"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 30
"Yanshen, apa kamu yakin mau tinggal di rumah mertuamu? Apa kamu tidak malu sama ucapan anak kamu barusan, hah?" tanya Daddy Jinhao menatap datar putranya.
Yanshen terkekeh sebelum kemudian menjawab pertanyaan sang Daddy.
"Malu?" Yanshen mengulang kembali ucapan Daddy nya.
"Jangan ditanya lagi Dad. Tanpa bertanya pun pasti Daddy tahu jawabannya seperti apa. Tapi ... aku tidak punya pilihan lagi selain tinggal disana. Mengingat Ibu Lin Wu yang sudah tua dan tidak mungkin juga tinggal sendiri di rumah yang sebesar itu," ucap Yanshen menjelaskan.
"Begini Yanshen, menurut Daddy lebih baik kamu cari orang untuk menjaga dan menemani Ibu Jiao sekalian tinggal bersama disana. Dan kamu bisa tinggal sendiri di rumah yang baru bersama keluarga kecil kamu, bagaimana? Apa kamu setuju?" balas Daddy Jinhao memberi saran pada putranya.
Yanshen menghela napas dalam-dalam sambil memijit keningnya yang sedikit pusing.
"Aku sih setuju saja Dad. Tapi, bagaimana dengan Lin Wu? Apa dia mau membiarkan Ibunya tinggal seorang diri di rumah besar ini? Dan aku yakin ... pasti anak-anak tidak akan mau jika Mommy nya tidak tinggal disana. Jalan satu-satunya adalah ... aku yang harus mengalah demi kebahagiaan istriku Dad. Aku tidak ingin kembali menorehkan luka di hati Lin Wu, cukup sudah selama tujuh tahun ini aku hidup dalam penyesalan. Kali ini aku tidak akan mengulang kembali kebodohan itu," ucap Yanshen menjelaskan sesuai fakta yang ada.
"Berarti kamu harus bisa membujuk istrimu agar mau tinggal bersama di rumah baru kalian," seru Daddy Jinhao sambil menyesap kopi buatan sekretaris putranya itu.
Ya, saat ini Daddy Jinhao sedang berada di Xie Group. Duduk di atas sofa tepatnya berada di ruangan mewah milik putranya. Begitu juga dengan Yanshen duduk di atas sofa yang sama dengan Daddy Jinhao, tepat di samping sang Daddy.
"Tapi sebelum itu, kamu harus menyiapkan rumah mewah seperti yang diinginkan Ji Chan. Biar kamu dapat ijin jadi pacar Mommy nya." Lanjutnya sambil melirik sekilas ke arah putranya.
"Daddy ...." Yanshen menyorot tajam wajah Daddy nya yang mengingatkan kembali ucapan putrinya.
"Aaahh eeh Daddy pergi dulu ya. Kerja yang benar biar bisa beli istana nya Ji Chan," seru Daddy Ji Chan yang langsung beranjak dari tempatnya lalu menepuk punggung putranya, kemudian berjalan keluar meninggalkan putranya seorang diri di dalam ruangan mewah itu.
Seketika raut wajah Yanshen berubah pias, kedua netranya membulat sempurna mendengar ucapan Daddy nya barusan. Sungguh Yanshen tak menyangka jika sang Daddy meledek dirinya yang notabenenya putra kandungnya sendiri.
🥕🥕🥕
"Isssh ... kenapa sih dari tadi susah banget dihubungi. Mana nggak pernah telpon lagi kalau Mommy yang nggak hubungi dulu," gerutu seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di taman belakang. Tampak wanita paruh baya itu sedang sibuk mengutak-atik ponselnya dengan kesal.
"Tunggu ... bukankah semalam Mommy telpon Daddy, tapi kenapa ada suara anak kecil ya? Dan suaranya cempreng banget. Isssh ... amit-amit deh punya cucu seperti itu, cerewet banget. Enggak banget deh," ucap Mommy Lihua sambil menggelengkan kepalanya ketika mengingat suara cempreng anak kecil itu di sebrang telpon.
"Pokoknya Yanshen harus punya anak cowok yang tampan biar nggak malu-maluin. Sekaligus bisa jadi penerus kerajaan bisnis keluarga Xie." Lanjutnya dengan senyum mengembang di bibirnya yang telah membayangkan seorang cucu laki-laki yang tampan.
Ya wanita itu tak lain adalah Mommy Lihua, yang sedari tadi kesal karena nomor telpon suaminya tidak aktif. Apalagi sudah satu minggu ini suaminya sedang ada urusan pekerjaan bersama putranya ke luar kota. Mengingat suaminya masih berkontribusi penuh dengan perusahaan yang telah diambil alih oleh sang putra.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan."
"Ck, kenapa sih gak aktif terus. Heran deh." Mommy Lihua berdecak kesal mendengar suara operator di ponselnya ketika dia hendak menghubungi suaminya. Berharap mendengar suara suami tercintanya, tapi malah suara operator lah yang dia dengar.
