Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung
Keesokannya, setelah Tisha dan Alia berangkat ke sekolah. Aina menghubungi Ratih. Seperti biasa, ia ingin tahu kabar rumah tangga anaknya.
“Ratih, bagaimana kabar Alia? Willie dan Tisha. Apa baik-baik saja?” tanya Aina di seberang telepon.
Ratih terdiam sesaat. Dalam ingatannya terlintas kejadian pagi kemarin. Momen singkat saat Willie hendak berangkat. Willie dan Tisha sempat berpegangan tangan. Dari sudut matanya itu terlihat hangat.
“Iya, Nyonya, mereka kelihatan romantis.” jawab Ratih mantap.
Di seberang sana, Aina menghela napas lega.
“Oh syukurlah, saya sempat khawatir sejak kejadian dulu. Apa Willie masih sering keluar kota?" tanyanya lagi.
"Iya Nyonya. Pak Willie baru saja berangkat kemarin."
"Oh baiklah, terimakasih ya Ratih."
Panggilan pun terputus. Ratih merasa bersalah pada Willie dan Tisha karena ia melaporkan apapun tentang mereka kepada Nyonya Aina. Namun ia juga tidak bisa menolaknya.
"Yah, setidaknya aku berkata jujur." gumamnya.
Sepulang sekolah, Alia berlari kecil memasuki rumah. Tisha menyusul di belakangnya. Baru beberapa langkah, Alia mendadak berhenti.
“Eh?”
Matanya berbinar melihat dua sosok yang familiar di ruang tamu. “Nenek… Kakek!”
Alia langsung berlari menghampiri mereka. Tisha yang berdiri di ambang pintu sempat tertegun. Ada sebersit kaget di wajahnya, namun ia cepat menguasai diri. Ia menarik napas pelan sebelum melangkah masuk.
Aina menoleh, menangkap raut terkejut yang berusaha disembunyikan Tisha.
Orangtua Willie memang sudah berniat mengunjungi mereka. Dan ini adalah waktu yang tepat, saat Willie tidak ada.
“Tisha,” sapa Aina.
Tisha mendekati mereka dan memberi salam dengan sopan.
“Maaf kami datang tanpa memberi kabar dulu. Kami rindu Alia dan ingin melihatmu juga.” ujar Aina.
“Tidak apa-apa, Bu.” Tisha.
Aina tersenyum, menatap menantunya lama. Sorot matanya menghangat. Beberapa saat kemudian, Aina memberanikan diri membuka percakapan yang sejak lama mengganjal.
“Soal kejadian kemarin-kemarin, kalau ada sikap kami yang menekan atau membuatmu tidak nyaman, kami minta maaf.”
Tisha terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Saya mengerti, Bu. Semua orang pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya.”
Tidak ada nada defensif. Tidak ada keluhan. Hanya jawaban jujur dan tenang.
Setelah percakapan ringan, Tisha permisi menuju kamarnya. Ia mengganti bajunya, lalu melangkah kedapur untuk memasak sendiri.
Ratih sempat hendak membantu, namun Tisha tersenyum sambil menggeleng.
“Biar saya saja, Bi. Saya ingin masak untuk Ibu dan Bapak.”
Saat hidangan tersaji, Aina terdiam sejenak menatap meja makan.
"Wah, ini hidangan spesial dari menantu." ucap Aina berbinar.
Mereka makan bersama. Alia duduk di antara Aina dan sang kakek, bercerita tanpa henti. Kadang tertawa, kadang terlalu bersemangat hingga makanan nyaris tumpah.
“Alia senang,” ucap anak itu polos.
“Kenapa?” tanya Aina.
“Soalnya ada kakek dan nenek, rumah jadi rame,” jawabnya lugas.
Tanpa kehadiran Willie, suasana justru terasa lebih lepas. Tidak ada batasan, tidak ada tatapan waspada.
Aina dan suaminya bisa bermain dengan Alia sepuasnya. Menemaninya menggambar, main petak umpet, kuda-kudaan bahkan hanya sekadar duduk di lantai.
Dari kejauhan, Tisha memperhatikan. Hatinya terasa campur aduk, namun ia tetap tersenyum. Ia sengaja mendekatkan Alia pada nenek-kakeknya, membiarkan ikatan itu tumbuh alami.
"Setidaknya, kalau nanti aku benar-benar pergi, Alia tidak terlalu merasa kehilangan." pikirnya.
Saat menjelang malam, Tisha menyiapkan teh dan camilan ringan untuk mereka.
“Ibu dan Bapak menginap di sini, kan?” tanya Tisha seolah pertanyaan itu hal biasa.
Kedua orang tua Willie saling berpandangan sejenak. Ada ragu yang tampak jelas.
