---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 RESEPSI
Perjalanan menuju ibu kota benar-benar membawa suasana baru bagi Mala. Tidak ada lagi ketakutan dikejar Melisa, tidak ada baku tembak tengah malam, tidak ada pelarian panik menembus kebun teh. Kali ini, tujuan mereka sederhana namun besar: resepsi pernikahan resmi Mala dan Daren, yang akan dipersiapkan sekelas pesta bangsawan.
Di depan mereka, Pak Wira duduk berdampingan dengan Tuan Armand sebagai “dua ayah” yang baru menemukan kedamaian setelah badai panjang. Sesekali keduanya berdiskusi tentang keamanan, sesekali tentang nama calon cucu. Sesekali mereka hanya diam, menikmati betapa hidup bisa berubah drastis dalam beberapa minggu.
Mobil tengah membawa Kayla, Aurelia, dan dua bodyguard pengawal belakang: Gilang dan Rino. Di mobil paling belakang, rombongan logistik dan pasukan keamanan lainnya mengikuti dengan disiplin.
Dan di seluruh perjalanan…
Kayla benar-benar nampak seperti anak desa pertama kali berkunjung ke ibu kota.
Begitu mobil memasuki wilayah metropolitan, Kayla langsung menempelkan wajah ke jendela mobil seperti magnet.
Kayla: “LIAT! Ada gedung tinggi banget! Ya Allah itu beneran nembus awan? Itu apa? Mall?? Atau… kantor presiden cabang??”
Aurelia menutup wajah. “Kay… itu gedung kantoran biasa. Namanya gedung perkantoran.”
Kayla tak menghiraukan dan terus menjerit.
Kayla: “ITU ADA KERETA DI ATAS! KERETA DI LANGIT ARAH!!”
Gilang (bodyguard) menjawab datar: “LRT, Nona. Itu kereta ringan.”
Kayla makin ramai. “KERETA RINGAN? KAYAK APA KALO KERETA BERAT? AMBRUK KE BUMI?”
Aurelia menahan tawa. “Serius, Kay. Kamu bikin aku pusing.”
Tiap beberapa detik, Kayla menemukan hal baru yang membuat Aurelia ingin pura-pura tidak kenal.
Kayla: “EH! LALU LINTASNYA RAPI BANGET! DI KOTAK-KOTAKIN GITU! KAYA KUE LAPIS!”
Aurelia: “Itu zebra cross… bukan kue.”
Kayla: “LIAT LAMPU ITU! KAYA DI FILM-FILM!”
Rino (bodyguard belakang): “Lampu merah, Nona.”
Kayla: “KOTA INI CANGGIH SEKALI!!!”
Aurelia memutar bola mata sampai nyaris keluar.
Aurelia: “Makanya aku sering bilang kamu jalan-jalan ke kota. Biar nggak kaget begini.”
Kayla langsung duduk tegap penuh gengsi.
Kayla: “Aku fokus kerja, bukan wisata.”
Aurelia: “Kerja di café 24 jam? Kau cuma barista, Kay.”
Kayla: “BARISTA INTERNASIONAL BERTARAF DESA.”
Semua di mobil hampir tersedak tawa.
Begitu konvoi memasuki halaman rumah keluarga Armand, Kayla kembali aktif.
“OMOOO INI BUKAN HALAMAN, INI TAMAN KERAJAAN!! LIAT ITU RUMAH!!!”
Ia menujuk rumah super mewah yang luasnya setara gedung pemerintahan kecamatan.
Aurelia: “Ya ampun Kayla… tolong… malu-malu sedikit kek.”
Kayla: “AKU SANGAT MALU SEKALI INI AKU MENAHAN TERIAKAN.”
Gilang dari luar mobil hanya bisa menahan tawanya sambil membuka pintu.
Gilang: “Hati-hati turun, Nona Kayla.”
Kayla turun… lalu langsung terpeleset sedikit karena lantai marmer mengilap terlalu licin.
Kayla: “ASTAGA INI LANTAINYA LICIN KAYAK HATI OM-OM KOTA!!”
Aurelia ngakak sampai harus pegangan tiang.
Gilang menutup mulut sambil batuk palsu.
Rino bahkan harus menatap langit supaya tidak tertawa terlalu keras.
Sementara itu, Mala yang baru turun dari mobil depan hanya geleng-geleng tak berdaya.
Mala: “Kayla… aku mohon… kontrol sedikit. Ini rumah mertua.”
Kayla: “Maaf, Ma… aku cuma… overwhelmed.”
Aurelia: “Bahasanya aja udah kota banget.”
Sore itu, mereka tiba di ballroom hotel mewah untuk pengecekan akhir. Baru masuk pintu, Kayla sudah keterlaluan lagi.
Kayla: “INI AROMANYA WANGI HOTEL INTERNASIONAL. PARFUMNYA MAHAL. AKU MENCIUM… LUAR NEGERI.”
Aurelia jatuh berlutut sambil tertawa.
Rino mengusap wajah.
Mala menyandarkan kepala ke bahu Daren, berusaha tetap terlihat anggun meski ingin ikut ngakak.
