NovelToon NovelToon
Love, On Pause

Love, On Pause

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Nisa Amara

Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.

update setiap hari (kalo gak ada halangan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Kata-kata “apa kamu menikah dengannya buat manfaatin dia?” terus terngiang di kepala Rosmala.

Waktu itu ia baru saja selesai sidang, dan tanpa sengaja mendengar percakapan antara Jovita dan Arum. Sejak hari itu, kalimat tersebut seperti menempeli pikirannya, tidak mau pergi.

Sejujurnya, Rosmala sangat terganggu. Ia sempat menerka-nerka apakah pernikahan mereka memang hanya formalitas belaka, apakah Jovita benar memanfaatkan Devan. Namun ketika kemudian ia mendengar Devan mengatakan bahwa ia mencintai Jovita, Rosmala berusaha mengubur keresahannya.

Tapi sekarang, setelah mendengar cerita Mawar… kecurigaan itu muncul lagi, lebih kuat dari sebelumnya.

Rosmala seharusnya sudah tidur. Ia sudah berbaring, lampu kamar redup, suaminya sudah pulas di sebelahnya. Namun kegelisahan membuat tubuhnya tak bisa diam. Ia terus berguling, memindah-mindah posisi bantal, mencoba mencari kenyamanan.

“Ada apa denganmu?” tanya suaminya akhirnya, suaranya berat dan parau karena masih setengah tertidur.

Rosmala menarik napas panjang. “Aku… curiga sama pernikahan Devan,” ujarnya pelan. Suaminya tidak menjawab, hanya memejam, entah mendengarkan atau tidak. Rosmala melanjutkan meski lawan bicaranya tampak tak ada.

“Menurutmu, apakah mungkin pengantin baru pisah kamar?”

Yang ia dapat hanya gumaman tidak jelas. Reaksi itu membuat Rosmala makin kesal. Ia bangkit dari kasur dan melangkah keluar kamar, berjalan menuju dapur.

Tak disangka, Ami juga belum tidur. Ia baru saja meneguk obat untuk darah tingginya ketika melihat Rosmala muncul di dapur dengan wajah gelisah.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya, suaranya terdengar ringkih namun penuh perhatian.

Rosmala duduk di kursi makan, lalu menghela napas panjang.

“Gimana kabar Devan? Dia kayak menghilang abis nikah. Apa dia bahagia?” gumamnya, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Dia yang paling bahagia waktu menikah dengan istrinya. Kenapa kamu nanya?” balas Ami.

“Itu dia masalahnya. Dia terlalu bahagia, gimana kalau istrinya gak cinta sama dia?”

Ami menggeleng pelan, tak tahu harus menjawab apa. Kekhawatiran itu terasa berlebihan.

“Apa aku harus nengokin dia?” pikir Rosmala, suaranya lirih.

“Ngapain kamu ganggu rumah tangganya? Mereka baru nikah sebulan lalu,” sahut Ami, sedikit tegas.

“Aku cuman mau nengokin dia. Gimana kabarnya. Dia belum ke sini sejak nikah,” ucap Rosmala.

***

Jovita dan Devan sedang berbelanja di supermarket. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong kebutuhan rumah tangga. Jovita memimpin di depan sambil memeriksa rak satu per satu, sementara Devan mengikuti di belakang, hanya mendorong troli tanpa banyak bicara.

Setelah cukup lama berkeliling, langkah Devan mulai melambat. Kakinya terasa pegal, dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang ia tahan sejak tadi.

“Sampe kapan mau muterin ini? Kamu lagi tour?” tanyanya dengan nada lelah.

“Aku cuman mastiin gak ada yang kelewat,” ucap Jovita tanpa menoleh, matanya masih menyapu barisan produk sambil kadang meraih satu dua barang.

Devan menghela napas panjang. “Kenapa gak mesen online aja? Tinggal nunggu di rumah, gak perlu capek-capek ke sini,” keluhnya sambil mengusap tengkuk.

Jovita memasukkan barang baru ke troli dengan cepat. “Kamu sendiri yang mau ikut,” katanya ringan, seakan mengingatkan.

Memang benar. Devan sendiri yang ngotot mau ikut, ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Sekarang dia mulai menyesali idenya sendiri.

Saat menoleh, Jovita menyadari Devan tertinggal cukup jauh. Ia mengerutkan kening.

“Cepetan. Kenapa lama banget?” omelnya, terdengar sedikit jengkel.