🥕🥕🥕
"Jun Jie, Ji Chan ... ayo kita pergi jalan-jalan," seru Daddy Jinhao pada kedua cucunya.
"Jalan-jalan? Kemana Opa?" tanya Ji Chan mengulang ucapan Daddy Jinhao dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Bagaimana kalau kita pergi ke mall?" tawar Daddy Jinhao sambil menatap kedua cucunya bergantian.
"Disana ada makanan kesukaan Ji Chan nggak Opa?" tanya Ji Chan polos dengan raut wajah menggemaskan.
"Jelas ada dong sayang. Marshmallow, bukan kesukaan kamu?" tebak Daddy Jinhao yang mulai paham dengan makanan kesukaan cucunya itu.
Ji Chan mengangguk cepat. "Iya Opa."
"Tapi ... kok Opa tahu makanan kesukaan Ji Chan?" Ji Chan kembali bertanya sambil memiringkan kepalanya menatap wajah Daddy Jinhao dengan tangan mungilnya menyangga dagunya.
"Tentu, Opa kan sayang kalian. Jadi, sudah pasti Opa tahu makanan kesukaan kalian," ucap Daddy Jinhao tersenyum lembut.
"Ji Chan juga sayang Opa." Tanpa peringatan Ji Chan langsung mencium pipi mulus Daddy Jinhao.
Hal itu tentu saja membuat Daddy Jinhao terharu melihat sikap Ji Chan yang tampak menyayanginya. Namun, berbeda dengan Jun Jie yang masih terdiam dengan ekspresi datarnya. Bocah laki-laki itu tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Pasalnya selama ini dia tidak pernah pergi jalan-jalan bersama kakeknya, yang memang Jun Jie hanya hidup berempat bersama Mommy, nenek dan saudara kembarnya. Jadi, tentu saja Jun Jie masih bingung untuk menyikapi situasi yang terjadi saat ini.
"Jun Jie ... apa kamu tidak mau cium Opa seperti Ji Chan yang mencium Opa barusan?" tanya Daddy Jinhao menatap lekat cucu laki-lakinya.
Sekeras mungkin Daddy Jinhao mengikis jarak membuat cucunya itu merasa nyaman bersama dirinya agar saat dia pergi jalan-jalan tidak ada rasa canggung diantara mereka. Selain itu Daddy Jinhao menunjukkan sesuatu pada Jun Jie, sebuah paper bag yang berukuran besar dia ambil dari mobil kemudian diletakkan di atas meja.
"Besar kali Opa, itu isinya apa?" tanya Ji Chan dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Itu bom Ji Chan. Awas, jangan dekat-dekat!" seru Jun Jie memperingati saudara kembarnya yang sedikit kepo dengan barang yang ada di hadapannya.
"Bohong! Ji Chan nggak percaya. Bilang aja kalau Abang juga mau lihat isinya apa kan?" tukas Ji Chan yang langsung melengos wajahnya ke arah lain sambil bersedekap.
"Aiiiish ... terserah kamu sudah, buka saja kalau kamu mau. Tapi, awas saja kalau wajah cantikmu itu berubah jadi arang. Abang nggak tanggung jawab pokoknya," ucap Jun Jie memperingati.
Ji Chan menghela napas kasarnya. "Iya-iya, nurut deh."
"Jun Jie, ini Opa belikan khusus buat kamu. Ayo dibuka," seru Daddy Jinhao pada cucu laki-lakinya. Berharap sang cucu mau menerima hadiah darinya, mengingat sifat cucunya itu yang sangat dingin. Jelas Daddy Jinhao takut jika pemberiannya ditolak oleh Jun Jie.
"Terus buat Ji Chan mana opa? Kok cuma Abang aja yang dikasih," tanya Ji Chan sendu.
"Opa lupa ya sama Ji Chan," lanjut bocah perempuan itu yang mulai merajuk sambil mengerucutkan bibirnya.
Daddy Jinhao menepuk pelan jidatnya sebelum kemudian kembali bersua.
"Enggak lah, mana mungkin Opa lupa sama cucu Opa yang cantik ini," balas Daddy Jinhao mengelus lembut rambut panjang cucunya itu.
"Taraaa ... ini spesial buat Ji Chan, cucu Opa yang paling cantik." Daddy Jinhao mengeluarkan sebuah paper bag yang sengaja dia simpan di bawah meja ruang tamu. Tadi dia sengaja mengeluarkan satu paperbag untuk Jun Jie.
"Woaaahhh, bagus banget Opa. JI Chan suka, makasih Opa sayang."
🥕🥕🥕
"Hei, kalau jalan pakai mata dong biar nggak nabrak orang."
"Tuh kan ... sepatuku jadi kotor, mana belinya di beijing lagi."
.
.
.
🥕Bersambung🥕