Renjiro Sato, cowok SMA biasa, menemukan MP3 player tuanya bisa menangkap siaran dari masa depan. Suara wanita di seberang sana mengaku sebagai istrinya dan memberinya "kunci jawaban" untuk mendekati Marika Tsukishima, ketua kelas paling galak dan dingin di sekolah. Tapi, apakah suara itu benar-benar membawanya pada happy ending, atau justru menjebaknya ke dalam takdir yang lebih kelam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amamimi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Krim Stroberi dan Peringatan Tanggal 15
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan langit ungu tua di ufuk barat. Di depan stasiun, sebuah kedai crepes kecil dengan lampu neon warna-warni menjadi pusat perhatian Ren dan Marika.
"Ini dia," kata Ren bangga sambil menyerahkan bungkusan kertas berbentuk kerucut yang sangat besar kepada Marika. " Mega Deluxe Special. Tiga topping: es krim vanila, potongan cheesecake, dan buah stroberi segar. Sesuai janji."
Marika menerima crepes raksasa itu dengan kedua tangan. Matanya berbinar, tapi keningnya berkerut cemas melihat isiannya yang meluap-luap.
"Ini... ini monster, bukan camilan," komentar Marika. "Gimana cara makannya tanpa bikin baju kotor? Ini tantangan struktural."
"Makan aja, nggak usah dipikirin," kata Ren yang cuma beli crepes cokelat biasa. Dia menggigit punya dia. "Mumpung anget. Kulitnya garing lho."
Marika menarik napas, lalu membuka mulutnya lebar-lebar (sesuatu yang jarang dia lakukan di depan umum) dan menggigit ujung crepes-nya yang penuh krim.
Nyam.
Rasa manis vanila, gurih keju, dan asam segar stroberi meledak di mulutnya. Mata Marika melebar. Bahunya yang tegang langsung merosot rileks.
"Gimana?" tanya Ren sambil tersenyum.
Marika mengunyah pelan, menelan, lalu menatap Ren dengan tatapan serius.
"Ini... berbahaya," katanya. "Kadar gulanya bisa bikin otak berhenti mikir. Tapi... enak banget."
Ren tertawa. "Syukurlah kalau suka."
Marika makan dengan lahap, tapi tetap berusaha anggun. Namun, karena ukuran crepes itu tidak wajar, sedikit krim putih menempel di ujung hidungnya.
Ren menunjuk hidungnya sendiri. "Marika, idung kamu."
"Hah?" Marika mencoba melihat hidungnya sendiri, matanya jadi juling, membuat wajahnya terlihat sangat konyol dan imut. "Ada apa?"
"Kena krim. Sini."
Ren tidak menyekanya dengan tisu. Dia mencondongkan badan, dan dengan gerakan cepat—yang entah dapat keberanian dari mana—dia menjilat krim itu dari hidung Marika.
Marika membeku. Tubuhnya kaku seperti patung es. Wajahnya memerah dengan kecepatan cahaya, dari leher sampai ubun-ubun.
Ren sendiri kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dia mundur selangkah, menutup mulutnya.
"Sori!" seru Ren panik. "Itu... refleks! Maksudku... sayang kalau dibuang!"
Marika masih mematung. Dia memegang hidungnya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai dia takut crepes-nya jatuh.
"Ka-Ka-Kamu..." Marika tergagap, suaranya mencicit. "Itu... tidak higienis! Itu... pelanggaran jarak!"
Tapi dia tidak marah. Dia tidak menginjak kaki Ren. Dia justru menunduk, menyembunyikan senyum malunya di balik crepes raksasa itu.
"Hukuman," gumam Marika pelan.
"Apa?"
Marika menyodorkan crepes-nya ke depan mulut Ren.
"Gigit," perintahnya, masih menunduk. "Biar impas. Sharing bakteri."
Ren terpana sejenak, lalu tersenyum lembut. Dia maju dan menggigit potongan stroberi dan cheesecake dari crepes Marika.
"Makasih," kata Ren. "Manis."
"Tentu saja manis, itu gula," balas Marika, berusaha kembali ke mode logisnya meski pipinya masih merah padam.
Mereka menghabiskan sisa sore itu duduk di bangku stasiun, menghabiskan crepes sambil membicarakan strategi untuk menghadapi festival. Tidak ada lagi tembok di antara mereka. Hanya ada dua remaja yang sedang menikmati manisnya masa muda.
Malam harinya, pukul 23.00.
Renjiro Sato berbaring di tempat tidurnya. Perutnya kenyang, hatinya senang. Hari ini berjalan sempurna. Marika sudah mendaftar lomba, Takae sudah aman dengan cederanya, dan hubungan Ren dengan keduanya berjalan baik.
Ren merasa dia sudah mengubah takdir menjadi lebih cerah.
Dia mengambil MP3 player-nya. Dia ingin membagi kebahagiaan ini dengan Marika dewasa.
Ren memasang earphone.
"Marika-san? Cek, cek," panggil Ren ceria. "Laporan harian masuk."
Hening sejenak. Suara statis terdengar lebih keras dari biasanya. Kresek... ssshhh...
Lalu, suara Marika dewasa muncul. Tapi kali ini, suaranya tidak setenang biasanya. Ada nada mendesak, seolah dia sedang bicara sambil berjalan cepat atau menahan napas.
"Ren. Kamu di sana?"
"Hadir," jawab Ren, sedikit bingung dengan nada serius itu. "Ada apa? Tumben tegang. Padahal aku mau cerita soal crepes tadi. Marika kecil lucu banget pas..."
