Dipisahkan dengan saudara kembar' selama 8 tahun begitu berat untukku, biasanya kami bersama tapi harus berpisah karena Ibu selingkuh, dia pergi dengan laki-laki kaya dan membawa Nadira saja, sedangkan aku ditinggalkan dengan Ayah begitu saja.
Namun saat kami akan bertemu aku malah mendapatkan sesuatu yang menyakitkan Nadira mati, dia sudah tak bernyawa, aku dituntun oleh sosok yang begitu menyerupai Nadira, awalnya aku kira dia adalah Nadira yang menemuiku tapi ternyata itu hanya arwah yang menunjukan dimana keberadaan Nadira.
Keadaannya begitu mengenaskan darah dimana-mana, aku hancur sangat hancur sekali, akan aku balas orang yang telah melakukan ini pada saudaraku, akan aku habisi orang itu, lihat saja aku tak akan main-main untuk menghabisi siapa saja yang telah melakukan ini pada saudaraku. Belahan jiwaku telah hilang untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi berhasil
Kembali terlihat Nadira yang lewat dengan gaun merahnya dan sama begitu cepat, Aldi sama sekali tak takut malah terus mengikutinya.
"Nad, itu kamu"
Saat Aldi membuka pintu terlihat ada Nadira dengan gaun merahnya membelakanginya, dengan ragu Aldi mendekatinya.
"Nad, bukannya kita baru aja bicara ya, kenapa kamu udah ada disini aja"
"Gimana Kak"
"Apa" Aldi berhenti dan tak kembali melangkah mendekati Nadira, entah kenapa bulu kuduknya merinding.
"Senang ga hidup tanpa aku, gimana rasanya tanpa ada yang mengikuti Kakak, kenapa Kakak tak pernah mau menolong aku, kenapa Kakak tega banget sama aku, kalau aja saat itu Kakak temuin aku mungkin ga akan gini"
"Apa sih Nad, aku ga ngerti tiba-tiba kamu bicara kayak gitu"
"Kakak ga akan pernah ngerti aku, sampai kapanpun Kakak hanya menjadikan aku alat kepuasan Kakak, kenapa Kakak ga pernah mencintai aku dengan tulus kenapa Kak, kenapa" terdengar suara tangis Nadira dan mulai menggema.
Aldi yang mendengarnya malah kesakitan, telinganya sakit dan dengan refleks Aldi menutup kedua telinganya, berteriak untuk Nadira berhenti menangis.
"Kenapa, bukannya dari dulu Kakak sangat suka kalau aku menangis, kenapa sekarang ga suka Kak, Kakak adalah orang yang selalu membuat aku sakit dan Kakak akan puas saat melihat aku menangis dan kesakitan, Kakak jahat, Kakak ga pernah sayang sama aku"
"Nad cukup Nad"
"Aldi lo kenapa"
Aldi membalikan tubuhnya dan melihat Fajri yang kebingungan, lalu tatapan Aldi kembali pada Nadira tapi sekarang sudah tak ada siapa-siapa.
"Kenapa Sih, Siska udah nunggu kamu"
"Aku lagi bicara sama Nadira, dia tadi ada disana" tunjuk Aldi.
"Saat aku masuk kamu sendiri dan berteriak teriak, udah ayo cepat" tanggal Aldi ditarik dengan kencang oleh fajri, namun tatapan Aldi masih terus ketempat dimana dia bertemu dengan Nadira kenapa bisa, Nadira tadi masuk ke kamar tak lama Aldi pergi Nadira sudah ada dihadapannya, aneh bukan dan Aldi benar-benar tak bisa memikirkan bagaimana Nadira dengan cepat keluar dari dalam kamarnya itu.
"Kak Aldi kamu lama banget sih" kesal Siska.
Aldi menatap Siska tanpa menjawab, mengambil ponsel dan kunci motornya lalu pergi begitu saja.
"Kak Aldi mau kemana, Kak" teriak Siska tak terima ditinggalkan begitu saja.
Alfi segera menahan Siska yang akan menyusul Aldi "Udah biarkan, Aldi punya kesibukan ga usah di kejar"
"Apaan sih, ga usah ikut campur" kesal Siska dan membawa ponselnya lalu masuk ke dalam kamar begitu saja.
Fajri menepuk-nepuk punggung Alfi dan segera mengajaknya pulang, untuk apa disini juga tak ada kerjaan lebih baik pulang saja.
