Nayra, siswi SMA yang cerewet, polos, dan sedikit konyol, tak pernah menyangka kalau hidupnya akan jadi seribet ini. Semua gara-gara ia jatuh hati pada kakak dari sahabatnya sendiri, Sersan Arga. Seorang Tentara muda yang dingin, cuek, dan hampir tak pernah tersenyum. Hari-hari selalu membayangkan betapa tampannya seorang Arga Arfian.
Nayra selalu mencari cara agar bisa bertemu dan menyapa sang Sersan. Banyak rintangan yang ia lalu, namun itu tak menyurutkan semangat nya untuk memiliki Sersan Arga.
___
"Hallo, Mas Sersan"
Akan menjadi teman bacamu lebih menyenangkan... Yuk Baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naylest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Di Usir.
Sesampainya di rumah, Nayra melihat kendaraan ayahnya terparkir rapi di depan rumah. Dan ia pun langsung bergegas masuk untuk bertemu sang ayah. Namun, apa yang ia lihat di dalam rumah membuatnya sangat terkejut. Bagaimana tidak? Ia melihat Raffi yang baru duduk di bangku SMP itu menghajar ayahnya.
"Astaga, Raffi. Apa yang kamu lakukan?" Ucap Nayra sambil berlari menghampiri sang adik.
"Raffi, hentikan!" Sentak Nayra lalu menarik tangan adiknya.
Dari wajah Raffi sangat terlihat jelas emosi dan kemarahannya terhadap sang ayah. Nafasnya ngos-ngosan setelah menghantam wajah laki-laki yang dulu menjadi pahlawan baginya.
"Kamu kenapa pukul ayah, Raf?" Tanya Nayra.
"Tanya saja sama laki-laki bangsat itu." Tunjuk Raffi ke arah ayahnya.
Nayra pun menoleh ke arah ayahnya, dan terlihat ayahnya sedang mengelap sudut bibirnya, bekas tonjokkan Raffi hingga menimbulkan memar di wajah ayahnya.
"Mama mana?" Tanya Nayra kepada adiknya.
"Ada di kamar, sebaiknya Kakak juga pergi ke kamar dan bereskan semua barang-barang kakak. Karena kita diusir sama dia." Jawab Raffi, lalu menunjuk ke arah ayahnya.
Nayra menatap tak percaya ke arah ayahnya. "Maksud Ayah apa? Ayah beneran ngusir kita dari rumah?"
Ayah Nayra pun bangkit. "Ya. Ini rumah peninggalan kakek kalian untuk ayah." Jawabnya.
Nayya tertegun sejenak, lalu tertawa hambar. "Ternyata benar apa yang Nayra dengar selama ini. Ternyata ayah selingkuh dan memilih perempuan itu dibandingkan mama. Apa Ayah tidak pernah berfikir, selama ini kami selalu ada untuk Ayah, kami selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk ayah, apalagi mama. Mama begitu sabar menghadapi sifat Ayah selama ini, tapi ini balasan Ayah untuk Mama? Ayah khianati mama dan memilih perempuan lain, dibandingkan orang yang sudah melahirkan kedua anak ayah. Apa tidak ada sedikit saja celah di hati ayah saat melihat mama dan kami berdua? Melihat bagaimana pengorbanan Mama selama ini? Apa Ayah tidak memiliki hati nurani sedikitpun untuk melihat bagaimana mama menemani ayah, di saat Ayah hanya punya rumah ini? Jangan egois, yah. Ayah menyakiti mama, sama saja Ayah menyakiti kedua anak ayah. Aku nggak rela, ayah mempermainkan perasaan mama." Ucap Naira sambil menangis yang tidak habis pikir dengan ayahnya, belum juga ia membahas masalah perselingkuhan ayahnya, tapi ayahnya sudah lebih dulu mengusir mereka.
"Maafkan ayah. Ayah tidak bisa bersama kalian lagi. Ayah sudah menikah dengan selingkuhan ayah, karena sekarang dia sedang mengandung anak ayah."
Deg.
Begitu runtuhnya hidup Nayra mendengar pernyataan itu. Tubuhnya linglung, kakinya lemas dan terasa tak berdaya. Ternyata ayahnya sudah sejauh itu bersama perempuan lain.
"Raffi, kita beri pelajaran laki-laki yang tidak tahu diri ini." Kata Nayra lalu mendekat ke arah ayahnya dan memukul wajah, serta tubuh laki-laki yang darahnya mengalir di dalam tubuh Nayra.
