Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Naga dan Cahaya Palsu
Hutan Terlarang di belakang Akademi Sihir Royal Aethelgard adalah tempat yang dihindari oleh semua orang yang waras. Konon, hantu-hantu penyihir gagal berkeliaran di sana. Namun bagi Varian, tempat ini adalah satu-satunya tempat yang cukup sunyi untuk menyembunyikan dosa.
Tengah malam. Bulan purnama tertutup awan hitam, seolah alam semesta tahu apa yang akan terjadi dan memilih untuk memalingkan wajah.
Varian berdiri di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pohon-pohon mati. Dia telah membuat lingkaran sihir peredam suara (Silent Zone) di sekeliling area itu agar teriakan—apa pun yang terjadi—tidak terdengar sampai ke asrama.
Di hadapannya, bayangan hitam memanjang di tanah. Dari dalam bayangan itu, Viper (Undead) muncul perlahan, tubuhnya kaku namun patuh. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu hitam yang dilapisi mantra penyegel.
"Barang pesananmu, Tuanku," suara Viper terdengar parau, seperti gesekan tulang kering.
Varian membuka kotak itu.
Uap panas langsung menyembur keluar, membuat rumput di sekitar kotak itu layu seketika. Di dalam kotak, berdenyut sebuah organ sebesar kepalan tangan orang dewasa. Warnanya merah menyala seperti bara api yang tak kunjung padam, dengan urat-urat keemasan yang berkedip seirama detak jantung.
Jantung Naga Api Kuno.
Barang curian dari Menara Sihir yang membuat seluruh kerajaan sedang panik saat ini.
"Kerja bagus," kata Varian datar. "Kembalilah ke bayangan."
Viper membungkuk, lalu tubuhnya meleleh kembali menjadi genangan hitam di tanah, menyatu dengan dimensi saku Varian.
Kini hanya ada Varian dan jantung itu.
Tanpa ragu, Varian mengambil jantung yang masih berdetak itu dengan tangan kosong. Panasnya luar biasa. Kulit telapak tangan Varian mendesis, bau daging terbakar tercium. Tapi Varian tidak melepaskannya.
Dia tidak akan memasaknya. Dia tidak akan memotongnya menjadi ramuan. Sesuai buku kuno Theory of God-Slaying yang dia baca, cara terbaik mendapatkan esensi kekuatan makhluk mitos adalah dengan memakannya mentah-mentah saat energinya masih murni.
Varian membuka mulutnya lebar-lebar. Gigi-giginya menggigit daging alot jantung naga itu.
CROT.
Darah naga yang mendidih menyembur ke dalam mulutnya. Rasanya bukan seperti darah biasa. Rasanya seperti menelan lava cair yang dicampur dengan bubuk mesiu.
"ARGH!"
Varian mengerang tertahan. Dia memaksa dirinya menelan potongan pertama. Kerongkongannya terasa hancur terbakar. Lambungnya bergejolak, menolak benda asing yang terlalu kuat itu.
Tapi Varian terus makan. Gigitan kedua. Gigitan ketiga.
Tubuhnya jatuh berlutut. Kejang-kejang hebat melanda dirinya.
Energi naga itu liar, purba, dan destruktif. Ia tidak terima dimakan oleh manusia rendahan. Energi itu mengamuk, membakar pembuluh darah Varian dari dalam. Kulit Varian mulai melepuh, memerah, lalu mengelupas seperti kertas terbakar, memperlihatkan daging merah di bawahnya.
Tulang-tulangnya berbunyi krak keras, patah satu per satu karena tekanan energi yang memadatkan struktur tubuhnya.
"Sakit... SAKIT!"
Varian meraung. Rasa sakit ini jauh lebih parah daripada saat dia disiksa Ksatria Suci dulu. Ini adalah rasa sakit molekuler.
Namun, di tengah penderitaan itu, sihir Abyssal Immortality (Keabadian Iblis) bekerja.
Sel-sel iblis di tubuh Varian bertarung melawan sel-sel naga.
Hancur. Sembuh. Hancur. Sembuh.
