Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35.
"Mariana...?"
"Mariana? Kamu lihat suami saya?" tanya Yubie pada sekretarisnya yang sekarang sudah terlihat ketika ia membuka pintu ruang kerjanya. Sepertinya Mariana baru saja datang.
"Pak Cakra pergi ke ruangan Tuan William, Bu."
Mendengar ucapan sekretarisnya itu, Yubie bergegas membawa langkah menuju ruangan sang ayah karena di sanalah suaminya katanya berada. Namun, ketika masuk ke ruang kerja Tuan William, Yubie tidak menemukan Cakra. Ia kembali menutup pintu. Lalu, menghentikan salah satu langkah karyawan lain yang berlalu lalang di depannya dan bertanya di mana Cakra.
"Pak Cakra ada di sana, Bu."
Yubie mengikuti arah yang diberitahukan oleh salah satu karyawan padanya. Dahi Yubie jadi mengernyit, tapi ia tetap mengambil langkah demi mencari keberadaan suaminya itu di perusahaan. Ini masih pagi, dan Yubie sudah kehilangan Cakra.
Dari kejauhan saat Yubie berjalan. Netranya bisa melihat pria dengan stelan khas, kaos hitam serta celana jeans panjangnya, jauh sekali dari gaya orang kantoran pada umumnya. Ia tengah meng-copy sejumlah berkas seraya tangannya sibuk menata lembaran-lembaran kertas itu menjadi beberapa tumpuk bagian.
"Bie, apa yang kau lakukan di sini?" heran Yubie melihat suaminya sedang berhadapan dengan mesin fotocopy dan tengah memperbanyak berkas sendiri? Kenapa tidak meminta karyawan lain saja untuk melakukannya?
"Ah, Bie. Kau sudah siap? Tunggu sebentar, sedikit lagi selesai." Cakra meraih kertas terakhir yang keluar dari mesin dan memisahkannya sesuai jenis dokumen. "Sudah siap. Ayo!" ajaknya pada sang istri sambil berbalik dan berjalan.
"Kenapa tidak meminta karyawan lain yang memperbanyak berkasnya, Bie?" Yubie tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada suaminya itu. Ke mana-mana ia mencari Cakra tadi, dan ternyata suaminya malah sedang menggandakan dokumen.
"Hanya sedikit," jawab Cakra singkat dan terkekeh melihat istrinya yang menggeleng. "Lagian ini bukan pekerjaan mereka. Ini berkas milik perusahaan Safir Corp."
Yang ada di tangan Cakra padahal tidak hanya dokumen tentang perusahaan Safir Corp, tapi juga William Group.
"Ya, tidak apa-apa, Bie. Kau di sini sedang bekerja menggantikan Daddy. Kau berhak mememinta mereka untuk membantumu." Yubie tidak terima dengan ucapan suaminya itu. Yubie tetap menilai jika Cakra berhak memerintahkan apa saja pada karyawan untuk membantunya. Jangan mengerjakan apa-apa sendiri, seperti tadi, bahkan Cakra sampai membuat salinan dokumen sendiri.
"Tapi, tidak dengan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan William Group, kan Babie," kata Cakra menekankan. "Kekuasaan bisa begitu mudah di salah gunakan. Jika, seperti kata-katamu tadi, aku bisa dengan mudah meminta bantuan mereka untuk naik ke atas pangkuanku..."
"Bie?!!" kata Yubie tiba-tiba yang membuat Cakra menghentikan ucapannya karena tersentak. Istrinya itu bahkan sampai memukul lengannya. "Kamu apa-apaan sih!!"
"Sakit, Bie. Astaga! Aku hanya bercanda. Belum juga selesai bicara sudah ditimpuk saja."
"Jangan niat aneh-aneh kamu ya, Bie! Aku benar-benar akan menggantungmu terbalik kalau kamu berani macam-macam!!" Yubie melotot, matanya sampai memerah saat memberikan ancaman itu pada suaminya.
Cakra jelas saja terkejut melihat reaksi berlebihan dari istrinya itu. Ia hanya bercanda dengan ucapannya tadi. Dan hanya memberikan contoh pada Yubie saat seseorang menyalah gunakan kekuasaan. Bukan berniat buruk, apalagi sampai ingin bermain-main wanita, bukan gayanya.
Cakra ternyata salah bicara dan menyinggung Yubie yang sensitif serta pernah trauma dengan yang namanya pengkhianatan.
"Aku bukan pria bajingan yang suka bermain banyak wanita, Bie." Cakra meraih pergelangan tangan Yubie. Ia menarik tubuh istrinya untuk mendekat padanya. Pria itu menatap Yubie dalam. "Dan jika semua pria adalah brengsek. Maka jiwa brengsekku sudah kenyang lebih dulu oleh permainan liar istriku di tempat tidur."
Blush!
Yubie melebarkan mata dengan wajah yang bersemu. Ucapan Cakra berhasil membuat ia malu, bahkan tangan suaminya itu dengan jahil meremas keras pantatnya setelah mengatakan hal seperti itu.
"Dasar mesum!" kesal Yubie pada suaminya.
"Biarin!" Cakra mencium bibir istrinya, yang semakin membuat Yubie terperangah. Ia bahkan langsung menoleh ke kiri dan kanan serta depan belakang demi memperhatikan kondisi koridor kantor. Kalau-kalau ada karyawan yang melihat tingkah mesum suaminya barusan.