Bug bug bug.
Keduanya melampiaskan kemarahan kepada sang ayah dengan cara menggebuk seluruh tubuh ayahnya. Ayahnya pun tidak bisa berkutik, hanya bisa pasrah di saat kedua anaknya melampiaskan amarahnya. Karena itu memang kesalahan yang sudah ia perbuat secara sengaja dan dia juga sudah siap jika kedua anaknya akan marah kepadanya.
"Nayra, Raffi."
Mendengar suara sang mama, Nayra dan Raffi pun menghentikan aksinya.
"Itu masih barang-barang kalian. Mama tunggu di luar." Kita Mama Indy pada kedua anaknya.
"Ma, kenapa tidak laki-laki ini saja yang pergi dari rumah ini?" Kata Nayra.
"Ini peninggalan nenek kalian, untuk ayah kalian. Jadi, kita tidak berhak atas rumah ini." Jawab Mama Indy yang terlihat ingin tegar di depan kedua anaknya.
"Tapi ma, kan ayah yang berkhianat. Seharusnya rumah ini dia berikan untuk kita, bukan malah mengusir kita dari rumah."
"Sudahlah, nak. Kita cari kehidupan baru di luar sana." Jawab Mama Indy, lalu tersenyum kepada kedua anaknya. "Mama tunggu di luar." Ucapnya, belum mengerek koper keluar rumah.
Mendengar ucapan mamanya, Mereka pun akhirnya nurut dan bergegas mengemasi barang-barang di dalam kamar mereka. Melihat kedua anaknya sudah masuk ke dalam kamar, Ayah Nayra punya menghampiri mamanya yang sedang duduk di teras menunggu kedua anaknya.
"Indy." Panggilnya, sambil meringis menahan sudut bibirnya yang berdarah.
Mama Indy tidak menoleh sama sekali, karena hatinya begitu hancur.
"Maafkan Mas, Indy."
Namun tidak ada respon dari Mama Indy. Suaminya mendekat, suami nya mencoba menggenggam tangan sang istri. Namun, Mama Indy langsung menarik tangannya dengan cepat.
"Sampai mati pun Aku tidak akan memaafkan kamu." Itulah ucapan Mama Indy setelah ia terdiam beberapa menit.
"Aku tahu, aku salah. Dan aku juga tahu aku mengkhianati kamu juga anak-anak kita. Tapi, Aku sangat mencintai kalian, Aku menyayangi kalian. Aku-"
"Simpan saja cinta dan sayangmu itu, karena aku tidak sudi mendengar kata-kata bullshit mu itu. Kalau kamu cinta dan sayang sama keluargamu, tidak mungkin kamu mengkhianati rumah tangga yang sudah kita bina selama 20 tahun." Jawab Mama Indy dengan suara bergetar.
"Selama ini aku selalu setia sama kamu, setiap hari aku menunggu kepulanganmu, walaupun aku tahu kamu hanya bisa pulang 1 sampai 2 minggu sekali. Tapi aku masih berharap kamu pulang di saat aku benar-benar merindukan kamu. Tapi ternyata, orang yang sangat ku rindukan dan aku cintai setiap hari, mengkhianati kesetiaan yang ku berikan kepadamu. Aku kecewa sama kamu, aku kecewa kamu mengingkari janji yang sudah kamu ucapkan di depan kedua orangtuaku."
"Indy, Maafkan aku."
"Cukup! Aku sudah katakan, tidak akan memaafkan laki-laki pengkhianat sepertimu." Sentak mama Indy dengan wajah memerah.
Melihat kemarahan istrinya, Ayah Nayra pun langsung memeluk mama Indy. Mungkin bisa di bilang untuk terakhir kalinya. Namun, dengan cepat mama Indy melepaskan pelukannya, karena ia merasa jijik di peluk oleh laki-laki yang sudah mengkhianati rumah tangga nya.
"Ma, ayo pergi."
Mama Indy menoleh ke arah kedua anaknya yang sudah siap dengan koper dan barang lainnya.
"Ayo,"
"Indy," panggil ayah Nayra, namun tidak dipedulikan oleh mama Indy.
Nayra dan Raffi pun menyusul langkah sang mama, namun di cegat oleh ayahnya.
"Nay, Raffi. Maafkan ayah, ayah say-"
"Kamu bukan ayahku."
Deg....
*********