Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23: Tipu Muslihat Gadis Kecil
"Begitulah ceritanya."
Annastasia, Luna, dan Ren yang tercengang mendengar ini terkejut mengetahui kalau Alice sudah melalui hal buruk diluar sana disaat mereka tidak sadar kalau ia butuh bantuan mereka.
"Alice-sama!"
"Whoa!"
Terkejut saat merasakan pelukan dadakan dari Annastasia, ekspresi Alice melembut lalu membalas pelukannya agar menenangkan Annastasia yang menangis saat memeluknya.
"Jangan nangis, Anna. Setidaknya, aku sekarang baik-baik saja."
"Hei sayang..."
"Ya, aku tahu."
Memahami isyarat istrinya, Ren keluar dari kamar putrinya bersama dengan Luna yang menutup pintu kamar Alice berduaan dengan Annastasia didalam. Mereka kembali ke kamar mereka yang jadi satu untuk membahas sesuatu.
"Apakah kita harus mengadukan ini pada Ayah?"
Ren mengangguk, ia tidak keberatan dengan perkataan istrinya, Luna.
Biar bagaimanapun, ancaman terhadap putrinya jelas nyata dihadapannya. Apalagi Ren tidak tahu apa yang diinginkan oleh Bloen terhadapnya, membuatnya ingin tahu apakah ia ancaman yang dapat melenyapkan putrinya atau tidak ke depannya nanti.
"Kalau begitu, aku akan beritahu pada Ayah."
"Ya. Mohon bantuannya, Sayangku."
Luna mengangguk pada Ren. Ia keluar dari kamar dengan terburu-buru dalam kondisi tergesa selagi berlari menelusuri lorong setelah menaiki tangga ke lantai tiga yang mengarah ke Aula Umum yang kosong yang luas menuju ke area kantor pribadi berada, berharap ayahnya ada disana.
Entah apakah ada Gerald di sisinya atau tidak, Luna tidak peduli.
Satu-satunya yang ia pedulikan saat ini adalah keselamatan putrinya, Alice, itu yang ingin dilakukan oleh Luna sebagai ibunya agar putri satu-satunya tidak menghadapi kematian.
Saat pintu masuk ganda terukir dengan ukiran indah berwarna keemasan tua di bagian ukiran yang membentuk huruf "s" dan "s" terbalik, dengan warna pintu dasar berwarna coklat metalik yang tingginya sekitar 3 meter terbuka, Arga yang duduk di tahtanya dengan Gerald berdiri di sisinya terkejut melihat Luna memasuki ruangannya.
Luna yang memasuki ruangan pribadi raja, ia disajikan dengan karpet merah yang terpampang di lantai sebesar 5 meter, dengan tahta diatas anak tangga yang memiliki warna merah pada bantalan empuk dan nyaman, dengan warna keemasan diluar warna merah, serta terdapat patung-patung sekaligus bingkai seni yang menggambarkan pencapaian para pendahulu di sekelilingnya.
Namun, Luna tidak menghiraukan hal tersebut melainkan menatap ayahnya dengan wajah serius.
"Ayah, tolong dengarkan aku!"
Arga mengangguk pada Luna. Ia siap untuk mendengarkan perkataan putrinya yang tampaknya ingin berbicara serius tentang ini.
"Gerald, bisakah kau pe–"
"Tidak apa-apa!" Sela Luna, tidak keberatan bila Gerald tahu tentang ini.
Arga yang terkejut berpikir kalau percakapan ini mengenai urusan pribadi jadi wajar jika ia mengusir secara halus pada Gerald, tapi tampaknya putrinya memiliki pemikiran lain yang membuat ayahnya penasaran atas pembicaraan yang akan dimulai olehnya.
Sama halnya dengan Arga, Gerald juga ikut terkejut.
Lagipula Gerald sudah siap untuk angkat kaki dari singgasana jikalau itu diperlukan, tapi sepertinya Luna tidak mempermasalahkannya melainkan membiarkan ia tetap disini untuk mendengarkan perkataannya, membuatnya ikut penasaran dibalik ekspresi serius ketimbang topeng murah senyum dengan mata sipitnya.
