Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima
Meskipun perutnya terasa kosong karena hanya seteguk susu kehamilan yang berhasil masuk pagi tadi, Jenara tetap memaksakan dirinya untuk fokus. Baginya, pekerjaan adalah satu-satunya pelarian dari rasa mual fisik dan kekacauan emosional yang diciptakan oleh Gilbert Rahadiansyah. Berkali-kali ia melirik ponselnya yang tergeletak bisu di atas meja jati mahogani. Tidak ada panggilan, tidak ada pesan. Seolah-olah pria itu benar-benar telah menghapus keberadaannya dalam satu malam.
"Alexa, masuk!" panggil Jenara melalui interkom, suaranya terdengar lebih tajam dari biasanya.
Alexa masuk dengan langkah teratur, membawa setumpuk map dokumen. "Iya, Bu Jenara?"
"Apakah sudah ada pengajuan desain bangunan untuk cabang baru kita di Semarang? Aku ingin proyek ini segera berjalan. Kita butuh sentuhan baru untuk memulihkan citra perusahaan setelah insiden kemarin," tanya Jenara tanpa basa-basi.
Alexa segera meletakkan beberapa map di hadapan Jenara. "Hampir saja saya lupa, Bu. Ini ada beberapa pengajuan desain dari arsitek-arsitek ternama. Silakan Ibu lihat, barangkali ada yang sesuai dengan konsep kontemporer yang Ibu inginkan."
Jenara mulai membuka map tersebut satu per satu. Ia melewati desain-desain yang menurutnya terlalu kaku dan membosankan. Hingga pada map keempat, jemarinya berhenti. Matanya menyipit, menatap sebuah rancangan bangunan dengan estetika futuristik namun tetap memiliki sentuhan lokal yang kuat.
"Desain ini..." gumam Jenara. "Siapa perancangnya?"
"Itu milik arsitek bernama Albani Gunawan, Bu," jawab Alexa cepat. "Beliau baru saja menyelesaikan studi master di University of Canberra. Catatan akademisnya luar biasa, beliau salah satu mahasiswa terbaik dan karyanya beberapa kali memenangkan lomba rancang kontemporer internasional."
Jenara tertegun sejenak. Nama itu. Albani Gunawan. Bayangan seorang pemuda rapi yang dulu dipaksakan ayahnya untuk menjadi calon tunangannya muncul di benaknya. Dulu, Jenara menolaknya mentah-mentah bukan karena Albani tidak kompeten, tapi karena ia benci segala bentuk perjodohan dan campur tangan ayahnya.
"Albani..." Jenara mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja. "Aku tidak menyangka dia kembali ke Indonesia dengan portofolio sekuat ini."
"Ibu mengenalnya?" tanya Alexa penasaran.
"Hanya... masa lalu," jawab Jenara singkat, kembali ke mode profesionalnya. "Tapi aku akui, desainnya luar biasa. Tolong hubungi arsitek ini, Alexa. Jadwalkan pertemuan dengannya dua atau tiga hari ke depan. Aku ingin mendiskusikan visi proyek Semarang secara langsung."
"Baik, Bu Jenara. Segera saya hubungi pihak kantornya."
Alexa hendak keluar dari ruangan, namun ia berhenti sejenak dan kembali berbalik. Di tangannya kini ada sebuah kotak makanan berwarna hitam elegan dengan logo restoran "Meteor"—restoran kelas atas milik Gilbert, tak ada yang tahu jika pria itu memiliki beberapa bisnis "receh".
"Maaf Bu, ada satu lagi," ucap Alexa sembari meletakkan kotak itu di depan Jenara. "Ini makan siang dari Pak Gilbert. Beliau berpesan agar Ibu memakannya dan harus dihabiskan."
Jenara mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa kesal menyergapnya seketika. "Kenapa dia mengirimnya lewat kamu? Ponselku tidak mati, Alexa. Dia bisa menelepon atau setidaknya mengirim pesan singkat padaku."
Alexa mengangkat bahu, sedikit bingung dengan ketegangan di antara pasangan itu. "Saya kurang tahu, Bu. Beliau hanya menelepon ke meja sekretariat dan meminta saya memastikan kotak ini sampai ke tangan Ibu."
"Taruh saja di sana. Nanti aku makan," sahut Jenara ketus, mencoba terlihat tidak peduli.
"Tapi Bu," Alexa ragu-ragu sejenak. "Kata Pak Gilbert, makanan ini sebaiknya dimakan saat masih hangat. Saya mendapatkan informasi... bahwa Pak Gilbert sendiri yang memasaknya di dapur restoran Meteor siang ini. Beliau tidak ingin memesan menu yang sudah jadi karena khawatir dengan kandungan penyedap rasanya bagi kehamilan Ibu."
Nyess.
