—kulit bersinar metalik—
Tapi—
SLASH!
Celurit MENEMBUS—memotong kulit—darah menyembur—
Luka pertama yang pernah menembus Iron Body.
Baskara tersentak—menatap luka di lengannya dengan mata melebar—
‘Bagaimana...bisa?!’
[Celurit Naga Angkara!] teriak Sistem. [Terbuat dari cakar Naga asli! Bisa menembus pertahanan apapun di bawah Ranah Jiwa Baru!]
Joko tersenyum lebar—melihat darah Baskara.
"Akhirnya aku menggoresmu! Rasakan racun Celurit Naga Angkara!"
Luka di lengan Baskara mulai MELEBAR—perlahan—seperti dimakan oleh sesuatu—
[THOUSAND POISONS IMMUNITY] bekerja—tapi tidak sempurna—
Racun terlalu kuat—
[BATTLE REGENERATION] aktif—tapi MELAMBAT—luka sembuh jauh lebih lambat dari biasanya—
Baskara terengah—mundur—merasakan tubuhnya melemah—
‘Sial... musuh ini... terlalu kuat...’
Joko menyerang lagi—tertawa terus—suara yang melengking mengerikan—
"HAHAHA! LEMAH! KAU TERLALU LEMAH!" teriaknya dengan antusiasme yang gila. "PEWARIS NAGA KONON MENAKUTKAN, TAPI KAU HANYA ANAK KECIL YANG KETAKUTAN!"
Intimidasi terus-menerus—serangan tanpa henti—
Baskara mulai terluka di mana-mana—
Sayatan di dada—di punggung—di kaki—
Semua racun bekerja—membuat tubuhnya semakin berat—
Di sisi lain—
Ronggolawe bertarung dengan Jodi—dan situasinya tidak jauh berbeda.
Pedang Tanduk Naga Merah beradu dengan Pedang Persada Manikmaya—pedang besar mirip papan yang bersinar dengan cahaya keemasan—
CLANG! CLANG! CLANG!
Ronggolawe menggunakan semua teknik yang dia miliki—
Kepala-kepala Naga dari prana merah menyerbu!
Tapi Jodi—meski tidak bicara—meski wajahnya datar tanpa ekspresi—
Jauh lebih kuat.
Setiap serangan Ronggolawe ditangkis dengan mudah.
Cahaya keemasan prana menghempaskan Kepala Naga!
Sebaliknya,
Setiap tebasan Jodi membuat Ronggolawe terpaksa mundur.
"TUSUKAN TANDUK MERAH!"
Ronggolawe meluncurkan serangan pamungkas—pedang bersinar merah terang—energi Naga berkumpul di ujung—dari sudut tak terduga!
WUSH!
Tusukan cepat—mengincar jantung Jodi—
Jodi mencoba menangkis—tapi—
Terlambat!
JLEB!
Pedang MENEMBUS—kena telak di dada Jodi—
Tapi—
CRACK!
Armor hitam di balik jubah Jodi RETAK—tapi tidak hancur—menahan sebagian besar serangan—
Jodi mundur—batuk—darah keluar dari mulut—
Tapi dia... TERSENYUM.
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai.
Ekspresi datar lenyap—digantikan dengan SERINGAI yang mengerikan.
"Akhirnya..." ucapnya dengan suara yang rendah—berbeda dari kesunyiannya sebelumnya, "lawan yang layak."
Dia melepas jubah dan armor yang retak—melemparnya ke samping—
Memperlihatkan tubuh berotot penuh bekas luka—
Dan dari punggungnya—
WHOOSH!
Sayap putih keemasan terbentuk dari Prana murni—besar—indah—tapi mengerikan—
Aura Jodi MELEDAK—jauh lebih kuat dari sebelumnya—
"Sekarang," ucapnya dengan seringai yang semakin lebar, "aku akan mulai serius."
Ronggolawe pucat—merasakan perbedaan kekuatan yang luar biasa.
‘Ini... kekuatan sebenarnya...?’
Joko menoleh—melihat Jodi yang sudah serius—lalu terkekeh.
"Oh? Jodi sudah serius?" Dia menatap Baskara dengan mata yang bersinar. "Kalau begitu... HIBUR AKU SEPERTI ORANG ITU, BASKARA! BUAT AKU MENIKMATI PERTEMPURAN INI!"
Baskara terengah—tubuh penuh luka—stamina menipis—
Tapi dia tidak punya pilihan.
‘Larasati masih dikejar monster... aku harus mengakhiri ini... CEPAT!’
Dia mundur—mengambil jarak—lalu mengumpulkan semua Prana yang tersisa—
"BAYANGAN PEMANGSA - GERAKAN PERTAMA!"