Begitu melihat lampu kristal besar yang menggantung di tengah ballroom, Kayla kembali teriak.
Di tengah kekacauan kecil itu, Nyonya Maya tetap berjalan elegan seperti ratu. Para WO mengekor di belakangnya.
Maya:
“Lighting kurang halus. Kursi VIP terlalu dekat panggung. Arahkan spotlight ke buket bunga utama. Backdrop ganti ke versi satin. Pastikan siaran live untuk keluarga luar negeri aman.”
WO: “Baik, Nyonya Maya!”
Mala menatap ibu mertuanya itu dengan campuran hormat dan takjub.
Mala: “Mama tidak lelah?”
Maya: “Untuk kalian, tidak akan pernah.”
Kalimat itu membuat Mala yang sedang mengandung merasa hangat—seperti diterima sepenuhnya sebagai bagian dari keluarga besar Armand.
Di sela keributan dekorasi, Daren mencuri waktu untuk mendekati istrinya yang cantik dengan gaun sederhana berwarna pastel.
Daren: (menyentuh dagunya)
“Kamu siap menghadapi 800 tamu?”
Mala: “800?!”
Wajahnya langsung pucat.
Daren tertawa kecil.
Daren: “Tenang. Kamu hanya berdiri di sampingku. Semua urusan biarkan Mama.”
Mala: “Aku grogi…”
Daren mendekat, menempelkan kening mereka.
Daren: “Aku di sini. Kamu tidak sendirian. Selamanya.”
Mala memerah, tapi tersenyum.
Kayla yang melihat dari jauh langsung heboh.
Kayla:
“HAAAAA JANGAN DULU ROMANTIS, AKU BELUM SIAP SECARA MENTAL!!”
Aurelia menampar pelan kepala Kayla.
Maya bahkan sampai menoleh dengan tatapan “anak siapa ini?”.
Saat pengecekan menu catering, Kayla mencoba makanan dengan serius.
Chef: “Ini appetizer premium kami—salad buah tropis impor.”
Kayla: “IMPOOOR?? Kalau impor kenapa namanya tropis??”
Chef: “Buahnya tropis… tapi kualitas impor…”
Kayla manggut-manggut dramatis seperti mengerti padahal tidak.
Ketika melihat makanan yang disajikan di piring kecil-kecil, dia langsung protes.
Kayla: “KOK KECIL BANGET?! DI DESA BEGINI DISEBUT PAPAN CUKUR BUKAN MAKANAN.”
Chef hampir pingsan.
Aurelia langsung menutup mulut Kayla.
Rino sampai harus memalingkan wajah supaya tidak tertawa meledak.
Di tengah semua kekacauan itu, Kayla tidak sengaja bertemu tatap dengan Gilang yang sedang mengatur jalur keamanan.
Gilang: “Nona Kayla. Jangan jauh-jauh dari area aman.”
Kayla langsung kaku tegak seperti disetrum.
Kayla: “I-iiia, Mas Gilang…”
Gilang: “Ada yang salah?”
Kayla menutup wajah. “TIDAK ADA, AKU HANYA… ASTAGHFIRULLAH…”
Gilang pergi.
Kayla jatuh ke kursi.
Aurelia: “Kayla… tolong sadar, itu manusia bukan malaikat.”
Kayla: “Bagiku… dia MIRIP. Tolong tutupi aku, Lia. Aku mau pingsan elegan.”
Aurelia: “Tidak ada yang elegan dari kamu.”
Menjelang Malam: Ketegangan Diam-Diam
Ketika semua sudah hampir siap, rombongan berkumpul di ruang khusus keluarga.
Armand memeriksa laporan keamanan.
Armand: “Tim sniper ditempatkan di atap. Empat tim pengawal internal sudah siap. Hacker memantau jaringan. Tidak ada pergerakan mencurigakan.”
Wira mengangguk lega.
Wira: “Semoga Melisa tidak muncul lagi.”
Hening sejenak.
Mala memegang perutnya tanpa sadar.
Daren meraih tangannya.
Daren: “Tidak ada yang akan menyentuh kalian. Resepsi ini akan aman.”
Maya menatap putra dan menantunya itu.
Tatapannya lembut tapi tegas.
Maya: “Ini hari kalian. Tidak ada yang boleh merusaknya.”
Namun jauh di luar sana, ada rumor kecil tentang seseorang yang mencoba membeli data jalur keluar-masuk hotel.
Belum pasti siapa.
Belum terbukti.
Tapi untuk keluarga Armand… tanda sekecil itu saja cukup membuat semuanya siaga.
Akhir Hari yang Penuh Warna
Malam itu ditutup dengan makan malam keluarga.
Kayla akhirnya tenang setelah makan kenyang.
Kayla: “Aku merasa seperti putri raja… makanan mahal… ruangan megah… bodyguard tampan…”
Aurelia: “Itu bukan putri raja. Itu gejala halusinasi.”
Kayla: “Sst. Jangan matikan imajinasiku.”
Sementara itu, Mala duduk bersandar pada Daren.
Assalamualaikum selamat siang
Tinggalkan jejak kalian
Terimakasih