"Ayo! Satu ronde dulu sebelum menemaniku ke Safir Corp," ujar Cakra bercanda saat meraih tangan istrinya itu.
Cakra memang berniat membawa Yubie ke perusahaan sang ibu setelah malam tadi sedikit membuka jati dirinya pada sang istri. Yubie begitu terkejut saat tahu apa pekerjaan Cakra sebenarnya. Banyak pertanyaan yang Yubie lontarkan kepada Cakra, tapi Cakra memilih untuk tidak menjawabnya. Ia memberi tahu Yubie bahwa Yubie akan mengetahui semua yang ingin wanita itu ketahui besok, saat Cakra datang ke Safir Corp untuk memimpin sebuah rapat.
Setelah sedikit bersiap di ruang sang istri, Cakra dan Yubie benar-benar meninggalkan William Group. Kali ini Mariana tidak menemani atasannya itu. Yubie memerintahkannya untuk tetap tinggal di perusahaan karena Yubie hanya akan pergi berdua bersama Cakra. Ia ingin memiliki waktu yang begitu pribadi, tidak hanya untuk bersama suami, tapi juga saat mengetahui lebih jauh tentang siapa Cakra.
Terdengar aneh memang, mereka adalah suami istri, tapi di sini Yubie begitu banyak tidak mengetahui tentang suaminya sendiri.
"Perusahaan yang besar," gumam Yubie saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di perusahaan Safir Corp. Ia tiba-tiba bersikap aneh, seperti orang kampung yang memperhatikan seluruh bagian bangunan perusahaan mulai dari lobby. Bukan Yubie tidak pernah melihat bangunan semegah dan seluas ini. Lobby perusahaan Safir Corp tidak kalah mewah dari lobby perusahaan keluarga William. Namun, Yubie merasa tidak percaya saja jika perusahaan besar ini pemimpinnya adalah Cakra, suaminya?
Yubie menoleh ke arah suaminya itu yang berjalan di sisinya dengan tak melepaskan gandengan tangannya. Sedari mereka keluar dari mobil dan sekarang melangkah menuju lift seluruh karyawan yang berpapasan menunduk hormat dan menyapa Cakra serta dirinya. Ternyata sedihormati itulah suaminya. Yubie jadi merasa bangga pada Cakra. Yubie bisa mendengar para karyawan Safir Corp bahkan memanggil Cakra dengan sebutan Tuan.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya."
"Pagi," jawab Cakra saat karyawan menyapanya di depan lift khusus yang akan ia naiki bersama Yubie.
Yubie terlihat tercekat, tak sempat membalas sapaan itu hingga sang karyawan pun telah berlalu. Pasti ia dikira sombong, rutuk Yubie dalam hatinya begitu membatin.
"Kenapa, Bie? Kau sakit?" Melihat wajah istrinya yang agak lain tiba-tiba saja membuat Cakra khawatir.
"Ah, tidak-tidak! Aku... Aku hanya tidak sempat membalas sapaan mereka," jawab Yubie kecewa. "Mereka memanggil kita dengan sebutan Tuan dan Nyonya. Seperti orang-orang kaya-raya saja," cicit Yubie tersenyum kikuk pada Cakra yang malah terkekeh kencang di dalam lift. Apa kata istrinya tadi? Dipanggil Tuan dan Nyonya seperti orang kaya-raya saja? Aduh! Perut Cakra sampai sakit mendengarnya.
"Malah ketawa. Apa yang lucu?" tanya Yubie heran melihat tingkah suaminya.
"Ini istriku yang paling lucu. Udah cantik, lucu lagi! Duh beruntungnya aku punya istri seperti ini." Cakra sempat-sempatnya memukul pantat istrinya di dalam lift yang membuat Yubie memekik terkejut.
"Cakra!" marah Yubie.
"Panggil sekali lagi! Aku gauli langsung kamu di sini!"
"Dih! Di mana belajar ngancam istrinya kayak gitu, hah?!"
Cakra terkekeh melihat Yubie yang marah dengan melototkan mata karena mendengar ancaman frontalnya.
Cakra membawa Yubie langsung ke ruang rapat saat tiba di lantai atas. Ia tidak akan membuat Yubie menunggunya sendirian sampai bosan. Saat memasuki ruangan, semua mata tertuju pada mereka, dan serentak semua orang berdiri, menunduk hormat menyambut kedatangan sang pemimpin perusahaan.
Di sana juga ada Kevin, sahabat Cakra, yang menggelengkan kepala melihat penampilan Cakra. Pria itu masih berpakaian biasa, padahal Kevin sudah mengingatkannya bahwa ini adalah rapat tahunan dengan para pemimpin bagian perusahaan di Safir Corp. Jika sang adik tahu, kakaknya masih gaya slengean seperti sekarang ini, pasti habislah Cakra.
semangat trus kak author ,, dtggu pakee banget update selanjut ny ,,
Bismillah langsung 5 bab🤭🤣🤣 ,,
sehat selalu kak ,,
🤭🤣
Istri mu gelisah nungguin kamu yang nggak pualng-pulang loh ...
mau di bungkus pake ap ni duo ulet sagu ,,
bikin rusuh aja ,,,
🤣🤣🤣🤣
kak author gmn cerita ny sih ,,
si ikan kembung lusy bisa ad di keluarga William ,,
ap tuan William selingkuh ap gmn ,,
/Smug//Smug/