"Ini tentang Alice, putriku!"
"...."
Arga dan Gerald tiba-tiba menegang mendengar Alice disebut oleh Luna, sang ibunya dihadapan mereka.
"Seseorang menargetkannya. Tapi, aku tidak tahu apa tujuan ia melakukannya pada Alice."
"Ya, aku paham," Tangan Arga diangkat untuk putrinya memberi jeda padanya agar ia memberitahu padanya juga. "Aku juga sudah melihat jelas kalau bercak darah yang ditinggalkan di pohon bukanlah suatu kebetulan."
"Bercak darah?"
"Ya."
Tidak ingin menjelaskannya pada putrinya, hati Arga akan sakit bila melihat ekspresi sedih, khawatir, dan takut di wajah putrinya jadi ia menatap ke Gerald dengan anggukan kecil.
Beruntungnya, Gerald memahami maksud dari anggukan kecil Arga padanya. Ia mengalihkan pandangan dari Arga ke Luna, siap untuk menjelaskan apa yang ia temukan setelah menyelamatkan Alice.
"Kami menemukan bukti bercak darah di pohon bertuliskan "Pembunuh!" "Blood Queen!" "Aku akan memburu kalian!" "Darah keluarga kerajaan sangat lezat!" Itulah yang kami temukan dari penelusuran sekitar."
Terperangah oleh penjelasan dari Gerald, ekspresi tegang Alice berubah menjadi raut wajah kesakitan bercampur aduk dengan kesedihan, ada frustasi dan putus asa di sorot matanya yang menunduk ke bawah.
"Mustahil."
Ia bahkan jatuh berlutut dengan wajah tertunduk, membayangkan apa yang dikatakan oleh Alice, putrinya saat menceritakan pada dirinya sebagai ibunya.
Bloen, awalnya Luna pikir itu adalah nama. Tapi, sepertinya bukan sesuatu sesingkat dan sederhana seperti yang dipikirkannya di awal sebagai sebuah nama melainkan singkatan untuk dipanggil.
Dengan kata lain, Blood Queen. Itulah namanya.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku, Putriku Tercinta?"
"Ah, benar."
Tersadar dari keterpurukannya, Luna bangkit berdiri yang membuatnya hampir melupakan tujuannya kemari. Dengan ekspresi yang awalnya kesakitan bercampur kesedihan, dengan sorot mata frustasi dan putus asa berubah menjadi tekad kuat, ada kobaran api menyala di sorot matanya sekarang.
"Ayah, Gerald, dengarkan aku!"
Keduanya mengangguk siap untuk mendengarkan penjelasan dari Luna. Luna menjelaskan semua yang Alice jelaskan padanya saat ada suaminya dan Annastasia di kamar putrinya.
Begitu penjelasan selesai, ekspresi kesal terlihat di raut wajah Arga, mengernyitkan dahinya dengan jengkel atas apa yang terjadi pada cucu perempuannya.
"Takkan ku maafkan Blood Queen! Aku akan buat perhitungan karena sudah membahayakan cucu perempuanku tercinta!"
Jelas, kemurkaan terlihat jelas dari sikap Arga yang takkan mengasihani Blood Queen jikalau waktu mempertemukan mereka untuk mengetahui seperti apa sosok Blood Queen tersebut.
"Yang Mulia, lebih baik untuk saat ini anda tenangkan diri terlebih dahulu."
"Ya, kau benar."
Berpikir secara emosional tidak akan membawa pikiran jernih melainkan dibutakan oleh kemurkaan dan kemarahan yang dapat membahayakan siapapun disekitarnya, itulah yang Arga pahami.
Sesudah menenangkan diri, Arga akhirnya mendapat pikiran jernih.
"Akan lebih bijak jika kita melindungi Alice-sama saat ini untuk mengantisipasi hal tak terduga berikutnya."
"Ya, kurasa itu pilihan bijak."
