NovelToon NovelToon
Dendam Membawa Cinta

Dendam Membawa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Harem / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: SNUR

Angel hidup dengan dendam yang membara. Kakaknya ditemukan tewas mengenaskan, dan semua bukti mengarah pada satu nama
Daren Arsenio, pria berbahaya yang juga merupakan saudara tiri dari Ken, kekasih Angel yang begitu mencintainya.


bagaimana jadinya jika ternyata Pembunuh kakaknya bukan Daren, melainkan Pria yang selama ini diam-diam terobsesi padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

insting daren

Angel melepaskan pelukan Ken perlahan. Tangannya masih menggenggam jas Ken sejenak, seolah ragu untuk benar-benar menjauh.

“Ken…” ucapnya pelan. “Aku harus kembali.”

Ken langsung menegang. “Kembali ke Castello?”

Angel mengangguk. “Aku tidak bisa menghilang terlalu lama. Adrian sudah membantu untuk menutupi kebohongan ku , tapi Daren mulai curiga.”

Ken menghela napas berat. Ia mengusap wajah Angel dengan lembut, jelas tidak rela.

“Aku antar.”

“Tidak,” Angel cepat menolak. “Aku memakai mobil Adrian. jika kamu mengantarku, Daren pasti makin curiga, dia akan berpikir aku menghabiskan jam kerja hanya untuk berpacaran. ”

Ken menatapnya tajam. “Aku tidak peduli Daren curiga atau tidak. Aku juga tidak peduli dengan segala persepsinya. Aku tidak mau kamu pergi sendirian. aku khawatit.”

“Aku baik-baik saja,” Angel mencoba menenangkannya, menggenggam tangan Ken dengan lembut “Tolong dengarkan aku. Sekarang aku harus terlihat normal. Sekretaris yang hanya izin sebentar lalu kembali bekerja. kamu mau membantu aku bukan? ”

Ken terdiam, rahangnya mengeras. Jelas ia tidak suka.

“Aku bisa minta sopir mengantar mobil Adrian,” katanya akhirnya, masih mencoba mencari celah. “Kamu ikut aku turun.”

Angel menggeleng lagi, kali ini lebih tegas. “Tidak, Ken. jika sopirmu yang mengantar, jejaknya akan kelihatan. Daren bukan orang bodoh.”

Ken menatap Angel lama tatapan itu campuran antara marah, khawatir, dan tidak rela melepaskan.

“Kamu terlalu memaksakan diri dengan obsesimu” gumamnya.

Angel tersenyum tipis, lalu menyentuh dada Ken. “Dan kamu terlalu protektif.”

Ia mendekat, mengecup bibir Ken singkat ciumannya lembut, menenangkan, namun sarat makna.

“Aku janji akan hati-hati,” bisik Angel. “Aku harus melakukan ini… demi semuanya.”

Ken memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dengan napas berat.

“Kalau ada apa-apa, apa pun itu, kabari aku. Aku akan datang. Tidak peduli di mana kamu berada.”

Angel mengangguk. “Aku tahu.”

Ken akhirnya melepaskan tangannya, meski jelas berat.

Angel melangkah pergi beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh kembali.

“Ken?”

“Ya.”

“Terima kasih… karena mempercayaiku.”

Ken tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Angel dalam-dalam tatapan seorang pria yang sadar, wanita yang ia cintai sedang berjalan ke medan berbahaya… dan ia tidak bisa menghentikannya.

Angel pun pergi, meninggalkan lantai lima belas sementara di belakangnya, Ken berdiri diam…

dengan firasat buruk yang tak bisa ia jelaskan.

Angel menggenggam setir mobil Adrian dengan kuat. Jalanan tidak terlalu ramai, namun pikirannya sangat bising.

"Alasan… aku butuh alasan yang masuk akal." pikir angel dalam otaknya.

Tatapannya kosong menatap lampu merah di depan. Bayangan wajah Daren yang dingin dan penuh curiga terus muncul di kepalanya.

Tenang, Angel. Jangan sampai kamu goyah. Jangan sampai dia mencium bau busuk apa pun itu.

Begitu sampai di area parkir Castello Corp, Angel menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia merapikan rambut, membenahi ekspresi wajahnya dan menghapus kegelisahan, menggantinya dengan wajah profesional.

Namun jantungnya kembali berdegup keras saat ia melangkah cepat menuju ruang Daren.

Tanpa menunggu dipanggil, Angel mengetuk singkat lalu masuk.

Daren sedang duduk di balik meja, menatap layar laptopnya. Begitu melihat ada seseorang masuk, Angel, rahangnya mengeras.

“Berani sekali kamu kembali,” ucapnya dingin tanpa menoleh.

Angel menelan ludah, lalu membungkuk sopan.

“Saya minta maaf, Tuan Daren. Saya meninggalkan kantor tanpa izin—”

“Tanpa izin?” Daren mengangkat kepala, menatap Angel tajam.

“Kamu bahkan menghilang.”

Angel mengepalkan tangan, menahan rasa panas yang membakar di dadanya. "Saya mengalami keadaan darurat. Saya pikir—”

“Kamu pikir?” Daren berdiri, telapak tangannya menghantam meja dengan keras. menimbulkan bunyi bedebum nyaring.

“Ini perusahaan, bukan tempat kamu keluar masuk sesuka hati!”

Amarah Daren justru malah semakin memancing emosi Angel.