Aura hitam-merah meledak—lebih besar dari sebelumnya—
TIGA BAYANGAN Baskara terbentuk—semuanya penuh energi mematikan—
Tapi kali ini—dia menggunakannya DUA KALI BERTURUT-TURUT—
ENAM BAYANGAN menyerang dari semua arah—kecepatan penuh—kekuatan maksimal—
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan dahsyat—pohon roboh—semak terbakar—area sekitar menjadi BERSIH—tidak ada yang tersisa—
Baskara jatuh berlutut—terengah—Cakar Naga masih aktif tapi tubuhnya gemetar—
‘Itu... seharusnya cukup...’
Asap perlahan menghilang—
Dan Joko—
MASIH BERDIRI.
Baju compang-camping—tubuh penuh luka—darah mengalir dari mulut dan hidung—
Tapi masih hidup.
Masih tersenyum.
"Bagus..." ucapnya dengan tawa yang lebih pelan. "Bagus sekali..."
‘TIDAK MUNGKIN!’
Joko meraih celuritnya yang jatuh.
Tapi sebelum dia bisa menyerang—
Baskara memaksa dirinya—suatu energi BERGERAK di dalam.
Energi yang berbeda—
Energi yang lebih dalam—
“SISTEM!” teriaknya, “Bayangan Pemangsa: GERAKAN KEDUA!”
[Bayangan Pemangsa - Gerakan Kedua: AKTIF!] bisik Sistem dengan nada terkejut. [Tuan... Energimu—]
Baskara tak acuh—tubuhnya bergerak sendiri—
Matanya menyala merah—penuh emosi!
Dari balik punggungnya—dari bayangan yang tercipta oleh tubuhnya sendiri—
TIGA BAYANGAN NAGA melesat keluar—jauh lebih besar—jauh lebih mengerikan—
Seperti Naga raksasa yang terbuat dari kegelapan murni—
ROAR!
Mereka menyerang Joko dari arah yang berlawanan—dari belakang Baskara—tidak terduga—
Joko mata melebar—mencoba menghindar dari bayangan pertama—BERHASIL—
Tapi bayangan kedua dan ketiga—
WHAM! WHAM!
Menghantam telak.
BOOM!
Ledakan lebih besar—Joko terbang—menabrak pohon—CRASH—pohon roboh—
Baskara terengah—dada terasa PANAS—seperti terbakar dari dalam—
“MATI! MATI! MATI!!” teriak Baskara, urat mengeras mata merah menyala.
[Gerakan Kedua...] bisik Sistem dengan nada yang penuh kagum. [Untuk pertama kalinya... Tuan berhasil menggunakannya...]
Asap menghilang—
Joko perlahan berdiri—
Baju benar-benar compang-camping sekarang—darah menyembur dari mulut dan hidung—tubuh gemetar—
Tapi... masih hidup.
Seringai Joko perlahan... MENGHILANG.
Wajahnya berubah menjadi DATAR—ekspresi hilang total—mata menajam seperti pisau—
Kontras total dengan tawa dan kegembiraan beberapa saat lalu.
Aura di sekitarnya berubah—
Dari energi biasa menjadi... sesuatu yang lebih gelap.
Aura ungu mengerikan mulai menguar—pekat—menyeramkan—
Dari kening Joko—
Dua tanduk perlahan TUMBUH—hitam—melengkung ke belakang—
Dari punggungnya—tepatnya dari atas pantat—
Ekor hitam muncul—panjang—dengan ujung lancip seperti tombak—bergoyang seperti cambuk—
[PERINGATAN!] teriak Sistem dengan panic. [ITU ENERGI IBLIS! ENERGI YANG SANGAT BERBAHAYA! TUAN, KAU HARUS—]
Joko—atau apapun dia sekarang—menatap Baskara dengan mata yang tidak punya emosi.
Lalu dia berbicara—suara yang rendah—datar—mengerikan—
"Kau... memaksaku menggunakan INI."
Aura ungu meledak—lebih kuat—
"Sekarang..." dia melangkah maju—perlahan, "aku akan membunuhmu."
“Bajingan!” Baskara mengerang, rahangnya mengeras—hampir berdarah.
Ia mencoba berdiri—tapi tubuhnya tidak bisa bergerak—energi habis—luka terlalu banyak—racun masih bekerja.
Joko dengan bentuk iblis berjalan mendekat—setiap langkah membuat tanah retak—aura ungu menghancurkan semua yang dilewati.
Sistem berteriak: [TUAN! KAU HARUS LARI! SEKARANG! ATAU KAU AKAN MATI!] Tapi Baskara tidak bisa lari—Larasati masih di hutan—dikejar monster.
Di kejauhan—teriakan Larasati terdengar—penuh ketakutan.
Baskara menggertakkan gigi—memaksakan tubuh berdiri—cakar Naga gemetar—mata menyala merah meski tubuh hampir roboh. "Aku... tidak akan lari..." bisiknya dengan suara yang bergetar. "Tidak akan... meninggalkan Larasati..."
Joko berhenti tepat di depan Baskara—menatap dengan mata kosong—ekor bergoyang—siap menusuk.
Celurit melingkar di leher Baskara.