NovelToon NovelToon
After Returning

After Returning

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Seraphine Grey meminta ibu dari Damien Knox untuk menjodohkan mereka berdua karena ia tahu Damien tidak bisa menolak permintaan ibunya. Dari dulu Sera sudah mencintai Damien, namun bahkan hingga tiga tahun pernikahan mereka perasaannya tidak terbalas sedikitpun.

Damien hanya mencintai satu wanita. Saat wanita itu kembali, Damien dengan tega membawanya ke dalam rumah pernikahan mereka. Sera meninggal tragis saat mencoba menjauhkan wanita itu dari Damien.

Tuhan memberinya kesempatan kedua. Sera kembali ke malam pertama pernikahan mereka. Rasa sakit yang Sera dapatkan selama menikah dengan Damien membuat Sera tidak lagi mengemis cintanya. Sera ingin secepatnya pergi namun fakta baru yang didapatkan tentang benang kusut antara Sera, Damien, dan mantan kekasih Damien yang tak pernah terurai membuatnya ragu. Apakah Sera akan tetap pergi atau mengurai misteri yang ada bersama Damien?



Cerita ini murni ide penulis, kesamaan nama tokoh dan tempat hanyalah karangan belaka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Menjelang tengah hari, suara langkah sepatu terdengar dari lantai atas. Aurel muncul kembali, kini mengenakan mantel tipis dan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajah angkuhnya. Ia mengambil tas tangan dari meja marmer, lalu berhenti sejenak di ambang pintu.

“Aku akan keluar. Kalau sudah selesai kamu pulang saja, bayaran kamu ada di meja ruang tamu,” katanya tanpa menoleh. Tak ada senyum, tak ada basa-basi.

Tak lama kemudian, pintu utama tertutup rapat. Bunyi kuncinya terdengar jelas, disusul kesunyian yang perlahan mengisi rumah besar itu. Mobil di halaman depan menyala, lalu menjauh, meninggalkan keheningan dalam rumah.

Sekarang hanya ada Sera, tugasnya hanya membersihkan seluruh ruangan yang dikatakan oleh Aurel tadi. Sementara pembantu di rumah ini bertugas mengurus pakaian Aurel dan memasak. Jika pekerjaan mereka selesai, mereka lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Hal itu sedikit memudahkan Sera yang akan menyelinap masuk ke ruang kerja dan kamar Aurel.

Sera menunggu. Satu menit. Dua menit. Tak ada suara lain selain detak jam dinding.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menyusuri lorong. Saat berdiri di depan pintu ruang kerja, jantungnya berdegup lebih cepat. Ini ruangan yang dilarang. Ruangan yang ditegaskan berkali-kali untuk tidak dimasuki.

Tangannya terangkat, ragu, lalu menyentuh gagang pintu.

Pintu itu tidak terkunci.

Ia menarik napas, lalu mendorongnya sedikit, cukup untuk menyelinap masuk. Aroma berbeda menyambutnya: lebih dingin, lebih kaku, seperti ruangan yang jarang disentuh manusia lain. Tirai setengah tertutup, cahaya siang menembus samar, menerangi meja kerja besar yang penuh map, kertas, dan sebuah laptop tertutup.

Ia melangkah masuk sepenuhnya, menutup pintu perlahan di belakangnya. Di dalam ruangan itu terasa suram. Pandangan Sera langsung tertuju pada dinding di belakang meja kerja.

Ia mendekat perlahan, lalu terdiam.

Dinding itu hampir seluruhnya tertutup. Bukan oleh lukisan atau rak buku, melainkan oleh puluhan foto yang ditempel sembarangan seperti papan investigasi dalam serial kriminal. Foto-foto itu dipaku dan direkatkan dengan selotip bening, beberapa sudah menguning di sudutnya. Ada potret wajah dari jarak dekat, ada pula foto candid yang diambil diam-diam dari kejauhan. Sebagian buram, seolah dipotret tergesa-gesa.

Benang merah tipis membentang dari satu foto ke foto lain, saling bersilangan, bertaut pada catatan kecil yang ditulis tangan. Tanggal. Jam. Lokasi. Nama.

“Papa Damien…” Gumam Sera menatap lebih lama pada foto pria paruh baya yang terlihat berwibawa, dia memiliki bola mata biru yang sama dengan Damien. Garis wajah mereka juga mirip.