“Ah… tidak usah,” ujar sang ayah akhirnya. “Nanti kalau Willie pulang dan tahu, dia pasti marah. Kami saja datang diam-diam karena dia tidak ada.”
Tisha tersenyum kecil, menahan napasnya agar tetap terdengar tenang.
“Bu, biasanya Papa Alia kalau sudah keluar kota pulangnya pasti lama. Jadi tidak apa-apa. Alia juga senang kalau rumah ramai.”
Aina menunduk sebentar, “Sebenarnya, kami senang sekali hari ini. Sudah bertahun-tahun rasanya tak ada kehangatan di keluarga ini.”
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dada Tisha.
“Justru itu, Bu. Saya ingin mengembalikan lagi, kehangatan itu, setidaknya sebelum saya pergi..."ucapnya keceplosan.
Sekejap, Tisha tersadar. Ia langsung menutup mulutnya, sorot matanya berubah panik.
“Apa maksudmu, Nak?” tanya kakek Alia.
Tisha menggeleng cepat. “Ah, saya salah bicara,” ujarnya tergesa. “Maksud saya, setidaknya hanya ini yang bisa saya lakukan sekarang.”
"Gadis ini, jelas dididik dengan sangat baik oleh orang tuanya." batin Aina.
Aina menepuk pundak Tisha dengan hangat. Sentuhan itu penuh penerimaan, tanpa tuntutan.
“Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus.
Tisha hanya tersenyum. Kehangatan ini memang sedang ia bangun, bukan untuk dimiliki selamanya, melainkan untuk ditinggalkan dengan tenang.
“Baiklah, kalau begitu saya siapkan kamarnya,” seru Tisha sambil bangkit berdiri, sudah hendak melangkah ke arah tangga.
“Tidak usah,” ujar Aina cepat. “Kami ingin tidur di kamar Alia saja. Bolehkan, Alia?”
“Boleh! Asik!” seru Alia girang, lalu berlari kecil menghampiri neneknya.
Aina tertawa kecil, membungkuk sedikit untuk meraih cucunya. “Kami ingin menghabiskan waktu selama mungkin dengan Alia."
Alia terkikik, “Alia juga, Alia baru tahu Kakek dan nenek baik."
Ucapan polos itu membuat Tisha terdiam. Ia hanya tersenyum tipis, menahan sesuatu di dadanya.
“Kamar Alia tidak apa-apa, Bu?” tanya Tisha memastikan.
“Tidak apa-apa,” jawab Aina mantap. “Justru kami ingin tidur bersama."
Tisha mengangguk. “Kalau begitu, saya siapkan bantal dan selimut tambahan.”
Ia melangkah pergi, sementara di belakangnya Alia sibuk bercerita pada kakek-neneknya, suaranya riang memenuhi rumah.
Malam semakin larut. Di kamarnya, Tisha menyisir rambut di depan cermin. Wajahnya tenang dan damai. Ia tahu orang-orang mungkin mengira segalanya baik-baik saja.
Ironisnya, jarak yang Willie ciptakan justru memberi Tisha kendali atas tubuhnya, waktunya, bahkan perasaannya sendiri.
Dan tanpa disadari siapapun, ketenangan ini sedang menyimpan benturan yang disiapkan pelan-pelan oleh Tisha.
Tisha tersentak saat terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Ia bangkit dan membukanya. Di ambang pintu, Alia berdiri sambil memeluk boneka kesayangannya, mata bulatnya tampak mengantuk.
“Kenapa, Nak?” tanya Tisha lembut.
Alia manyun. “Alia tidak bisa tidur. Kakek ngorok kencang,” keluhnya.
Alia mendongak, suaranya lirih, seakan takut ditolak. “Boleh Alia tidur sama Ibu?”
“Tentu saja. Ayo masuk,” jawab Tisha tanpa ragu.
Mereka naik ke ranjang. Tisha menarik selimut, lalu membiarkan Alia meringkuk di sisinya.
Alia menatap wajah Tisha lama, seolah memperhatikan dengan sungguh-sungguh.
“Ibu cantik, seperti kakak-kakak,” ucapnya polos.
Tisha terkekeh pelan. “Menurut Alia, bagusan mana? Kakak Tisha atau Ibu Tisha?” godanya.
Alia terdiam sejenak, dahi kecilnya berkerut. Lalu ia menjawab, “Ibu Tisha. Soalnya Ibu Tisha kan ibunya Alia, bukan kakaknya Alia.”
Jawaban itu seperti tamparan halus di dada Tisha. Napasnya tercekat tanpa ia sadari. Ia segera memeluk Alia erat.
“Terima kasih, Nak,” bisiknya.
Alia hanya meringkuk nyaman dalam pelukannya, tak tahu bahwa kata-kata polosnya barusan telah menoreh hati Tisha yang sedang belajar dan bersiap melepaskan.