Devan hanya bisa menghembuskan napas pasrah, lalu mempercepat langkah untuk menyusulnya.

“Kita makan abis ini. Aku lapar,” ucapnya kemudian, suaranya mirip anak kecil yang sedang mengadu.

“Hm. Terserah kamu aja,” balas Jovita datar, masih fokus pada rak berikutnya.

Saat mereka mengitari area belanja, Jovita sempat sibuk melihat rak bumbu dapur. Tiba-tiba, ketika ia menoleh untuk memastikan Devan masih di belakangnya, pria itu sudah menghilang.

Ia memutar badan, mencari, dan mendapati Devan entah bagaimana sudah masuk ke area permainan, bagian yang jelas bukan tujuan mereka.

Devan berdiri di depan rak penuh mainan dan kartu permainan. Ia tampak begitu fokus hingga tidak sadar Jovita datang menghampirinya dengan langkah cepat.

“Ngapain? Ayo ke kasir,” katanya.

“Jo, mau beli ini?” kata Devan sambil menunjuk satu set kartu, wajahnya dipenuhi antusiasme.

“Ngapain beli begituan?”

“Kita taruhan. Yang kalah kerjain pekerjaan rumah seminggu, semuanya,” kata Devan penuh nada menantang, seolah sudah yakin dirinya akan menang.

Jovita hanya menghela napas panjang, malas menanggapi sifat kekanak-kanakannya. Tapi pada akhirnya, mereka membeli kartu itu juga.

***

Devan dan Jovita duduk saling berhadapan di lantai ruang tamu, meja kecil di antara mereka sudah penuh dengan kartu yang berserakan. Wajah keduanya terlihat serius, seolah mereka sedang memainkan permainan hidup dan mati.

Beberapa ronde sudah berlalu, dan bisa ditebak, Jovita selalu kalah. Coretan-coretan di wajahnya kini sudah mirip doodle random. Semua itu bukti kekalahan beruntun.

“Sekali lagi kamu kalah, berarti kamu yang harus kerjain semuanya selama seminggu,” kata Devan, wajahnya penuh tantangan, seperti sedang menunggu Jovita menyerah.

Jovita terkekeh tak percaya. Ia mengembuskan napas frustasi, lalu dengan ragu mengeluarkan kartunya. Queen.

Devan terdiam sejenak, lalu senyum miring muncul di wajahnya, senyum yang menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Jovita langsung menatapnya was-was, jantungnya berdebar menunggu hasilnya.

Saat Devan mengeluarkan kartu miliknya. Ace, Jovita langsung menjatuhkan kepalanya ke meja dengan putus asa.

“Ha,” pekik Devan kegirangan. “Aku menang, wle…” ejeknya.

Jovita mengepalkan sisa kartunya, gemas setengah mati. “Sialan…”

“Kemariin wajahmu,” ucap Devan tanpa ampun. Ia sudah memegang spidol, siap membuat ‘karya seni’ baru di wajah Jovita.

Dengan pasrah, Jovita mengangkat wajahnya. Devan memandangi wajah yang sudah penuh coretan itu, menimbang-nimbang, mencari bagian mana lagi yang masih kosong.

“Buruan,” ujar Jovita dengan kesal.

Devan tergelak pelan, lalu menggambar titik besar tepat di tengah hidung Jovita.

“Jangan lupa kesepakatannya,” katanya, bersiap bangkit. Namun tangan Jovita langsung menarik pergelangannya.

“Kita main sekali lagi,” pintanya, hampir terdengar seperti memohon.

“Kamu udah ngomong itu dua kali,” kata Devan, penuh nada mengejek.

“Gak. Aku bakal menang kali ini,” ucap Jovita dengan yakin penuh gengsi.

Devan terdiam sejenak, menimbang. “Oke,” katanya akhirnya. “Tapi hukumannya dua kali lipat. Bersihin rumah dua minggu,” tambahnya santai.

“Dua minggu?” ulang Jovita, sedikit gentar. Tapi mundur sekarang hanya akan merusak harga dirinya. Ia menarik napas, menatap Devan tajam.

“Oke,” katanya dengan yakin, meski hatinya mulai menjerit.

Akhirnya mereka kembali duduk berhadapan, kali ini dengan aura yang jauh lebih serius daripada sebelumnya. Tumpukan kartu tersisa tinggal beberapa lembar, dan keduanya tampak sama-sama tidak mau kalah. Jovita menatap kartu di tangannya, rahangnya mengeras, sementara Devan duduk tegak, matanya fokus penuh.

