"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"
"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
“Kenapa kamu sangat gelisah?” tanya Mery sembari berlutut di depan koper, mengeluarkan satu per satu barang bawaannya dan menatanya ke dalam lemari kayu bernuansa putih gading.
Arya tidak menjawab. Sejak mereka tiba di villa itu, langkahnya tak pernah benar-benar berhenti. Mondar-mandir, mendekat ke jendela, kembali ke pintu, lalu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi seolah berharap satu garis sinyal muncul begitu saja dari udara kosong.
“Kenapa tempat ini tidak ada jaringan sama sekali? Wi-Fi pun nihil,” gerutu Arya kesal, suaranya sedikit meninggi.
Mery hanya melirik sekilas, lalu kembali pada aktivitasnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum yang tidak ia tunjukkan secara terang-terangan. Ia membiarkan suara keluhan Arya berlalu seperti angin.
Dalam benaknya, suara Gavin tiba-tiba saja terngiang dengan jelas. “Mery, tenang saja. Aku sudah mengatur semuanya. Aku memilih tempat yang sangat nyaman. Aku jamin bulan madu kalian tidak akan ada gangguan.”
“Aku juga sudah menyiapkan telepon khusus di laci paling bawah lemari. Jadi kamu bisa menghubungi kami jika terjadi sesuatu.”
“Ah… jadi ini maksud Gavin dengan bulan madu yang tenang,” batin Mery.
Ia menoleh lagi sekilas ke arah Arya yang tampak semakin frustasi, lalu bergumam lirih, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Sepertinya memang akan sangat tenang.”
Mery melangkah ke arah lemari, membuka laci paling bawah dengan santai. Di sana, seperti yang dijanjikan, sebuah ponsel sederhana tergeletak rapi. Ia mengamatinya sejenak, memastikan benda itu benar-benar ada, lalu menutup laci kembali tanpa ekspresi apa pun. Tidak ada niat menggunakannya sekarang.
Ia kembali melanjutkan menata barang.
Vila itu sungguh indah. Bangunan bergaya tropis modern, dengan jendela-jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari masuk tanpa hambatan. Dari kamar utama saja, laut biru terhampar luas, seolah menjadi lukisan hidup yang tak pernah diam.
Gavin memang sengaja menyewa vila itu tanpa asisten tetap. Pelayan hanya akan datang tiga kali sehari. Pagi, siang, dan sore, untuk mengantar makanan. Mereka memiliki kunci cadangan, sehingga Mery dan Arya tidak perlu repot membukakan pintu, dan hanya diperbolehkan memasuki lantai satu. Privasi benar-benar dijaga, karena kamar utama ada di lantai dua.
Setelah semua barang tertata, Mery berdiri di tengah kamar dan mengedarkan pandangan.
Ranjang besar di tengah ruangan itu ditata dengan sangat romantis. Sprei putih bersih dipenuhi kelopak mawar merah muda, begitu pula lantai di sekitarnya. Selimut dilipat rapi membentuk hiasan sederhana tapi elegan. Lilin-lilin kecil tersusun di sudut ruangan, meski belum dinyalakan.
Mery mengamati semuanya dengan tenang, hampir tanpa reaksi berlebihan. Ia tidak tersenyum lebar. Tidak pula merasa canggung. Justru ada rasa damai yang perlahan mengisi dadanya, rasa yang jarang ia rasakan belakangan ini.
Tanpa memperdulikan Arya yang masih sibuk dengan ponselnya, Mery melangkah ke arah dinding kaca yang menghadap balkon. Ia membuka pintu kaca itu dan keluar.
Angin laut langsung menyambutnya.
Udara sejuk menyentuh kulitnya, membawa aroma asin khas pantai yang segar dan menenangkan. Debur ombak terdengar jelas, ritmis, seolah menjadi musik alam yang menenangkan pikiran.
Mery berdiri di tepi balkon, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar hadir di satu tempat, tidak terburu-buru, tidak berpikir tentang pekerjaan, tidak memikirkan kontrak pernikahan, atau ekspektasi siapa pun. Hanya ada dirinya, angin, dan laut.
Ia membuka mata perlahan. Pemandangan di hadapannya begitu menakjubkan. Hamparan pasir putih, air laut yang berkilau diterpa matahari sore, dan deretan pohon kelapa yang bergoyang lembut mengikuti arah angin.
Mery menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon, wajahnya diterpa cahaya alami. Dress panjang tanpa lengan yang ia kenakan berkibar ringan, mengikuti hembusan angin. Rambut panjangnya tergerai bebas, sesekali menari pelan, memperlihatkan leher jenjang yang selama ini jarang ia sadari keindahannya.
Di dalam kamar, tanpa sengaja, langkah Arya terhenti. Pandangan pria itu jatuh pada sosok Mery di balkon.
Entah kenapa, hari itu Mery terlihat… berbeda.
Cantik, tapi bukan cantik yang dibuat-buat. Bukan karena riasan atau pakaian mahal. Cantik karena ketenangan yang memancar dari caranya berdiri, dan dari cara ia menikmati momen tanpa peduli siapa pun.
Arya menelan ludah. Untuk sesaat, ponsel di tangannya terasa tidak lagi penting.
Sementara itu, Mery masih memejamkan mata, menikmati hembusan angin, sama sekali tidak menyadari tatapan yang tertuju padanya, atau mungkin… ia menyadarinya, tapi memilih untuk tidak peduli.
Di tempat yang jauh dari dunia luar itu, Mery merasa satu hal dengan sangat jelas. Bulan madu ini mungkin dimulai sebagai sandiwara.