"Lupakan Siska, dia tak akan cocok di jadikan Ibu dari anak-anak lo nanti cari yang baik dan bukan perempuan yang mudah digilir sama laki-laki manapun, banyak perempuan cantik di luaran sana"
"Tapi gue sukanya sama Siska, ga masalah pernah lakuin sama siapa aja yang penting gue yang pertama kan"
"Memang ya cinta itu buta bahkan bisa sampai buat orang bodoh, udahlah terserah lo aja yang penting gue udah kasih tahu"
Fajri meninggalkan Alfi begitu saja, percuma bicara dengan orang yang sedang jatuh cinta tak akan masuk, malah terus mencari-cari pembenaran.
"Eh malah ditinggalin, kenapa sih Fajri ini nyebelin banget" kesal Alfi dan segera menyusul kawannya itu, kenapa sih Fajri begitu tak suka kalau dirinya mencintai Siska.
...----------------...
Merry yang melihat rekaman itu tentu saja sakit hati, marah, kecewa kenapa sih Gavin selalu saja membuatnya sakit hati, selalu saja mengulang kesalahan yang sama.
Merry mengambil pisau dan menyimpannya dengan aman didalam tasnya, dengan amarah yang begitu besar Merry akan mendatangi rumah Gavin dan akan memberikan pelajaran, agar Gavin mengerti kalau dirinya tak akan membiarkan Gavin menyakitinya lagi.
Merry sudah tak bisa menahan lagi, ini adalah titik kesabarannya habis, Gavin sudah membangunkan sisi kejamnya yang sudah lama terkubur dengan dalam. Merry masuk tanpa permisi, mengeluarkan pisau yang dia bawa tadi, membuka pintu tempat tidur Gavin kasar dan masih ada perempuan yang tidur dengan Gavin itu, bukan hanya satu tapi dua.
Dengan amarah yang makin menggebu-gebu, Merry mengarahkan pisau itu tepat kearah burung Gavin dan "Akhh" teriakan Gavin begitu renyah ditelinga Merry.
Teriakan itu membuat dua perempuan tadi berteriak dan kaget melihat darah yang sudah mengalir. Merry kembali mengarahkan pisau itu ke dada Gavin, namun gavin menahannya dengan sebelah tangannya, Merry tak kehabisan akal mengunakan kedua tangannya dan menekan kannya ke tangan Gavin sampai tembus dan makin membuat Gavin kehabisan darah.
Dua perempuan itu sudah kabur dan tak mau menolong Gavin sama sekali, mereka tak mau jadi sasaran berikutnya.
"Kamu apa-apaan sih, Merry gila dasar perempuan gila sialan" teriak Gavin yang sudah tak kuat dengan kesakitan yang dilakukan oleh Merry.
"Ini balasan untuk laki-laki buaya seperti kamu, kamu pantas mendapat ini, bahkan menurutku pantas untuk mati" srek, Merry menarik pisau yang menancap tadi ditangan Gavin dan kembali menghujamkan tepat ke dada Gavin sampai beberapa tusukan yang membuat Gavin muntah darah.
Tubuhnya sudah tak bisa melakukan apa-apa dan mungkin ini adalah hari terakhirnya untuk hidup. Merry mengusap peluh yang bercampur darah Gavin, senyum puas terukir di bibir Merry.
"Mati adalah hal yang bagus untuk kamu, dari pada hidup hanya zina dan menyakitiku saja, kamu pantas mati dan aku sama sekali tak menyesal telah melakukan ini padamu Gavin, aku senang bisa seberani ini mengambil langkah yang tepat untuk menghabisi laki-laki seperti kamu, cukup hanya aku yang kamu sakiti jangan ada lagi perempuan lainnya"
Merry melangkah pergi dengan pisau yang masih ada ditangannya, hidupnya sudah hancur dan Merry sudah tak peduli dengan masa depannya.
Hidup memang pilihan, dan ini pilihan Merry untuk menghabisi Gavin dam menghadirkan segala hidupnya yang nyaman dan mungkin sebentar lagi akan ada polisi yang menangkapnya dan Merry tak akan melakukan bunuh diri untuk menghindari para polisi.
...----------------...
"Berhasil, tak usah mengotori tangan cantik ku ini untuk membunuh orang jahat itu, setelah ini siapa lagi yang harus aku habisi tanpa mengotori tanganku ya"
Nadia berguling-guling di tempat tidur barunya, sebentar lagi selesai dan Nadia hanya tinggal mencari pelaku utamanya dan pasti akan ketemu.
Nadia memutuskan sambungan cctv-nya dengan yang ada dikamar Gavin jangan sampai semua tertuju padanya dan menjadi dirinya yang disalahkan atas kasus ini. Nadia ingin bersih dari segala tuduhan, dan Merry pantas menerima hukuman nanti.