Tubuhnya menjadi medan perang. Varian muntah darah hitam bercampur api. Matanya yang satu ungu dan satu hitam melotot nyaris keluar.
"Aku... tidak akan... mati di sini..." desis Varian di sela-sela napasnya yang memburu. "Aku harus membunuh Lucius... Aku harus membunuh Dewa..."
Kebenciannya menjadi jangkar yang menahan kesadarannya agar tidak hilang.
Proses itu berlangsung selama tiga jam yang menyiksa.
Ketika fajar menyingsing, dan burung-burung mulai berkicau di kejauhan, Varian masih berlutut di tanah. Tubuhnya berasap. Bajunya sudah hancur total menjadi abu.
Perlahan, Varian berdiri.
Kulitnya yang baru tumbuh tampak mulus, pucat seperti porselen, namun jika disentuh, rasanya sekeras baja tempaan. Otot-ototnya lebih padat. Jantungnya berdetak lambat namun kuat, sekuat palu godam.
Varian mengepalkan tangannya. Dia meninju pohon mati di sampingnya tanpa menggunakan mana.
BLAR!
Batang pohon sekeras batu itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi serbuk kayu hanya dengan kekuatan fisik murni.
"Kapasitas manaku... meningkat tiga kali lipat," gumam Varian. Suaranya terdengar lebih dalam. "Dan fisiku sekarang setara dengan monster Boss Dungeon tingkat menengah."
Dia mengambil baju cadangan dari cincin spasialnya dan memakainya. Sekarang, saatnya eksperimen utama. Tujuan sebenarnya dia masuk ke Akademi.
Varian memejamkan mata. Dia memanggil energi kegelapan (Void) di telapak tangannya. Sebuah bola hitam pekat terbentuk, menyerap cahaya pagi.
"Di dunia ini, kegelapan dilarang. Cahaya dipuja," Varian berbicara sendiri, menganalisis situasi. "Jika aku menggunakan Void, aku akan diburu. Jika aku menggunakan api naga, aku akan dicurigai sebagai pencuri Menara."
"Kalau begitu... aku harus menipu mata mereka. Aku harus menipu Tuhan mereka."
Varian menggunakan kontrol mana barunya yang presisi—kemampuan yang didapat dari memakan jantung naga, makhluk yang paling peka terhadap mana.
Dia mulai menekan bola kegelapan itu.
Tekan.
Mampatkan.
Padatkan.
Biasanya, bola energi akan meledak jika ditekan terlalu kuat. Tapi dengan wadah tubuh naga-iblisnya, Varian bisa menahannya. Dia memampatkan partikel Void hingga ke titik ekstrem, titik di mana kegelapan itu sendiri tidak sanggup menahan densitasnya.
Sama seperti lubang hitam yang memuntahkan radiasi, atau batu bara yang ditekan menjadi berlian.
Ziiing!
Bola hitam di tangan Varian mulai berubah warna. Bergetar hebat.
Dari Hitam pekat -> Ungu tua -> Biru menyala -> dan akhirnya...
PUTIH MENYILAUKAN.
Sebuah bola cahaya putih murni melayang di tangan Varian. Begitu terang, begitu indah, persis seperti sihir Cahaya Suci tingkat tinggi.
Varian membuka matanya. Dia menatap ciptaannya sambil tersenyum miring.
Di mata orang awam, bahkan di mata penyihir biasa, ini adalah Elemen Cahaya. Tapi Varian bisa merasakannya. Intinya tetaplah Void. Sifatnya tidak "hangat" dan "menyembuhkan" seperti cahaya asli. Sifatnya "dingin", "kosong", dan "menghapus".
Jika cahaya asli membakar dosa, cahaya milik Varian menghapus keberadaan.
"Teknik baru: False Divinity (Kedewaan Palsu)," Varian menamai kekuatannya. "Dengan ini, aku bisa membunuh mereka dengan 'Tuhan' mereka sendiri. Serigala berbulu domba yang sempurna."
Varian menggenggam bola cahaya itu hingga padam.
"Sekarang... mari kita tes mainan baru ini pada Tuan Putri yang sombong itu."