Dengan berani, Angel mengangkat wajahnya. menatap tajam tepat pada mata Daren “Tapi Saya kembali Tuan.”

“Kembali setelah membuat saya menunggu? dan melemparkan pekerjaan pada orang lain? ” sindir Daren tajam.

“Atau kembali karena kamu pikir wajah cantikmu cukup untuk dimaafkan?”

kata kata Itu membuat darah Angel mendidih. wajahnya bahkan mulai memerah.

“Saya diterima di sini karena kemampuan saya, bukan karena wajah saya,” balasnya dingin.

“Kalau Anda meragukan itu, Anda bisa langsung memecat saya.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Mata Daren menyipit. Tidak marah melainkan tertarik dan tersulut.

“Kamu berani sekali menjawab setiap perkataanku,” ucapnya rendah.

“aku sungguh terkesan dengan kemampuanmu angel, hari pertama bekerja terlambat, lalu menghilang dan membebankan pekerjaanmu pada orang lain terakhir membantah CEO.”

Angel melangkah satu langkah maju, menatapnya tanpa gentar.

“Saya hanya tidak suka diremehkan.”

Daren mendekat juga, kini jarak mereka sangat dekat. Aura dinginnya menekan, namun Angel tidak mundur.

“Kalau kamu ingin bertahan di sini,” bisik Daren tajam,

“jangan pernah menghilang tanpa penjelasan lagi. Dan kerjakan pekerjaanmu dengan baik”

Angel membalas dengan suara tenang

“Dan kalau Anda ingin saya bekerja maksimal, Tuan Daren… percayalah pada saya.”

Untuk beberapa detik, mereka saling menatap dua ego kuat yang bertabrakan.

Akhirnya Daren mundur selangkah.

“Kembali ke mejamu,” katanya dingin.

“Kesalahan ini… aku catat.”

Angel mengangguk singkat. “Terima kasih atas kesempatannya.”

Ia berbalik pergi dengan punggung tegak, meski jantungnya masih berdegup liar.

Begitu pintu tertutup, Daren menatap ke arah itu lama.

“Angel…” gumamnya pelan.

Daren menekan tombol interkom di mejanya dengan satu sentuhan tegas.

“Adrian. Ke ruanganku. Sekarang.”

Nada suaranya singkat, dingin, tak memberi ruang penolakan.

Tak sampai lima menit, pintu terbuka. Adrian masuk dengan langkah hati-hati. Di tangannya ada map berwarna merah tebal, rapi, dan tampak resmi.

Daren berdiri di dekat jendela, membelakangi Adrian.

“Kamu sudah cek latar belakang Angel,” ucap Daren tanpa basa-basi.

“Seperti yang aku minta semalam.”

“Sudah, Tuan,” jawab Adrian cepat, meski jantungnya berdebar tak karuan.

Daren berbalik. “Dan?”

Adrian melangkah mendekat, lalu meletakkan map merah itu tepat di atas meja kerja Daren.

“Semua data ada di sini. Pendidikan, riwayat kerja, keluarga.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

“Tidak ada yang spesial, Tuan.”

Daren mengernyit. “Tidak spesial?”

“Ya. Lulus dengan nilai baik, pengalaman administrasi bersih, tidak punya catatan kriminal, tidak terhubung dengan perusahaan rival.” Adrian menelan ludah. “Profilnya rapi tuan. ”

Kata terakhir itu membuat Daren mengangkat alis.

“ rapi ya? ” ulangnya pelan.

Adrian mengangguk. “Seperti seseorang yang sudah dipersiapkan dengan baik. Tapi tidak ada bukti rekayasa. Semua valid.”

Daren membuka map itu perlahan. Matanya membaca setiap lembar foto Angel, CV, alamat, data keluarga.

Tatapannya berhenti cukup lama di foto itu.

“Wanita seperti dia,” gumamnya dingin,

“tidak mungkin sesederhana ini.”

Adrian diam. Ia tahu insting Daren jarang salah.

“Kamu yakin tidak ada yang disembunyikan?” tanya Daren tajam.

“Sampai sejauh ini… tidak, Tuan,” jawab Adrian jujur.

“Kalau pun ada, mungkin itu tertutup sangat rapi.”

Daren menutup map itu perlahan, ujung jarinya mengetuk sampul merahnya satu kali.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Kalau begitu, kita lihat berapa lama dia bisa mempertahankan topengnya.”

Adrian terkejut kecil. “Tuan… maksud Anda?”

Daren menatapnya tajam.

“Aku tidak akan memecat orang yang mencurigakanku.”

Ia menyandarkan tubuh ke meja, senyum tipis namun berbahaya terbit di sudut bibirnya.

“justru Aku akan mengawasinya.”

Adrian terdiam mendengar ucapan itu

1
nur
angel ini ternyata punya dendsm
nur
lumayan seru thor
nur
😄😄
Anonymous
ceritanya seru, tidak membosankan
Anonymous
ken😍😍
Anonymous
udah mulai seru thor
arka
hihii kayanya benih benih kenyamanan sudah mulai muncul
heliuna
makin seru👍👍
heliuna
crazy update thor
Sugi Arto
👍
Sugi Arto
menarik
Honjes Vrikytew
gimama ga marah orang lagi panas panasnya
arka
angel sayang banget sama si ken
trian
👍👍
Sela Nuraeni
👍
trian
menarik
trian
ken sadis
heliuna
seruu👍👍
arka
kem cinta mati sama si angel
arka
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!