“Jadi benar kematian Papanya Damien ada sangkut pautnya dengan mereka.” Sera mengarahkan kamera ponselnya ke foto-foto tersebut. Mengambil banyak foto.

Setelah itu Sera melihat potongan artikel majalah fashion tercampur di antaranya, headline besar tentang model kelas dunia, karier gemilang, pemotretan eksklusif. Namun di sela-selanya terselip salinan berita kecil: kecelakaan, orang hilang, kematian mendadak yang tak pernah menjadi sorotan utama.

Beberapa foto diberi lingkaran tebal dengan spidol hitam. Wajah-wajah itu ditandai, ditekankan, seperti target. Di sudut dinding, ada satu foto yang tampak paling sering disentuh, ujungnya kusut, bekas jari terlihat jelas. Foto seorang wanita… wajahnya familiar, terlalu familiar.

Tenggorokannya terasa kering.

Ini bukan sekadar papan kenangan. Bukan pula moodboard seorang model. Ini adalah peta. Pola. Rangkaian hidup orang-orang yang dihubungkan oleh sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Ia mundur setengah langkah, nafasnya memburu.

“Aku harus memeriksa lacinya,” Ujar Sera dengan cepat membuka laci meja kerja Aurel. Di dalamnya terdapat banyak sekali dokumen, baik milik perusahaan ataupun dokumen lain yang membingungkan.

Salah satu yang menarik perhatian adalah dokumen bertuliskan : Ezra X Damien.

Tap…

Tap…

Tap…

Sera ingin membuka dokumen itu lebih jauh, tapi samar-samar ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

Jantungnya seakan berhenti berdetak selama satu detik. Ia menoleh cepat ke arah pintu ruang kerja, matanya membelalak. Aurel seharusnya belum kembali. Mobilnya sudah pergi.

“Apa dia tahu aku masuk kemari, dan bergegas kembali?” Monolog Sera cemas. Tapi mana mungkin Aurel tahu. Ia sudah memastikan tidak ada yang melihatnya masuk ke ruangan ini.

Panik merayap naik ke dadanya.

Ia mundur tergesa, nafasnya memburu. Pandangannya berkeliling ruangan, mencari apa pun atau dimanapun tempat untuk bersembunyi. Meja kerja terlalu terbuka. Tirai terlalu tipis. Pintu… terlalu berisiko.

Langkah kaki itu kini lebih jelas. Satu hentakan kecil terdengar di luar, tepat di lorong.

Tangannya gemetar saat ia melihat ke samping meja, ada ruang sempit di balik lemari arsip tinggi yang menempel ke dinding. Tanpa berpikir lagi, ia menyelinap ke sana, tubuhnya merapat, punggungnya menekan kayu dingin. Ia menahan napas, menutup mulut dengan tangan agar tak ada suara yang lolos.

Detik berikutnya, gagang pintu bergerak.

Bunyi klik pelan terdengar, menusuk telinganya seperti ledakan. Ia memejamkan mata, seluruh tubuhnya kaku, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut suaranya bisa terdengar keluar.

...✯✯✯...

...like, komen dan vote 💗...

1
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
Nda
ko end sh thor,kenapa tidak lanjut.
padahal hubungan demien sama Sera baru di mulai😩
sarinah najwa
sudah end yah
olyv
senam jantung euy
Arieee
siapa tu🤧🤧🤧🤧🤧🤧
sarinah najwa
sumpah tegang banget
olyv
nexttt
Dew666
🔥🏆
olyv
lanjuuuutt 💪💪😙
olyv
lucu juga damian, kalau muka sadar ya dingin, tegas, arogan, tapi kalau mabuk beda lagi sifatnya
Dew666
🍭🔥
kalea rizuky
MC lemah menye2 mood baca anjlok
kalea rizuky
ttep goblok meski uda pernah Mati g guna jg lu. balik. oon
kalea rizuky
kebanyakan ngomong dalam hati
kalea rizuky
tololl urus cerai lahh trs pergi jauhh males liat MC oon
Kevin
🥰🥰🥰
Dew666
🍭🔥
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok sera malah selalu masuk jebakan Batman? apa gunanyabdia kembali ke masa lalu KLO tetap aja ga bisa berpikir secara taktis? 🤭🤭
olyv
lanjut 💪💪
Dew666
🍡🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!