"Dengar aku, Ren," potong Marika dewasa. Suaranya tegas, menghilangkan semua basa-basi. "Simpan cerita itu untuk nanti. Sekarang, aku butuh kamu fokus. Sangat fokus."
Ren langsung bangun dari posisi tidurnya. Dia duduk di tepi kasur. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres.
"Kenapa? Ada masalah?"
"Festival budaya dimulai lusa, kan?" tanya Marika dewasa.
"Iya. Tanggal 13. Kenapa?"
"Dan pengumuman pemenang lomba lukis... itu tanggal 15 sore. Di penutupan acara."
"Betul."
Di seberang sana, terdengar helaan napas berat yang bergetar. Marika dewasa sedang berjuang melawan ingatannya sendiri. Ingatan yang menyakitkan.
"Ren, tanggal 15 itu... adalah titik krusial. 'Singularity'. Di situlah takdir bisa berbelok tajam ke arah cahaya... atau jatuh ke jurang."
Jantung Ren berdegup kencang. "Maksudnya? Marika bakal kalah lomba? Atau ibunya dateng ngamuk?"
"Bukan cuma itu," kata Marika dewasa. "Ada bahaya fisik. Bahaya nyata."
Ren mencengkeram MP3 player-nya. "Bahaya buat siapa? Buat Marika?"
Hening yang menyiksa. Marika dewasa tidak bisa bilang "Bahaya buat Marika, Ren. Marika akan mati tertabrak truk hari itu." Jika dia bilang, paradoks waktu mungkin akan terjadi, atau Ren akan bertindak gegabah karena panik.
Dia harus membuat Ren menyelamatkan dirinya sendiri, dengan dalih menyelamatkan Marika.
"Ya," bohong Marika dewasa, suaranya serak menahan tangis. "Bahaya buat Marika. Dan buat kamu."
"Dengarkan instruksiku baik-baik, Ren. Catat kalau perlu."
Ren menyambar pulpen dan buku catatan di nakasnya. "Oke. Aku siap."
"Tanggal 15 November. Sore hari setelah pengumuman lomba. Apapun hasilnya—menang atau kalah—Marika akan emosional. Dia akan lari keluar sekolah lewat gerbang samping. Menuju penyeberangan jalan di dekat toko buku lama."
Ren mencatat dengan tangan gemetar. Gerbang samping. Toko buku.
"Di penyeberangan itu... lampu lalu lintasnya sering error. Dan jalanan di sana ramai truk pengangkut barang sore hari."
Marika dewasa berhenti sejenak, mengumpulkan kekuatan.
"Di ingatan masa laluku yang buruk... ada kecelakaan di sana. Kecelakaan fatal."
Darah Ren membeku. "Marika... kecelakaan?"
"Jangan biarkan itu terjadi!" seru Marika dewasa, suaranya pecah sedikit. "Tugasmu cuma satu, Ren. Satu hal saja. Jangan biarkan Marika menyeberang sendirian hari itu. Apapun yang terjadi, kamu harus ada di sebelahnya. Kamu harus menahan tangannya. Kamu harus pastikan dia berhenti saat lampu merah."
"Bisakah kamu janji melakukan itu?"
Ren menelan ludah. Dia membayangkan Marika (17) yang dia ajak makan crepes tadi sore, terbaring di aspal. Bayangan itu membuatnya mual.
"Aku janji," kata Ren mantap, matanya menyala penuh tekad. "Aku bakal jadi bayangannya. Aku nggak bakal lepasin dia sedetik pun tanggal 15 nanti."
"Bagus," desah Marika dewasa, terdengar sangat lega tapi juga sangat lelah. "Kamu harus tetap bersamanya, Ren. Demi keselamatan kalian berdua."
"Tenang aja. Aku aset OSIS yang bisa diandalkan, kan?" Ren mencoba bercanda untuk mencairkan suasana, meski tangannya berkeringat dingin.
"Iya. Aset paling berharga," bisik Marika dewasa.
Suara statis kembali menguat. Sinyal mulai putus-putus.
"Ren..."
"Ya?"
"Soal crepes tadi..." Suara Marika dewasa melembut, kembali ke nada hangat yang Ren suka. "Terima kasih sudah membersihkan hidungnya. Itu... itu kenangan manis yang baru bagiku. Aku bisa merasakannya sekarang."
Ren tersenyum tipis. "Sama-sama. Tidurlah, Marika. Jangan khawatir. Aku bakal lindungin Marika kecil."
"Aku percaya padamu. Sampai jumpa."
KLIK.
Ren meletakkan MP3 player-nya. Dia melihat catatan di kertasnya.
15 November. Sore. Gerbang Samping. Penyeberangan Toko Buku. JANGAN BIARKAN MARIKA SENDIRIAN.
Ren merobek kertas itu, melipatnya, dan memasukkannya ke dalam dompetnya.
Dia mengira dia akan menjadi pahlawan yang menyelamatkan sang putri dari kecelakaan. Dia tidak tahu bahwa Marika dewasa baru saja memberikan instruksi agar Ren menyelamatkan nyawanya sendiri.
"Tanggal 15, ya?" gumam Ren, menatap langit-langit kamar. "Tinggal 4 hari lagi. Oke. Siapa takut."
Di luar jendela, bulan tertutup awan hitam tebal. Angin malam bertiup kencang, menandakan badai musim dingin akan segera tiba.