Hati Jenara yang keras seolah disiram air dingin. Rasa kesal yang tadi membara kini menyisakan sebuah getaran aneh di dadanya. Gilbert memasak lagi? Di dapur restoran orang lain?
"Iya, Alexa. Jangan mulai cerewet seperti dia. Menyebalkan," ucap Jenara, mencoba menutupi rona tipis di wajahnya dengan nada marah yang dibuat-buat.
Begitu Alexa keluar, Jenara menatap kotak makanan itu cukup lama. Aroma harum rempah-rempah mulai menyelinap keluar dari celah kotak. Perlahan, Jenara membukanya. Di dalamnya terdapat olahan salmon panggang dengan sayuran kukus yang ditata sangat rapi. Ada sebuah catatan kecil di tutupnya: 'Habiskan. Jangan biarkan anakku kelaparan hanya karena egomu.'
"Dasar pria arogan," gumam Jenara, namun kali ini ia menyuapkan potongan salmon itu ke mulutnya dengan perasaan yang jauh lebih baik.
Sementara itu, di kantor Althaf, Gilbert melangkah masuk dengan terburu-buru. Ia baru saja kembali setelah menghabiskan waktu di dapur Meteor. Jasnya tersampir di lengan, dan kemeja putihnya yang digulung sampai siku tampak sedikit kusut.
Ia hampir saja bertabrakan dengan Althaf di koridor lantai eksekutif.
"Dari mana saja kamu, Gil? Aku mencarimu sejak jam makan siang tadi," tanya Althaf dengan dahi berkerut.
"Dari luar. Ada keperluan sebentar," jawab Gilbert singkat, berusaha melewati Althaf.
Namun indra penciuman Althaf yang tajam menangkap sesuatu yang tidak biasa. Althaf mulai mengendus-endus udara di sekitar Gilbert, lalu mendekatkan hidungnya ke kemeja sahabatnya itu.
"Tunggu dulu... sepertinya ada bau-bau masakan?" Althaf menyipitkan mata. "Bau bawang putih goreng dan... salmon?"
Gilbert menghentikan langkahnya, wajahnya tetap tanpa ekspresi. "Hidungmu terlalu sensitif untuk ukuran seorang atasan, Althaf."
"Kamu pulang barusan? Masak di rumah?" tanya Althaf penuh selidik.
"Tidak. Aku ke Meteor. Meminjam dapur mereka sebentar untuk memasak untuk Jenara," jawab Gilbert datar, seolah hal itu adalah hal yang paling lazim dilakukan oleh seorang direktur operasional di jam kerja.
"Hah?" Althaf ternganga. Mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. "Kau... seorang Gilbert Rahadiansyah, rela pergi ke dapur restoran orang lain hanya untuk membuat kotak bekal? Gil, kau benar-benar sudah 'jatuh' ya?"
Gilbert menatap Althaf dengan dingin. "Aku hanya tidak ingin sistem imunnya menurun dan berdampak pada janin itu. Itu investasi masa depanku."
"Investasi, ya? Terserahlah apa katamu untuk menutupi rasa cintamu itu," Althaf terkekeh, namun kemudian raut wajahnya berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia mengejar Gilbert yang sudah berjalan menuju ruang kerjanya.
"Gilbert, tunggu sebentar. Ada hal lain."
Gilbert berhenti di depan pintu ruangannya. "Apa?"
"Sore nanti, pulanglah sebentar ke rumahku. Sejak semalam Raina demam. Dia terus memanggil namamu. Sepertinya putri kecilku itu benar-benar belum bisa menerima kepindahanmu dari rumah kami," ucap Althaf dengan nada khawatir seorang ayah.
Gilbert terdiam. Bayangan wajah Raina yang menangis kemarin kembali melintas di benaknya. Ia merasa bersalah, namun ia juga tahu bahwa ia harus menetapkan batasan.
"Dia demam karena merindukanku?" tanya Gilbert pelan.
"Sepertinya begitu. Dia merasa kau mengkhianati janji untuk menunggunya dewasa," Althaf menghela napas, tak habis pikir anak sekecil itu berpikiran dewasa. "Datanglah sebentar, Gil. Hibur dia. Aku tidak mau dia semakin stres."
"Aku akan usahakan setelah urusanku selesai," jawab Gilbert.
tp cerita ny bagus bangeet ,, konflik pas Dan di eksekusiny juga elegann ,,
dtggu cerita baru ny yx kak ,,
skrang kena Batu ny kan ,, Batu Kali lgi ,, jd ssah di singkirkan ,,
tinggal nunggu THR ny deeh dr mereka ,,
Selamat menikmatiii hilya Dan Nico ,,
sama nasib Nicolas Dan hilya ,, 😏😏😏
/Shame//Shame//Shame/