Devan sempat melirik wajah Jovita, tenang, terlalu tenang. Itu justru membuatnya curiga.

“Giliranmu,” ucap Jovita, suaranya santai, namun ada senyum samar yang membuat Devan makin waspada.

Dengan sedikit ragu, Devan meletakkan kartu terakhir miliknya. Jack.

Senyum Jovita langsung melebar, matanya menyipit penuh kemenangan.

“Hidup emang berputar. Jangan terlalu sombong ketika di atas,” ucap Jovita lirih.

Ia mendekat sedikit, menatap Devan dengan senyum paling menyebalkan yang ia punya.

“Selamat tinggal, suamiku,” katanya, nada suaranya penuh ejekan lembut. Perlahan ia mengeluarkan kartu Ace miliknya.

Devan terdiam, menatap kartu itu seolah itu adalah bencana paling besar dalam hidupnya. Ia terkekeh kecil, tidak percaya bagaimana nasib bisa sekejam itu.

Sementara itu, Jovita sudah mengambil spidol, wajahnya bersinar penuh kemenangan.

Namun Devan buru-buru bangkit. “Gak bisa gitu. Tetep aja aku yang menang,” katanya terburu-buru.

“Mana bisa? Kamu yang bilang, peraturannya berubah, jadi dua minggu,” ucap Jovita sambil terus mendekatinya, spidol terangkat.

Mereka pun mulai bergerak memutari meja, seperti dua anak kecil yang sedang rebutan mainan. Devan berlari kecil menghindar, sementara Jovita mengikutinya tanpa ampun.

“Ngerjain semuanya sendiri kebangetan. Aku sibuk,” keluh Devan.

“Ah… jadi kamu pikir aku gak sibuk?!” sahut Jovita, suaranya naik setengah oktaf. Ia mengulurkan tangan hendak menangkap Devan.

“Aku tarik ucapanku. Aku gak berpikir panjang, hm?” kata Devan, terus mundur.

“Mana bisa? Laki-laki harus menepati ucapannya. Laki bukan?” tantang Jovita, matanya menyipit. “Lagian siapapun yang paling banyak menang, aku menang kali ini. Siniin mukamu.”

Mereka terus berputar mengelilingi meja. Sampai akhirnya kaki Devan tersandung kaki meja. Ia kehilangan keseimbangan dan reflek menarik tangan Jovita agar tidak jatuh sendiri.

Keduanya tumbang. Dalam sepersekian detik, tubuh mereka jatuh ke sofa, Jovita mendarat tepat di atasnya. Devan membeku, matanya melebar, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Jovita. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak sangat keras.

Jovita mengangkat wajahnya sedikit. Mereka begitu dekat. Terlalu dekat. Sesaat ruangan itu terasa sunyi.

Namun Jovita tidak terpikir hal lain selain... spidol.

Dengan cepat ia duduk tegak, tepat di atas perut bawah Devan.

“Di mana kamu duduk?!” tanya Devan, tubuhnya menegang.

“Diam di situ. Aku bakal menyelesaikannya dengan cepat,” jawab Jovita datar.

Dengan satu tangan menahan tangan Devan, Jovita menunduk dan mulai mencorat-coret wajahnya tanpa belas kasihan. Garis demi garis ia buat, hingga akhirnya ia menegakkan tubuhnya lagi dengan ekspresi puas.

Namun ekspresi itu berubah seketika.

Matanya membelalak. Ia langsung bangkit dari pangkuan Devan dan berdiri dengan canggung, tubuhnya kaku.

Devan mengerutkan dahi, bingung, lalu perlahan menoleh.

Rosmala dan Ami berdiri di belakang sofa. Terbelalak. Kaku.

To be continued

1
Muhammad Isha
iklan buatmu dek
knovitriana
iklan buatmu
Kisaragi Chika
bagus sih
Ayleen Moonscale
si arum pahit ini jangan lupaaaaa
Ayleen Moonscale
kesel banget👹
Nindi
Hmm jadi penasaran, itu foto siapa Devan
Fairuz
semangat kak jangan lupa mampir yaa
Blueberry Solenne
🔥🔥🔥
Blueberry Solenne
next Thor!
Blueberry Solenne
Tulisannya rapi Thor, lanjut Thor! o iya aku juga baru join di NT udah up sampe 15 Bab mampir yuk kak, aku juga udah follow kamu ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!