Menurut Arga, Alice adalah pewaris tahta berikutnya.
Jikalau cucu kesayangannya mati, tidak ada yang dapat mewarisinya untuk saat ini membuatnya tidak tahu harus memilih siapa untuk dijadikan kandidat berikutnya karena ia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya.
"Kalau begitu, aku ingin Ayah mengizinkan Anna untuk menjadi pengawal Alice."
"Tidak, masih kurang."
"Kalau begitu, suamiku tidak masalah!"
"Apakah kau yakin?"
"Ya," terpancar sorot mata yang tidak kenal mundur dan menyerah memperlihatkan api menyala berkobar tekadnya sebagai ibu, Luna berharap ayahnya dapat memahami keputusannya.
"Baiklah," dengan terpaksa, Arga menerima usulan tersebut karena untuk saat ini tidak masalah. Itu lebih aman daripada tanpa pengawasan dan penjagaan.
"Yang Mulia, jikalau anda berkenan bisakah saya juga mengawasi sekitar Alice-sama?"
"Tentu saja," tawa terbahak-bahak terdengar dari Arga. Sepertinya ia kembali ke mode santai dan ramah setelah mendengar pertanyaan dari Gerald. "Semakin banyak yang membantu maka semakin bagus," lanjutnya dengan wajah tidak keberatan melainkan senang memiliki bala bantuan untuk mengamankan cucu perempuan kesayangannya dari bahaya yang mengintainya.
•••••
Alice POV
Blood Queen ya.
Yah, kurasa untuk saat ini orang-orang akan percaya dengan bukti yang nyata dan diriku yang luka.
Jadi, ada kemungkinan untuk Ayah Ken tidak mungkin menargetkan aku saat ini karena tahu kalau sosok Blood Queen sudah menargetkan aku sebagai mangsanya.
Jika hal buruk terjadi padaku sebelum ia dapat memburu-ku maka ada kemungkinan ia akan melenyapkan Ayah Ken beserta fraksi Yamada yang lenyap oleh kekuatan dan kemampuannya diluar nalar.
Yah, itulah yang dipikirkan oleh orang-orang saat ini.
Padahal kenyataannya, itu hanya rekayasa yang dibuat olehku agar aku bisa melindungi diriku dari penargetan yang dilakukan oleh fraksi Yamada padaku.
Bila aku tidak melakukan tindakan senekat ini, mungkin suatu saat aku akan diburu oleh fraksi Yamada membuatku mati untuk kedua kalinya, tanpa tahu apakah kesempatan ketiga untukku untuk tetap hidup diberikan lagi atau tidak.
Kalaupun diberikan kesempatan untuk kehidupan ketiga, aku ragu kalau semua yang kumiliki saat ini akan kurasakan di kehidupan selanjutnya.
Itu sebabnya aku akan lakukan cara apapun untuk bertahan hidup. Tidak peduli apakah aku harus menipu lawan maupun rekanku sendiri, asalkan aku baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun oleh mereka yang membawaku ke ambang kematian maka itu cukup.
Memang, aku akui tidak tega melihat ayah dan ibuku sedih melihatku seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya.
Ada buku yang pernah kubaca di kehidupan lamaku.
Jikalau kamu ingin memahami peranan orang lain, kamu harus mengubah sikapmu seperti sikap yang sama seperti yang orang lain itu miliki.
Misalnya, seorang pembunuh. Kamu harus tahu apa motif dan tujuannya, rencana dan rasa sakit hatinya. Bila mengetahui hal-hal dasar sudah terpenuhi, kamu bisa menirunya agar kamu tidak menjadi korban pembunuhan.
Itulah yang aku ketahui dari pengetahuan yang kumiliki di dunia lamaku.
Semoga saja aku tidak ditargetkan oleh fraksi Yamada untuk saat ini, setidaknya ini memberikanku waktu untuk bisa melatih diriku dengan sihir yang akan diajarkan oleh Lisa, dan fisik yang sudah kujalani untuk bisa hidup tanpa bergantung pada orang lain.