Namun ketenangan yang ia rasakan… sepenuhnya nyata. Tanpa ia sadari, mungkin ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
***
Makan hari.
Arya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Handuk kecil melingkar di lehernya. Langkahnya terhenti begitu ia mengedarkan pandangan ke seluruh kamar villa.
Barulah saat itu matanya benar-benar menangkap detail yang sejak tadi luput. Kelopak-kelopak bunga mawar pink tersebar di atas sprei putih bersih, sebagian jatuh di lantai, tersusun rapi seolah seseorang menatanya dengan penuh perhatian. Bukan asal ditebar. Ada niat. Ada rasa.
Arya terdiam.
Sekejap, ingatannya melompat mundur, pada bunga mawar pink yang dulu ia injak tanpa pikir panjang. Mawar pemberian Andra. Mawar yang ia anggap tidak penting.
Dadanya terasa sesak.
“Orang lain… lebih mengerti istriku daripada aku sendiri,” batinnya pahit.
Entah itu Andra atau Gavin, yang jelas… bukan dirinya.
Ia baru benar-benar sadar, betapa seringnya ia memberi setengah hati. Memberi bunga bekas, yang bahkan bukan mawar pink, melainkan mawar merah. Memberi perhatian seadanya. Memberi waktu dengan sisa-sisa, seolah Mery selalu bisa menunggu. Sementara orang lain, bahkan tanpa status sebagai suami, mampu memahami hal-hal kecil tentang wanita yang kini sah menjadi istrinya.
Rasa bersalah itu datang tiba-tiba, menghantam tanpa aba-aba. Arya mengusap wajahnya kasar, telapak tangannya menekan mata dan pipi seolah ingin menghapus semua kegelisahan yang menumpuk. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Fokus,” gumamnya lirih.
Pandangan Arya jatuh pada pakaian yang sudah disiapkan rapi di atas nakas. Kemeja santai berwarna netral, celana panjang yang nyaman, jelas dipilih dengan pertimbangan.
Mery selalu seperti itu. Diam-diam memperhatikan. Diam-diam peduli.
Arya mengenakan pakaian itu tanpa berkata apa-apa, lalu melangkah keluar kamar menuju ruang makan.
Sementara itu, di meja makan.
Mery duduk sendirian, menunggu. Lampu gantung bernuansa hangat menyinari meja kayu panjang yang telah tertata rapi. Hidangan makan malam sudah tersaji, uapnya masih mengepul perlahan.
Namun Mery sama sekali belum menyentuh apa pun. Tangannya merogoh saku piyama tipis yang ia kenakan. Sebuah botol kecil keluar, transparan, dengan tulisan yang nyaris tak terbaca jika tidak diperhatikan seksama.
Mery menatap botol itu lama. Sangat lama.
Jarinya memutar tutup botol itu perlahan, lalu menghentikannya lagi. Nafasnya sedikit tertahan.
Ucapan Kayla semalam kembali terngiang jelas, terlalu jelas untuk diabaikan.
Parkiran kantor. Lampu temaram. Udara malam yang dingin. Kayla berdiri di sana seolah sudah menunggu sejak lama.
“Gunakan ini saat kamu bulan madu nanti,” ucap Kayla tanpa basa-basi, menyodorkan botol kecil itu.
“Apa ini, Kay?” tanya Mery, alisnya langsung berkerut.
“Gunakan saja. Masukkan ke minumanmu dan minuman suamimu.”
Mery menggeleng cepat. “Kamu tahu apa yang kamu katakan?”
“Aku tahu rumah tangga kalian tidak harmonis,” lanjut Kayla, nada suaranya dingin.
“Andra memberitahuku.”
Mery menatap botol itu, lalu membaca tulisan kecil di labelnya.
Obat perangsang.
“Kayla, apa kamu sudah gila memberiku obat seperti ini?” Mery langsung mengembalikan botol itu.
Namun Kayla tidak menghiraukannya. Sebaliknya, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah foto.
“Apa ini?” suara Mery melemah saat melihat foto itu.
“Nanti saja aku jelaskan. Setelah kamu pulang dari bulan madu,” ucap Kayla cepat, lalu menggenggamkan botol itu kembali ke tangan Mery.
“Lakukan saja peranmu sebagai seorang istri,” lanjut Kayla pelan.
“Tidak perlu memikirkan apa pun.” Kayla menatap Mery dalam-dalam.
“Aku tahu kamu sangat mencintai suamimu.”
Lalu Kayla pergi, meninggalkan Mery dengan segudang pertanyaan dan rasa tidak nyaman yang menggumpal di dada.
Kembali ke meja makan.
Mery menggenggam botol itu erat. Jari-jarinya sedikit bergetar. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya lirih.
Ia menatap gelas minuman di depannya. Cairannya jernih. Tenang. Tidak tahu apa-apa tentang konflik batin pemiliknya.
Mery menghela nafas panjang. Ini bukan tentang kesempatan, bukan tentang peran sebagai istri, dan bukan tentang cinta yang dipaksakan.
Ini tentang pilihan.
Mery tahu, sekali ia melangkah ke arah yang salah, ia mungkin tidak bisa menarik kembali apa pun.
Langkah kaki terdengar mendekat. Mery buru-buru memasukkan kembali botol kecil itu ke saku piyamanya, wajahnya kembali datar, tenang seperti biasa, seolah tidak ada badai yang baru saja mengamuk di kepalanya.
Arya muncul dari kamar dan menuruni tangga. Untuk sesaat, mereka saling menatap. Tanpa mereka sadari, malam itu, dengan makan malam sederhana, vila sunyi, dan rahasia kecil di saku Mery, akan menjadi salah satu titik paling menentukan dalam pernikahan kontrak mereka.